Sabtu, 04 Desember 2021


Senin, 01 November 2021 08:06 WIB

Parsudi Suparlan

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Tiba-tiba saya ingin mengingat tentang almarhum Parsudi Suparlan yang wafat tanggal 22 November 2007. Ingatan saya paling jauh tentang Parsudi mungkin kembali ke sekitar pertengahan tahun 1970an di sekitar kampus UI Rawamangun.



Saat itu saya sendiri adalah mahasiswa Fakultas Psikologi UI,  sementara Parsudi adalah dosen di jurusan antropologi, yang waktu itu masih berada di bawah Fakultas Sastra UI. Karena itu, kalau toh ada sedikit ingatan saya tentang Parsudi adalah melalui obrolan dengan teman-teman seasrama (Daksinapati) yang kebetulan menjadi murid Parsudi.

Salah satu teman di asrama yang banyak menceritakan tentang Parsudi adalah Thamrin Hamdan yang skripsinya dibimbing oleh Parsudi. Betapa serius dan berat kelihatannya dibimbing oleh Parsudi.

Parsudi adalah seorang dosen muda yang katanya baru kembali menyelesaikan studi di Amerika Serikat. Katanya, ia memiliki gaya mengajar yang khas dan memberikan matakuliah baru yang  selama ini tidak diajarkan, antara lain tentang kehidupan orang miskin di perkotaan.

Parsudi mengajarkan mahasiswanya mempelajari kehidupan orang miskin di Jakarta dengan cara hidup bersama mereka. Saya bayangkan para mahasiswa itu ikut hidup menggelandang bersama orang-orang miskin itu.

Terus terang, selain dari Thamrin Hamdan yang kebetulan seasrama, tidak banyak informasi langsung tentang Parsudi yang saya peroleh dari muridnya yang lain. Kawan baik saya seasrama dari Fakultas Sastra UI adalah Pamusuk Eneste (Jurusan Sastra Indonesia) dan Kasijanto (Jurusan Sejarah). Dari mereka tentu saya juga dengar cerita-cerita tentang Parsudi Suparlan – dosen nyentrik itu.

Kasijanto dan Pamusuk Eneste adalah dua teman yang aktif dalam kegiatan pers kampus. Keduanya aktif menjadi editor penerbitan dan melalui merekalah saya sedikit terlibat dalam dunia tulis-menulis sebagai kegiatan ekstra kurikulum.

Di Fakultas Psikologi UI juga terdapat penerbitan mahasiswa, antara lain yang saya ingat namanya ’Psyche’, dimana saya ikut terlibat dan beberapa kali menyumbangkan tulisan. Seingat saya, senior saya di fakultas Psikologi UI yang aktif di Psyche adalah Arief Burhan, yang juga aktif sebagai anggota Teater Populer, pimpinan Teguh Karya.

Seingat saya ada beberapa mahasiswa bahkan dosen Fakultas Psikologi UI yang menjadi anggota dan pemain tetap Teater Populer, seperti Dewi Savitri, Ninik L Kariem, Arief Burhan. Selain pers kampus dan teater, kegiatan kemahasiswaan lain yang saat itu hidup adalah diskusi dan naik gunung.

Grup Diskusi UI dan Mapala UI adalah dua kegiatan yang juga saya ikuti meskipun tidak terlalu serius. Kegiatan tulis-menulis rasanya mulai saya kembangkan sejak itu. Salah satu tulisan yang saya buat saat itu adalah resensi dari buku yang disunting oleh Parsudi Suparlan, sebuah kumpulan artikel terjemahan tentang kemiskinan di perkotaan.[1]

Parsudi menulis kata pengantar yang cukup panjang untuk buku yang dimaksudkan sebagai sebuah reader bagi mahasiswa tentang persoalan kemiskinan di perkotaan ini. Kalau tidak salah ingat diterbitkan di Majalah Optimis, dimana Kasijanto adalah salah satu redakturnya. Itulah perkenalan intelektual yang pertama dengan Parsudi Suparlan.

Dalam masa-masa pergolakan kampus karena menentang rejim Soeharto, Parsudi Suparlan sepengetahuan saya tidak terlihat keterlibatannya di sana. Kesan saya, dia seperti menghindar untuk terlibat dalam berbagai kegiatan politik di kampus yang merupakan perlawananan civitas akademika terhadap represi dari rejim Soeharto dan Orde Baru.

