Sabtu, 04 Desember 2021


Sabtu, 06 November 2021 07:17 WIB

Ong Hok Ham

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Saya memilih menggunakan nama aslinya, meskipun tidak sedikit yang kemudian memilih memakai nama Onghokham. Mengganti nama, mungkin bagi sebagian orang bukan persoalan serius, namun bagi sebagian orang yang lain, juga bagi saya meskipun saya sendiri tidak mengalaminya, adalah persoalan yang serius, apalagi jika itu dilakukan secara terpaksa.



Saat itu, saya masih duduk di kelas 3 SMA Negeri Tegal, tahun 1969, temanku tiba-tiba mengganti namanya menjadi Hadiwijaya. Guru fisikaku, karena kami dari jurusan paspal (pasti alam), seorang sastrawan, penulis cerita pendek, SN Ratmana, setengah bergurau mengatakan "Hati-hati lho nama kamu itu bukan nama sembarangan".

Hadiwidjaya memang nama Sultan Pajang, sebuah kerajaan kecil sebelum zaman Mataram, dan teman saya itu memang tinggi besar, cocok juga menggunakan nama itu. Tentu memilih nama juga pasti tidak dilakukan secara sembarangan. Nama sedikit atau banyak berhubungan dengan identitas kebudayaan. Memilih nama secara tidak langsung mengidentifikasikan diri sendiri atau keluarga dengan sebuah kebudayaan tertentu. Memaksa sekelompok orang meninggalkan cara memberi nama sesungguhnya memaksakan sebuah identitas kebudayaan baru dan meminta untuk meninggalkan identitas kebudayaan yang lama.

Bagi saya mengganti nama apalagi secara terpaksa adalah tindakan yang sesungguhnya sangat menyakitkan. Kekuasaan yang memaksa orang untuk mengganti nama adalah kekuasaan yang tidak menghormati martabat seorang manusia.

Setahu saya lebih banyak orang yang kemudian mengganti nama daripada yang mempertahankan nama aslinya, Ong Hok Ham, juga mentor saya di LIPI, Thee Kian Wie; termasuk yang tetap menggunakan nama asli pemberian orang tua mereka, nama yang secara turun temurun menjadi identitas kebudayaan mereka.

Saya tidak tahu mengapa kedua orang ini ngotot tidak mengikuti kebanyakan orang lain, seperti juga Soe Hok Gie yang meninggal di puncak Gunung Semeru 1969 tidak mengganti nama seperti kakaknya Soe Hok Djin, yang berganti nama menjadi Arief Budiman. Ong Hok Ham tidak seperti Thee Kian Wie yang sepengetahuan saya hidup lurus-lurus saja, sementara Pak Ong begitu biasanya dipanggil, adalah seorang yang memilih melawan konvensi, seumur hidupnya membujang, konon homoseksual, peminum, slebor, nyentrik...pokoknya bohemian dan sedikit anarkis.

Dalam tulisan tentang Parsudi Suparlan saya sedikit menyinggung Pak Ong karena dua orang ini, sama-sama dosen di FSUI (Fakultas Sastra Universitas Indonesia), Rawamangun.  Pak Ong saya kenal sejak 1977 setelah pulang dari studinya di Universitas Yale, Amerika. Parsudi kembali dari studinya di Universitas North Carolina lebih dahulu setahun dari Pak Ong, tahun 1976.

Saya lebih dulu bergaul dengan Pak Ong daripada Parsudi. Jika pergaulan saya dengan Parsudi baru dimulai setelah agak lama menjadi peneliti di LIPI, sekitar pertengahan 80an. Perkenalan saya dengan Pak Ong sudah berlangsung sejak saya mahasiswa di Fakultas Psikologi. Di kampus UI Rawamangun, selain fakultas sastra dan psikologi, ada fakultas hukum dan FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Politik). Pak Ong dosen jurusan sejarah FSUI dan pertemuan saya dengan Pak Ong karena saya bersahabat dengan Kasijanto murid Pak Ong di jurusan sejarah.

