Jumat, 24 September 2021


Rabu, 28 Juli 2021 07:20 WIB

Romo Kuntara dan Jawa Kuna

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Secara kebetulan saat menjadi profesor tamu di Institute for Language and Culture of Asia and Africa-Tokyo University of Foreign Studies (ILCAA-TUFS) di Tokyo tahun 2003-2004 host professor saya Koji Miyazaki memiliki koleksi buku-buku tentang Jawa yang sangat lengkap. Profesor Koji Miyazaki memang seorang antropolog ahli Jawa lulusan Leiden University, menulis disertasi doktornya tentang Keraton Jogya (The King and the people: The conceptual structure of Javanese Kingdom, 1988), di bawah bimbingan Profesor Josselin de Jong yang terkenal dengan mazhab strukturalis-nya. 



Di ILCAA setiap peneliti memiliki kamar kerjanya sendiri-sendiri yang luas. Saat itu penelitian yang saya lakukan adalah tentang migras di Dunia Melayu, bukan tentang Jawa. Ruang kerja professor Koji Miyazaki dipenuhi oleh buku-buku yang tersusun rapi di rak-rak yang mendominasi sebagian besar ruang kerjanya. Saat mengundang saya sebagai profesor tamu, Profesor Miyazaki tengah menjabat sebagai direktur ILCAA sehingga sehari-hari lebih banyak berada di ruang kerjanya sebagai direktur. Profesor Miyazaki mempersilahkan saya menggunakan ruang kerja dan membaca buku-bukunya kapan saja saya mau. Saya diberi kunci ruang kerjanya. Pada saat di ILCAA itulah saya banyak membaca buku-buku tentang Jawa. 

Sebuah buku yang saya baca dengan antusias adalah buku karya Romo Zoetmulder (Pantheism and Monism in Javanese Suluk Literature, 1995) yang merupakan terjemahan dari disertasi doktornya di Universitas Nijmegen (1935) dari bahasa Belanda ke bahasa Inggris oleh sejarawan Australia, Ricklef. Disertasi itu sebelumnya telah diterjemahkan Romo Dick Hartoko ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Manunggaling Kawulo Gusti: Pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa tahun 1991. Saya masih ingat uraian terakhir buku itu membicarakan tentang Syekh Siti Jenar, yang oleh Romo Zoetmulder disebut sebagai sebuah enigma. Romo Zoetmulder menyatakan apakah Syekh Siti Jenar benar-benar ada atau hanya tokoh imajiner, menurutnya tidak penting, karena pengaruhnya tetap sangat besar. 

Telah lama saya mendengar bahwa Romo Kuntara Wiryamartana adalah penerus Romo Zoetmulder sebagai seorang ahli bahasa Jawa Kuna, sebuah keahlian yang saya tidak tahu apakah ada penerusnya di Indonesia sepeninggal keduanya. Nama Romo Kuntara telah lama masuk dalam list di benak imajinasi saya dari orang-orang yang ingin saya temui jika ada kesempatan. Kesempatan bertemu Romo Kuntara hampir saja saya peroleh, meskipun kemudian gagal. 

Saat itu, Amin Mudzakkir, kolega muda saya di LIPI yang sering ngobrol dengan saya mengatakan bahwa Romo Kuntara sedang ada di STF Dryarkara. Amin yang sedang mengambil program pasca sarjana di STF membuat janji mempertemukan saya dengan Romo Kuntara. Saya ingat waktunya setelah jam kerja dan tempatnya di kampus STF Dryarkara di Rawasari Jakarta Timur, tidak jauh dari rumah saya. Sekitar jam 5 sore saya tancap gas dari kantor saya di Jl Gatot Subroto 10 Jakarta Selatan menuju STF. Ternyata sore menjelang malam itu.Jl.Sudirman.dan Thamrin macet total. Persis sebelum bundaran HI saya menelpon Amin bahwa rasanya nggak mungkin mencapai STF dalam waktu cepat. Saya minta disampaikan maaf dan salam untuk Romo Kuntara dan berharap ada kesempatan lain untuk bisa bertemu Romo Kuntara. Ternyata kemudian kesempatan itu tidak pernah datang. Romo Kuntara wafat sebelum dapat saya temui.

Jumat, 23 Juli 2021 lalu, saya mengikuti Webinar untuk memperingati wafatnya sewindu wafatnya Romo Kuntara. Webinar itu mengajak pesertanya untuk mengenal Romo Kuntara melalui buku kumpulan tulisannya yang berjudul Sraddha Jalan Mulia: Dunia Sunyi Jawa Kuna. Romo Subanar dalam Webinar itu menjelaskan tentang isi buku yang selain berisi makalah dan artikel juga puisi-puisi yang ditulis oleh Romo Kuntara. Buku itu, sekitar 300 halaman,merupakan kumpulan terlengkap dari tulisan Romo Kuntara. Di buku itu beberapa tulisan Romo Kuntara bahkan hanya berupa catatan pendek satu dua lembar. 

