Jumat, 30 Juli 2021


Senin, 19 Juli 2021 09:19 WIB

Hikmat Budiman dan Mimpi Ilmuwan Sosial Indonesia

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Titrtosudarmo*

Di hari Minggu pagi, 18 Juli 2021, saya duduk terhenyak. Beberapa saat setelah menerima kabar duka Mas Hisyam (Muhamad Hisyam, sejarawan LIPI) mangkat, menyusul berita Hikmat Budiman meninggal. Berita beriring wafatnya dua sahabat ini mencerminkan tip of the iceberg puncak gunung kematian korban Covid-19 yang kurvanya terus melonjak selama dua pekan terakhir ini. Setelah menuliskan kenangan tentang Mas Hisyam saya merasa perlu menuliskan kenangan saya tentang Hikmat Budiman. Hikmat dalam kacamata saya adalah tipe dari sedikit ilmuwan sosial Indonesia yang meyakini bahwa riset sosial hasilnya harus dituliskan dengan sungguh-sungguh dan dibukukan.



Posisinya sebagai peneliti sosial yang selalu berada di luar lembaga penelitian pemerintah memberinya kebebasan untuk memilih topik penelitian yang menjadi minatnya. Meskipun saya kira tantangan sebagai ilmuwan sosial yang non PNS berarti harus berjuang sendiri mencari dana penelitiannya. Selain lama menjadi program officer di Japan Foundation, jejak Hikmat Budiman terekam dalam deretan lembaga swadaya masyarakat seperti Desantara, Interseksi dan terakhir Populi Center. Sebagai aktifis LSM sejak pertama kali saya kenal Hikmat selalu dalam posisi sebagai direktur, itu juga yang menunjukkan standing status dan kewibawaan intelektual yang dimilikinya.

Tapi kali ini dalam mengenangnya saya ingin menunjukkan kualitasnya sebagai seorang peneliti dan penulis yang tangguh. Hikmat meletakkan target penulisan laporan penelitian cukup tinggi untuk ukuran ilmuwan sosial Indonesia. Target itu juga yang menjadikannya tidak sekadar sebagai direktur LSM yang tugasnya mengajukan proposal untuk mendapatkan research grant, tapi harus selalu menjadi editor dan penulis utama dari buku-buku hasil dari riset-riset yang dipimpinnya. LSM baginya bukan cuma untuk menguber dana dari para donor di luar negeri, memperoleh gaji dan pekerjaan, tetapi menjadi alat untuk engagement-nya sebagai ilmuwan sosial.

Buku-buku yang diedit oleh Hikmat Budiman selalu tebal dan kesungguhan Hikmat dalam mempersiapkan buku-bukunya terlihat dari bagian pengantar yang selalu ditulisnya sendiri. Setiap kata pengantar yang dibuat untuk memberikan konteks isi buku yang bab-babnya ditulis oleh peneliti-peneliti yang dipilihnya, selalu panjang dengan referensi yang tidak tanggung-tanggung.

Perjumpaan saya dengan Hikmat adalah dengan tulisannya sebelum mengenal orangnya. Perkenalan itu terjadi ketika, nggak tahu dengan alasan apa, saya diminta untuk menjadi salah seorang pembahas buku yang baru diterbitkan oleh Yayasan Interseksi tentang multikulturalisme. Seingat saya acara bedah buku diadakan di sebuah ruangan yang tampaknya disewa oleh Interseksi di Gedung Jakarta Design Center di bilangan Slipi. Acara itu, mungkin sekitar 2008, mungkin dihadiri tidak lebih dari 20an anak-anak muda yang tampaknya menjadi lingkaran pergaulan Hikmat Budiman.

Seingat saya selain saya ada Thung Julan dan beberapa rekan dari LIPI yang juga menjadi lingkaran Hikmat Budiman di Interseksi. Lingkaran-lingkaran ilmuwan sosial di Indonesia tak terhitung banyaknya. Di antara lingkaran-lingkaran itu ada yang berhimpit atau sekadar bersinggungan, tapi tidak sedikit yang satu sama lain tak bersentuhan. Lingkaran-lingkaran itu seperti pulau-pulau di Nusantara, jumlahnya ribuan, ada yang besar dan terkenal, ada juga yang kecil tak dikenali. Banyak dan beragamnya lingkaran-lingkaran ilmuwan sosial ini memberikan karakter tersendiri, komplasensinya dan mungkin juga involusi yang diam-diam diidapnya, dari ilmu-ilmu sosial di Indonesia.