Saya dan Kasijanto sempat diundang makan soto kuali bikinannya di rumahnya waktu itu, kalau nggak salah, masih di Jl. Balai Pustaka, Rawamangun. Dalam sebuah percakapan Pak Ong menyarankan supaya saya menulis skripsi tentang Nyai Loro Kidul. Terus terang bagi saya, saat itu, sarannya itu samasekali nggak nyambung bagi imajinasi saya. Baru sekarang setelah saya tua dan sedikit-sedikit mempelajari tentang Jawa, ada sedikit yang tersambung dengan sarannya untuk menulis Nyai Loro Kidul itu.

Pada bulan Januari 1980 saya seharusnya mulai masuk kerja di Leknas-LIPI tetapi kepada direktur Leknas saat itu, Dr. Suharso, saya minta ijin untuk menjalankan tugas sebagai wartawan Koran Salemba meliput beberapa kampus di negara ASEAN. Saya dan sahabat saya dari FISIP UI, Mohamad Sobary, ditugasi untuk meliput kehidupan mahasiswa di Singapura, Malaysia dan Thailand, sekitar 2 minggu. Kami dibekali tiket pesawat Pelita Air Service Jakarta Singapura PP, paspor jurnalis dan uang saku. Perjalanan dari Singapura ke Kuala Lumpur dan Bangkok menggunakan kereta api dan mobil ketika melintasi perbatasan Malaysia Thailand. Kisah perjalanan kami bisa dibaca dalam tulisan berseri yang dibuat oleh Bung Sobary di Majalah Gadis. Saya sendiri tidak menulis apa-apa karena tidak lama setelah kembali ke Jakarta langsung bekerja di Leknas-LIPI dan melupakan tugas dari Koran Salemba itu. Yang ingin saya ceritakan adalah, saya dan Bung Sobary mendapatkan kehormatan untuk menginap di apartemen Pak Ong selama tinggal di Singapura.

Pak Ong saat itu menjadi visiting fellow di ISEAS (Institute of Southeast Asian Studies) yang direktur pertamanya adalah Harry J. Benda pembimbing tesis Pak Ong saat menyelesaikan doktornya di Universitas Yale, New Haven, Amerika Serikat. Ketika Pak Ong menjadi fellow direktur ISEAS sudah dipegang oleh Profesor Kernial S. Sandhu, warganegara Singapura keturunan India. Sebagai mahasiswa (saya sebetulnya baru lulus Desember 1979) kami nggak terlalu faham apa yang dikerjakan oleh Pak Ong di ISEAS, selama dirumahnya kami cuma ngobrol dan makan masakannya Pak Ong, jalan-jalan di Kampus NUS (National University of Singapore). Malamnya aku ingat Pak Ong menikmati dipijit sekujur tubuhnya, dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Bung Sobary memang jago mijit, meskipun bagiku cukup sekali dipijit dia karena buatku terlalu keras, misalnya pijitnya diakhiri dengan cara menarik rambut secara mendadak setelah dipijit kulit kepalanya.

