beranda pilihan editor
Perspektif Oase Pustaka Jejak Sosok Wawancara Akademia Ensklopedia Sudut

Beranda SUDUT berita


Sabtu, 11 April 2020, 21:12 WIB

Virus Corona Merebak, Perempuan dan Anak Merasakan Dampak Lebih Berat

SUDUT

Foto: istimewa

Oleh : Ida Zubaidah*

Riset dari Negara Cina menunjukan, laki-laki lebih beresiko meninggal dunia akibat terinfeksi  Covid-19  daripada perempuan, karena perbedaan imunologis berdasarkan jenis kelamin dan pilihan gaya hidup, seperti merokok.

Tetapi dengan cara lain, peyebaran Coronavirus berdampak terhadap  perempuan secara tidak proporsional. Dalam Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO in a 2007 report) peran yang dimiliki perempuan sebagai perawat formal dan perawatan dalam rumah tangga  menempatkan perempuan berada di jalur paparan  virus.

Saat peyebaran virus Covid-19 terus berlanjut, semakin banyak perempuan berada di garda terdepan penanganan Pandemi Covid-19. Sekitar 70 persen perempuan  mengisi peran sebagai  perawat di seluruh dunia selama perang melawan virus.

Di Provinsi Jambi, ketika pertarungan melawan Covid-19 baru saja dimulai bulan lalu, setidaknya satu dokter dan empat perawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Raden Mattaher dilaporkan terinfeksi virus setelah merawat pasien positif Covid-19.

Perawat dan dokter yang kini berstatus sebagai Orang dalam pengawasan (ODP) tersebut telah meresikokan diri dalam perawatan intim bersama pasien ditengah keterbatasan Alat Pelindung Diri (APD) medis.

Jika ketersediaan APD belum ditanggapi secara serius, maka sekitar 9.437 perawat di Jambi  (Perhimpunan Perawat Nasional Indonesia/PPNI Provinsi Jambi) yang didominasi perempuan akan turut tumbang dalam waktu yang relatif singkat.

Selain menjadi perawat formal, mayoritas perempuan menjadi tulang punggung dalam merawat kesehatan anak, keluarga dan juga lansia. Ketika rumah sakit tidak  mampu menampung pasien, banyak orang terkena Covid-19 perlu dirawat di rumah.

Dampak Kebijakan Penanganan Covid-19

Pekerja sektor informal paling terpukul akibat kebijakan physical distancing atau jaga jarak fisik yang diterapkan pemerintah. Himbauan untuk membatasi kegiatan di luar rumah  berdampak pada banyaknya pedagang terpaksa gulung tikar karena sepi pembeli, buruh-buruh pabrik di-PHK, puluhan restoran, kafe dan hotel merumahkan karyawan tanpa pesangon.

Pekerja informal dikategorikan sebagai pekerja rentan karena tanpa jaminan sosial dan digaji lebih rendah.  Perempuan sebagian besar menempati posisi pekerja rentan. Badan pusat Stastik Provinsi Jambi 2019 mencatat, sekitar 63,89 persen Perempuan sebagai pekerja rentan lebih tinggi daripada laki-laki 55,41 Persen. Perempuan juga paling banyak menerima upah dibawah minimum 69,04 persen.

Kondisi ini harus menjadi perhatian, sebab kemiskinan pada perempuan menyebabkan perempuan  lebih gampang terpapar, karena berkurangnya  asupan gizi maupun kualitas kesehatan di lingkungan tempat tinggal.

Tekanan ekonomi pada keluarga karena wabah juga dapat menempatkan anak-anak, khususnya anak perempuan, pada risiko yang lebih besar dari eksploitasi, pekerja anak dan kekerasan berbasis gender.

Jika kita merasa aman dengan himbauan dari pemerintah untuk kerja dari rumah (KdR), penyintas kekerasan dalam rumah tangga dan para korban kekerasan adalah orang yang paling menderita karena selama karantina di rumah mendekatkan mereka dengan pelaku. Sementara pengada layanan membatasi layanan-layanan untuk mereka dengan mengurangi jenis layanan, cara mengakses layanan dan masa operasionalnya.

