beranda pilihan editor
Perspektif Oase Pustaka Jejak Sosok Wawancara Akademia Ensklopedia Sudut

Beranda SUDUT berita


Sabtu, 11 April 2020, 16:22 WIB

Corona, Teori Akal dan Keajaiban Masjid

SUDUT

Ilustrasi, Masjid Agung Al Falah Jambi / foto: qoobah.com

Oleh: M Yasir Arafat *)

Saat informasi yang bertebaran di dunia maya dua minggu lalu menyebutkan ada jamaah masjid yang terjangkit Covid-19 di masjid Kebun Jeruk Jakarta, seakan ada sesuatu kejutan di luar harapan. Ada 3 orang dinyatakan suspect Covid-19 dari 188 jamaah yang berada dalam masjid.

Informasi ini tentu saja membawa hati dan fikiran banyak orang bergejolak di tengah wabah virus menular yang mematikan ini. Seakan berita itu sebagai bukti yang membenarkan himbauan dan seruan meninggalkan masjid secara masif.

Kesan umum yang muncul dari temuan 3 jamaah suspect Covid-19 ini adalah "penularan massal telah terjadi" di masjid. Relasinya tidak lepas dari mainstream opini Covid-19 sedunia yang meyakini penularannya dari manusia ke manusia.

Adanya kerumunan dan kumpulan orang banyak baik di ruang terbuka maupun tertutup menjadikan media bagi virus untuk tersebar luas dan menjangkiti setiap orang. Sehingga tindakan pencegahan yang dapat dilakukan salah satunya adalah dengan social distancing (orang berjarak). Inilah alur pandangan manusia yang sepenuhnya menggunakan akal dan nalarnya untuk bertindak menyikapi Covid-19.

Efeknya terhadap pelarangan ibadah ke masjid bagi umat islam pun tak terhindarkan.

Akan tetapi masih ada pandangan yang tetap menguatkan hati bahwa apa yang sudah terjadi adalah taqdir Allah SWT. Beberapa jamaah masjid yang positif Covid-19 telah menemukan taqdirnya untuk mendapatkan penyakit ini.

Penyakit yang menjangkiti 3 jamaah bukanlah semata-mata karena interaksinya saat berkumpul bersama di masjid dengan 185 jamaah lainnya. Bukti menunjukan setelah hampir 14 hari melalui masa karantina di dalam masjid, 185 jamaah yang bergabung sebelumnya bersama 3 jamaah yang terjangkit virus di masjid tidak "seluruhnya tertular".

Merujuk berita yang dirilis CNN Indonesia pada tanggal 8 april, hanya 34 dari 188 yang terjangkit. Ini artinya tidak sampai seperempat dari jumlah keseluruhan jamaah yang berada di masjid Dari 34 ini pun, 31 yang didapati terakhir masih dalam status terduga positif bukan positif Covid-19.

Jadi bila logika akal semata yang dijadikan ukuran menganalisa penyebaran dan pencegahan penyakit akibat corona, tentulah 188 orang jamaah ini terjangkit seluruhnya.

Mengapa ketajaman akal mengatakan 188 harus terjangkit? Karena selama kurang lebih 14 hari mereka dikarantina berada dalam satu ruang dan tempat yang berdekatan.

Mereka sholat berjamaah, berinteraksi satu sama lain, bercakap, bersalaman dan saling sapa bahkan makan minum, mandi dan cuci di mesjid tanpa tanpa jarak (physical distancing). Tidak menutup kemungkinan pula di antara sesama jamaah ada yang batuk dan bersin, sehingga ada percikan cairan yang jatuh menempel ke lantai atau sekitarnya.

Intinya apa yang berlangsung di dalam masjid selama kurang lebih 14 hari, jauh bertolak belakang dari standart pencegahan penularan covid-19 yang ditetapkan organisasi kesehatan dunia (WHO).

Akhirnya semua teori yang dibangun berlandaskan akal secara total tidak berlaku sepenuhnya di masjid. MasyaAllah... suatu keajaiban terjadi di luar nalar akal manusia.

