Jumat, 25 Juni 2021


Kamis, 20 Mei 2021 17:27 WIB

Dari Cendekiawan dan Kekuasaan ke Unfinished Nation

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Baru saja saya menyelesaikan sebuah tulisan atas permintaan teman yang sedang menyunting buku untuk mengenang Daniel Dhakidae (DD) yang belum lama ini wafat. Saya memilih mengulas bukunya Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru yang terbit tahun 2003. Buku ini merupakan karya monumentalnya, tidak sampai 5 tahun setelah lengsernya Suharto, yang oleh DD disebut  “simbol utama neo-fasisme militer”. DD meyakini pentingnya cendekiawan dalam proses perubahan sosial-politik. Dalam negara Orde Baru, menurut DD, cendekiawan telah luluh dalam kekuasaan dan kehilangan peran kritisnya. Dalam teks yang lebih dari 800 halaman itu DD menulis dengan teliti, menggunakan pengalaman dan pengetahuannya bertahun-tahun sebagai edior Prisma, salah satu lembaga cendekiawan yang hidup bersama Orde Baru. DD secara hilir-mudik menemukan paralelisasi dan koinsidensi dari peristiwa masa kini dan masa lalu; menekankan dimensi diskursif dengan perspektif Foucaultdian.



Selain menunjukkan dengan kuat dua kekuatan yang menjadi represif hegemonik, yang pertama militer dan kedua agama; DD menunjukkan telah lahirnya kelompok cendekiawan kritis yang membentuk Partai Rakyat Demokratik (PRD). Meskipun pada tanggal 27 Juli 1996 PRD ikut terbunuh dalam penyerangan tentara ke markas PDIP; semangat perlawanan mereka terus menyala sampai lengsernya Suharto pada 23 Mei 1998. Di kalimat terakhir bukunya, DD tidak menyembunyikan optimisme, “…secara perlahan-lahan proses pengambilalihan wacana baru terjadi sambil mengubah dan selangkah demi selangkah menghancurkan wacana politik kekuasaan dan kekuasaan politik Orde Baru’.

Max Lane (ML), di kaver belakang bukunya yang baru diterbitkan ulang dengan judul Ingatan Revolusi, Aksi Massa dan Sejarah Indonesia, dideskripsikan oleh Edward Aspinall, rekan senegaranya, sebagai berikut: Kesepakatan para sardjana ilmu politik pengamat Indonesia ditandai oleh ketidakpercayaan pada kemungkinan perubahan revolusioner ataupun kemampuan transformatif dari kelompok-kelompok tertundukkan. Pada studi politik Indonesia di Australia kita lantas menemui sedikit sekali perbedaan pendapat mengenai dinamika dasar dari politik Indonesia, sifat dasar masyarakat atau arah dari transformasi demokratik yang sebaiknya didjalani. Namun Max Lane merupakan satu-satunya penulis Australia ahli Indonesia yang berdiri di luar kesepakatan para ahli tadi.

Edward Aspinall, sekarang profesor ilmu politik di Australian National University (ANU), dibimbing oleh Harold Crouch ketika menulis disertasi doktornya tentang peran mahasiswa dalam menjatuhkan rezim Suharto. Aspinall yang disertasi doktornya kemudian terbit dengan judul Opposing Suharto: Compromise, Resistance and Regime Change in Indonesia jelas bukan seseorang yang mengetahui Indonesia hanya di kulitnya. Jika ada yang tidak diketahuinya secara cukup tentang Max Lane, barangkali karena jam terbangnya yang jauh lebih sedikit dibandingkan Max Lane dalam mempelajari Indonesia. Aspinall bisa dibilang anak kemarin sore dibandingkan dengan ML yang sudah sejak tahun 1970an aktif mendukung kelompok-kelompok progresif di Indonesia.

ML adalah generasi ahli Indonesia yang bisa dikatakan meneruskan tradisi Rex Mortimer yang menulis buku, berdasarkan disertasinya yang dibimbing Herbeth Feith, Indonesian Communism under Sukarno. Meskipun deskripsi Aspinall agak berlebihan ketika mengatakan “Max Lane merupakan satu-satunya penulis Australia ahli Indonesia yang berdiri di luar kesepakatan…”, tentu ada benarnya. Saya mengenal ML sejak awal tahun 1980an di Jakarta saat masih menjadi diplomat di Kedutaan Australia, dan kemudian di ANU setelah diberhentikan karena menterjemahkan buku Pramoedya Ananta Toer (Lihat: https://kajanglako.com/id-9101-post-max-lane.html.). ML adalah orang asing yang sejak awal bersimpati pada gerakan kiri di Indonesia dan bergabung dengan gerakan yang menentang rezim militer Suharto. Ketika di ANU tidak mengherankan kalau dia memiliki pandangan yang sangat berbeda dengan pandangan ahli-ahli Indonesia di Australia kala itu, seperti Jamie Mackie dan Harold Crouch yang kemudian menjadi guru para ahli Indonesia di ANU saat kini, seperti Aspinall dan Marcus Mietzner.