Saya tidak tahu apakah keengganannya untuk terlibat dengan aksi-aksi kampus yang menentang rejim Soeharto memiliki hubungan dengan masa lalunya sebelum peristiwa 1965. Tidak ada informasi yang bisa saya peroleh tentang aktivitas Parsudi semasa mahasiswa di awal tahun 1960an begitu juga posisinya disekitar konflik politik yang meruncing di tahun 1965.

Kita tahu betapa terpolarisasinya kampus di sekitar tahun 1965 yang berujung pada pemberangusan partai komunis dan golongan kiri di Indonesia.  Sepotong-sepotong cerita mulai muncul belakangan setelah rejim militer Soeharto yang anti komunis perlahan-lahan surut.

Biografi dan tulisan-tulisan kenangan tentang Soe Hok Gie yang merupakan salah satu aktivis dan akademisi yang sangat terlibat pada tahun 1966 misalnya adalah contoh menarik yang bisa menjelaskan sebagian kisah dari para intelektual yang berbasis di kampus saat itu.  Cuplikan-cuplikan cerita dari para intelektual dan akademisi di seputar tragedi 1965 ini suatu saat memang perlu untuk ditulis dengan lebih lengkap.[2]

Pada saat kampus bergolak dan mencapai puncaknya pada Peristiwa Malari (15 Januari 1974) dimana mahasiswa melakukan pawai dari Salemba ke Monas, antara lain menentang dominasi modal Jepang di Indonesia, Parsudi jelas tidak terlibat di dalamnya. Dampak dari Peristiwa Malari berupa penahanan tokoh-tokoh mahasiswa dan beberapa dosen UI seperti Darodjatun Kuntjorojakti dan Juwono Sudarsono; seperti sebuah dunia lain bagi Parsudi Suparlan. Parsudi jelas memilih jalannya sendiri dalam membangun karirnya sebagai seorang intelekual sekaligus akademisi di bidang ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan.

Disiplin ilmu yang diembannya, antropologi, memberikan ruang gerak dan arah yang tersendiri berbeda dengan antropolog-antropolog yang menjadi seniornya – terutama  mantan guru dan mentornya, Koentjaraningrat; tetapi juga dari ahli-ahli ilmu sosial bidang lain yang lebih mudah untuk populer seperti disiplin ilmu ekonomi atau politik.

Sebagai dosen yang memiliki gaya mengajar maupun gaya hidup yang ”eksentrik” barangkali Parsudi hanya mampu dikalahkan oleh rekannya sesama dosen di Fakultas Sastra UI  Jurusan Sejarah, Ong Hok Ham. Seperti dengan Parsudi saya juga sedikit mengenal dan hidup saya sempat berlintasan  dengan Ong Hok Ham. Ong Hok Ham yang meninggal beberapa bulan lebih dahulu dari Parsudi Suparlan adalah sebuah karakter lain di jagad intelektual-akademis di Indonesia, khususnya di Jakarta, lebih khusus lagi di Kampus UI Rawangangun – sebelum kampus UI pindah ke Depok.

Saya tidak tahu, dan tidak pernah mendengar cerita adanya ”pertemuan” antara Parsudi dan Ong Hok Ham, meskipun keduanya sama-sama intelektual-akademisi berkarakter dan bekerja di fakultas yang sama. Parsudi setahu saya bukanlah bagian dari ”komunitas Ong Hok Ham” yang selalu berkumpul di rumah Ong Hok Ham di Cipinang Muara, Jakarta Timur, setiap tanggal 1 Mei (Harlah Ong Hok Ham).

Kita tahu ”komunitas Ong Hok Ham” sesungguhnya merupakan komunitas yang cukup luas dengan anggota beragam latar-belakang. Keluasan ”komunitas Ong Hok Ham” ini tercermin antara lain dari beragamnya para penyumbang tulisan dalam buku kenangan yang baru diterbitkan untuk memperingati 100 hari meninggalnya sejarawan nyentrik ini.[3]

Parsudi Suparlan meskipun tidak termasuk dalam ”komunitas Ong Hok Ham” yang sebagian anggotanya adalah inteletual-akademisi terkenal negeri ini, terbukti memiliki tempat tersendiri dalam jagad intelektual-akademisi Indonesia.

