Jumat, 24 September 2021


Rabu, 18 Agustus 2021 15:32 WIB

Mengenal "Saranghae" dari Talang Mamak Bersama Rimba & Satwa

Reporter :
Kategori : Perspektif

Penulis bersama warga Talang Mamak

Oleh: Nor Qomariyah*

Anyaman rotan berbentuk keranjang itu begitu rapi tersusun. Keranjang ini biasa menggantung di kepala para perempuan maupun laki-laki suku Talang Mamak. Sambal berceloteh dengan Bahasa yang sulit difahami bagi orang awam sepertiku yang baru pertamakali berkunjung ke dusun Simarantihan.



Dusun ini merupakan salah satu dusun yang hanya dihuni oleh 54 KK dalam 4 Ketemenggungan Abu Nawas, Patih Sijin, Patih Sarunai, Mardan dimana masuk dalam wilayah administratif desa Suo-Suo Kabupaten Tebo pada 2018. Secara populasi pada 2020, Suku Talang Mamak dusun Simarantihan, berjumlah 191 (laki-laki 103 dan perempuan 88).

Saat ini, suku Talang Mamak di Desa Simarantihan telah memiliki rumah papan permanen. Sebuah organisasi Bernama Frankfrut Zoological Society (FZS) merupakan salah satu organisasi yang berpusat di Jerman yang membantu membangun 25 unit rumah papan bagi suku ini pada tahun 2000, lengkap dengan penampung air besar (tedmond) yang berdiri menjulang disebelah balai serba guna suku Talang Mamak. FZS merupakan salah satu NGo yang fokus dalam penanganan satwa, terutama Harimau dan Gajah Sumatra serta Orang Utan yang ada di area ini.

Ambung, itulah sebutan keranjang untuk memanen berbagai jenis sayuran maupun hasil hutan yang mereka dapatkan, seperti jengkol, petai, bahkan durian hutan. Rotan merupakan bahan utama pembuat ambung ini. Rotan bagi suku ini merupakan penghidupan dengan nilai tradisi lokal selain Jernang (Daemonorops spp) yang menjadi bahan tekstil.

Siang hari yang begitu terik, tak menyurutkan para indok (ibu) dalam mencari berbagai sayuran ataupun hasil hutan. Bersama, para perempuan ini begitu gesit mengumpulkan Jengkol yang akan mereka masak untuk santap siang. Berbeda dengan anak-anak, yang juga memiliki peran dalam mencari ikan di sungai. Kindok, sang Kepala Dusun menuturkan dahulu ikan begitu mudah didapatkan, kini rata-rata hanya 1-5 ekor ikan yang dapat ditangkap untuk lauk sehari-hari. Itupun harus tetap berbagi dan harus hati-hati mengambil ikan agar tetap terjamin ketersediaannya untuk hari berikutnya. Semakin sulit itu yang dirasakan. Karena menurut Kindok, perubahan cuaca ekstrim membuat sulit memprediksi sistem pertanian tradisional seperti yang mereka lakukan dengan cara gotong royong (Basolang).

Salah satu induk yang tak menyebutkan namanya mengatakan, bahwa dahulu sangat mudah menemukan berbagai jenis tanaman pangan Ketika tutupan hutan masih dalam kondisi baik. Karena secara adat suku Talang Mamak tak diperbolehkan membuka lahan secara serampangan, melainkan harus memilih lahan yang memang tutupan hutannya sudah tidak bagus lagi. Itupun pilihan komoditinya adalah tanaman pangan seperti padi lokal yang didahului dengan ritual sebelum penanaman.

Suku ini pada dasarnya memiliki sistem kekerabatan yang masih terjaga meski tersebar hingga ke Dusun Tuo Datai, Desa Rantau Langsat, Kecamatan Batang Gangsal Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Kemampuan menganyam rotan menjadi Ambung dengan berbagai ukuran, lukah, anyaman pandan tikar dan juga berbagai peralatan lainnya adalah hasil dari adaptasi dan belajar bertahan dengan tutupan hutan yang masih tersisa.

Mengenal Media Sosial “Facebook”

“Kakak, apakah kakak punya Facebook”? Terkesiap sejenak dan sambil tersenyum aku berfikir. “Tentu saja kakak punya”, Jawabku pada celotehan anak-anak Suku Talang Mamak dengan keceriaan polosnya. Anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) ini dengan antusiasnya memintaku untuk add nama-nama mereka dalam FB, termasuk nama yang menurutku sangat keren yakni Paker.

FB bagi anak-anak ini, menjadi bagian penting mereka mengenal dunia di luar mereka, terkoneksi tanpa batas dengan berbagai jalinan pertemanan. Mereka merasa bisa bertukar informasi, pertemanan tanpa harus bertemu scara fisik. Pengetahuan mengenai media sosial FB mereka pelajari secara otodidak karena dengan mudah gadget bisa didapatkan. Bahkan tempat untuk mendapatkan signal bisa diakses melalui salah satu bukit yang ditunjukkan padaku menggunakan jari-jari mungil mereka.

