Jumat, 24 September 2021


Kamis, 05 Agustus 2021 11:06 WIB

HB Jassin dan Diponegoro 82

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Saya sering melihat pria setengah baya itu, gemuk-gempal, tidak begitu tinggi, sering berbaju putih lengan pendek agak lusuh, dibiarkan bebas, tidak dimasukkan ke dalam celana yang biasanya berwarna hitam. Mukanya agak bulat ada tahi lalat cukup besar persis di ujung bibir sebelah kiri, rambutnya hitam tebal, sepertinya hanya disisir dengan jari-jari tangannya. Kantornya, mungkin salah satu tempat kegiatannya, pusat dokumentasi sastra, terletak di "hoek" lantai dua sebuah gedung tua, di Jl. Diponegoro 82, persis berhadapan dengan RS. Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat.



Gedung itu sekarang menjadi bagian dari Universitas Kristen Indonesia (UKI). Saya sering melihatnya, karena di lantai satu gedung itu adalah ruang-ruang kuliah Fakultas Psikologi UI, yang di tahun 1971, saya mulai berkuliah di sana, sebelum kemudian pindah ke Salemba 4, dan kemudian pindah lagi ke Rawamangun. Selain sebagai tempat kuliah, di lantai satu itu juga ada beberapa bangunan dari papan yang menjadi kamar-kamar dan semacam tempat tinggal sementara mahasiswa psikologi yang kerap melakukan berbagai kegiatan ekstrakurikuler di bawah Senat Mahasiswa. Sebagai mahasiswa baru saya sering ikut kongkow-kongkow dengan para senior saya, bahkan ikut menginap di "rumpan" (rumah papan) itu. Karena hampir sehari-hari di tempat itu, 1971-1972, saya agak sering melihat lelaki yang biasanya datang atau pergi, berjalan gontai, sambil menenteng tas kulit hitam besar yang seperti tampak berat itu.

Entah karena dorongan apa, saya kemudian sering naik ke lantai dua, ke pusat dokumentasi sastra itu. Di sana saya bisa membaca apa saja yang menarik perhatian saya, terutama surat-surat pribadi, misalnya surat-surat dari penyair Chairil Anwar dan W.S. Rendra. Di ruangan yang terbuka dengan meja-meja besar tempat men-display karya para pengarang dan lemari-lemari kaca besar yang menutup semua dinding ruangan segi empat yang cukup luas itulah laki-lagi gemuk yang ternyata HB Jassin itu berkantor. Selain HB Jassin yang memiliki meja khusus, saya selalu lihat dua atau tiga staf yang selalu tampak bekerja membantu HB Jassin dalam mengurus koleksi dokumen-dokumen sastra itu. Orang-orang yang membantu HB Jassin itu sangat ramah saya suka ngobrol dengan mereka.

Saya tidak tahu apakah ketika Goenawan Mohamad dan Soe Hok Djin (Arief Budiman) ketika tahun 1960 masuk Fakultas Psikologi UI HB Jassin sudah berkantor di Diponegoro 82. Ketika mengenang Toeti Heraty, seniornya di Fakultas Psikologi UI, dalam Catatan Pinggir-nya 8 Agustus yang lalu Goenawan hanya mengatakan “Saya berkisar di halaman dalam fakultas yang sempit…sementara Toeti lebih sering di salah satu ruang di mana buku tebal ada di meja-meja”. Goenawan, Jassin dan Arief dan setahu saya Toeti Heraty tidak ikut, adalah  para penandatangan Manifesto Kebudayaan yang konon oleh lawannya, Lekra, dipelesetkan menjadi Manikebu; sebuah penyataan sikap tentang posisi politik mereka sebagai penerus tradisi kebebasan berpikir dan mencipta yang bersifat universal.

Salah satu konseptor Manifesto Kebudayaan adalah Wiratmo Soekito yang dikenal cukup dekat dengan militer. Selain Wiratmo ada Mochtar Lubis seorang wartawan kawakan yang korannya Indonesia Raya selalu kritis terhadap kebijakan pemerintah sehingga kenyang di penjara baik oleh Sukarno maupun Suharto. David Hill seorang ilmuwan sosial dari Australia yang menulis disertasi doktornya tentang Mochtar Lubis menceritakan kalau Mochtar Lubis marah besar kepadanya ketika dalam sebuah wawancara disinggung hubungannya dengan CIA.

Pada tahun 1968 HB Jassin menerbitkan buku tebal berjudul “Angkatan 66: Prosa dan Puisi” yang menghimpun sejumlah sastrawan dan karyanya yang mau tidak mau mencirikan sikap politik para penanda tangan manifesto itu. Pertengahan tahun 60an memang periode kritis dalam sejarah politik Indonesia. Imbas perang dingin tidak bisa dihindari dan dunia seni dan budaya ikut menjadi ajang persengketaan ideologis itu.

Saat ini bisa dibaca buku-buku yang mengungkap bagaimana kedua blok yang bertempur dalam menguasai negeri-negeri yang berusaha netral itu menggunakan berbagai cara untuk memenangkan perang. Bung Karno kita tahu adalah seorang pemimpin yang berusaha membangun kekuatan non-blok melalui Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung tahun 1955 ketika perang dingin berlangsung.