Beberapa tulisan yang bisa dikatakan panjang dan lengkap merupakan resensinya yang sangat kritis dan detail terhadap buku-buku yang ditulis oleh para ahli filologi Jawa seperti Soebardi The Book of Cebolek (1975), Soepomo yang menulis buku Arjuna Wijaya, A Kakawin of Mpu Tantular (1977) dan disertasi W. van der Molen tentang Kunjarakarna (1983). Beberapa ulasan panjang yang ada dalam buku itu sebelumnya dimuat di majalah Basis.

Menurut Romo Subanar ada beberapa tulisan Romo Kuntara yang belum bisa ditemukan sehingga belum bisa disertakan dalam buku itu. Sebagai orang yang ingin bertemu dengan Romo Kuntara, mengikuti webinar dan membaca buku itu saya bersyukur bisa sedikit mengetahui pemikiran-pemikiran beliau tentang Jawa Kuna. Romo Kuntara sendiri menyelesaikan studi doktornya di UGM dengan disertasi tentang Kakawin Arjunawiwaha (1987) gubahan Empu Kanwa di Abad XI. Selain berisi tulisan-tulisan yang mencerminkan kualitas kesarjanaan Romo Kuntara sebagai pakar bahasa Jawa Kuno, Romo Subanar juga menyertakan karya puisi Jawa yang pernah ditulis Romo Kuntara. Beberapa puisi ditulisnya saat terbaring sakit di RS Panti Rapih tahun 1968, antara lain puisi yang berjudul “Panyuwunan”. Versi pendek puisi “Panyuwunan” inilah yang kemudian menjad viral karena ditembangkan oleh berbagai kalangan dan dirasakan pas untuk situasi pandemi saat ini 

Dua orang yang bukunya dikritisi oleh Romo Kuntara, Dr. Soebardi dan Dr. Supomo, kebetulan saya kenal ketika saya menjadi mahasiswa pascasarjana di Australian National University (ANU) Canbera tahun 82-84 dan 86-90. Pak Bardi dan Pak Pomo, di samping Pak Wito dan Pak Achdiat Karta Miharja adalah dosen-dosen yang mengajar di Faculty of Asian Studies yang saat itu dipimpin oleh Profesor Anthony Johns, seorang ahli kesusastraan Melayu dan Indonesia.  

Pak Wito (Dr. Soewito Santoso) seperti Pak Bardi dan Pak Pomo adalah ahli bahasa Jawa, sementara Pak Achdiat kita tahu adalah sastrawan terkenal, salah satu bukunya berjudul Atheis. Saya tidak tahu mengapa buku Pak Wito tidak diresensi oleh Romo Kuntara. Pak Wito adalah penulis buku Boddhakawya-Sutasoma dan  sebelum wafatnya telah menyelesaikan terjemahan Serat Centhini ke dalam bahasa Inggris (The Centhini Story: The Javanese Journey of Life, 2006). Komunitas mahasiswa pascasarjana dari Indonesia yang cukup besar di ANU tahun 80an itu menjadikan kami sering kumpul-kumpul dengan para sesepuh itu. Setelah pensiun Pak Wito memutuskan untuk menetap di sebuah desa (Ngledegan) di pinggiran Klaten Jawa Tengah. Di halaman rumahnya Pak Wito membangun masjid kecil (surau). Beliau sempat saya kunjungi di padepokannya itu, namun kemudian karena sakit beliau kembali menetap di Canberra sampai wafatnya.

Karya Romo Kuntara

Upaya Romo Subanar dari Universitas Sanata Dharma beserta timya membukukan tulisan Romo Kuntara yang tersebar itu adalah sebuah jalan mulia - Sraddha. Karena tanpa usahanya itu sebagian besar dari kita barangkali hanya akan mendengar nama beliau dan kisah-kisah tentang beliau yang telah menjadi legenda. Salah satu kisah yang telah melegenda tentang beliau adalah kebiasaannya membawa wayang kulit Petruk ke manapun beliau pergi. Dalam Webinar untuk mengenangnya itu, Dr. Risa Permanadeli menceritakan bagaimana dalam menguji disertasi doktornya tentang perempuan Jawa di EHESS Paris, sebagai salah satu penguji yang dihadirkan karena ahli tentang Jawa, Romo Kuntara menguji dengan cara nembang melalui mulut Petruk dalam bahasa Perancis. Emanuel Subangun dalam epilog buku kumpulan tulisan itu mengatakan bahwa Romo Kuntara sering digosipkan orang-orang disekitarnya sebagai "Romo Klenik" sebutan yang kemudian dibuktikan oleh Emanuel Subangun hanya isapan jempol belaka. 