Ketika kami pulang dari Singapura, Pak Ong meminta saya membawa seperangkat mangkuk yang telah dipakainya selama di Singapura. Aku ingat seperangkat mangkuk dari keramik itu berwarna biru muda dengan gambar ikan koi. Pak Ong memang tidak lama lagi habis fellowship-nya di ISEAS jadi untuk mengurangi bagasinya dia minta saya membawakan mangkuk-mangkuk yang selama ini dipakainya. Meskipun sebetulnya enggan tapi saya tidak bisa menolak karena kami toh telah menginap dan makan gratis di apartemennya. Bung Sobary juga tidak banyak komentar tentang titipan itu. Tapi yang kemudian terjadi adalah sebuah cerita lucu meskipun sedikit menegangkan dan agak memalukan. Setelah mendarat, waktu itu bandaranya masih Kemayoran, barang-barang bawaan kami satu persatu diperiksa. Ketika petugas bea cukai itu melihat satu set mangkuk dalam kotak kardus, matanya tiba-tiba nyalang. "Ini barang antik", katanya serius. Saya menjelaskan kalau itu cuma titipan teman mangkuk bekas yang telah dipakainya. Tapi petugas beacukai yang sudah melihat bakal dapat untung itu ngotot bahwa mangkuk keramik biru muda bergambar ikan koi itu adalah barang antik dan harus ditahan. Karena saya juga ngotot, akhirnya saya dan barang itu dibawa kekamar atasannya. Apa yang terjadi? Begitu melihat mangkuk itu dia langsung bilang "ini bukan barang antik". Aku lihat betapa malunya si petugas bea cukai yang sudah melihat akan dapat uang ekstra dari temuannya itu. Dari bandara kami langsung pulang naik taksi sambil ngedumel ke Asrama Mahasiswa Daksinapati, Rawamangun, markas besar kami.

Sejak bekerja di Leknas-LIPI meskipun tidak sering saya lebih mudah bertemu Pak Ong karena Pak Ong rajin menghadiri seminar-seminar yang diselenggarakan LIPI. Tahun-tahun 80an dan 90an mungkin ahli- ahli ilmu sosial yang aktif menulis dan menjadi pembicara dalam seminar-seminar banyak yang berasal dari LIPI. Dunia ilmu-ilmu sosial dan golongan yang sekarang disebut sebagai intelektual publik belum berkembang dan beragam seperti sekarang. Iklim politik tahun 80an relatif tenang dibanding 70an dan 90an dan itu juga waktu yang bisa dibilang paling produktif bagi para cendekiawan yang berhasil melewati gejolak politik seputar 1965. Bagi generasi akademisi, wartawan maupun seniman yang sudah berkarir pada tahun 60an,  peristiwa 1965 meninggalkan bekas yang bagi sebagian orang traumatis, tampaknya itu juga yang dialami oleh Pak Ong. Kisah bagaimana Pak Ong melewati masa kegelapan dalam sejarah politik Indonesia modern ini telah menjadi pengetahuan umum. Zaman kegelapan itu ditandai oleh polarisasi yang tajam dari dua kubu yang semestinya tidak sampai harus saling membunuh jika sebuah aliansi jahat tidak menjadi latar belakangnya. Ketika para seniman, akademisi dan wartawan yang saling berbeda pilihan politik itu dipaksa keadaan untuk saling membabad, nasib malang harus ditanggung oleh mereka yang kubunya dianggap berseberangan dengan tentara yang berkuasa. Jika tidak mati terbunuh mereka ditangkap dan dipenjara, sebagian dibuang ke pulau Buru. Ong Hok Ham dalam polarisasi politik itu sepertinya berada di grey area, hanya nasib baik, mungkin melalui uluran tangan teman-temannya dia berhasil diselamatkan.

Dalam kata pengantar untuk buku kumpulan tulisannya di Kompas Ong Hok Ham menceritakan kalau perkenalan pertamanya dengan desa di Jawa karena diajak Kartjono ketua GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) Jakarta.[1] Saat itu dia sedang tertarik dengan gerakan petani di Vietnam dan ingin menulis skripsi sarjana mudanya tentang desa. Kartjono sahabatnya itu  pasca 1965 ditangkap tentara dan dipenjara di Salemba tanpa pengadilan selama 9 tahun.  Setelah dilepas, Kartjono aktif di Bina Desa, sebuah LSM yang bergerak di bidang pedesaan dan sempat menjadi direkturnya. Ketika sejumlah pimpinan LSM diundang ke Australia, Kartjono termasuk diantaranya. Dalam sebuah diskusi di ANU (Australian National University) di Canberra yang saya ikuti, sekitar akhir 80an, Aswab Mahasin, dari LP3ES bertindak sebagai pembicara yang mewakili rombongan LSM Indonesia. Seorang pemimpin LSM Australia yang duduk disebelah saya saat pertemuan itu berbisik pada kolega yang berada disampingnya "pemikirnya Kartjono bukan Aswab Mahasin".