Ketika perang telah berkecamuk terbukti tidak mudah untuk netral. Operasi intelijens dengan "covert action”-nya bukan rahasia lagi telah menyusup ke berbagai kelompok masyarakat. Semakin sulit untuk dibantah keterlibatan agen-agen CIA dalam upaya menumbangkan Bung Karno dan mempengaruhi arah politik dalam negeri Indonesia. Keterlibatan Profesor Guy Pauker dari Rand Corporation yang bekerjasama dengan Brigjen Soewarto dari SESKOAD Bandung misalnya telah banyak diungkap.

Begitu juga peran dari Congress for Cultural Freedom (CCF), sebuah lembaga anti komunisme yang ternyata juga bagian dari operasi CIA mulai diungkap keterlibatannya dalam mensponsori kegiatan kaum intelektual di berbagai tempat termasuk di Indonesia yang anti Sukarno. Bukanlah sebuah kebetulan jika 5 tahun setelah 1965, tepatnya pada tahun 1971 bermunculan lembaga-lembaga intelektual yang sedikit atau banyak adalah buah dari kemenangan salah satu pihak dalam sengketa ideologis 1965. Beberapa yang menonjol dan tahun ini memperingati ulang tahun ke 50-nya adalah CSIS, LP3ES dan Tempo.

Aku lupa tahun berapa persisnya, rasanya sekitar pertengahan 70an, saat itu aku masih tinggal di Asrama Mahasiswa UI Dakasinapati Rawamangun. Di asrama itu tinggal mahasiswa UI dari berbagai fakultas dan berbagai jurusan. Mahasiswa di Asrama Daksinapati juga berasal dari berbagai suku dan daerah di Indonesia. Asrama itu memungkinkan aku bergaul dengan berbagai macam jenis dan tipe mahasiswa, dan ini sesungguhnya sebuah karunia tersendiri bagiku. Tentu dengan berjalannya waktu kita memiliki lingkaran-lingkaran pertemanan sendiri-sendiri tergantung selera dan minat kita masing-masing. Salah satu lingkaran pertemananku di asrama itu adalah dengan beberapa mahasiswa yang berasal dari Fakultas Sastra UI, salah satunya Pamusuk Eneste, mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia. Belakangan aku tahu bahwa Eneste adalah singkatan dari Nasution. Mungkin Pamusuk mau menyembunyikan kebatakannya.

Pada suatu hari yang aku lupa tahunnya itu bersama Pamusuk aku berkunjung ke rumah HB Jassin. Seingatku rumahnya ada di sebuah jalan di perkampungan yang padat penduduk tidak jauh dari Setasiun Kereta Api Pasar Senen. Ketika kami berjalan ke rumahnya seingatku sempat melewati rel kereta api. Karena saya cuma ikut, sekedar menemani, ketika duduk ngobrol di ruang tamunya yang cukup sempit karena begitu banyak barang dan buku-buku, aku cuma diam mendengarkan dua orang yang sama-sama menekuni sastra Indonesia itu. HB Jassin dan Pamusuk Eneste memiliki kesamaan: berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik, serius dan nyaris tidak ada humor.

Jika aku tidak salah ingat kunjunganku dengan Pamusuk ke rumah HB Jassin ada hubungannya dengan rencana kegiatan pendidikan pers mahasiswa di UI. Bersama Pamusuk juga saya ke Bandung untuk menemui Pater MAW Brouwer dan wartawan senior Mahbub Djunaedi. Pamusuk kenal dengan kedua penulis ini, dan lagi-lagi aku hanya menemani. Aku ingat kami tiba di Bandung malam hari dan kami memutuskan tidur di Masjid Salman ITB karena memang tidak punya uang untuk menginap di hotel. Aku ingat ketika merebahkan badan di karpet masjid itu ada tulisan "dilarang tidur di masjid". Menjelang subuh ada yang membangunkan kami rupanya sebentar lagi waktunya sholat subuh. Kami terpaksa bangun meskipun masih mengantuk dan ngeloyor keluar masjid berharap menemukan warung di sekitar kampus ITB yang sudah buka.

Di Fakultas Psikologi UI pelajaran filsafat merupakan pelajaran yang penting, kalau tidak yang terpenting. Pada tahun pertama kami diajar oleh Profesor Poedjawijatna seorang dosen sepuh yang selalu berpakaian rapi, tentang filsafat umum. Di tahun kedua kami diajar filsafat manusia dan filsafat eksistensialisme oleh Pak Fuad Hassan kemudian Profesor Surjanto. Mata kuliah ini sebelumnya diajarkan oleh Profesor Beerling dan Drijarkara. Pak Fuad Hassan selalu menarik jika memberi kuliah, uraiannya diberikan sambil merokok dan sesekali nyeruput kopi hitamnya di gelas besar yang selalu disajikan dengan setia oleh Pak Bakri.