Betapapun, bagi saya, seperti segala hal yang berkaitan dengan Jawa Kuna merupakan sesuatu yang selalu diliputi misteri, mungkin juga sebuah enigma yang mengundang banyak pertanyaan sekaligus menggetarkan. Kisah tentang ditemukannya naskah-naskah kuno dalam lempir-lempir lontar di lereng gunung Merapi Merbabu yang diduga ditulis oleh para petapa mungkin sejak zaman Mataram Kuna merupakan kisah yang menarik. Romo Kuntara merupakan salah seorang yang kemudian berhasil melakukan pembacaan terhadap teks-teks dalam lontar yang sebagian tersimpan di berbagai tempat, antara lain di Paris dan Inggris. Dalam tulisannya yang berjudul “Poerbatjaraka dan Naskah Merapi-Merbabu: Catatan Singkat” (hal.119-123). Romo Kuntoro menyebutkan bahwa para literati Keraton Surakarta diduga merupakan orang-orang yang menggunakan teks-teks Merapi Merbabu itu sebagai referensi penting ketika menggubah karya-karya mereka, termasuk Pujangga Jawa yang paling terkenal Ronggowarsito.

Cerita tentang skriptorium-skriptorium di lereng Merapi dan Merbabu itu dalam Webinar untuk mengenang Romo Kuntara itu dikisahkan kembali oleh Rendra Agusta anak muda yang menekuni bahasa Jawa Kuna yang bersama teman-temannya melakukan pelacakan ke tempat-tempat yang dulu menjadi pertapaan para resi yang memilih jalan sunyi untuk mendekatkan diri dengan alam. Rendra Agusta dan kawan-kawannya yang tergabung dalam Sraddha Institute merupakan contoh mereka yang menganggap penting untuk terus menghidupkan semangat mempelajari Jawa Kuna.

Contoh lain adalah kelompok yang tergabung dalam Yayasan Sastra Lestari dimana John Paterson dan rekan-rekannya terus melakuan digitalisasi naskah-naskah Nusantara yang semakin sulit ditemukan. Tulisan tentang para petapa penulis lontar di lereng Merapi Merbabu ini menjadi tulisan pertama (hal 1-8) yang semula merupakan artikelnya di majalah Rohani tahun 1973 dengan judul "Alam, Keindahan dan Kakawin". Dalam tulisannnya yang panjangnya cuma satu seperempat halaman, yang berjudul "Cara Pikir Jawa dalam Sastra Suluk: Panduan Pembacaan" (hal 105-106) pembaca pasti akan kecewa karena apa yang dibayangkan sebagai penjelasan yang mungkin sangat penting dari apa yang disebut sebagai "cara pikir Jawa", Romo Kuntara begitu ringkas menuliskannya. Romo Kuntara menulis sebagai berikut:  “Cara pikir Jawa – seperti juga tampak dalam bahasa Jawa – dapat dikatakan cara pikir konkrit. Yang utama bukan definisi, melainkan deskripsi, contoh, perumpamaan, paradoks, dll”. 

Mengapa Jawa telah menyedot perhatian banyak orang asing, dalam hal bahasa Jawa Kuna bisa diurut nama-nama seperti Kats, Uhlenbeck, Teeuw, Kern, Winters, Brandes, Drewes, Pigeaud, Hooykaas, Juynboll, Zoetmulder, van der Mollen. Belum termasuk yang berasal dari luar Belanda seperti Ricklefs, Ann Kumar, Ben Anderson, Tim Behren, Nancy Florida, George Quinn dll. 

Di antara semua nama itu barangkali Romo Zoetmulder yang kemudian memilih menjadi wargangara Indonesia bisa dianggap terpenting. Romo Zoetmulder selama 30 tahun menekuni penyusunan kamus Jawa Kuna-Inggris dan kemudian diterjemahkan menjadi kamus Jawa Kuna-Indonesia. Romo Kuntara mengulas terbitnya kamus itu dalam sebuah tulisan cukup panjang (Menyambut terbitnya Old Javanese-English Dictionary” (hal 107-116). Dalam tulisan yang dimuat majalah Basis, November 1982 itu terlihat rasa hormat Romo Kuntara yang begitu dalam terhadap gurunya. Kita menjadi tahu mengapa Romo Zoetmulder menghabiskan sebagian masa hidupnya untuk menyelesaikan kamus Jawa Kuno itu, juga kenapa memilih untuk menterjemahkan ke dalam bahasa Inggris (bersama Stuart Robson) daripada Belanda. 

