Jumat, 24 September 2021


Senin, 09 Agustus 2021 19:19 WIB

Borobudur, Medang dan ke-Indonesia-an

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Mas Bagiono Djokosumbogo, seorang yang lama berkecimpung di dunia pendidikan kejuruan, dan pertama kali saya kenal melalui Pak Benny Hoed, rupanya telah membawa saya mengenal sebuah komunitas yang untuk sementara saya sebut saja sebagai Komunitas Medang. Pak Benny Hoed adalah seorang profesor linguistik di Jurusan Sastra Perancis UI, dan menjadi sahabat Pak Edi Masinambow, senior saya di LIPI yang ahli tentang etno-linguistik.



Sebelum wafat keduanya menjadi mentor tim LIPI yang sedang mengumpulkan data tentang bahasa-bahasa yang hampir punah (endanger languages) di berbagai tempat di kawasan timur Indonesia. Mungkin karena sering terlibat dalam diskusi-diskusi di LIPI itu suatu hari Pak Benny Hoed meminta saya untuk menghadiri sebuah workshop di Bandung, katanya menyangkut kebudayaan dan saya cocok untuk mengikutinya.

Pada tanggal 18 November 2015 selang tidak lama setelah workshop di Bandung itu Pak Benny Hoed wafat. Mengenang Pak Benny Hoed mengenang seorang yang sangat terpelajar dan mentor berdiskusi yang selalu menghargai perbedaan pendapat tanpa ada sikap melecehkan sedikitpun.

Workshop itu diadakan selama dua hari di sebuah hotel yang saya duga tadinya sebuah rumah besar di sekitar Jalan Dipati Ukur Bandung. Workshop itu dihadiri oleh tidak lebih dari 20 peserta, kebanyakan dari Bandung. Sesuai dengan minat Mas Bagiono workshop itu mendiskusikan tentang situasi pendidikan nasional yang dianggap sedang mengalami semacam ketidakjelasan arah.

Semua peserta diminta untuk menyampaikan pandangannya masing-masing dalam format roundtable discussion. Seperti biasa, membicarakan pendidikan selalu mengasyikkan, kita seperti memasuki sebuah labirin, tidak tahu mana jalan masuk dan mana jalan keluar. Tetapi yang justru menarik dari workshop itu adalah obrolan-obrolan off-sessions ketika sarapan pagi atau saat rehat kopi.

Saya baru mengetahui bahwa Pak Benny Hoed dan Mas Bagiono, dan beberapa peserta sepuh lain yang berkumpul dalam workshop itu, antara lain Profesor Bambang Hidayat, astronom senior ITB dan Pak Hadiwaratama, seorang yang juga menekuni pendidikan kejuruan dan beberapa peserta lain yang baru saya kenal adalah sebuah komunitas epistemik.

Sebagian dari mereka misalnya pernah sama-sama belajar di Perancis dan tetap menjalin hubungan meskipun sudah terpisah karena bekerja di tempat yang berbeda. Di situlah saya mengenal sebuah komunitas yang meminati arkeologi, tidak sekadar sebagai ilmu, tetapi lebih sebagai bagian dari apa yang ada pada masa kini. Masa kini adalah sebuah kesempatan untuk memahami apa yang telah terjadi pada masa lalu. Masa lalu perlu dipahami untuk memberi makna bagi masa kini dan memberi inspirasi bagi masa yang akan datang. Pada tahun 2010 kelompok ini berhasil mendaftarkan aksara Jawa Hanacaraka ke Unicode Consortium, setelah tiga tahun berjuang dibantu expert dari UNESCO agar aksara Jawa itu tidak punah.

Komunitas epistemik adalah komunitas yang direkat oleh kesamaan minat terhadap ilmu pengetahuan. Dalam komunitas yang saya lihat ini, pengetahuan tentang berbagai artefak tinggalan masa lalu, seperti bahasa, keris juga candi-candi didiskusikan tidak sekadar dengan niat untuk menganalisis tetapi juga dengan rasa gairah mencintai dan menghormati apa-apa yang telah dicapai oleh mereka yang berasal dari masa lalu.

Belum lama ini saya dikirimi sebuah rekaman video oleh Mas Bagiono tentang kegiatan komunitas epistemik ini yang bernama Medang Heritage Society. Dalam video itu antara lain ditampilkan presentasi Dr. Budiono Santoso, yang ternyata adalah adik dari Pak Hadiwaratama yang saya kenal di workshop Bandung. Dr. Budiono adalah seorang ahli farmakologi klinik dari UGM namun presentasinya adalah tentang ilmu pengetahuan dan teknologi yang terdapat di balik artefak yang bernama Borobudur dan Prambanan.

