Jumat, 24 September 2021


Senin, 16 Desember 2019 15:55 WIB

Sucoro

Reporter :
Kategori : Sosok

Penulis

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Meskipun Borobudur telah menjadi milik banyak orang dan bahkan telah menjadi milik dunia, ada satu orang yang bagi saya memiliki hubungan khusus dengan Borobudur. Sucoro, atau Mas Coro, yang di sebuah senja, ketika menemani saya berjalan-jalan di halaman Borobudur, sambil menunjuk tempat penjualan tiket masuk, berkata, "dulu rumah bapak saya di situ, di tempat yang sekarang jadi tempat penjualan karcis". Betapa dekatnya, bagaimana rasanya tidur setiap malam di samping Candi Budha yang merupakan cermin ketinggian sebuah peradaban umat manusia itu.



Segera mesin waktu di kepala saya seperti memutar kembali ke tahun 1950 dan 1960-an, ke foto-foto hitam putih Borobudur yang di sana-sini masih memperlihatkan puing-puing candi berserakan, di beberapa bagiannya bahkan dililit pohon beringin yang tumbuh liar. Juga foto-foto pengunjung, umumnya berpakaian Jawa, prianya dengan blangkon dan surjan, perempuannya memakai kain jarik dan kebaya, ada yang berkerudung. Sebagian dari mereka duduk lesehan dengan menggelar tikar makan bekal bawaannya yang mungkin dimasak sendiri sebelum berangkat. Ada sebuah foto, katanya dibuat pas hari lebaran, merayakan lebaran sambil berwisata di sebuah candi Budha, di jaman itu.

Foto-foto itu memang kami kumpulkan. Tahun 2012-2015 kami sering ke Borobudur, mencoba mengamati bagaimana masyarakat di sekitar candi Borobudur merespon apa yang sedang berlangsung di seputar candi-nya. Banyak yang tidak tahu bagaimana Borobudur  menjadi tertata rapi sebagaimana terlihat hari ini. Pada tahun1970an dan 1980an sebuah proyek raksasa yang bernama restorasi Borobudur, telah menggusur penduduk yang sudah turun temurun bermukim di sekitar Candi Budha itu keluar kawasan candi. Saat itu katanya untuk membuat candi Borobudur menjadi taman nasional. Dalam proyek raksasa yang dilakukan dengan cara paksa itu, keluarga Sucoro termasuk yang tergusur bersama ribuan keluarga lainnya.

Kisah penggusuran paksa ribuan penduduk demi sebuah proyek nasional, ketika belum ada media sosial seperti sekarang, adalah sebuah drama yang dipentaskan di teater tertutup, hanya penonton dan pemainnya yang tahu. Sucoro yang saat itu masih pemuda belasan tahun adalah pemain sekaligus penonton dari resistensi terhadap proyek restorasi yang dilakukan secara paksa oleh pemerintahan Suharto itu. Ingatannya, foto-fotonya, klipping koran yang disimpannya; menjadi bagian dari arsip sejarah proses penataan sebuah cagar budaya terbesar yang dimiliki negeri ini. Hasil restorasi paksa itu terbukti membuahkan hasil dijadikannya Borobudur sebagai World Heritage menurut kriteria UNESCO.

Yang kita lupakan adalah nasib keluarga-keluarga yang digusur dengan paksa itu. Candi Borobudur menjadi megah, sebuah hotel mewah dibangun di pelatarannya, orang masuk harus membeli karcis, turis manca Negara berbondong-bondong datang, lahan sekitar menjadi mahal karena orang berebut mendirikan hotel, restoran dan berbagai aktifitas bisnis lainnya. Namun, sebagian besar penduduk yang berusaha mempertahankan hidup di sekitar Borobudur hidupnya tetap pas-pasan, kalau tidak dibilang miskin. Dalam proses perubahan fisik maupun sosial di dan seputar Borobudur itu Sucoro menjadi sebuah ikon penting yang tak tergantikan.