Kamus ini telah menjadi referensi utama dan ibarat kunci pembuka pintu salah satu peradaban dunia yang penting. Damae Shasangka, mungkin penulis fiksi Jawa paling produktif saat ini, dalam sebuah percakapan dengan saya menyatakan menggunakan Kamus Jawa Kuna Romo Zoetmulder sebagai acuannya. Pilihan Romo Zoetmulder untuk menterjemahkan bahasa Jawa Kuna ke dalam bahasa Inggris (2368 halaman) memperlihatkan pandangan dan keyakinannya bahwa Jawa Kuna harus diketahui dunia.

Pada tahun 1974-1975 Romo Zoetmulder menjadi peneliti tamu di NIAS (Netherlands Institute for Advance Studies) dan kesempatan itu dipakai untuk menyusun kamusnya. Ketika kamus itu akhirnya selesai dan diterbitkan, acara peluncuran pertama dilakukan di NIAS (19 Oktober1982).NIAS yang saat itu berada di Wassennar sebuah kota kecil yang terletak antara Leiden dan Denhag setiap tahun mengundang sekitar 20an peneliti dari berbagai belahan dunia merupakan sebuah kompleks yang mirip biara karena para penelitinya diharapkan bisa melakukan kontemplasi. 

Ketika saya menjadi peneliti tamu di NIAS tahun 2000-2001 saya baru tahu bahwa direktur pertama NIAS adalah Profesor Uhlenbeck seorang ahli linguistik yang mendalami bahasa Jawa Kuno. Jadi tidak mengherankan jika Romo Zoetmulder memilih perpustakaan NIAS untuk meluncurkan kamusnya. Nama Uhlenbeck juga telah diabadikan dengan diselenggarakannya Uhlenbeck Lecture setiap tahun di NIAS. Hasil kontemplasi saya di NIAS adalah sebuah buku From Colonization to Nation-State: The Political Demography of Indonesia, LIPI Press 2013, saat ini akan diterbitkan edisi barunya oleh Springer.

Dalam kata pengantarnya Romo Subanar mengatakan bahwa sebelum sakit Romo Kuntara sebetulnya sedang merencanakan untuk bergabung dengan sebuah tim penelitian dari Tokyo University. Hampir pasti bahwa tim penelitian itu adalah tim dari ILCAA-TUFS yang sebelumnya telah dirintis oleh Profesor Koji Miyazaki. Dalam sebuah percakapan Profesor Koji Miyazaki mengatakan keinginannya untuk mengupas tentang Serat Kandha dan ingin menulis tentang Pawukon. Setelah saya kembali ke Indonesia Professor Koji Miyazaki memang mengundang dua orang filolog, yang pertama adalah Dr, Titik Pudjiastuti dari UI dan yang kedua adalah Dr. Oman Fathurrahman dari UIN Jakarta. Seandainya saja Romo Kuntara tidak keburu wafat pastilah kita akan membaca tulisan Romo Kuntara sepulang dari Tokyo itu.

*Peneliti independen. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik akademia portal kajanglako.com


Tag : #Akademia



Berita Terbaru

 

Kamis, 23 September 2021 19:00 WIB

Masuki Musin Hujan, Pemkab Sarolangun Siaga Bencana Hidrometrologi


Kajanglako.com, Sarolangun – Memasuki musim hujan tahun 2021, Pemerintah Kabupaten Sarolangun melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)

 

Vaksinasi Covid-19
Kamis, 23 September 2021 18:49 WIB

Upaya Kegiatan Belajar Tatap Muka, Disdik Sarolangun Ingin Tuntaskan Vaksin Bagi Siswa


Kajanglako, Sarolangun – Dinas Pendidikan Sarolangun ingin menuntaskan pelaksanaan vaksinasi khusunya bagi para siswa. Saat ini beberapa sekolah

 

Kamis, 23 September 2021 17:39 WIB

Pemkab Merangin Raih Anugerah APE 2020 dari Kementerian PPPA RI


Kajanglako.com, Merangin - Pemerintah Kabupaten Merangin dibawah kepemimpinan Bupati H Mashuri, meraih Anugerah Parahita Ekapraya (APE) Tahun 2020, dari

 

Rabu, 22 September 2021 18:51 WIB

Pj Sekda Tanam Replanting Sawit Kemitraan


Kajanglako.com, Merangin - Pj Sekda Merangin Fajarman secara simbolis melakukan penanaman perdana program replanting sawit kemitraan strategis Gapoktan,

 

Vaksinasi Covid-19
Rabu, 22 September 2021 13:03 WIB

70 Ribu Warga Sarolangun Telah di Vaksin


Kajanglako.com, Sarolangun – Pelaksanaan vaksinasi covid-19 di Kabupaten Sarolangun terus dilaksanakan. Baik dari Pemerintah Daerah, TNI dan Polri,