Jumat, 25 Juni 2021


Kamis, 08 April 2021 13:58 WIB

Cerita dari Daerah Jambi (2)

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

11. Kemudian diceritakan bahwa pada waktu, Mahmud Mahyuddin sendiri sedang berperang di Jambi. Perang itu terjadi karena Ratu Mas, isteri sultan, berpribadi buruk. Semua anak gadis yang cantik diambilnya dan dijadikannya budak;



12. Kemudian diceritakan bahwa orang-orang yang tidak mendukung sultan memberontak dan berperang. Yang memberontak itu adalah orang-orang Arab, Raja Empat Puluh dan rakyat kecil di daerah Jambi. Mereka berhasil mengalahkan Sultan. Bersama anak-anak dan isteri-isterinya, Sultan lalu melarikan diri ke hulu.

13. Kemudian diceritakan bahwa ketika Sultan ke daerah hulu itu, ia bertemu dan rujuk lagi dengan Raden Rangga. Di dusun, mereka berunding. Sultan mengusulkan agar Raden Rangga mengambil alih kekuasaan di Jambi. Bila itu berhasil dilakukan dan Sultan dapat kembali ke Jambi, ia berjanji: bila Sultan Mahmud sudah tidak lagi menjadi sultan dan digantikan oleh putranya, Marta Ningrat, maka putra Raden Rangga, yaitu Raden Tabun, akan dinobatkan menjadi Pangeran Ratu. Demikianlah kesepakatan yang dibuat oleh Sultan Mahmud dan Raden Rangga;

14. Selanjutnya diceritakan bahwa ketika Sultan Mahmud menyelesaikan urusannya dengan Raden Rangga, ia berangkat ke Muara Rawas untuk menemui Sultan Palembang yang sedang tinggal di sana. Raden Rangga mengumpulkan orang-orang dari VII Kuto dan IX Kuto dan lain-lainnya. Ketika mereka dan persenjataan mereka sudah terkumpul semua, datanglah Sultan Mahmud bersama semua orang yang tinggal di Sungai Tembesi dan semua orang yang mendukung Sultan. Membawa senjata, mereka mengikuti Sultan.

15. Kemudian diceritakan bahwa Sultan Mahmud dan Raden Rangga beserta anak buah mereka menaklukkan Jambi. Mereka tidak perlu mengangkat senjata karena orang-orang Arab ternyata telah meninggalkan Raja Empat Puluh. Mereka senang bahwa Sultan Mahmud menjadi sultan. Setelah mereka menguasai negeri, Sultan Mahmud dan Pangeran Ratu berkuasa. Dengan demikian, hal ini sesuai dengan yang sudah dijanjikan oleh Sultan kepada raden Rangga;

16. Satu hal lagi diceritakan: setelah Jambi ditaklukkan, Raden Rangga kembali ke Muara Tebo. Tidak lama kemudian, ia jatuh sakit. Lalu, ia memerintahkan agar semua kepala marga VII Kuto, IX Kuto dan marga-marga Batin XII berkumpul. Ketika mereka semua sudah datang ke dusun itu, Raden Rangga mengatakan kepada semua Batin dan Pengulu-pengulu VII Kuto: “Bila sesudah saya meninggal dunia, Sultan tidak menepati janjinya kepada kita, maka kalian harus memperlakukan anak-anak saya seperti ketika saya masih ada. Jangan biarkan mereka kembali ke Jambi. Biarlah mereka tetap tinggal bersama kalian di hutan ini.”

17. Kemudian diceritakan bahwa Raden Rangga meninggal dunia. Raden Tabun berangkat ke hulu, ke VII Kuto dan IX Kuto untuk berdagang. Tak beda dengan Raden Rangga dulu, ia pun disambut ramah oleh orang-orang di sana. Raden Tabun berhasil memenangkan hati mereka. Ia menikah dengan perempuan-perempuan dari kedua Kuto itu. Ia juga meminjamkan uang kepada para kepala marga dan memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkannya;

18. Kemudian diceritakan bahwa Sultan Mahmud dan Pangeran Ratu memimpin kesultanan dengan baik. Negeri Jambo kembali tenang dan teratur. Pada saat itu, masyarakat di daerah hulu, berada di bawah kekuasaan Sultan Mahmud Mohyiddin, yang menarik pajak dari seluruh daerah itu. Pada waktu itu juga, Pangeran Ratu Marta Ningrat berangkat ke Palembang. Dari Palembang, ia pergi lagi ke Lingga. Sultan Mahmud sendiri pergi ke Tungkal. Ia membangun rumah dan tinggal di sana sampai ia meninggal dunia. Jenasahnya kemudian dibawa ke Jambi;