Parsudi Suparlan dan Ong Hok Ham adalah dua karakter yang berbeda namun memilki beberapa persamaan-persamaan yang mungkin menarik untuk dikemukakan. Keduanya adalah intelektual-akademisi yang menjadi mahasiswa saat politik Indonesia terpolarisasi secara tajam dan mengalami tragedi besar ketika pertikaian politik memuncak di tahun 1965.

Saya menduga ketegangan politik saat itu ikut mempengaruhi sikap intelektual keduanya dalam berhadapan dengan kekuasaan. Sejauh yang saya lihat, keduanya memiliki integritas dan independensi sebagai intelektual-akademisi sangat terlibat (engaged) terhadap nasib bangsanya, namun tidak mau menjadi bagian dari kekuatan politik formal manapun.

Baik Ong Hok Ham maupun Parsudi Suparlan memiliki perhatian besar terhadap rakyat dalam arti yang sebenarnya. Ong Hok Ham menaruh perhatian pada sejarah sosial petani Jawa, sementara Parsudi sejak awal memilih untuk meneliti penduduk miskin yang tersingkir dan terdampar di ceruk-ceruk kota besar.

Keduanya juga anti dan berusaha melawan birokratisasi staf pengajar universitas yang sangat kuat di zaman rejim Soeharto-Orde Baru, antara lain dengan keengganan keduanya untuk tunduk pada berbagai keharusan untuk mengurus kenaikan pangkat selaku pegawai negeri sipil. Ong Hok Ham misalnya terpaksa harus pensiun dini karena jenjang kepegawaiannya tidak cukup tinggi untuk tidak dipensiunkan secara dini. Parsudi Suparlan juga tidak pernah kita dengar memberikan pidato pengukuhannya sebagai seorang profesor antropologi di UI.[4]

Sikap-sikap anti konvensi dari keduanya merupakan cerita tersendiri yang berkembang menjadi legenda di kalangan akademisi di kampus UI – khususnya di jurusan ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan.

Parsudi dan Ong Hok Ham bisa dikatakan sebagai generasi kedua ahli ilmu-ilmu sosial pasca kemerdekaan. Generasi pertama ahli ilmu-ilmu sosial pasca kemerdekaan adalah: Djoko Sutono (Hukum), Selo Sumarjan (Sosiologi), Fuad Hassan (Psikologi), Mirjam Budiardjo (Politik), Koentjaraningrat (Antropologi), Sartono Kartodirdjo (Sejarah), Soemitro Djojohadikusumo (Ekonomi).

Generasi pertama ahli ilmu-ilmu sosial pasca kemerdekaan ini hampir semuanya telah meninggal dunia. Sementara kita mulai melihat generasi kedua ahli ilmu-ilmu sosial juga satu-persatu meninggalkan kita. Ahli-ahli ilmu sosial kita hampir semuanya mencecap pendidikan dari barat.

Jika generasi pertama dan mungkin sebagian generasi kedua masih mengalami sisa-sisa pendidikan Belanda di Indonesia, baik saat mereka berada di sekolah menengah atau di perguruan tinggi; namun hampir semuanya pernah memperoleh pendidikan pasca-sarjana di barat. Ong Hok Ham belajar sejarah dibawah bimbingan Profesor Harrry J. Benda di Universitas Yale, dan Parsudi Suparlan mendapatkan gelar PhD di bidang antropologi dibawah bimbingan Profesor Edward Bruner di University of Illinois; keduanya di Amerika Serikat.[5]

Adalah sangat menarik seandainya dilakukan semacam pengumpulan data yang agak sistimatis tentang perkembangan karir dan sumbangan para ahli ilmu-ilmu sosial Indonesia pasca-kemerdekaan.

Dalam analisis bisa dilihat bagaimana hubungan antara ahli-ahli Indonesia di luar negeri dan murid-muridnya dari Indonesia. Apakah ada perbedaan antara mereka yang belajar di Eropa atau Australia dengan yang dari Amerika Serikat.

Kompilasi semacam ini sangat berguna untuk melihat bagaimana ilmu-ilmu sosial berkembang, dalam konteks lokal maupun internasional, dan apa sumbangannya bagi masyarakat dan ilmu pengetahuan.