Pada awal tahun 1980an itu tidak ada ahli Indonesia yang membayangkan, atau dengan istilah Aspinall “…kesepakatan para sarjana ilmu politik pengamat Indonesia ditandai oleh ketidakpercayaan pada kemungkinan perubahan revolusioner..” dari kemungkinan akan tumbangnya rezim Orde Baru. Pemerintah Australia, seperti umumnya pemerintah negeri-negeri yang tergabung dalam Blok Barat mendukung rezim Suharto dan memberi bantuan dalam berbagai bidang, antara lain melalui pemberian beasiswa untuk mendidik para ahli untuk memperkuat teknokrasi di Indonesia. Sebagai sebuah universitas terbesar yang didirikan oleh pemerintah Australia, ANU menjadi think tank untuk mendukung kebijakaan politik luar negeri Australia. ANU menjadi pusat berkumpulnya para ahli Indonesia hampir di semua bidang ilmu-ilmu sosial dengan dua yang paling berpengaruh, ekonomi dan politik; tapi juga antropologi, sosiologi, geografi, demografi dan sejarah. ANU menjadi laboratorium yang penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui riset dan pendidikan pasca-sarjana.

Sebagai negara tetangga terdekat dengan jumlah penduduk besar dan potensi kekayaan alamnya yang melimpah Indonesia segera menjadi fokus berbagai penelitian di ANU. Di bidang ekonomi, dapat dilihat peran Heinz Arndt seorang ahli ekonomi yang menaruh perhatian besar pada pembangunan di Indonesia. Selain mengarahkan murid-muridnya untuk meneliti berbagai aspek penting dari perkembangan ekonomi yang mendukung pembangunan rezim Orde Baru, Heinz Arndt merintis berdirinya Indonesia Project yang salah satu kegiatannya menerbitkan Bulletin of Indonesian Economic Studies (BIES) yang telah menjadi jurnal berpengaruh dalam bidang ekonomi. Setiap kali terbit BIES selalu memulai dengan laporan triwulanan perkembangan ekonomi Indonesia yang menjadi referensi penting bagi para teknokrat ekonomi Indonesia di bawah pimpinan Widjojo Nitisastro. Hubungan antara ANU, khususnya kelompok Heinz Arndt dengan Indonesia juga terjalin melalui kerjasamanya dengan CSIS. Salah satu ahli ekonomi CSIS Panglaykim adalah kolega dekat Heinz Arndt. CSIS (Center for Strategic and International Studies) – yang berulangkali disebut sebagai “the Center” oleh Daniel Dhakidae dalam bukunya Cendekiawan dan Kekuasaan. CSIS adalah lembaga cendekiawan yang menurut DD dibentuk untuk mendukung rezim neo-fasis militer Suharto.

Buku Max Lane, aslinya dalam bahasa Inggris, diterbitkan oleh Verso pada 2008 dengan judul Unfinished Nation: Indonesia Before and After Soeharto. Versi Indonesia buku ini terbit 2014 dengan judul Bangsa yang Belum Selesai. Buku ini diterbitkan ulang pada 2021 dengan judul Unfinished Nation: Ingatan Revolusi, Aksi Massa dan Sejarah Indonesia. Dalam pengantar untuk edisi kedua ini, Max Lane dalam kata pengantarnya, menulis: Edisi kedua berbeda dengan edisi Bangsa yang Belum Selesai dengan adanya tiga bab tambahan. Dua dari tiga ini menyoroti perkembangan dan evolusi pelaku perubahan yaitu gerakan aksi massa demokratik di periode Orde Baru, terutama menyoroti perkembangan Partai Rakyat Demokratik (PRD) sampai awal tahun 2000an. Satu bab lainnya berisi wawancara antara penerbit Djaman Baroe dan saya tentang situasi pergerakan pada saat itu.

Baik DD dan ML, memiliki persamaan dalam melihat PRD sebagai kelompok anak muda yang memberikan harapan bagi perubahan politik masa depan Indonesia. ML melalui bukunya menunjukkan pentingnya “ingatan revolusi” dan “aksi massa” dalam sejarah Indonesia dan percaya bahwa Indonesia masa depan hanya mungkin berubah jika lahir gerakan massa yang cukup kuat untuk melakukan perubahan. Dengan mengambil contoh PRD, DD dan  ML melihat bahwa lahirnya cendekiawan kritis dan partai massa yang progresif bukanlah sebuah isapan jempol belaka. Dalam kaitan inilah buku DD dan ML menjadi sangat penting untuk dibaca karena menunjukkan sebuah argumentasi sekaligus semacam road map untuk merintis jalan perubahan itu.

