Sabtu, 28 Mei 2022


Kamis, 07 April 2022 23:35 WIB

Richard Chauvel dan Papua

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Seminggu yang lalu, pada hari Jumat, 1 April 2022, Profesor Emeritus Richard Chauvel wafat di Melbourne Australia. Padahal namanya sudah saya cantumkan, berjejer dengan Dr. Bernarda Meteray dari Universitas Cendrawasih, Jayapura, keduanya ingin kami minta menulis tentang isu kontestasi nasionalisme, dalam nomor khusus Masyarakat Indonesia, sebuah jurnal ilmu-ilmu sosial yang diterbitkan oleh LIPI.



Saya dan Dr. Cahyo Pamungkas sedang memilih sejumlah nama untuk mengisi nomor khusus yang mengambil tema "Indonesia dan Masa Depan Papua". Selang beberapa hari, beredar kabar Dr. Richard Chauvel sakit dan sudah sulit berbicara akibat tumor otak yang menyerangnya. Tidak lama setelah itu beredar undangan mengikuti acara doa bersama untuk kesembuhan Richard Chauvel yang menurut Janet, istri Richard, ketika memberikan sambutan pada acara itu mengatakan bahwa Richard ikut mendengarkan dari tempat tidurnya, sambil tersenyum.

Dalam sambutan dalam acara doa itu Janet menceritakan bagaimana dia dan Richard bertemu dan kemudian selalu bersama baik ketika Richard harus di Indonesia atau saat studi ke Belanda. Dalam acara doa yang disampaikan oleh para mantan mahasiswa Richard dari Indonesia yang mewakili berbagai agama itu tercermin bagaimana para kolega dan murid-muridnya menghormati dan mencintai Richard yang sebagian besar hidupnya dipakai untuk meneliti dan menulis tentang Indonesia. Studi doktoralnya yang diselesaikan di Department of Indonesian and Malayan Studies, University of Sydney, mengulas tentang Republik Maluku Selatan yang hanya berumur pendek karena terbukti tidak mendapatkan dukungan dari penduduk Maluku sendiri.

Dalam sebuah seminar di LIPI beberapa puluh tahun yang lalu, Pak Taufik Abdullah mengatakan jika ada yang namanya gerakan separatisme dalam sejarah bangsa Indonesia, itulah RMS. Pernyataan Pak Taufik memperlihatkan betapa penting studi yang dilakukan oleh Richard Chauvel bagi kita, bangsa Indonesia. Melalui studi Richard Chauvel kita dapat memahami salah satu ketegangan yang mungkin selamanya ada dalam tubuh republik ini, yaitu konflik kepentingan antara pusat dan daerah, sebuah ketegangan yang sebagian telah dicoba untuk diselesaikan dengan UU tentang otonomi daerah setelah reformasi politik 1998.

Ketika pembicaraan di dunia maya beredar perihal sakitnya Richard Chauvel saya sedang berada di kota Malang. Gratia Wing Artha, mahasiswa S2 Sosiologi FISIP Universitas Erlangga yang saat itu kebetulan mengunjungi saya di Omah Saras, saat menceritakan rencana tesisnya mengenai intelektual Indonesia pasca reformasi tak terhindarkan untuk menyinggung sosok Richard Chauvel. Sebagai anak muda, generasi milenial, Artha sangat fasih dengan dunia digital. Sambil ngobrol tangannya terus bekerja dengan salah satu HP nya. Melalui Artha dalam waktu singkat saya bisa mendapatkan tidak sedikit publikasi riset Richard, termasuk tesis doktornya yang dibukukan oleh penerbit KITLV Press (Verhandelingen 143, 1990) dengan judul "Nationalists, Soldiers and Separatist: The Ambonese Islands From Colonialism to Revolt 1880-1950". Buku ini oleh Richard didedikasikan pada keluarga intinya "Jan, Hugh dan Emily".

Selain buku itu monografinya yang diterbitkan sebagai policy studies series (2005) dari East-West Center di Washington DC “Constructing Papuan Nationalism: History, Ethnicity, and Adaptation” mengukuhkan otoritasnya sebagai pemerhati Papua dengan analisis mendalam. Kesimpulannya bahwa nasionalisme Papua justru semakin menguat setelah menjadi bagian dari Republik Indonesia, meskipun dikemukakan pada tahun 2005, lebih dari 15 tahun yang lalu, masih relevan hingga hari ini. Seperti ditulis oleh Dr. Bernarda Meteray, yang tesis doktor sejarahnya di Universitas Indonesia diuji oleh Richard Chauvel, dalam tulisan untuk mengenang gurunya, Muridan Widjojo, sebagai berikut:  “…peluang untuk mewujudkan nasionalisme itu di Papua (maksudnya nasionalisme Indonesia, pen) tetap terbuka jika dan hanya jika ada kemauan dari berbagai pihak untuk berdialog secara damai …” (2021; 305).