Pertemuan dan hubungan saya secara langsung dengan Parsudi Suparlan relatif terbatas. Barangkali yang agak intensif adalah dalam kaitan dengan kedudukan Parsudi sebagai salah seorang anggota tim penilai hasil riset yang dibiayai oleh Menristek-Bappenas sekitar awal sampai pertengahan tahun 1990an.

Sebagai anggota dari tim penilai, Parsudi Suparlan tampil dalam posisi yang berlawanan dengan saya sebagai peneliti yang dinilai hasil penelitiannya. Dalam tim itu, selain Parsudi Suparlan, yang saya paling ingat adalah Dr. Nico Kana, seorang ahli antropologi dari Universitas Kristen Satya Wacana – yang bertindak sebagai ketua tim penilai, dan Dr. Loekman Soetrisno, seorang sosiolog dari Universitas Gajah Mada.

Seperti Parsudi, Loekman Soetrisno adalah seorang penilai yang ”keras” dalam mengkritik laporan penelitian saya.[6] Mungkin Loekman Soetrisno adalah Parsudinya UGM dan Parsudi Suparlan adalah Loekmannya UI.

Saya tidak tahu bagaimana hubungan pribadi antara keduanya, tapi satu hal yang saya rasakan aneh adalah keduanya tidak pernah bersama-sama saat saya mempresentasikan hasil penelitian saya. Apakah kedua orang yang memiliki karakter ”keras” ini enggan untuk berada dalam satu forum, sampai sekarang saya tidak tahu.

Dalam berhadapan dengan keduanya saya merasa bahwa Loekman Soetrisno seperti memberikan simpati terhadap saya, sementara Parsudi seperti selalu ingin membantai saya.[7]

Presentasi hasil akhir penelitian tahun kedua saya dinilai oleh tim evaluasi yang diketuai oleh Dr. Nico Kana dengan anggota yang hadir saat itu antara lain Dr. Parsudi Suparlan, Dr. Suharso, Dr. Riga Adiwoso, Dr. Sediono Tjondronegoro, Dr. Daniel Dhakidae, Dr. Paulus Wirutomo dan beberapa lagi yang tidak lagi dapat saya ingat namanya. Dr. Loekman Soetrisno tidak hadir pada saat saya presentasi hasil akhir tahun kedua tersebut.

Beberapa saat kemudian, melalui surat yang ditandatangani oleh Dr. Nico L. Kana, tim penelitian saya dinyatakan gagal untuk dapat dilanjutkan ke penelitian tahun yang ketiga. Yang membuat saya merasa tersinggung berat dengan isi surat yang ditandatangani oleh Dr. Nico Kana sebagai ketua tim evaluasi itu adalah tidak adanya penjelasan sedikitpun tentang alasan mengapa saya dinilai gagal.

Saya betul-betul merasa diperlakukan tidak adil oleh tim penilai karena saya merasa telah berusaha dengan serius menjawab semua pertanyaan yang mereka ajukan. Sebagai reaksi terhadap keputusan tim penilai yang saya anggap telah berlaku tidak adil itu, saya memutuskan membuat surat bantahan yang berisi pembeberan secara kronologis jalannya tanya jawab setelah presentasi saya tersebut.

Dengan surat yang kemudian saya kirimkan tidak saja ke semua anggota tim penilai tetapi juga kepada pimpinan LIPI dan Dewan Riset Nasional (DRN) saya ingin menunjukkan perlawanan saya terhadap tim penilai yang saya anggap tidak adil.

Terus terang saya tidak tahu bagaimana reaksi mereka yang membaca surat bantahan saya tersebut. Bagi saya yang terpenting telah memberikan penjelasan – dari sudut saya tentu - dari apa yang terjadi dalam sesi tanya jawab itu.

Ada seorang teman yang bilang katanya surat tersebut sempat dibicarakan dalam sebuah rapat DRN. Yang menarik, hanya Parsudi Suparlan yang membalas surat saya secara tertulis dengan tembusan ke ketua dan anggota tim penilai yang lain. Dalam suratnya itu,  Parsudi mengoreksi apa yang saya kemukakan sehubungan dengan pertanyaan yang dia ajukan dalam sesi tanya jawab itu, dan yang lebih menarik dia mengatakan merasa tidak pernah ”membantai” atau ”menjatuhkan” saya.