Ket: Sucoro. Sumber foto: Detiknusantara

Sucoro adalah sebuah ikon resistensi dan sekaligus resiliensi. Resistensinya sudah dibuktikan dengan aksi-aksi yang diikutinya menentang penggusuran paksa yang dialami bersama ribuan tetangganya. Ayahnya, bersama rekan-rekannya yang melawan penggusuran bekerjasama dengan tokoh-tokoh seperti Adnan BuyungNasution, Rendra dll bersama berbagai LSM yang praktis baru mulai tumbuh saat itu, seperti KSBH yang berkantor di Jogya, menggalang dukungan untuk melawan. Dalam arsip kliping koran bisa dilihat Sucoro muda yang gondrong duduk bersama Rendra dan para aktifis lainnya dalam sebuah pertemuan advokasi menentang penggusuran yang digalang saat itu.

Dalam usianya yang hampir 70 tahun sekarang ini, Sucoro tetap konsisten membiarkan rambutnya gondrong, meskipun warnanya tidak lagi hitam tapi telah berubah menjadi mengkilat keperakan. Rambut gondrong, seperti Che Guevara, adalah lambang resistensi dan resiliensi yang terus dia lakukan, praktis seorang diri, sepanjang hidupnya. Saat ini, Mas Coro tinggal dalam sepetak tanah dengan berbagai bangunan di atasnya,  persis di tepi jalan di pinggir pagar halaman depan candi, dimana bersama istri dan anak-anaknya membuat warung dan bengkel motor sebagai sumber nafkah hidupnya. Tanah yang ditempatinya adalah juga cermin kekukuhan hatinya untuk tetap tinggal dekat candi, tidak menjualnya sebagai aset yang saat ini pastilah bernilai ekonomi sangat tinggi.

Respon masyarakat terhadap berbagai perubahan yang berlangsung di dan seputar Borobudur tentulah beragam. Begitupun yang bisa digolongkan mereka yang terus melakukan resistensi. Borobudur adalah sebuah magnet raksasa yang mampu menghisap ribuan bahkan jutaan orang itu mendekatinya. Sebagai sebuah warisan, Borobudur merupakan warisan yang terus hidup dan menghidupi orang-orang yang mendekatinya. Sutanto, atau Tanto Mendut, seorang seniman serba bisa yang memiliki galeri yang diberi nama Studio Mendut karena letaknya tak jauh dari Candi Mendut, semacam anak candi Borobudur; juga orang yang terhisap namun dengan caranya sendiri melakukan perlawanan  alternatif terhadap komodifikasi dan desakralisasi Borobudur.

Tanto berhasil menggerakkan komunitas-komunitas kesenian yang tinggal di lereng-lereng bukit di sekitar Borobudur membuat festival kesenian rakyat yang diadakan secara rutin setiap tahun dengan  tempat yang bergantian di lima gunung yang mengelilingi Candi Borobudur. Festival Lima Gunung dengan Tanto Mendut sebagai presiden seumur hidupnya, adalah bukti kesuksesan pengorganisasian secara kreatif resistensi dan resiliensi komunitas-komunitas kesenian rakyat tampil dengan penuh integritas dan harga diri di tengah semakin gencarnya gempuran komersialisasi budaya untuk kepentingan pariwisata.

Sucoro, berbeda dengan Tanto Mendut yang meskipun kalau bicara terkesan seenaknya itu, namun menjadi  bagian dari elit intelektual Indonesia, tidak memiliki potongan  dan bahasa untuk menjadi bagian dari elit yang kosmopolitan seperti dinikmati Tanto Mendut itu. Mas Coro tidak memiliki kemewahan dan kekenesan sebagai budayawan atau elit intelektual indonesia. Tapi justru di sana saya kira kelebihannya. Sucoro yang lahir dan berkembang secara organik dengan Borobudur, baik sebagai candi batu maupun sebagai roh dari sebuah peradaban, mampu menghisap Borobudur secara "genuine" menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam tubuh dan jiwanya.