Ong Hok Ham menulis skripsi sarjana sejarahnya di UI tentang kejatuhan pemerintah Hindia Belanda dan ketika melanjutkan studi doktoralnya di Universitas Yale, Pak Ong menulis tesis tentang petani dan priyayi di karesidenan Madiun. Tesis Ong Hok Ham menjadi referensi penting para peneliti asing yang mempelajari Jawa, membuktikan otoritasnya sebagai ahli tentang Jawa. Pada tahun 1986 sebuah buku diterbitkan dengan judul Refleksi Paham Kekuasaan Jawa dalam Indonesia Modern, dalam sebuah obrolan dengan sedikit sinis, seperti biasanya, dia mengomentari si penulis buku ini "Orang ini sebenarnya nggak tahu Jawa".

Sebagai peminum Pak Ong sudah sohor. Ketika menjadi visiting fellow di ANU, mungkin atas undangan sahabatnya Tony Reid, professor sejarah paling senior di ANU, saya yang saat itu menjadi mahasiswa di ANU ikut melayani kebutuhan Pak Ong, antara lain membawa baju kotornya dari penginapannya di kampus ke rumah untuk dicuci. Pak Ong juga saya antar untuk mengunjungi beberapa tempat, antara lain suatu hari ke rumah Max Lane, penerjemah buku-buku Pramoedya Ananta Toer. Tahu kegemaran Pak Ong minum, malam itu Max Lane mengeluarkan simpanan wine tuanya. Sambil ngobrol ngalor ngidul sebotol wine tua tinggalan orang tua Max Lane habis ditenggaknya.  Malam itu Pak Ong nggak bisa berdiri dari tempat duduknya dan harus kami papah untuk masuk mobil dan saya antar ke penginapannya.

Meskipun saya bukan mahasiswanya dan saya merasa tidak terlalu dekat dengan Pak Ong, kalau diingat cukup banyak perlintasan hidup saya dengan Pak Ong.  Komunitas Pak Ong bisa dilihat setiap kali dia mengadakan pesta dirumahnya yang berbentuk joglo di Cipinang Muara, Jakarta Timur. Di rumahnya yang sebetulnya tidak terlalu luas itu setiap tanggal 1 Mei malam diundang sahabat dan koleganya yang bisa dibilang sebagai representasi elit Jakarta dimana para pesohor berkumpul ngobrol, makan dan minum, khas pesta gaya Pak Ong. Dalam pesta itu bisa kita lihat intelektual top, duta besar, artis, juga Indonesianis yang kebetulan lagi di Jakarta. Pak Ong memang selebriti yang menjadi pusat perhatian, dan untuk bagian mengirim undangan biasanya diserahkan pada Benny Subianto salah satu kolega muda Pak Ong. Pak Ong ilmuwan unik yang sulit dicari bandingannya. Meskipun gayanya urakan dia terbukti disukai banyak orang, terutama ilmuwan manca negara yang mempelajari Indonesia. Itu dibuktikan dalam buku yang diterbitkan untuk mengenang 100 Hari wafatnya Pak Ong. Dalam buku yang diedit oleh David Reeve, JJ. Rizal dan Wami Alhaziri itu (Onze Ong dalam Kenangan, 2007) banyak sekali ilmuwan mancanegara yang menyumbangkan tulisannya. Tulisan-tulisan itu tidak sekedar memuji keunggulan Pak Ong sebagai ilmuwan, atau jago masak;  namun yang justru menarik adalah kehangatan (intimacy) yang ditampilkan oleh tulisan-tulisan itu terhadap sisi-sisi kemanusiaan Pak Ong.  Mungkin nggak bakal ada lagi ilmuwan Indonesia yang diterima secara hangat oleh sabahat-sahabat mancanegaranya seperti Pak Ong, dalam hal ini Pak Ong benar-benar legendaris.