Richard Chauvel barangkali bisa dikatakan sebagai generasi pertama dari ilmuwan Australia yang memberikan perhatian pada perkembangan politik di kawasan timur Indonesia, sebuah kawasan dari republik Indonesia yang secara geografis paling dekat dengan Australia, sebuah negeri dimana tinggal suku putihnya Asia, meminjam istilah Ratih Hardjono. Bagi Richard kedekatan secara geografis tampaknya perlu diikuti oleh kedekatan secara sosial dan mungkin karena anggapannya itulah yang mendorong untuk mencurahkan sebagian waktu dan perhatiannya untuk mengembangkan apa yang disebut sebagai "Australian Studies" di berbagai kampus di Indonesia, seperti telah dilakukannya di UI, UGM dan UNCEN. 

Menjelang akhir  tahun 1980an saya sempat dihubungi oleh seseorang, saya tidak ingat lagi, apakah Philip Kitley, Richard Chauvel atau David Reeve; yang meminta ijin apakah beberapa kolom saya bisa disertakan dalam buku yang sedang mereka edit. Buku itu merupakan kumpulan tulisan dari orang-orang Indonesia tentang Australia. Ketika mendengar Richard  Chauvel wafat, saya mencari buku itu, karena saya yakin saya diberi satu kopi sebagai salah satu kontributor dari buku itu. Sayang buku itu belum saya temukan mungkin di salah satu tempat karena buku-buku saya terpencar di beberapa tempat sejak saya sering bepergian setelah pensiun, antara Jakarta, Bogor dan Malang. Dari google saya tahu judul buku itu "Australia di mata Indonesia: Kumpulan artikel pers Indonesia, 1973-1988” dan diterbitkan oleh penerbit Gramedia pada tahun 1989. Memang sejak menjadi mahasiswa pasca-sarjana di Australian National University,  meskipun tidak bisa dikatakan sering, saya berusaha menulis kolom untuk koran di Indonesia, tentang berbagai hal tentang Australia yang menarik perhatian saya dan berharap dapat saya bagi dengan pembaca di Indonesia.

Pertemuan saya dengan Richard Chauvel sangat sedikit, tapi saya merasakan bertemu dengan seseorang yang meskipun banyak mengetahui tentang Indonesia, terkesan rendah hati dan tidak terlihat hendak menggurui seperti sering saya lihat pada tidak sedikit dari mereka yang dikenal sebagai "Indonesianist" yang seolah-olah mengetahui segala seluk beluk tentang Indonesia.

Indonesia adalah sebuah negeri yang tidak hanya luas  dan besar secara geografis dan demografis tetapi juga beragam dalam banyak dimensi: sejarahnya, politiknya dan kebudayaannya. Dalam konferensi yang diselenggarakan Asian Studies Association of Australia (ASAA) beberapa tahun yang lalu di kampus UWA Perth, Australia Barat; saya berjumpa pertama kali dengan Richard.

Seusai presentasi hasil penelitian kami tentang cagar budaya di Jawa, salah satu yang mendekati kami dan mengajak bicara adalah Pak Richard Chauvel.  Saya tidak ingat apa yang diucapkan waktu itu, tapi jelas ada sikap simpatik terhadap apa yang telah kami lakukan.

Saya bertemu lagi dengan Pak Richard Chauvel agak sering meskipun hanya melalui zoom ketika masa pandemi. Ada dua kegiatan yang membuat saya sering berkomunikasi dengan Pak Richard, yang pertama ketika sejumlah teman bersepakat membuat diskusi dengan jumlah peserta terbatas tentang Papua, dan yang kedua ketika saya dan Dr. Cahyo Pamungkas, membuat buku untuk menghormati almarhum Muridan Widjojo yang wafat lebih dari 7 tahun yang lalu.

