Sabtu, 04 Desember 2021


Minggu, 21 November 2021 16:50 WIB

John Rahail dan "Legacy" Michael Rumbiak

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Namanya kedengaran seperti nama Orang Barat, tapi dia Orang Kei yang lahir dan dibesarkan di Merauke, Papua. Adalah kakeknya yang pertama kali merantau ke Papua, sebagai seorang guru agama, tahun 1929, dalam misi Katolik Belanda.Kakek John Rahail tiba di Papua persis setahun setelah Pemuda dan Pemudi dari berbagai latar belakang suku, agama dan daerah berikrar, menucapkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.



Pemuda dan Pemudi yang berkumpul di sebuah gedung di Batavia itu adalah mereka yang beruntung menjadi kaum terpelajar hasil pendidikan sistem persekolahan Belanda. Kakek John Rahael tidak seperti para terpelajar yang umumnya berada di kota tapi justru menjadi guru di pedalaman Papua. Papua saat itu masih menyatu dengan wilayah jajahan yang lain seperti Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi; dibawahpemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Ketika para pemimpin pergerakan nasional memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 seluruh wilayah Hindia Belanda telah runtuh dan wilayah Hindia Belandajatuh ke tangan tentara Jepang.Ketika Jepang kemudian dikalahkan oleh tentara sekutu yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Inggris, Belanda menginginkan wilayahnya yang telah bernama Indonesia itu kembali menjadi wilayah jajahannya.Sayang, Belanda harus menghadapi kenyataan bahwa para pejuang kemerdekaan Indonesia tidak mau menyerah begitu saja.Perang kemerdekaan diselingi perundingan sampai pada pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada tahun 1949, kecuali Papua. Papua masih dikuasai Belanda sampai tahun 1969 ketika sebuah jajak pendapat dibawah pengawasan PBB dilakukan yang hasilnya memperlihatkan bahwa Orang Papua memilih menjadi bagian dari Indonesia.

John Rahail yang dilahirkan pada tahun 1966 itu baru berusia 3 tahun ketika Papua mulai menjadi bagian dari Indonesia.John Rahail bisa dikatakan dibesarkan dalam alam pendidikan Indonesia. Dalam kesempatan ngobrol dengan John Rahail beberapa waktu lalu di Jayapura, dalam perjalanan mobil ke Sarmi maupun saat bersama-sama sarapan pagi di penginapan, ia selalu menceritakan bahwa pengaruh kakeknya yang menjadi guru di pelosok Merauke sangat besar pada dirinya.

Setelah menamatkan SMA di Merauke John Rahail melanjutkan studi di Jurusan Geografi FKIP (Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan) Universitas Cendrawasih (UNCEN) di Jayapura.Ketika menjadi mahasiswa geografi itulah John Rahail menjadi mahasiswa dari Michael Rumbiak dan sejak itu terus mendapatkan bimbingan dari Michael Rumbiak guru yang dianggapnya telah menjadi sumber inspirasi bagi karirnya sebagai seorang akademisi maupun dalam berbagai kiprahnya di masyarakat.John Rahail adalah tipe akademisi yang tidak merasa hanya cukup mengajar mahasiswanya di kelas tetapi ingin langsung melakukan kerja-kerja yang langsung memiliki manfaat bagi masyarakat.

Pilihannya untuk mempelajari ilmu geografi dan kedekatannya dengan Michael Rumbiak seorang yang memperoleh gelar master di bidang demografi sosial dari Australian National University (ANU), Canberra, Australia; membuatnya mengikuti jejak gurunya, mengkombinasikan geografi dan demografi dalam satu nafas. Secara kebetulan Michael Rumbiak adalah kakak kelas saya di ANU dan kami sama-sama memilih migrasi sebagai fokus kajian kami. Tesis master Michael Rumbiak tentangmigrasi  penduduk dari Desa Genyem di Nimboran ke Jayapura, sebuah fenomena yang tidak banyak diperhatikan pada awal tahun 1980an, namun fenomena migrasi desa-kota terbukti menjadi semakin penting untuk dipahami di Papua saat ini. Kenyataan yang memperlihatkan semakin berpengaruhnya migran dari wilayah pegunungan di sektor politik dan ekonomi di kota-kota pantai membuktikan tesis yang pernah ditulis oleh Michael Rumbiak hampir empat puluh tahun yang lalu.[1]

Foto Michael Rumbiak

 

John Rahail benar-benar pewaris legacy Michael Rumbiak sebagai perintis kajian kependudukan di UNCEN.Michael Rumbiak adalah pendiri Pusat Studi Kependudukan (PSK) di UNCEN yang sejak tahun 80an mulai bermunculan di kampus-kampus di Indonesia.Kemunculan PSK memang didorong oleh pemerintah yang saat itu gencar menggalakkan program menurunkan laju pertumbuhan penduduk. Pada tingkat nasional dibentuknya BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) yang diberi kewenangan besar untuk menurunkan laju pertumbuhan penduduk melalui program KB selain mendapatkan dana yang besar dari pemerintah juga didukung sepenuhnya oleh UNFPA (United Nation for Population Activities) lembaga dibawah PBB yang mengelola dana untuk membiayai program-program penurunan laju pertumbuhan penduduk.