Selang tidak berapa lama setelah kejadian surat-menyurat itu, Parsudi menyempatkan menemui saya di kamar saya di LIPI (saat itu kamar kerja saya saya masih di lantai 10) dan ini yang mencengangkan saya, dia memeluk saya dengan erat dan mengatakan ”bukan saya kan yang menjatuhkan anda?”.

Sampai sekarang saya masih sangat terkesan dengan pengalaman berpelukan dengan Parsudi itu. Saya juga memang tidak punya perasaan dendam atau bermusuhan dengan dia. Sejak itu saya merasa berteman dengan Parsudi Suparlan.

Pada akhir tahun 1996 saya mendapatkan research fellowship dari Yayasan Fulbright untuk melakukan penelitian selama 6 bulan di Brown University di kota Providence di negara bagian Rhode Island di pantai timur Amerika Serikat. Ketika Parsudi tahu saya akan ke Providence dia memberitahu saya untuk menengok ibu mertuanya yang tinggal di sebuah kota kecil yang bernama Madison di negara bagian Connecticut – katanya tidak jauh dari Providence. Melalui email akhirnya saya bisa berkomunikasi dengan ibu mertua Parsudi Suparlan, June Clark – ibu dari Wendy Gaylord  - istri Parsudi.

Pada liburan Thanks Giving Day  menjelang akhir bulan November 1996 saya mengunjungi June Clark di Connecticut. Saya dijemput di terminal bis oleh June yang meskipun sudah berumur tetapi masih gesit menyopir, dan malam itu saya langsung diajak ke acara makan malam keluarga di sebuah restoran.

Saya tidak ingat berapa orang waktu itu keluarga besar mertua Parsudi berkumpul untuk merayakan Thanks Giving Day yang merupakan hari paling religius bagi Orang Amerika. Oleh June Clark saya diperkenalkan kepada saudara-saudaranya sebagai koleganya Parsudi di Jakarta, dan saat itu saya merasakan betapa mereka begitu respek terhadap Parsudi sebagai seorang akademisi yang terkenal.

Saya tiba-tiba merasa menjadi akademisi yang juga terkenal seperti Parsudi. Mereka kelihatan begitu bangga memiliki saudara seperti Parsudi Suparlan yang sangat terkenal di negerinya. Makan malam dengan menu khas panggang kalkun dengan saus cranberry begitu nikmat terasa malam itu di tengah-tengah kehangatan keluarga Parsudi Suparlan di Amerika Serikat.

Pertemuan terakhir saya dengan Parsudi Suparlan secara fisik barangkali adalah ketika sama-sama menghadiri konferensi antropologi di Padang, pertengahan tahun 2002. Parsudi datang dengan Wendy, dan dalam beberapa kesempatan di luar sesi-sesi seminar kami sempat ngobrol.

Kami sempat pergi makan malam bersama di sebuah restoran Padang, dan seingat saya dia pesan semur jengkol kesukaannya. Dalam kesempatan itu saya sempat mengkritik pendapatnya dalam sebuah wawancara yang kemudian dimuat di Majalah Tempo tentang kerusuhan komunal di Kalimantan.

Saya mengkritik Parsudi karena dalam akhir wawancara itu Parsudi seperti menyimpulkan bahwa pihak yang harus disalahkan dalam kerusuhan berdarah di Kalimantan yang banyak membuat Orang Madura terbunuh adalah para roh leluhur dari Orang Dayak yang telah merasuki jasad para panglima perang Dayak. Merekalah yang harus disalahkan bukan siapa-siapa, juga bukan polisi yang mestinya menjadi pihak yang harus menegakkan hukum secara adil dalam pertikaian komunal yang terjadi didepan mata mereka.

Saya mengatakan kepada Parsudi bahwa polisilah yang seharusnya dipersalahkan dan bukan para roh leluhur yang begitu abstrak. Apa reaksi Parsudi terhadap kecaman saya terhadap pendapatnya itu? Parsudi tertawa ngakak dan samasekali tidak memberikan jawaban yang serius terhadap kritik saya.

Saya merasa Parsudi sepertinya setuju dan tidak membantah kritik saya bahwa yang seharusnya dipersalahkan dan bertanggung jawab adalah polisi yang telah gagal menegakkan hukum dan melerai pertikaian komunal yang terjadi. Tapi memang saya juga tahu bahwa Parsudi adalah konsultan dari Kapolri yang saat melakukan penelitian ke Kalimantan adalah untuk kepentingan pihak polisi.