Hikmat Budiman memiliki tempat yang khusus dalam lingkaran-lingkaran ilmuwan sosial itu. Mungkin tidak semua kenal Hikmat Budiman, tapi bagi yang mengenalnya pastilah menilainya sebagai ilmuwan sosial yang tidak ala kadarnya. Persinggungan saya dengan Hikmat juga sebetulnya tidak bisa dibilang dalam tapi sejak perkenalan pertama itu kami beberapa kali bertemu dan pertemuan itu hampir selalu dalam suasana diskusi tidak sekedar ngopi bareng. Dua tiga kali saya diundang Hikmat untuk ambil bagian dalam pembahasan rencana penelitian yang akan dilakukan Interseksi tentang kota-kota di Sumatra, kemudian di Sulawesi.

Lain waktu saya diminta untuk menyampaikan pemikiran tertentu, semacam brainstorming dan diskusi kecil tapi intensif di lembaganya. Saya tahu orang yang diundang cukup beragam selain saya. Ketika saya menggagas sebuah workshop kecil tentang kewarganegaraan di LIPI Hikmat Budiman termasuk yang kami undang untuk menulis paper. Saat Hikmat menyampaikan hasil pengamatannya tentang masyarakat Riau Bengkalis yang multietnik.

Terakhir saya diundang untuk presentasi tentang sejarah migrasi di Papua di Populi Center. Dua buku yang dieditnya terakhir, saat di Populi Center adalah tentang Indonesia Timur dan Jakarta. “Saya ingin peneliti Populi Center tidak hanya pandai menulis tentang hasil survei atau pooling, tetapi juga membuat tulisan etnografis yang panjang,” katanya suatu hari.

Saya kira itulah Hikmat Budiman, dia akan sedikit mengejek jika melihat buku yang tipis. Bagi dia buku harus tebal dan berbobot isinya. Membaca buku-bukunya terlihat keinginannya untuk menunjukkan jika ilmuwan sosial Indonesia tidak kalah dengan para Indonesianis dari luar negeri. Bahwa mimpinya itu belum menjadi kenyataan bagi dia tidak penting tapi memang mimpi itu sesuatu yang menurut hematnya harus diupayakan dengan sungguh-sungguh. Hikmat boleh bangga dan sombong tentang dirinya. Suatu saat dalam sebuah esai saya memuji seseorang yang saya anggap telah menunjukkan karya-karyanya yang menonjol. Orang tersebut bergelar doktor lulusan universitas terkenal dan dibimbing Indonesianis kondang di Amerika Serikat. Melalui WA, Hikmat yang rupanya membaca tulisan saya itu, menulis "dia pernah memplagiat tulisan saya lho". Setengah tidak percaya saya mengejarnya dengan beberapa pertanyaan, dan ujungnya dia kirimkan tulisannya dan tulisan orang tersebut dan saya baru percaya.

Interaksi saya yang terakhir dengan Hikmat berlangsung ketika saya dan Cahyo Pamungkas, rekan saya di LIPI, mempersiapkan buku yang akan berisi tulisan para sahabat Muridan S Widjojo, peneliti LIPI yang menaruh perhatian besar tentang Papua. Bersama Cahyo saya menghubungi sejumlah calon penulis di dalam maupun di luar negeri yang mengenal almarhum Muridan yang meninggal sekitar 7 tahun yang lalu. Di antara yang kami undang rupanya nama Hikmat Budiman tidak termasuk. Tapi mendengar rencana itu Hikmat mengajukan diri untuk ikut menyumbangkan tulisan. Saat itu deadline bagi para penulis sesungguhnya sudah dekat. Rupanya Hikmat memang mengenal Muridan sejak sama-sama menjadi mahasiswa jurusan sastra Perancis; Muridan di UI dan Hikmat di UGM.

Ketika draft buku mengenang Muridan itu selesai dan saya dan Cahyo merasa perlu memperkenalkan dan mendiskusikannya secara publik, uluran tangan Hikmat yang saat itu masih menjabat sebagai Direktur Populi Center sangat membantu. Melalui jaringannya Hikmat tidak saja berhasil mengajak beberapa lembaga untuk terlibat juga ikut membantu menghubungi beberapa kolega yang bersedia untuk menjadi pembahas. Draft buku untuk menghormati Muridan berhasil diperdebatkan dalam dua kali Webinar.

Hikmat menceritakan pada saya kalau sejak mahasiswa Muridan adalah sparing partner-nya dalam berdebat dan keduanya terlibat dalam polemik melalui tulisan tentang berbagai isu. Mereka rupanya dipertemukan kembali di Jakarta, dan keduanya seperti sama-sama meninggalkan sastra Perancis dan lebih tertarik belajar antropologi. Dalam tulisannya tentang almarhum sahabatnya itu Hikmat menunjukkan apresianya yang tinggi terhadap kegigihan Muridan dalam mengadvokasi Papua. Membaca kembali tulisan Hikmat tentang almarhum Muridan dan sekarang Hikmat sendiri menyusulnya, saya merasakan sebuah kegetiran yang mendalam. Dua orang ilmuwan sosial yang masih tergolong muda yang tidak hanya memikirkan tentang pengembangan ilmunya melalui tulisan-tulisan yang berkualitas tetapi telah mendedikasikan diri sepenuhnya bagi peningkatan harkat dan martabat masyarakat dan bangsanya. Kepergian keduanya merupakan kehilangan yang tiada tara, dan seperti meninggalkan lubang hitam dalam dunia ilmu-ilmu sosial negeri ini.