Menurut Dr. Budiono kedua artefak yang dibangun sekitar abad ke-9 itu dikerjakan selama 70 tahun oleh sebuah kerajaan yang bernama Medang. Dr. Budiono Santoso menunjukkan bahwa bangunan-bangunan itu merefleksikan tidak saja sebuah tingkat dan kualitas masyarakat yang memiliki penguasaan ilmu dan teknologi yang tinggi pada masanya, tetapi juga sebuah masyarakat yang memiliki tatanan sosial politik yang stabil dan diduga menghargai kesetaraan warganya.

Sejak ditemukan oleh Belanda dalam bentuk reruntuhan dan kemudian mengalami restorasi sampai menjadi bentuknya yang sekarang, Borobudur dan Prambanan, menjadi warisan dunia (world heritage) dan terus menjadi rebutan banyak pihak. Dalam situasi melihat Borobudur, dan juga Prambanan, sebagai warisan yang terus diperebutkan itu kita sesungguhnya telah melupakan apa yang telah diungkapkan oleh Dr. Budiono Santoso tentang peradaban Medang yang telah membangun Borobudur dan Prambanan itu. Kita melupakan bahwa peradaban Medang pada abad ke-9 itu telah menunjukkan sebuah masyarakat yang telah memiliki kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi untuk zamannya.

Setelah Borobudur yang semula dinamakan sebagai taman purbakala diubah menjadi taman wisata memang terjadi pergeseran yang mendasar dari makna artefak ini bagi pemerintah dan implikasinya kemudian bagi masyarakat.

Zaman beralih dari masa Presiden Sukarno dan Profesor Soekmono perancang Taman Purbakala ke Presiden Suharto dan Menteri Budiardjo yang menjadikannya menjadi Taman Wisata bagian dari komoditas perekonomian nasional. Namun kita juga tahu bahwa Borobudur sesungguhnya menyimpan dalam dirinya daya-daya enigmatik yang menembus batas ruang maupun waktu. Peradaban Medang seperti peradaban-peradaban besar dunia lainnya adalah pantulan pencapaian kebudayaan tertinggi dari sebuah masyarakat pada masanya.

Daya enigmatik yang mampu menembus batas-batas ruang dan waktu inilah bagi setiap generasi pasca Medang kemudian menjadi tantangan, terbukti mampu atau gagal dalam menangkap pesan utama yang tersimpan dalam bentuk wadag Burobudur dan Prambanan sebagai sebuah artefak arkeologis dan warisan budaya.

Kegagalan atan keberhasilan dalam menangkap daya-daya enigmatik Borobudur pada setiap masa akan terpantul pada berbagai bentuk ekspresi dari komunitas-komunitas yang memberikan respons terhadap berbagai makna dan arti Borobudur sebagaimana atau seperti apa komunitas-komunitas itu; lokal, nasional maupun global, meresapi dan mengartikulasikannya.

Dalam pengamatan saya yang terbatas, berbagai bentuk resepsi dan artikulasi dari komunitas-komunitas lokal di sekitar Borobudur dapat dianggap sebagai petunjuk sejauh mana daya-daya enigmatik Borobudur telah ditangkap dan dimaknai sejauh kemampuan sumber daya lokal baik yang bersifat material maupun imajinatif yang mereka miliki.

Bentuk serta kualitas resepsi dan artikulasi komunitas-komunitas lokal itu juga akan ditentukan oleh sejauhmana otonomi dan independensi yang mereka miliki terutama dalam relasinya dengan kekuatan politik negara dan kekuatan ekonomi pasar yang antara keduanya tidak jarang saling berkelindan.

Sepengamatan saya dua komunitas lokal yang berbasis tradisi dan budaya telah membuktikan kemampuannya untuk terus menjaga resepsi dan artikulasi mereka terhadap Borobudur. Komunitas lokal yang pertama adalah Komunitas Lima Gunung dan komunitas kedua yaitu Komunitas Ruwat Rawat Borobudur. Kedua komunitas lokal yang selama kurang lebih dua dekade itu telah membuktikan dirinya selaku watchdog dari makna dan marwah Borobudur sebagai pusat kebudayaan rakyat dan orang-orang biasa. Makna dan marwah Borobudur oleh kedua komunitas lokal ini diterima dalam artinya yang bersifat keseharian dan bukan dalam makna keadiluhungan.