19. Kemudian cerita itu melanjutkan bahwa Pangeran Ratu Marta Ningrat lalu kembali dari Lingga. Tak lama kemudian, ia tinggal di negeri (Jambi). Lalu Pangeran Ratu dan Pangeran Prabu berperahu ke Tanjung Semalidu untuk menemui Raja Pagaruyung. Sampailah mereka di IX Kuto. Di sana perjalanan mereka terhenti karena mendengar bahwa negeri Pagaruyung sudah ditaklukkan;

20. Kemudian diceritakan bahwa Raja Pagaruyung dengan segala pembesarnya mendengar bahwa Pangeran Ratu Marta Ningrat sudah tiba di IX Kuto. Raja mengutus seorang pengulu untuk menemui Pangeran Ratu Marta Ningrat dan mengabarkan bahwa negeri Pagaruyung sudah diambang kekalahan dan hampir ditaklukkan oleh Darwin, yang dinamakan Pasman. Pengulu itu juga menyampaikan pesan Raja bahwa Pangeran Ratu dan seluruh anak buahnya harus ikut membantu Raja Pagaruyung;

21. Kemudian diceritakan bahwa Pangeran Ratu, Pangeran Prabu dan Raden Tabun berunding. Ketiga lelaki itu mengumpulkan senjata dan anak buahnya untuk membantu raja. Pada saat itu pula, Pangeran Ratu bertemu dengan raja di Tanjung Semalidu. Ketika perang usai, raja Pagaruyung menobatkan Pangeran Ratu menjadi Sultan Muhammad Fachruddin, Pangeran Prabu (putra Sultan Mahmud Mahyiddin) menjadi Pangeran Ratu Marta Ningrat dan Raden Tabun menjadi Panglima Besar. Di masa itu, sultan menikah dengan putrid seorang priyayi, yang bernama Tuan Gadis. Ketika pesta perkawinan itu usai, sultan kembali ke IX Kuto;

22. Kemudian diceritakan Sultan Mahmud Fachruddin tinggal di IX Kuto, di dusun Muara Tebo. Para pengulu VII Kuto dan IX Kuto menuntut janji yang pernah diucapkan ketika Jambi berhasil dikuasai lagi: yaitu, bila Pangeran Ratu sudah menjadi Sultan, Raden Tabun akan menjadi Pangeran Ratu. Mereka bertanya: mengapa ia tidak menepati janji itu? Lalu Sultan Mahmud Fachruddin berkata kepada semua orang di VII Kuto dan IX Kuto bahwa ia tidak pernah menjanjikan itu. “Saya tidak menjanjikan itu kepada siapa pun.”  Demikianlah jawaban Sultan;

 


Tag : #telusur #naskah klasik belanda



Berita Terbaru

 

Kamis, 24 Juni 2021 17:33 WIB

Letusan Senpi Iringi Uji Menembak Personil Polres Sarolangun


Kajanglako.com, Sarolangun -  Sebanyak 119 Personil Polres Sarolangun melakukan latihan uji Menembak di lapangan tembak Endra Dharmalaksana, Kamis

 

Kamis, 24 Juni 2021 15:22 WIB

Kasus Korupsi DD Desa Lidung, Kejari Segera Tetapkan Tersangka


Kajanglako.com, Sarolangun - Kasus dugaan korupsi dana desa (DD) Desa Lidung Kecamatan Sarolangun Kabupaten Sarolangun pada tahun 2019 lalu, mulai

 

Sosok dan Pemikiran
Kamis, 24 Juni 2021 09:15 WIB

Membaca Hatta dan Pasal 33 Itu


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*Saya mulai mengenal tulisan Hatta ketika akhir tahun 80an meneliti sejarah transmigrasi. Saat itu saya sedikit terkejut karena

 

Rabu, 23 Juni 2021 16:23 WIB

Sarolangun Tempat Nyaman Anak Punk Berkeliaran, PKL Harap Pol PP Segera Tertibkan


Kajanglako.com, Sarolangun – Kabupaten Sarolangun dikenal dengan kabupaten dangan nuansa religi yang kental, memegang nilai dan seloko adat, serta

 

Rabu, 23 Juni 2021 15:57 WIB

IWS: DPRD Sarolangun 'Illfeel' terhadap Aspirasi Pers


Kajanglako.com, Sarolangun – Sejumlah wartawan yang tergabung dalam Ikatan Wartawan Sarolangun (IWS) melanjutkan aksinya ke gedung dewan, usai dari