Masa itu, kuliah masih memakai papan tulis besar dengan kapur tulis dan penghapusnya. Pak Fuad ngomong sambil menuliskan point-point apa yang diomongkannya, sedikit demi sedikit mulai dari sudut kiri atas papan tulis, mengalir begitu saja. Tidak terasa, ketika kuliahnya selesai, seluruh permukaan papan tulis itu telah penuh dengan tulisannya, tidak tersisa ruang kosong sedikitpun. Saya tidak menghitung berapa batang rokok habis dihisapnya.

Kuliahnya diisi dengan membicarakan karya dan pemikiran tokoh-tokoh eksistensialisme: Sartre, Heidegger, Jaspers, Nietsczche. Nah ketika membicarakan tentang Nietszche Pak Fuad memberitahukan kalau HB Jassin sedang menterjemahkan salah satu buku Nietszche yang berjudul "Also Sprach Zarathustra" dari bahasa Jerman ke bahasa Indonesia. Pak Fuad juga mengatakan bahwa HB Jassin juga sedang menterjemahkan Al Qur'an dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Ketika Pak Fuad menyinggung HB Jassin itu samasekali tidak terlintas sama sekali apa maknanya bagiku saat itu. Di koleksi bukuku ada Al Quran Bacaan Mulia terjemahannya. Belum lama ini aku juga membeli buku terjemahan Zarathustra yang telah terkatung-katung sekian lama meskipun akhirnya terbit, dengan pengantar dari Goenawan Mohamad.

Hari-hari ini ketika pandemi Covid 19 memaksa kita untuk bertahan di rumah dan berusaha menyelamatkan diri dari sergapan virus ini, salah satu kegiatan yang bisa dilakukan adalah membaca buku-buku yang pernah kita beli tapi belum sempat kita baca lagi dengan baik. Salah satu buku yang saya temukan dalam koleksi buku-buku saya adalah karya HB Jassin: “Heboh Sastra 1968” yang diterbitkan tahun 1970. Di buku yang kertasnya sudah mulai lapuk mengunimg itu ada tulisan tanganku, rupanya buku itu kubeli tahun 1971.

Heboh sastra itu dipicu oleh munculnya cerpen “Langit Makin Mendung”, karya Kipanjikusmin, sebuah nama samaran, tidak sedikit yang menduga adalah HB Jassin sendiri. Akibat dimuatnya cerita pendek yang dianggap telah menghina Tuhan itu, HB Jassin sebagai Penanggung Jawab majalah Sastra yang memuat cerpen itu dituntut di pengadilan. Dalam sidang pengadilan yang menghadirkan ulama terkenal saat itu HAMKA yang dalam kesaksiannya telah membela HB Jassin sebuah zaman baru ketika agama mulai merangsek ke ruang publik tampaknya telah dimulai.

HB Jassin yang bernama lengkap Hans Bague Jassin dan dilahirkan di Gorontalo pada tanggal 31 Juli 1917 dan meninggal tanggal 11 Maret 2000 itu tak pelak lagi adalah seorang intelektual publik yang legendaris. Perannya sebagai Paus Sastra Indonesia sepertinya sulit tergantikan. Buku-bukunya menandai tidak saja semangat zamannya tetapi juga semangat masa kini dan masa depan yang harus menempatkan kemerdekaan berpikir dan kebebasan mencipta sebagai pilar peradaban bangsa yang penting.

*Peneliti independen. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik akademia portal kajanglako.com


Tag : #Akademia #HB Jassin #Manikebu #Sastra #Paus Sastra



Berita Terbaru

 

Kamis, 23 September 2021 19:00 WIB

Masuki Musin Hujan, Pemkab Sarolangun Siaga Bencana Hidrometrologi


Kajanglako.com, Sarolangun – Memasuki musim hujan tahun 2021, Pemerintah Kabupaten Sarolangun melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)

 

Vaksinasi Covid-19
Kamis, 23 September 2021 18:49 WIB

Upaya Kegiatan Belajar Tatap Muka, Disdik Sarolangun Ingin Tuntaskan Vaksin Bagi Siswa


Kajanglako, Sarolangun – Dinas Pendidikan Sarolangun ingin menuntaskan pelaksanaan vaksinasi khusunya bagi para siswa. Saat ini beberapa sekolah

 

Kamis, 23 September 2021 17:39 WIB

Pemkab Merangin Raih Anugerah APE 2020 dari Kementerian PPPA RI


Kajanglako.com, Merangin - Pemerintah Kabupaten Merangin dibawah kepemimpinan Bupati H Mashuri, meraih Anugerah Parahita Ekapraya (APE) Tahun 2020, dari

 

Rabu, 22 September 2021 18:51 WIB

Pj Sekda Tanam Replanting Sawit Kemitraan


Kajanglako.com, Merangin - Pj Sekda Merangin Fajarman secara simbolis melakukan penanaman perdana program replanting sawit kemitraan strategis Gapoktan,

 

Vaksinasi Covid-19
Rabu, 22 September 2021 13:03 WIB

70 Ribu Warga Sarolangun Telah di Vaksin


Kajanglako.com, Sarolangun – Pelaksanaan vaksinasi covid-19 di Kabupaten Sarolangun terus dilaksanakan. Baik dari Pemerintah Daerah, TNI dan Polri,