Begitu hangat mereka menyambutku hari itu (10/08/2021), duduk bersama dan menceritakan aktivitas keseharian mereka sambil bermain layang-layang. Aktivitas dalam satu minggu biasanya mereka isi dengan belajar sesuai dengan jam yang telah disepakati bersama dengan ibu guru pengampu. Tempat belajar yang sangat sederhana, hanya terdiri dari satu ruang kelas, dan satu ruang tempat tinggal ibu guru pengampu dilengkapi dengan panel surya sebagai sumber penerang di malam hari.

“Kami bersekolah kak, kami sudah bisa membaca sedikit-demi sedikit. Aku juga sudah hafal dengan huruf abjad”, celoteh anak-anak kelas 1 SD yang tak dapat aku hafalkan namanya satu persatu. Bersama-sama mereka serentak menghafalkan semua huruf abjad sambil bermain tebakan dan berbagi cerita lucu. Sempat salah satu diantaranya menanyaiku, apakah aku seorang guru? Kakak seperti ibu guru? Ya, karena melihatku berpakaian rapi, bersepatu, mereka melihat identitasku sebagai seorang guru. Bisa berbagi cerita dengan kami. Amazing menurutku, anak-anak ini begitu fasih berbahasa Indonesia, tentu saja tak sulit bagiku berkomunikasi.

Facebook sejatinya media sosial yang cukup signifikan penggunaanya untuk berbagai jenis kebutuhan, mulai dari konten penjualan barang, konten pribadi, hingga memanfaatkan untuk mengajak ikut berperan serta menjaaga hutan. Facebook merupakan penghubung dunia luar, yang tentunya harus ada filterisasi nilai dan kontennya.

Akan tetapi, penggunaan facebook di Simarantihan masih dalam kategori sesuai norma sosial yang wajar dan tentu saja ini menjadi peluang menarik mengenalkan generasi millennials Talang Mamak dengan berbagai isu lingkungan dan hutan sebagai entry point edukasi melalui media sosial facebook mereka sekaligus memanfaatkan pengenalan potensi heritage tourism yang mereka miliki saat ini.

Makna Rimba Suku Talang Mamak dan Harmonisasi Alam-Satwa

Rimba, menjadi bagian penting dari kehidupan Suku Talang Mamak. Segala yang mereka butuhkan tersedia dan dipenuhi oleh hutan. Sehingga keterikatan dengan hutan pada suku ini sangat tinggi. Meski mereka telah beradaptasi dengan pola pertanian baru dengan cara menetap, namun bagi mereka tetaplah hutan menjadi rumah bagi mereka.

Karenanya, peran suku ini sangat penting dalam menjaga keutuhan hutan, rimba mereka termasuk kberlangsungan penyangga Bukit Tigapuluh. Adalah PT. Alam Bukit Tigapuluh sebagai salah satu perusahaan restorasi ekosistem seluas 38.665 ha yang telah ada sejak 2015, dimana area ini termasuk dusun Simarantihan.

Omri, salah satu ranger PPH PT. ABT menyebutkan bahwa PT. ABT melibatkan masyarakat Simarantihan dalam pengamanan restorasi ekosistem. Apalagi ditengah pembukaan lahan yang massif di area ini, ditambah dengan berbagai jerat satwa, seperti jerat Rusa dan Kijang yang sering kali ditemukan saat patroli, terutama dalam kurun waktu Februari-Maret 2021, telah terhitung 26 jerat. Sebagai suku asli, maka selayaknya mereka juga mendapatkan perlindungan dalam kehidupan dan penghidupan, seperti halnya dalam IFCs PS 5 dan 7, tambah Ridwan yang juga merupakan salah satu ranger PPH yang aktif berpatroli di kawasan ini.

Selain Jernang dan Rotan, Madu Sialang juga pernah menjadi ikon pengembangan komunitas masyarakat Suku Talang Mamak sejak tahun 2018 yang didukung oleh PT. ABT. Madu ini dikembangkan menjadi market branding melalui heritage dan kearifan lokal Suku Talang Mamak, agar mendapatkan harga dan hasil yang lebih baik, sehingga margin dapat diperoleh sesuai mutu dan kebutuhan pasar.

Meski begitu, suku ini juga hidup berdampingan dengan satwa, khususnya Gajah Sumatra. Karena area ini merupakan home range salah satu hewan yang masuk kategori critically endangered oleh IUCN pada 2006. Hingga saat ini tercatat oleh BKSDA Provinsi Jambi lebih dari 42 kasus. Dituturkan oleh Helen, salah satu pendamping masyarakat Simarantihan dari KKI Warsi, bahwasanya konflik seringkali tak terhindarkan antara masyarakat Suku Talang Mamak dengan Gajah. Konflik ini terjadi karena Gajah yang datang secara dispersal, tidak takut lagi dengan manusia. Hal ini berakibat pada rusaknya pondok, tanaman seperti Padi, Karet, Pinang, Jernang dan Ubi yang kebetulan disukai Gajah juga turut habis tak tersisa.

