Rabu, 20 Januari 2021


Minggu, 14 Oktober 2018 08:14 WIB

Kajanglako Selenggarakan Diskusi Jurnalisme dan Politik Identitas, Ayo Gabung!

Reporter : Redaksi
Kategori : Zona

Diskusi Publik Jurnalisme dan Politik Identitas, Selasa, 16 Oktober 2018. (Desain Gambar : kajanglako/ mandaloni)

Kajanglako-Jambi: Meski Pemilihan Presiden baru akan dilaksanakan April 2019, tensi ritus politik lima tahunan ini terus memanas. Di media sosial tampak jelas, publik (nitizen) seolah terbelah menjadi dua kelompok mainstream, yakni antara Pro Jokowi-Maruf Amin dan Prabowo-Sandigo Uno (untuk menyebut kelompok Kecebong vs Kampret).

Dalam proses itu, wacana keseharian yang menguat adalah isu politik identitas yang dikemas berdasarkan kesamaan latar belakang daerah, ras, etnis, maupun agama.



Meski dengan frekuensi yang berbeda, tetapi benang merahnya sama, wacana politik identitas juga menggejala dalam proses pemilihan kepala daerah serentak 2018, bahkan yang amat mencolok ketika pemilihan Gubernur Jakarta 2017.

Pertanyaannya kemudian, “Apakah menentukan pilihan politik berdasarkan kesamaan agama, ras, atau jenis kelamin, itu salah?”

Tentu tidak salah bila disertai cara yang menjunjung tinggi rasionalitas, data dan argumentasi, serta kesadaran kultural yang menjadikan Pilpres/Pilkada sebagai ruang publik yang mencerahkan dan mendewasakan. Bukan sebaliknya, menyebarluaskan berita bohong (hoax), memperluas episentrum kebencian dan bahkan membangun ketidapercayaan antar sesama warga, yang ujungnya bisa memicu konflik horizontal.

Konflik di atas menjadi mungkin, bila kebencian dilibatkan dalam pembentukan identitas yang pada gilirannya dimobilisasi dalam panggung politik oleh kalangan elit dan partisan serta direproduksi melalui media dan karya jurnalistikya.

Bersamaan hal itu, perkembangan sains dan teknologi membuat penyebaran “racun” kebencian tersebut makin menjadi. Fatalnya, teknologi ini seringkali memperbesar kemampuan indera kita, tetapi tidak memperbesar kemampuan emosi dan nalar kita. Suatu keadaan yang perlu kita refleksikan di era air bah informasi dewasa ini.

Dalam situasi demikian, peran media massa (media cetak dan online) diharapkan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk lebih cermat membaca dan memaknai dinamika kontestasi pilpres, utamanya berkaitan politik identitas, melalui serangkaian kerja-kerja jurnalistik yang mensyaratkan independensi serta menjunjung tinggi prinsip dan etika jurnalistik. Nilai independensi dalam hal ini bukan hanya berguna sebagai 'code of conduct' bagi jurnalis, melainkan juga prinsip utama yang membuat profesi ini dipercaya oleh publik.

Bertolak dari hal demikian, portal berita dan pemikiran, kajanglako.com menginisiasi diskusi publik dengan tema Jurnalisme dan Politik Identitas. Sebuah diskusi kecil yang memberikan ruang sepenuhnya bagi sikap kritis terhadap beberapa hal utama, yaitu bagaimana isu politik identitas diartikulasikan oleh media dan jurnalis (dalam hal ini karya jurnalistik) ? Bagaimana efek politik identitas terhadap perspesi publik tentang demokrasi? Bagaimana pula wacana politik identitas (spesifik dalam kasus/peristiwa di Jambi) berlangsung, baik dalam mementum periodik, seperti Pileg, Pilkada maupun pemilihan pucuk pimpinan kelembagaan lainnya? Dan terakhir, apa yang mesti dilakukan oleh media, jurnalis, dan warga agar menempatkan politik identitas pada ‘ruangnya’ secara tepat, bukan sebaliknya, justru terseret turut menguatkan polarisasi politik sebagaimana sekarang kita saksikan. [TOR Diskusi Kajanglako]

***

Kami mengundang Tuan dan Puan untuk datang dan bertukar pikiran. Di era air bah informasi sekarang ini, mari sama-sama memuliakan kedalaman. Menolak kedangkalan.

Mari bergabung bersama diskusi publik Kajanglako.com dengan tema: Jurnalisme dan Politik Identitas pada Hari Selasa, 16 Oktober 2018. Pukul 14.00 WIB-selesai. Bertempat di Ruang 12, lantai II, Kampus STISIP NH Jambi. Kegiatan ini dihadiri oleh akademisi, insan pers, seniman, budayawan, mahasiswa dan organisasi kelompok pemuda.

Narasumber diskusi:

Hariqo Wibawa Satria (Direktur Eksekutif Komunikonten.com; Runner Up Program The Next Leader di Metro TV, yang digagas oleh Universitas Paramadina Jakarta. Pernah juga di Charta Politika dan aktif mengamati media sosial). 

MH. Abid (Akademisi UIN STS Jambi). Menulis tesis mengenai Perkembangan Industri Koran Lokal di Jambi Pasca Orde Baru.

Irma Tambunan (Jurnalis Harian Kompas). Memenangi beberapa penghargaan karya liputan jurnalistik.  

M Ramond EPU, Ketua AJI Jambi, Pemred Jambipro.com dan Penulis di beritagar.id.

Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Kajanglako.com bersama Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (HIMIP) dan Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMAKOM) STISIP NH Jambi, dan didukung oleh Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Baiturrahim (STIKBA) Jambi, Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Jamb, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi, Dinas Perindag Provinsi Jambi, Seloko Institute, LAPMI Cabang Jambi dan Perpus Rakyat. 


Tag : #1 tahun kajanglako.com #diskusi jurnalisme dan politik identitas #penting dan mencerahkan #politik dan kebencian



Berita Terbaru

 

Ekspedisi Sumatra Tengah 1877
Selasa, 19 Januari 2021 10:08 WIB

Hilangnya Si Anak Sulung


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Di antara Soepajang dan Siroekam ada dataran tinggi yang luas. Beberapa pohon koebang yang bagus tumbuh

 

Perspektif
Selasa, 19 Januari 2021 09:53 WIB

Demokrasi Ternyata Bisa Mati, Juga di Amerika Serikat


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Sebagai seorang politisi sekaligus gubernur yang memiliki gelar doktor ilmu politik Anies Baswedan tidak aneh kalau memiliki

 

Tipikor
Senin, 18 Januari 2021 20:06 WIB

Cerita Kasus Korupsi Baju Linmas, Tiga Tersangka Kembalikan Kerugian Negara


Kajanglako.com, Merangin - Kasus korupsi baju Linmas Satpol PP Merangin sudah masuk tahap persidangan, Rabu (13/01) lalu sidang perdana di pengadilan Tipikor

 

Pandemi Covid-19
Senin, 18 Januari 2021 20:03 WIB

Hasil Evaluasi, Dinas Pendidikan Sarolangun Tetap Lakukan Sekolah Tatap Muka


Kajanglako.com, Sarolangun – Dinilai tidak menemui kendala, proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) atau sekolah Tatap Muka di masa Pendemi Covid-19

 

Senin, 18 Januari 2021 19:50 WIB

Tahun 2020, 406 Perempuan Merangin Menjanda


Kajanglako.com, Merangin - Angka perceraian di Kabupaten Merangin tinggi. 2020 lalu tercatat ada 479 perkara perceraian yang masuk ke Pengadilan Agama