Persinggungan saya dengan Parsudi Suparlan yang sampai sekarang masih berjalan adalah dalam pemikiran. Saat ini saya sedang menyelesaikan sebuah paper yang kira-kira membicarakan tentang apa yang untuk sementara saya sebut sebagai ”cultural inequality” di Indonesia.

Salah satu isu yang saya bahas dalam paper tersebut adalah tentang apa yang pernah disebut sebagai ”suku atau masyarakat  terasing”. Dalam paper tersebut saya melakukan kritik terhadap Profesor Koentjaraningrat dan Parsudi Suparlan sebagai muridnya yang menurut saya telah mengintrodusir sebuah istilah yang memiliki implikasi sosial yang sangat besar bagi yang terkena.

Istilah ”suku terasing” yang dipakai oleh Koentjaraningrat dan Parsudi Suparlan dan kawan-kawannya adalah sebuah tindakan yang menurut pendapat saya secara langsung telah mendiskriminasi sekelompok orang di Indonesia.[8] Akibat dari istilah dan label yang dikenakan pada sekelompok orang itu memiliki implikasi yang sangat besar terhadap kebijakan yang kemudian dijalankan oleh pemerintah,  khususnya Departemen Sosial, melalui berbagai proyek untuk ”membudayakan” apa yang mereka sebut sebagai ”suku terasing” tersebut.

Kita tahu sejak awal tahun 1980an pemerintah Orde Baru – melalui Departemen Sosial dan Departemen Transmigrasi – memiliki proyek yang bernama pemukiman kembali suku terasing. Orang-orang yang dianggap sebagai suku terasing – sebagaimana  didefinisikan oleh para antropolog seperti Koentjaraningrat, Parsudi Suparlan dan Subur Budhisantoso, telah mengalami nasib yang mengenaskan karena direlokasi dari habitatnya secara setengah paksa, dan dimukimkan di tempat-tempat pemukiman yang telah disediakan oleh pemerintah. 

Kita tahu, seperti halnya program transmigrasi yang banyak mengalami kegagalan – antara lain karena banyaknya uang yang dikorupsi – program relokasi ”suku terasing” dari Departemen Sosial juga amburadul. Setelah reformasi, istilah ”suku terasing” oleh pemerintah – mungkin juga berkat anjuran Parsudi Suparlan atau murid-murid Koentjaraningrat yang lain, secara resmi diganti menjadi ”masyarakat adat terpencil”.

Saya kira, Parsudi Suparlan, seperti juga Ong Hok Ham, adalah sebuah karakter dalam jagad ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan di Indonesia. Kehadiran dan buah pemikirannya – yang tidak harus selalu kita sepakati - merupakan sebuah sumbangan besar bagi pengembangan ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan di Indonesia.

 *Peneliti independen. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik akademia portal kajanglako.com

 

Catatan kaki:


[1] Kemiskinan di Perkotaan, 1984. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

[2] Sepercik informasi saya baca dari kenangan Herman O. Lantang di buku Corat-coret Parsudi Suparlan (Editor Dian Sulistyawati dan Raymond Michael,  2007), halaman 9, dimana disitu tertulis: “Sama seperti alm. Soe Hok-Gie, Parsudi yang seringkali berani membela hak asasi orang yang tertindas dan terpuruk, diisyukan sebagai komunis oleh Group Ekstrimis yang merasa dirinya “pahlaawan” yang menggulingkan Orde Lama. Padahal mereka itu munafik, tukang gossip dan tukang fitnah, pengecut tetapi sok suci dan senang menari-nari diatas mayat orang lain”.  Kita tahu ada pertikaian politik besar di tahun 1965 yang merubah banyak nasib manusia di Indonesia. Kita juga tahu, seperti dikatakan oleh Herman Lantang dalam kenangannya tentang Parsudi, tidak sedikit aktivis mahasiswa yang kemudian menikmati kemenangan politik bersama Soeharto dan hidup makmur bersama Orde Baru. Ketika Soeharto tersungkur dari tahta kekuasaaanya Mei 1998, kita juga tahu, para mantan aktivis mahasiswa yang hidup makmur ini telah mengganti baju mereka dan menjadi para reformis kesiangan. Dibandingkan dengan mereka, Parsudi Suparlan – juga Ong Hok Ham, memilih jalan hidup yang lebih terhormat, konsisten menekuni hidup sebagai seorang akademisi yang jauh dari hidup makmur, apalagi dengan cara memanipulasi dan menghisap darah rakyat.