Himbauan pemerintah menutup sekolah dengan belajar dari rumah (BdR) menuntut kewaspadaan orangtua untuk mengawasi pengunaan internet bagi anak-anak mereka. pengunaan permainan online dan pengunaan ruang obrolan lewat internet akan dikhawatirkan  menjadi fitur  cyber violence  meyasar anak perempuan.

Bagi ibu pekerja, instruksi Working from Home (WFH) akan membantu karena memiliki waktu bersama anak-anak mereka dirumah. Namun, cukup banyak di antara perempuan yang mengaku sulit untuk membagi waktu dan perhatian. Seringkali, mereka harus menunggu anak anaknya tidur dan tugas domestik selesai untuk bisa melakukan pekerjaannya.

Strategi penanganan perspektif gender mengurangi kerentanan

Ketika pandemi menyerang, faktor gender seringkali tidak dipertimbangkan, padahal perspektif gender meyoroti resiko dan kerentanan secara khusus dihadapi oleh  perempuan, lansia dan kelompok rentan lainnya,  sehingga bisa meyelamatkan dan memastikan tidak ada orang yang tertinggal dalam respon darurat penanganan Covid-19. 

Dengan memperhatikan data berdasarkan gender dan umur yang dikumpulkan secara tepat waktu sebagai bagian dari upaya penanganan dan pemantauan. Darurat kesehatan di masa lalu seperti epidemi Ebola  kolera di Sierra Leone tahun 2012 menunjukkan bahwa tidak adanya data yang bisa dipilah berbasis gender sangat menghambat keputusan yang baik, respon yang kuat dan pemulihan yang cepat.

Dengan analisis perspektif gender di atas kita dapat rekomendasikan beberapa hal yang dapat kita desak kepada pemerintah terkait, di antaranya; Pertama, Memastikan  perlindungan terhadap tenaga medis dengan fasilitasi ketersedian alat pelindung medis, Suplemen Nutrisi  serta memberikan Reward kepada perawat yang berada digarda terdepan Penanganan Pasien Covid-19.

Kedua, memastikan akses layanan inklusif dalam pendampingan hukum dan psikologis bagi anak dan perempuan korban kekerasan seksual melalui layanan online, dan menaruh perhatian agar korban KDRT tetap bisa hidup layak dan aman selama pandemi.

Ketiga, memberikan bantuan dana untuk pekerja sosial di sektor informal; Khususnya perempuan Lansia dan perempuan miskin  yang kehilangan pekerjaan akibat dari kebijakan pembatasan sosial.

Keempat, mengembangkan dan menyebarkan informasi yang berperspektif kesetaraan gender untuk mendorong praktik kesetaraan gender di ranah domestik terutama dalam pembagian kerja perempuan dan laki-laki.

 

*Penulis Direktur Beranda Perempuan/Juru Bicara Save Our Sisters

TAGAR: #Virus# Corona# Perempuan# Anak

indeks berita Sudut
SUDUT Selasa, 01 Desember 2020, 09:00WIB
Pertanian Indonesiaku Terpuruk

Oleh: Allie Ghiardien Ginting *) Indonesia adalah negara dengan anugerah kekayaan keanearagaman hayati. Macam-macam tanaman pangan dapat tumbuh subur di sebagian wilayah Indonesia. Kelebihan lain selain sumber......

SUDUT Minggu, 07 Juni 2020, 09:08WIB
Wajah Buram Media Massa

Oleh: Aji Najiullah Thaib* Tren Headline media massa dewasa ini nyaris seragam, entah untuk sekadar menarik perhatian atau memang sesuai arahan. Narasi yang dihidangkan juga nyaris serupa. Kelakuannya mirip......

SUDUT Rabu, 22 April 2020, 20:51WIB
Vitamin C dan Virus Corona (Covid-19)

Oleh: Addion Nizori, S.TP,M.Sc., Ph.D *) & Fitrianingsih, S.Farm., M.Farm., Apt **) Sampai hari ini (22/4/2020) kasus pandemi infeksi virus Corona (Covid-19) tercatat 2.558.959 kasus dengan angka kematian......