Salah satu buku awal Hikmat Budiman berjudul “Lubang Hitam Kebudayaan” (Kanisius, 2002), sebuah buku yang mencerminkan keprihatinan intelektual tentang situasi yang dilihatnya. Sebagai intelektual Hikmat sebetulnya tidak menjaga jarak atau alergi terhadap kekuasaan, dia engaged dengan kekuasaan. Dua buku terakhir yang dieditnya ketika menjadi Direktur Populi Center, “Ke Timur Haluan Menuju” (2019) dan “Sudah Senja di Jakarta” (2020) memperlihatkan posisi politiknya terhadap kekuasaan yang sedang berlaga di arena dalam lima tahun terakhir ini. Engagement Hikmat terhadap kekuasaan mungkin juga tipikal ilmuwan sosial Indonesia, agak serba tanggung, dekat tetapi berharap bisa tetap kritis, sebuah posisi yang bisa berujung zero sum game.

Tapi mungkin ini problem bersaama kita, kaum intelektual, ilmuwan sosial atau pegiat kebudayaan yang sesungguhnya selalu resah gelisah tapi dihadapkan pada sistem masyarakat dan struktur kekuasaan yang sesungguhnya telah sekian lama terjebak dalam kegagapan berkomunikasi satu sama lain.

Sutanto, pegiat budaya dari Mendut Magelang yang lama bergaul dengan masyarakat pedesaan di sekitar lima gunung di Jawa Tengah, dalam sebuah saresehan yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Heritage Nusantara Universitas Kristen Satya Wacana (PSHN-UKSW) dan beberapa lembaga mitranya Sabtu 17 Juli lalu, persis sehari sebelum dua sahabat saya wafat, mengemukakan pengamatannya yang bagi saya penting. Mas Tanto Mendut mengatakan sebagai bangsa kita sesungguhnya sedang mengalami “krisis linguistik”, tidak saja gagap teknologi tapi juga gagal dalam berkomunikasi satu sama lain. Seperti lirik lagu “The Sound of Silence” dari Simon and Garfunkel: People talking without speaking. People hearing without listening.

Sampai di sini, mungkin buku pertama Hikmat Budiman yang berjudul “Pembunuhan Yang Selalu Gagal: Modernisme dan Krisis Rasionalitas Menurut Daniel Bell” (1997) perlu dibaca lagi. Terimakasih Bung Hikmat atas dedikasi anda yang panjang terhadap dunia ilmu-ilmu sosial di negeri ini. Mimpi anda suatu saat nanti semoga menjadi kenyataan.

*Peneliti independen. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik akademia portal kajanglako.com


Tag : #Akademia #Obituari #Hikmat Budiman #Ilmu Sosial



Berita Terbaru

 

Kamis, 29 Juli 2021 20:29 WIB

Panggilan Pertama Kejari, Mantan Kades Lidung Mangkir


Kajanglako.com, Sarolangun - Kasus dugaan Mark Up anggaran Dana Desa Desa Lidung tahun 2019 pada pekerjaan jalan rigid beton sepanjang 840 meter dengan

 

Kamis, 29 Juli 2021 12:11 WIB

H Mashuri: Merangin Raih Penghargaan KLA 2021


Kajanglako.com, Merangin - Merangin berhasil meraih penghargaan Kota Layak Anak (KLA) 2021, tingkat Pratama. Info ini disampaikan Plt Bupati Merangin H

 

Rabu, 28 Juli 2021 17:56 WIB

Terjaring Razia dan Didenda Rp 1.000.000, Parmin: Itu Terlalu Kejam dan Keras


Kajanglako.com, Sarolangun - Penindakan pelaku usaha yang dianggap melanggar protokol kesehatan di kota Sarolangun dinilai terlalu keras. Tim gabungan

 

Rabu, 28 Juli 2021 17:19 WIB

Razia Prokes Pelaku Usaha, Pelanggar Disanksi Denda Hingga Segel


Kajanglako.com, Sarolangun - Tim gabungan Satgas Covid-19 Kabupaten Sarolangun mulai memberlakukan penindakan kepada pelanggar protokol kesehatan bagi

 

Sosok dan Pemikiran
Rabu, 28 Juli 2021 07:20 WIB

Romo Kuntara dan Jawa Kuna


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Secara kebetulan saat menjadi profesor tamu di Institute for Language and Culture of Asia and Africa-Tokyo University of Foreign