Dalam kegiatan pertama yang merupakan 5 kali putaran Webinar (23 Juni sampai 28 Juli 2020 tentang berbagai isu yang kami anggap krusial di Papua, sekitar 20an peserta, setengahnya dari Papua, dan salah satu peserta non-Papua adalah Pak Richard;  kami bersepakat untuk seminggu sekali bertemu dan berdiskusi secara intensif tentang sebuah isu yang telah disepakati bersama sebelumnya. Selama kurang lebih sebulan itu Pak Richard selalu menyempatkan waktu untuk hadir. Mungkin saja saat itu sebetulnya Pak Richard sudah mulai sakit, tetapi kami tidak melihat tanda-tanda itu karena Pak Richard selalu tampil ceria dan bersemangat. Seperti biasa dalam webinar itu kami selalu bergurau dan Pak Richard yang mengikuti acara itu dari rumahnya di Melbourne, selalu mengatakan kalau di Melbourne, seperti juga di Papua, saat itu sudah mulai malam. Transkrip diskusi terbatas itu setelah diedit oleh Elvira Rumkabu, Anton Novenanto dan Veronika Kusumaryati kemudian diterbitkan sebagai buku dengan judul "Marginalisasi dan De-Marginalisasi Papua: Sebuah Dialog Panjang". Sejak semula para peserta diskusi ini memang ingin menunjukkan bahwa orang Papua sebetulnya mampu dan memiliki daya untuk mengemansipasi dirinya sendiri.

Kesempatan “bertemu" kedua dengan Pak Richard Chauvel adalah ketika saya dan Dr. Cahyo Pamungkas berinisiatif untuk membuat buku untuk mengenang Muridan Widjojo, peneliti LIPI yang  mendedikasikan hampir seluruh hidupnya untuk Papua. Dari 40 nama yang kami minta untuk memberikan kontribusi, 23 orang menyatakan bersedia untuk menulis, salah satunya adalah Richard Chauvel. Dalam buku yang kami beri nama "Emansipasi Papua: Tulisan Para Sahabat untuk Mengenang dan Menghormati Muridan S. Widjojo (1967-2014)" itu, Pak Richard menyumbangkan tulisannya tentang pemekaran wilayah di Papua (Pemekaran: Fragmentation, Marginalization and Co-option), sebuah isu yang saat ini kontroversial mengingat besarnya kepentingan pemerintah pusat untuk secara cepat menguasai Papua.

Semestinya, jika tumor otak tidak terlalu cepat mematikan syaraf-syarafnya, kesempatan untuk bertemu dan berkomunikasi dengan Pak Richard masih akan berlangsung karena Pak Richard tentu akan dengan senang hati memberikan kontribusi tulisan untuk nomor khusus Jurnal Masyarakat Indonesia yang saat ini sedang kami siapkan dengan tema "Indonesia dan Masa Depan Papua".

*Peneliti independen. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik akademia portal kajanglako.com


Tag : #akademia #papua #marginalisasi



Berita Terbaru

 

Sosok dan Pemikiran
Jumat, 27 Mei 2022 21:00 WIB

Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan Buya Syafii Maarif


Oleh: Jumardi Putra* Saya cukup kaget mendapat kabar kepergian Buya Ahmad Syafii Maarif. Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), yang juga mantan

 

Senin, 23 Mei 2022 21:06 WIB

Grand Opening Buy Coffee Diresmikan Gubernur Jambi Al Haris


Kajanglako.com, Jambi - Berada di tengah ibukota Provinsi Jambi, dengan lokasi yang sangat strategis untuk sebuah coffeeshop & resto, Buy Coffee &

 

Senin, 23 Mei 2022 14:55 WIB

Hari Pertama Kerja, PJ Bupati Henrizal Lanjutkan Program Cek Endra


Kajanglako.com, Sarolangun - Penjabat (Pj) Bupati Sarolangun Henrizal memasuki hari pertamanya, Senin (23/05), setelah dilantik Gubernur Jambi Alharis

 

Kamis, 19 Mei 2022 21:50 WIB

Komando Tugas Bersama Dharmasraya Gelar Halal bihalal Bersama Ketua Umum


  DHARMASRAYA - Keluarga besar Kogasba (Komando Tugas Bersama) kabupaten Dharmasraya Sumatera Barat laksanakan Halal bi Halal di rumah Ketua Umum

 

Kamis, 19 Mei 2022 21:40 WIB

Kembali Dharmasraya Raih Prestasi Terbaik Tingkat Nasional


  DHARMASRAYA - Pemerintah Kabupaten Dharmasraya kembali meraih penghargaan prestesius di tingkat nasional. Tak tanggung-tanggung, Dharmasraya berada