Jumat, 25 Juni 2021


Sabtu, 14 Desember 2019 08:33 WIB

Soedjatmoko

Reporter :
Kategori : Ensklopedia

Soedjatmoko. Sumber: rmsf.org

Oleh: Manuel Kaisiepo*

Membaca ulang pemikiran dalam buku The Fourth Industrial Revolution (2016) karya Klaus Schwab, pendiri dan Ketua World Economic Forum (WEF), membuat saya teringat cendekiawan besar Indonesia, Dr. Soedjatmoko, akrab disapa Pak Koko.



Lebih khusus lagi, saya teringat Jurnal Prisma, edisi ekstra, akhir tahun 1973 dengan topik "Membudayakan Masyarakat Dunia" (Reconstituting the Human Community).

Yang menjadi Redaktur Tamu sekaligus penulis Kata Pengantar untuk Prisma edisi istimewa itu adalah Dr. Soedjatmoko sendiri.

***
Buku Schwab memuat pikiran-pikiran besar tentang masa depan bersama umat manusia dihadapkan pada kemajuan teknologi mutakhir dan dilemanya dalam segala aspek kehidupan, termasuk juga aspek moral dan etika.
Tahap kemajuan teknologi mutakhir yang dikenal sebagai "Revolusi Industri Keempat", telah membawa transformasi dan perubahan mendasar yang skala, cakupan, serta kompleksitasnya belum pernah dialami umat manusia sebelumnya.

Tentu, pikiran dan gagasan serta rekomendasi yang dianjurkan, bukan hasil pemikiran Schwab sendiri. Ini hasil pergumulan berbagai pemikir hebat, negarawan, ekonom terkemuka, para industrialis, mantan CEO perusahaan multinasional dari berbagai negara yang bergabung dalam World Economic Forum di Davos, Swiss.

Tetapi pemikiran, concern dan rekomendasi dari Davos itu sebenarnya tidaklah baru. Dia adalah "kelanjutan" dari pergumulan pemikiran dan concern serupa 47 tahun lalu di Roma dan Bellagio, Italia. Substansi "pesan" yang disampaikan sama.

Pada Maret 1972 di Roma, berlangsung pertemuan para pemikir dunia dalam forum The Club Of Rome, membahas proyek riset global mereka yang dikerjakan oleh Massachussets Institute of Technology (MIT) di bawah Profesor Dennis L. Meadows dan timnya.

Riset itu kemudian dibukukan dengan judul The Limits To Growth ("Batas-batas Pertumbuhan"), sebuah buku yang sangat fenomenal saat itu.

Pertemuan berikutnya Februari 1973, Club of Rome kembali membahas "The Limits to Growth", dan menghasilkan sebuah dokumen berjudul "The Club of Rome - The New Threshold" ("Ambang Pintu yang Baru").
Kemudian dalam pertemuan berikutnya lagi Juli 1973 di Bellagio yang disebut Colloquium III Bellagio, dihasilkan sebuah dokumen penting: "Reconstituting The Human Community".

Dalam rangkaian pertemuan dua kelompok penting itu -- Kelompok Roma dan Kelompok Bellagio -- Dr. Soedjatmoko aktif sebagai pembicara, bahkan ikut menjadi perumus akhir dari dokumen-dokumen penting di atas.

***
Hasil rumusan dan rekomendasi dari pertemuan kedua kelompok pemikir dunia itulah yang kemudian diterjemahkan dan dimuat dalam Prisma edisi ekstra di atas.

Redaksi Prisma sungguh beruntung karena dalam edisi istimewa itu, Dr. Soedjatmoko sendiri bertindak sebagai Redaktur Tamu sekaligus menulis Kata Pengantar. Itu 47 tahun lalu!

Pemikiran-pemikiran baru dan rekomendasi yang diajukan Schwab dan kelompok pemikir di World Economic Forum saat ini rasanya adalah "lanjutan" dari tema besar yang sudah dibahas hampir setengah abad lalu.

 

*Dalam masa kepresidenan K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Manuel Kasiepo diangkat menjadi Menteri Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia. Karya tulisnya terbit dalam bentuk jurnal, buku dan tulisan populer.


Tag : #Soedjatmoko #Klaus Schwab #World Economic Forum



Berita Terbaru

 

Kamis, 24 Juni 2021 17:33 WIB

Letusan Senpi Iringi Uji Menembak Personil Polres Sarolangun


Kajanglako.com, Sarolangun -  Sebanyak 119 Personil Polres Sarolangun melakukan latihan uji Menembak di lapangan tembak Endra Dharmalaksana, Kamis

 

Kamis, 24 Juni 2021 15:22 WIB

Kasus Korupsi DD Desa Lidung, Kejari Segera Tetapkan Tersangka


Kajanglako.com, Sarolangun - Kasus dugaan korupsi dana desa (DD) Desa Lidung Kecamatan Sarolangun Kabupaten Sarolangun pada tahun 2019 lalu, mulai

 

Sosok dan Pemikiran
Kamis, 24 Juni 2021 09:15 WIB

Membaca Hatta dan Pasal 33 Itu


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*Saya mulai mengenal tulisan Hatta ketika akhir tahun 80an meneliti sejarah transmigrasi. Saat itu saya sedikit terkejut karena

 

Rabu, 23 Juni 2021 16:23 WIB

Sarolangun Tempat Nyaman Anak Punk Berkeliaran, PKL Harap Pol PP Segera Tertibkan


Kajanglako.com, Sarolangun – Kabupaten Sarolangun dikenal dengan kabupaten dangan nuansa religi yang kental, memegang nilai dan seloko adat, serta

 

Rabu, 23 Juni 2021 15:57 WIB

IWS: DPRD Sarolangun 'Illfeel' terhadap Aspirasi Pers


Kajanglako.com, Sarolangun – Sejumlah wartawan yang tergabung dalam Ikatan Wartawan Sarolangun (IWS) melanjutkan aksinya ke gedung dewan, usai dari