Era 1980-an dan 1990-an adalah era ketika pemimpin-pemimpin dunia terutama di negara-negara industri di Barat melihat laju pertumbuhan penduduk di negeri-negeri sedang berkembang di Asia, Afrika dan Amerika Latin dapat menjadi ancaman global jika tidak dikendalikan karena kecepatannya bisa melampaui kecepatan pertumbuhan ekonomi. Melalui UNFPA dana-dana yang berasal dari negara maju dikerahkan untuk mendukung berbagai program penurunan laju pertumbuhan penduduk di negara berkembang.

Selain bantuan untuk program KB bantuan juga diberikan oleh UNFPA untuk memperkuat “expertise” dari negara-negara berkembang melalui pelatihan maupun pengiriman mahasiswa untuk belajar ilmu kependudukan dan demografi ke luar negeri. Pembentukan PSK juga mendapatkan bantuan dari UNFPA melalui Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup saat itu.Michael Rumbiak dan saya adalah juga contoh dari mereka yang dapat bantuan pendikan dari UNFPA tahun 1980an itu untuk belajar demografi di ANU.

Selain merupakan era keemasan dari dunia kependudukan dengan banyaknya program-program dari BKKBN, era 1980-an dan 1990-an juga merupakan masa aktifnya PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) jaringan LSM yang bergerak dalam bidang kependudukan dan kesehatan masyarakat. Dalam konteks ini para akademisi di PSK yang berada di Universitas dan Perguruan Tinggi memainkan peranan yang penting karena “expertise” yang mereka miliki di bidang kependudukan dan kesehatan masyarakat, kususnya kesehatan reproduksi. Legacy Michael Rumbiak sebagai pelopor PSK di UNCEN inilah yang diteruskan oleh muridnya, John Rahail.

Berbeda dengan gurunya yang memilih demografi untuk jenjang pendidikan S2-nya, John Rahail memilih kesehatan masyarakat sebagai bidang keilmuan yang dipilihnya.Setelah menyelesaikan S1 di jurusan geografi UNCEN John Rahail melanjutkan studi S2-nya di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Gajah Mada (UGM), Jogyakarta.Selain mendapatkan gelar master di bidang kesehatan masyarakat, dengan tesis tentang situasi kesehatan di Papua; putra satu-satunya juga dilahirkan di Yogyakarta. Selain mewarisi legacy Michael Rumbiak sebagai Ketua PSK UNCEN, John Rahail juga mewarisi jabatan sebagai Ketua PKBI Papua, bahkan John Rahail karena kepakarannya di bidang kesehatan maasyarakat dipercayai untuk memimpin sebuah klinik kesehatan di kompleks pelacuran yang sangat terkenal karena jumlah PSK-nya yang besar di Sentani, Tanjung Elmo, di pinggiran Kota Jayapura. Bukan rahasia lagi bahwa penderita penyakit kelamin dan HIV Aids secara nasional jumlahnya sangat tinggi di Papua.

Diluar prestasi dan kiprahnya di bidang kependudukan dan kesehatan masyarakat, John Rahail juga memiliki prestasi yang telah memperoleh tidak sedikit pengakuan dan penghargaan antara lain dari Menteri Pendidikan M. Nuh, Ashoka Foundation dan UNDP;  yaitu sebagai perintis dari apa yang olehnya dinamakan sebagai Sekolah Kampung.

Ide Sekolah Kampung yang diperolehnya melalui proses yang cukup panjang sebagai peneliti sekaligus aktifis sosial yang sangat peduli dengan situasi masyarakat Papua yang oleh banyak pihak dianggap terbelakang. John Rahail dengan bendera ICPD (Institute of Community Development Program) sebuah LSM pembangunan dan pemberdayaan masyarakat yang dibangun bersama teman-teman dekatnya, dengan konsep Sekolah Kampung-nya ingin membuktikan bahwa untuk mengemansipasi masyarakat Papua yang pertama-tama harus dimiliki adalah sikap empati.