[3] Lihat Onze Ong: Onghokham dalam Kenangan. Editor: David Reeve, JJ Rizal, Wasmi Alhaziri. Jakarta: Panitia 100 Hari Onghokham, Komunitas Bambu, Desember 2007.

[4] Dalam sebuah kesempatan saya tanya Parsudi kapan orasi professornya, dia Cuma bilang “buat apa”?

[5] Baik Ong Hok Ham maupun Parsudi Suparlan keduanya sama-sama menulis tentang Orang Jawa. Ong Hok Ham disertasinya berjudul The Residency of Madiun: Priyayi and Peasant in the Nineteenth Century; Parsudi disertasinya berjudul The Javanese in Suriname: Ethnicity in an Ethnically Plural Society. Oleh Parsudi saya diberi buku yang semula merupakan disertasinya tersebut, dengan kata-kata disampulnya sebagai berikut: “Untuk teman Pak Riwanto dari Parsudi Suparlan”. Buku Parsudi ini terbukti sangat berguna karena kemudian saya mulai meneliti soal etnisitas dan Orang Jawa.

[6] Dr. Loekman Soetrisno meninggal karena serangan jantung disebuah bandara, 21 Agustus 1999.

[7] Loekman Soetrisno memberi kata pengantar terhadap hasil penelitian tahap pertama dari tim yang saya koordinir yang kemudian diterbitkan sebagai buku. Lihat Dinamika Pendidikan dan Ketenagakerjaan Pemuda di Perkotaan Indonesia (1994), Penyunting Riwanto Tirtosudarmo, Kata Pengantar Loekman Soetrisno. Jakarta Penerbit Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo). Penelitian saya tahun pertama itu juga mendapatkan penghargaan dari Dewan Riset Nasional yang diketuai oleh Menristek saat itu, Profesor B.J. Habibie.

[8] Lihat buku Koentjaraningrat yang berjudul Masyarakat Terasing di Indonesia (Gramedia, 1980), juga buku Parsudi Suparlan Orang Sakai di Riau (Obor, 1995).


Tag : #Akademia #Tokoh #UI #Nasionalisme #Antropologi



Berita Terbaru

 

Sabtu, 04 Desember 2021 20:18 WIB

Bupati Fadhil Arief Terima Penghargaan dari Organisasi Pemuda Malaysia


Kajanglako.com, Muaro Jambi – Bupati Batanghari Fadhil Arief menerima penghargaan dari Pengakab Negeri Sabah Malaysia. Penghargaan tersebut diberikan

 

Sabtu, 04 Desember 2021 16:32 WIB

Anggota Ombudsman RI Diskusi Soal Pelayanan Publik Bidang Kelistrikan bersama Mahasiswa Kerinci


Kajanglako.com, Jambi - Dalam kunjungan kerja yang dilaksanakan Anggota Ombudsman Republik Indonesia, Hery Susanto ke Provinsi Jambi, ia menyempatkan menyapa

 

Sabtu, 04 Desember 2021 10:16 WIB

Globalisasi dan Indonesia: Post-script dan Post-humous.


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Jika globalisasi didefinisikan secara sederhana sebagai keterbuhungan apa yang terjadi di sebuah pojok bumi dengan apa yang

 

Jumat, 03 Desember 2021 17:49 WIB

Kolaborasi Akademisi dan Ombudsman RI Penting untuk Cegah Maladministrasi Pelayanan Publik


Kajanglako.com, Jambi - Peran civitas akademika dalam pengawasan pelayanan publik sangat krusial di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan oleh Anggota

 

Kamis, 02 Desember 2021 10:30 WIB

47 KPM Terima Bantuan P2K di Kelurahan Pasar Sarolangun


Kajanglako.com, Sarolangun - Sebanyak 47 keluarga penerima manfaat (KPM) terima bantuan Percepatan Pembangunan Kelurahan (P2K) di Kelurahan Pasar Sarolangun. Bantuan