Apabila Komunitas Lima Gunung melakukan aktifitasnya dari lereng-lereng gunung Merapi, Merbabu, Andong, Menoreh dan Sumbing; Komunitas Ruwat Rawat selalu menjadikan Candi Borobudur sendiri sebagai pusat kegiatannya. Secara metaforik Komunitas Lima Gunung bisa dianggap sebagai lingkaran luar (Outer Circle), sementara Komunitas Ruwat Rawat sebagai lingkaran dalam (Inner Circle) dari Candi Borobudur dalam posisinya sebagai artefak arkeologis dan warisan budaya peradaban Medang yang telah berusia lebih dari satu millennium itu. .

Sampai di sini barangkali perlu disadari bahwa dalam konteks Nusantara, peradaban Medang hanyalah salah satu saja dari puluhan dan bahkan ratusan peradaban lain yang tumbuh dan berkembang di berbagai tempat dari apa yang hari ini disebut sebagai Indonesia.

Oleh karena itu, jika dalam tulisan pendek ini disebutkan adanya komunitas epistemik Medang, komunitas lokal Lima Gunung dan Komunitas Ruwat Rawat Borobudur; hampir bisa dipastikan bahwa komunitas-komunitas itu hanyalah bagian kecil dari puluhan bahkan mungkin ratusan komunitas-komunitas lain yang kurang lebih sejenis yang berusaha memberi arti dan makna dari berbagai artefak arkeologis dan warisan budaya yang berserakan di berbagai pelosok dan sudut-sudut yang seringkali masih tersembunyi di tanah air yang bernama Indonesia ini.

Seorang antropolog tingkat dunia yang mendalami tentang Indonesia, dalam sebuah refleksinya menyatakan bahwa peradaban Indonesia akan tumbuh dan berkembang dengan subur jika bertolak dari karakternya yang penuh keragaman dan sebaliknya peradaban Indonesia akan mati dan memudar jika terlalu menekankan pada dimensi kesatuan dan homogenitasnya.

Mungkin, saat ini, waktunya kita mempertanyakan apa yang sesungguhnya sedang kita cari bersama sebagai sebuah bangsa: sebuah jatidiri dan identitas ke-Indonesia-an yang tunggal atau yang beragam dan penuh warna? Dalam bentuk pertanyaan yang diformulasikan secara berbeda, pertanyaannya menjadi: apakah yang akan kita bangun adalah ke-Indonesia-an yang bersifat sinkretik atau yang sintesis?

Dirgahayu Indonesia !

*Peneliti independen. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik akademia portal kajanglako.com


Tag : #Akademia #Borobudur #Prambanan #Komunitas Medang #Komunitas Lima Gunung #Komunitas Ruwat Rawat Borobudur



Berita Terbaru

 

Kamis, 23 September 2021 19:00 WIB

Masuki Musin Hujan, Pemkab Sarolangun Siaga Bencana Hidrometrologi


Kajanglako.com, Sarolangun – Memasuki musim hujan tahun 2021, Pemerintah Kabupaten Sarolangun melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)

 

Vaksinasi Covid-19
Kamis, 23 September 2021 18:49 WIB

Upaya Kegiatan Belajar Tatap Muka, Disdik Sarolangun Ingin Tuntaskan Vaksin Bagi Siswa


Kajanglako, Sarolangun – Dinas Pendidikan Sarolangun ingin menuntaskan pelaksanaan vaksinasi khusunya bagi para siswa. Saat ini beberapa sekolah

 

Kamis, 23 September 2021 17:39 WIB

Pemkab Merangin Raih Anugerah APE 2020 dari Kementerian PPPA RI


Kajanglako.com, Merangin - Pemerintah Kabupaten Merangin dibawah kepemimpinan Bupati H Mashuri, meraih Anugerah Parahita Ekapraya (APE) Tahun 2020, dari

 

Rabu, 22 September 2021 18:51 WIB

Pj Sekda Tanam Replanting Sawit Kemitraan


Kajanglako.com, Merangin - Pj Sekda Merangin Fajarman secara simbolis melakukan penanaman perdana program replanting sawit kemitraan strategis Gapoktan,

 

Vaksinasi Covid-19
Rabu, 22 September 2021 13:03 WIB

70 Ribu Warga Sarolangun Telah di Vaksin


Kajanglako.com, Sarolangun – Pelaksanaan vaksinasi covid-19 di Kabupaten Sarolangun terus dilaksanakan. Baik dari Pemerintah Daerah, TNI dan Polri,