Dalam esainya untuk mengenang Soedjatmoko, seorang intelektual yang paling dihormati di Indonesia, di akhir tulisannya Pak Ong mengatakan sebagai berikut: "Fungsi cendekiawan adalah menganalisis dan mengungkapkan pendapat, sedangkan dalam masyarakat kita orang paling sukar menerima kritik. Soedjatmoko, seperti semua cendekiawan, adalah orang marjinal dalam masyarakatnya sendiri. Ini adalah nasib cendekiawan di mana saja, meski mereka bersikap patriotik, cinta tanah air, dan terutama cinta manusia, siapa saja"[2].  Apa yang dikatakan Ong, persis seperti yang dikatakan oleh sahabat dekatnya sejak muda, Ben Anderson, dalam kenangannya tentang “Ong Muda”: “Dia bukan intelektual luar biasa, dan dia sendiri akan menolak ‘pangkat ini’. Tetapi dia adalah orang yang betul-betul “pengen tahu”, ditengah masyarakat yang sering tara mau tahu, dan lebih sering lagi ”sudah tahu koq”. Plus: seorang manusia Indonesia yang bagaimanapun djuga pertjaja pada baikhatinya sesama orang Indonesia tingkat non-bordjuis. Tanpa prasangka!”.[3]

*Peneliti independen. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik akademia portal kajanglako.com

 


[1] Lihat, Pengantar buku Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong: Refleksi Historis Nusantara, cetakan ketiga, 2004, hal. xxii-xxiii.

[2] Lihat Ong Hok Ham, 2002, Dari Soal Priyayi sampai Ny Blorong: Refleksi Historis Nusantara, hal. 231.

[3] Lihat Benedict Anderson, 2007, “Ong Muda”, dalam David Reeve dkk, Onze Ong: Onghokham dalam Kenangan, hal. 61.


Tag : #Akademia #Ong Hok Ham



Berita Terbaru

 

Sabtu, 04 Desember 2021 20:18 WIB

Bupati Fadhil Arief Terima Penghargaan dari Organisasi Pemuda Malaysia


Kajanglako.com, Muaro Jambi – Bupati Batanghari Fadhil Arief menerima penghargaan dari Pengakab Negeri Sabah Malaysia. Penghargaan tersebut diberikan

 

Sabtu, 04 Desember 2021 16:32 WIB

Anggota Ombudsman RI Diskusi Soal Pelayanan Publik Bidang Kelistrikan bersama Mahasiswa Kerinci


Kajanglako.com, Jambi - Dalam kunjungan kerja yang dilaksanakan Anggota Ombudsman Republik Indonesia, Hery Susanto ke Provinsi Jambi, ia menyempatkan menyapa

 

Sabtu, 04 Desember 2021 10:16 WIB

Globalisasi dan Indonesia: Post-script dan Post-humous.


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Jika globalisasi didefinisikan secara sederhana sebagai keterbuhungan apa yang terjadi di sebuah pojok bumi dengan apa yang

 

Jumat, 03 Desember 2021 17:49 WIB

Kolaborasi Akademisi dan Ombudsman RI Penting untuk Cegah Maladministrasi Pelayanan Publik


Kajanglako.com, Jambi - Peran civitas akademika dalam pengawasan pelayanan publik sangat krusial di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan oleh Anggota

 

Kamis, 02 Desember 2021 10:30 WIB

47 KPM Terima Bantuan P2K di Kelurahan Pasar Sarolangun


Kajanglako.com, Sarolangun - Sebanyak 47 keluarga penerima manfaat (KPM) terima bantuan Percepatan Pembangunan Kelurahan (P2K) di Kelurahan Pasar Sarolangun. Bantuan