Tanpa adanya sikap empati, apapun yang akan dilakukan di Papua hanya akan mengubah kulit luar tanpa mengubah hakekat Orang Papua. Dengan Sekolah Kampung-nya John Rahail membuktikan bahwa membangun trust merupakan langkah dasar terpenting jika ingin mendorong perubahan masyarakat di Papua. Untuk membangun trust tidak mungkin tanpa adanya empati. Inti Sekolah Kampung adalah mengembangkan persekolahan sebagai tempat belajar yang menyenangkan sehingga membangun rasa percaya diri dan harga diri seorang anak dari kampung yang tampak terbelakang.Cara membangun rasa senang dan harga diri adalah dengan mengembangkan pelajaran-pelajaran yang secara ekologis dan kebudayaan dekat dengan kehidupan kampung Papua.

Beberapa waktu yang lalu saya bersama sebuah tim kecil dari LIPI (sekarang BRIN) berkesempatan melihat langsung apa yang disebut sebagai Sekolah Kampung - sebuah hasil inovasi sekolah alternatif bagi anak-anak Papua yang telah dirintis sejak tahun 2007 di Desa Beneraf, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Untuk mencapai Desa Beneraf dari Jayapura diperlukan waktu sekitar 5 jam berkendaraan mobil yang cukup kuat seperti Toyota Fortunner mengingat jalan aspal yang dilalui tidak selalu mulus.

Meskipun kunjungan kami singkat, kami bisa melihat sendiri bagaimana John Rahail, melalui pendekatannya sendiri, bisa begitu dekat dengan warga desa Beneraf yang penghasilan pokoknya dari hasil penjualan kelapa, hasil kebun, buah dan sedikit dari mencari ikan dilaut. Para tetua di kampung itu menceritakan dengan penuh perasaan bagaimana anak-anak yang pernah ikut Sekolah Kampung sekarang sudah berhasil meneruskan kuliah di berbagai universitas tidak saja di Jayapura tapi di Jawa.Sekolah Kampung yang digagas John Rahail, saat ini sedang diujicobakan di sebuah desa di Bintuni dan dan di Yakore di Demta. Mungkin banyak pihak akan memandang sebelah mata atas upaya rintisan John Rahail, Orang Kei yang dibesarkan di Tanah Papua; tapi saya telah melihat sendiri bahwa ide dasar John Rahail tentang trust dan empati adalah kunci bagi siapapun, apalagi pemerintah jika mereka ingin benar-benar menjadikan penduduk Papua sejahtera.

*Peneliti independen. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik akademia portal kajanglako.com



[1]Selain tesis Michael Rumbiak tentang migrasi desa-kota, tesis Jos Mansoben, seorang antropolog paling senior di UNCEN tentang tipe-tipe kepemimpinan lokal di Papua, yang juga ditulisnya sebagai tesis doktornya tahun 80an di UI dengan bimbingan dari Profesor Koentjaraningrat; jelas perlu dibaca kembali untuk mengerti ‘elite politics” yang saat ini berkembang di Papua.




Berita Terbaru

 

Sabtu, 04 Desember 2021 20:18 WIB

Bupati Fadhil Arief Terima Penghargaan dari Organisasi Pemuda Malaysia


Kajanglako.com, Muaro Jambi – Bupati Batanghari Fadhil Arief menerima penghargaan dari Pengakab Negeri Sabah Malaysia. Penghargaan tersebut diberikan

 

Sabtu, 04 Desember 2021 16:32 WIB

Anggota Ombudsman RI Diskusi Soal Pelayanan Publik Bidang Kelistrikan bersama Mahasiswa Kerinci


Kajanglako.com, Jambi - Dalam kunjungan kerja yang dilaksanakan Anggota Ombudsman Republik Indonesia, Hery Susanto ke Provinsi Jambi, ia menyempatkan menyapa

 

Sabtu, 04 Desember 2021 10:16 WIB

Globalisasi dan Indonesia: Post-script dan Post-humous.


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Jika globalisasi didefinisikan secara sederhana sebagai keterbuhungan apa yang terjadi di sebuah pojok bumi dengan apa yang

 

Jumat, 03 Desember 2021 17:49 WIB

Kolaborasi Akademisi dan Ombudsman RI Penting untuk Cegah Maladministrasi Pelayanan Publik


Kajanglako.com, Jambi - Peran civitas akademika dalam pengawasan pelayanan publik sangat krusial di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan oleh Anggota

 

Kamis, 02 Desember 2021 10:30 WIB

47 KPM Terima Bantuan P2K di Kelurahan Pasar Sarolangun


Kajanglako.com, Sarolangun - Sebanyak 47 keluarga penerima manfaat (KPM) terima bantuan Percepatan Pembangunan Kelurahan (P2K) di Kelurahan Pasar Sarolangun. Bantuan