Ket: Karya monumental Daniel Dhakidae.

Ketika saat ini ada semacam kesepakatan dari menurunnya demokrasi di Indonesia, DD dan ML akan memberikan resep yang sangat berbeda dibandingkan kebanyakan ilmuwan ataupun pengamat politik Indonesia lainnya. Meskipun ada cara menganalisis yang berbeda, baik DD maupun ML melihat bahwa untuk merintis jalan perubahan cendekiawan kritis harus mampu melihat paralelisasi dan koinsidensi beserta kontradiksi-kontradiksinya dari sejarah panjang politik bangsa Indonesia. Jika pada buku DD paralesasi dan koinsidensi antara peristiwa masa kini dan masa lalu diperlihatkan dalam dimensi diskursifnya, pada buku ML kesinambungan sejarah itu diperlihatkan secara etnografis-empiris. Barangkali dalam konteks memandang sejarah ini DD lebih cenderung mengikuti perspektif gurunya Ben Andersoan yang menjelaskan bangsa sebagai komunitas yang terbayangkan (imagined communities), sementara ML seperti terlihat dalam beberapa tulisannya menolak dengan tegas Ben Anderson yang dalam penilaiannya mengabaikan realitas empiris dalam pembentukan sebuah bangsa.

Bagi ML, kesadaran yang didasarkan oleh pemahaman yang tepat dari realitas empiris dari politik inilah yang perlu dikembangkan di kalangan anak-anak muda agar dapat disusun strategi perjuangan yang bersifat kritis dan progresif. Pada bagian akhir buku yang merupakan wawancara dengan dirinya pada 2011 ML mengritik keras pandangan yang selalu melihat kemunduran bangsa Indonesia sebagai akibat pihak asing atau kuatnya penetrasi neo-liberalisme. Karena pandangan seperti ini akan mengaburkan siapa sebetulnya musuh utama kemunduran bangsa. Bagi ML musuh itu justru harus dicari dalam tubuh bangsa Indonesia sendiri, melalui pemahaman kritis terhadap sejarah politik Indonesia. Membaca buku DD dan ML menjadi penting karena dasar pijak untuk melakukan perubahan telah mereka tunjukkan agar kita keluar dari jebakan asumsi yang keliru yang tampaknya memang telah menjadi kecenderungan umum sekarang ini.

*Peneliti independen. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik akademia portal kajanglako.com


Tag : #Akademia #Maxe Lane #Daniel Dhakidae #Cendekiawan #Kekuasaan



Berita Terbaru

 

Kamis, 24 Juni 2021 17:33 WIB

Letusan Senpi Iringi Uji Menembak Personil Polres Sarolangun


Kajanglako.com, Sarolangun -  Sebanyak 119 Personil Polres Sarolangun melakukan latihan uji Menembak di lapangan tembak Endra Dharmalaksana, Kamis

 

Kamis, 24 Juni 2021 15:22 WIB

Kasus Korupsi DD Desa Lidung, Kejari Segera Tetapkan Tersangka


Kajanglako.com, Sarolangun - Kasus dugaan korupsi dana desa (DD) Desa Lidung Kecamatan Sarolangun Kabupaten Sarolangun pada tahun 2019 lalu, mulai

 

Sosok dan Pemikiran
Kamis, 24 Juni 2021 09:15 WIB

Membaca Hatta dan Pasal 33 Itu


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*Saya mulai mengenal tulisan Hatta ketika akhir tahun 80an meneliti sejarah transmigrasi. Saat itu saya sedikit terkejut karena

 

Rabu, 23 Juni 2021 16:23 WIB

Sarolangun Tempat Nyaman Anak Punk Berkeliaran, PKL Harap Pol PP Segera Tertibkan


Kajanglako.com, Sarolangun – Kabupaten Sarolangun dikenal dengan kabupaten dangan nuansa religi yang kental, memegang nilai dan seloko adat, serta

 

Rabu, 23 Juni 2021 15:57 WIB

IWS: DPRD Sarolangun 'Illfeel' terhadap Aspirasi Pers


Kajanglako.com, Sarolangun – Sejumlah wartawan yang tergabung dalam Ikatan Wartawan Sarolangun (IWS) melanjutkan aksinya ke gedung dewan, usai dari