Inilah yang disebutkan Allah SWT dalam Al Qur'an: 

QS. Yunus (107)

"Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang."
(QS. Yunus 10: Ayat 107)

Masihkah kita ingin mencari-cari jawaban yang membenarkan teori akal semata dengan adanya kenyataan ini? Kenyataan ini tidak lagi menjadikan akal sebagai tolak ukur kebenaran.

Kita telah melupakan, bahkan banyak yang tidak meyakini lagi, begitu kaya keajaiban-keajaiban di muka bumi ini. Allah lah yang mengadakan Keajaiban itu di luar nalar akal manusia untuk menembusnya.

Masjid adalah salah satu dari sekian banyak tempat keajaiban yang terhampar di muka bumi ini. Masjid adalah milik Allah dan dalam kendali dan pemeliharaannya.
Allah SWT berfirman:

AL Jin (18)

"Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allah. Maka janganlah kamu menyembah apa pun di dalamnya selain Allah."
(QS. Al-Jinn 72: Ayat 18)

Tahukah kita bahwa Allah mengutus para malaikat-malaikatnya yang tersebar ke seluruh penjuru bumi? Malaikat itu setiap hari menjalankan tugasnya silih berganti siang dan malam melaksanakan perintah Allah.
Allah SWT berfirman:

Al Isra (78)

"Laksanakanlah sholat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula sholat) subuh. Sungguh, sholat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)." (QS. Al-Isra' 17: Ayat 78)

Allah SWT berfirman:

AL An'am (61)

"Dan Dialah penguasa mutlak atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, malaikat-malaikat Kami mencabut nyawanya, dan mereka tidak melalaikan tugasnya."
(QS. Al-An'am 6: Ayat 61)

Dari dua ayat Alqur'an di atas, kita bisa merenungkan berapa banyak malaikat berada di masjid ketika manusia melaksanakan sholat berjamaah di masjid. Bila begitu tentulah banyak malaikat yang menyaksikan dan menjaga manusia yang sholat di masjid, mengapa kita menjauh, lari dan bahkan menutup masjid?

Oleh karenanya jangan sampai langkah dan tindakan menutup masjid itu menjadi tambahan musibah untuk kita. Karena dengan menutup masjid berarti matilah ibadah berjamaah dalam sholat.

Masjid akan kosong ibarat rumah yang ditinggalkan lari oleh penghuninya. Tak ada lagi azan berkumandang, tak ada suara zikir, tak ada lagi lantunan ayat suci Alqur'an, tak ada lagi suara hamba-hamba yang berdoa... bila masjid ditutup.

Jika situasi ini benar-benar terjadi, inilah yang bisa membuat pintu-pintu rahmat menjadi semakin jauh dan tertutup.

Semoga kita senantiasa dalam limpahan rahmat dan karunia Allah SWT. Aamiin.

*) M Yasir Arafat (MYA) adalah Sekretaris KAHMI Wilayah Jambi (2012 - 2016) dan Ketua KPU Provinsi Jambi (2008 - 2013), saat ini bermukim di Australia.

TAGAR: #Virus# Corona# Masjid

indeks berita Sudut
SUDUT Selasa, 01 Desember 2020, 09:00WIB
Pertanian Indonesiaku Terpuruk

Oleh: Allie Ghiardien Ginting *) Indonesia adalah negara dengan anugerah kekayaan keanearagaman hayati. Macam-macam tanaman pangan dapat tumbuh subur di sebagian wilayah Indonesia. Kelebihan lain selain sumber......

SUDUT Minggu, 07 Juni 2020, 09:08WIB
Wajah Buram Media Massa

Oleh: Aji Najiullah Thaib* Tren Headline media massa dewasa ini nyaris seragam, entah untuk sekadar menarik perhatian atau memang sesuai arahan. Narasi yang dihidangkan juga nyaris serupa. Kelakuannya mirip......

SUDUT Rabu, 22 April 2020, 20:51WIB
Vitamin C dan Virus Corona (Covid-19)

Oleh: Addion Nizori, S.TP,M.Sc., Ph.D *) & Fitrianingsih, S.Farm., M.Farm., Apt **) Sampai hari ini (22/4/2020) kasus pandemi infeksi virus Corona (Covid-19) tercatat 2.558.959 kasus dengan angka kematian......