Ket: Prosesi Ruwat Rawat Borobudur. Sumber foto: kompas.com

Jika Festival Lima Gunung seperti mengepung dan melawan komersialisasi Borobudur dari pinggiran, Sucoro melakukan resistensi dan desakralisasi Borobudur justru dari dalam, di hatinya, di halaman Candi. Sebuah gelar kebudayaan yang ia namai Ruwat Rawat Borobudur yang setiap tahun ia selenggarakan dengan bantuan kawan-kawan dekat dan anggota keluarganya, membuktikan kecintaan dan pengabdiannya yang tanpa pamrih terhadap Borobudur. Kelompok-kelompok kesenian yang tersebar di berbagai desa diajaknya berpentas.Tradisi, ritual dan cerita-cerita rakyat yang telah menjadi legenda dan dilupakan, diolah dan ditampilkan kembali dalam berbagai bentuk ekspresi  kesenian dan kerohanian; sebagai bukti bahwa Borobudur adalah sebuah totalitas kehidupan yang sudah semestinya dirayakan.

Dalam menyelenggarakan acara Ruwat Rawat Borobudur Mas Coro seperti tidak peduli apakah pemerintah akan mendukung atau tidak, dia pun juga seperti tidak peduli apakah akan dianggap sebagai budayawan atau bukan, juga tidak ada kekenesan agar dianggap sebagai intelektual. Kalau ada pihak yang memberi dana atau dukungan, seperti tampaknya yang akan terjadi secara besar-besaran nanti di bulan Februari tahun depan; tidak akan membuat Mas Coro menjadi jumawa. Dia tetap hidup sederhana bersama keluarganya; sambil diam-diam menuliskan berbagai pengalaman dan pemikirannya menjadi buku. Paling tidak, seingat saya, sudah tiga buku tebal telah diterbitkannya. Suatu saat nanti, kita akan melihat Sucoro tidak hanya sebagai tokoh tradisi lisan, tetapi sebagai teks yang bisa kita baca kiprah resistensi dan  resiliensinya terhadap komodifikasi dan desakralisasi Borobudur yang bakal semakin besar di era pemeritahan Jokowi yang kedua ini.

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk jurnal, buku dan tulisan populer. Seri intelektual publik ini terbit saban Senin di rubrik SosoK Kajanglako.com


Tag : #Sosok #Sucoro #Ruwat Rawat Borobudur



Berita Terbaru

 

Kamis, 23 September 2021 19:00 WIB

Masuki Musin Hujan, Pemkab Sarolangun Siaga Bencana Hidrometrologi


Kajanglako.com, Sarolangun – Memasuki musim hujan tahun 2021, Pemerintah Kabupaten Sarolangun melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)

 

Vaksinasi Covid-19
Kamis, 23 September 2021 18:49 WIB

Upaya Kegiatan Belajar Tatap Muka, Disdik Sarolangun Ingin Tuntaskan Vaksin Bagi Siswa


Kajanglako, Sarolangun – Dinas Pendidikan Sarolangun ingin menuntaskan pelaksanaan vaksinasi khusunya bagi para siswa. Saat ini beberapa sekolah

 

Kamis, 23 September 2021 17:39 WIB

Pemkab Merangin Raih Anugerah APE 2020 dari Kementerian PPPA RI


Kajanglako.com, Merangin - Pemerintah Kabupaten Merangin dibawah kepemimpinan Bupati H Mashuri, meraih Anugerah Parahita Ekapraya (APE) Tahun 2020, dari

 

Rabu, 22 September 2021 18:51 WIB

Pj Sekda Tanam Replanting Sawit Kemitraan


Kajanglako.com, Merangin - Pj Sekda Merangin Fajarman secara simbolis melakukan penanaman perdana program replanting sawit kemitraan strategis Gapoktan,

 

Vaksinasi Covid-19
Rabu, 22 September 2021 13:03 WIB

70 Ribu Warga Sarolangun Telah di Vaksin


Kajanglako.com, Sarolangun – Pelaksanaan vaksinasi covid-19 di Kabupaten Sarolangun terus dilaksanakan. Baik dari Pemerintah Daerah, TNI dan Polri,