Bagi Helen, masyarakat Suku Talang Mamak penting mendapatkan edukasi bagaimana membangun harmonisasi dengan Gajah namun tetap aman dalam ketersediaan pangannya. Akan tetapi hal ini patut diwaspadai karena Gajah pada umumnya memang memiliki kecenderungan akan melewati area home range nya meski telah ditinggalkan selama 5 tahun sebelumnya. Pergeseran lalu lintas satwa terjadi karena pada dasarnya ketersediaan pakan dan tutupan hutan semakin sempit. Karenanya, BKSDA Provinsi Jambi secara khusus menyediakan hotline pengaduan ketika terjadi konflik dengan menghubungi call center 082377792384.

Dengan demikian, maka penting adalah bagaimana membangun tata kelola kawasan yang baik antara home range gajah dan ruang hidup masyarakat secara harmonis. Ketersediaan pakan gajah, area bermain dan jalur serta waktu-waktu dimana gajah diperkirakan akan melintas sebaiknya diamankan dari pemukiman dan perkebunan. Begitu juga, area tempat tinggal masyarakat harus dipastikan aman dari perlintasan. Belajar dari masyarakat tradisional India dengan tradisi Ngayah sebagai cara solidaritas membangun harmonisasi kehidupan antara Gajah (sebagai dewa Ganesha) dan manusia yang harus berlaku humanis terhadap sesama. 

Pesan Saranghae dan Makna Cinta Semesta

Matahari semakin tinggi dan menunjukkan pukul 14.00 WIB. Sudah waktunya aku harus mengakhiri edukasi bersama dalam kemasan cerita menarik bersama masyarakat dan suku Talang Mamak. Ada rasa kagum, sekaligus terharu bagaimana mereka berjuang mempertahankan rimba sebagai ruang hidupnya. Meski begitu, semangat cinta akan rimba, tak hanya mengalir dari para orang tua, namun juga generasi millennials dengan hiruk pikuk facebook sebagai media sosial yang mereka miliki melalui jangkauan signal yang harus menaiki bukit.

Saranghae, sebagai pertanda makna cinta pada rimba. Hal ini ditandai dengan ibu jari dan telunjuk yang saling berhimpitan dan mengucapkan kata ‘Saranghae’ secara bersamaan saat aku harus pamit setelah mendengarkan bagaimana situasi pencarian Jernang, Rotan, hingga Jengkol, Petai, Ubi yang harus berjalan berkilo-kilometer guna mendapatkannya. Ditambah rasa was-was, karena tidak tahu kapan sang Gajah akan muncul dan melintas di area pemukiman maupun perkebunan mereka. Perkenalan pada kata ‘saranghae’ tak cukup atas makna keindahan drama Korea yang juga mulai mereka kenal, namun menjadi ikon baru dalam harmonisasi alam yang senantiasa memberikan kehidupan dan keberlangsungan penghidupan hingga generasi mendatang.

Hari Gajah Internasional yang diperingati setiap tanggal 12 Agustus, layak kita refleksikan melalui kalimat ‘saranghae’ atas sesama makhluk yang tinggal di alam semesta. Sudah semestinya, mari kita menjaga habitat Gajah yakni hutan sebagai ruang hidupnya sekaligus ruang hidup bagi mereka suku Talang Mamak yang tengah berjuang dan bertahan dalam perubahan situasi alam dan dinamika sosial yang terus berubah.

*Penulis adalah Community Engagement-Social Safeguard Expertise dan Fasilitator Platform Kolaborasi Bukit Tigapuluh (PKBT)


Tag : #Perspektif



Berita Terbaru

 

Kamis, 23 September 2021 19:00 WIB

Masuki Musin Hujan, Pemkab Sarolangun Siaga Bencana Hidrometrologi


Kajanglako.com, Sarolangun – Memasuki musim hujan tahun 2021, Pemerintah Kabupaten Sarolangun melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)

 

Vaksinasi Covid-19
Kamis, 23 September 2021 18:49 WIB

Upaya Kegiatan Belajar Tatap Muka, Disdik Sarolangun Ingin Tuntaskan Vaksin Bagi Siswa


Kajanglako, Sarolangun – Dinas Pendidikan Sarolangun ingin menuntaskan pelaksanaan vaksinasi khusunya bagi para siswa. Saat ini beberapa sekolah

 

Kamis, 23 September 2021 17:39 WIB

Pemkab Merangin Raih Anugerah APE 2020 dari Kementerian PPPA RI


Kajanglako.com, Merangin - Pemerintah Kabupaten Merangin dibawah kepemimpinan Bupati H Mashuri, meraih Anugerah Parahita Ekapraya (APE) Tahun 2020, dari

 

Rabu, 22 September 2021 18:51 WIB

Pj Sekda Tanam Replanting Sawit Kemitraan


Kajanglako.com, Merangin - Pj Sekda Merangin Fajarman secara simbolis melakukan penanaman perdana program replanting sawit kemitraan strategis Gapoktan,

 

Vaksinasi Covid-19
Rabu, 22 September 2021 13:03 WIB

70 Ribu Warga Sarolangun Telah di Vaksin


Kajanglako.com, Sarolangun – Pelaksanaan vaksinasi covid-19 di Kabupaten Sarolangun terus dilaksanakan. Baik dari Pemerintah Daerah, TNI dan Polri,