Jumat, 25 Juni 2021


Kamis, 25 Maret 2021 15:39 WIB

Arbi Sanit

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Tidak banyak sebetulnya ingatan saya tentang Bang Arbi Sabit. Tetapi mendengar berita beliau wafat saya tergerak untuk menuliskan ingatan saya tentang beliau yang sedikit itu. Rasanya, saya pernah sekali mewawancarai beliau di rumahnya di kompleks dosen UI di Ciputat untuk sebuah tulisan. Salah satu pertanyaan saya waktu itu, "kenapa tidak mengambil doktor?". Seingat saya Bang Arbi menjawab sambil tertawa, "wah susah cari pembimbingnya, mungkin harus orang setingkat Deliar Noer atau Alfian". Buat Arbi Sanit mungkin gelar doktor memang tidak perlu toh kiprah dan pikiran-pikirannya sudah memiliki kualitas tersendiri yang bahkan telah melebihi koleganya di kampus yang banyak berstatus doktor maupun profesor.



Mengenang Arbi Sanit bagi saya berarti mengenang seorang dosen jurusan politik UI yang pendapat dan pikiran-pikirannya kritis dengan perspektif ilmu politiknya yang bagi saya sangat akademik. Perpsektif ilmu politik yang sangat akademik, dalam tafsir saya, adalah perspektif yang tidak dileleti oleh kepentingan untuk membela partai politik tertentu atau kelompok identitas tertentu. Kritiknya lugas, "speak truth to power".

Dalam hal ini, posisi Arbi Sanit di mata saya melebihi posisi Deliar Noer yang selain sebagai ilmuwan politik yang tangguh terus berupaya membangun partai politik Islam. Arbi Sanit seperti halnya Nurcholis Madjid adalah tokoh-tokoh yang tumbuh dalam organisasi mahasiswa Islam. Namun ketika menjadi seorang yang harus berbicara sebagai ilmuwan politik saya menilai kualitas pikiran dan pendapatnya yang tidak bias. Bagi saya Arbi Sabit adalah ilmuwan politik yang mampu berbicara melampaui identitas sosial yang ada pada dirinya.

Terus terang saya semakin sulit menemukan ilmuwan yang memiliki kualias keilmuan seperti Arbi Sanit. Arbi Sanit tidak saja telah memperlihatkan kualitas akademiknya, namun barangkali yang lebih penting dari soal akademik ini adalah yang menyangkut integritas, kejujuran dan keberaniannya untuk melakukan kritik terhadap kekuasaan "without hate or favor". Perkembangan politik dalam sepuluh tahun terakhir ini memang menunjukkan tingkat polarisasi yang tinggi. Terlepas dari setuju atau tidak setuju dengan cara yang diambil untuk mengurangi polarisasi politik identitas ini, saya sendiri menganggap bahwa pilihan yang diambil oleh presiden Jokowi memperlihatkan upayanya untuk mengendalikan meningkatnya polarisasi ini. Presiden Jokowi telah mengambil langkah-langkah yang bagi sebagian pengamat terkesan kompromistis dan seperti menomorduakan demokrasi dan hak-hak asasi manusia.

Mungkin karena kondisi kesehatannya saya memang telah lama tidak lagi mendengarkan suara Bang Arbi Sanit di ruang publik. Bagi saya suara Bang Arbi Sanit adalah suara akal sehat yang sangat diperlukan untuk menjaga ruang publik yang semakin dipenuhi oleh para demagog dan akademisi yang melecehkan integritas atas nama profesionalisme. Meninggalnya Bang Arbi Sanit menambah deretan panjang kehilangan intelektual yang berani berbicara melampaui identitas sosial yang melekat pada dirinya. AE Priyono, Artidjo Alkotsar dan Arbi Sanit, untuk menyebut beberapa nama, adalah intelektual yang telah membuktikan bahwa menyuarakan kepentingan publik bisa dilakukan betapapun kuatnya identitas sebagai bagian dari kelompok sosial tertentu.

Menggadaikan integritas akademik untuk mendapatkan imbalan kedudukan dan materi telah menjadi norma yang semakin umum terjadi. Atas nama profesionalisme dalam berbagai bidang keahlian integritas akademik telah dengan mudah dilanggar. Ketika pragmatisme menjadi ideologi kerja pemerintah yang sedang berkuasa dan dunia akademik dikelola untuk mendukung pragmatime ini jangan heran jika universitas dan perguruan tinggi menjadi bagian dari ajang transaksi politik-ekonomi. Salah satu yang ditengarai menjadi pintu masuk politik transaksional yang saat ini melanda perguruan tinggi adalah 35 persen hak pilih yang ada di tangan menteri pendidikan dalam memilih rektor di universitas negeri. Hak veto ini bisa dengan mudah menganulir calon rektor yang memiliki reputasi baik dan mendongkrak perolehan suara rivalnya yang sesungguhnya bermasalah.

Mengenang Arbi Sanit yang baru saja wafat bagi saya adalah mengenang seorang intelektual yang mampu mempertahankan integritas akademik ketika ruang publik dipenuhi para demagog dan akademisi oportunis yang berlindung di balik profesionalisme untuk mendapatkan imbalan materi maupun kedudukan dari yang punya kuasa atau yang punya modal.

*Peneliti independen. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik Akademia portal kajanglako.com


Tag : #Akademia #Sosok #Arbi Sanit #Ilmu Politik #UI



Berita Terbaru

 

Kamis, 24 Juni 2021 17:33 WIB

Letusan Senpi Iringi Uji Menembak Personil Polres Sarolangun


Kajanglako.com, Sarolangun -  Sebanyak 119 Personil Polres Sarolangun melakukan latihan uji Menembak di lapangan tembak Endra Dharmalaksana, Kamis

 

Kamis, 24 Juni 2021 15:22 WIB

Kasus Korupsi DD Desa Lidung, Kejari Segera Tetapkan Tersangka


Kajanglako.com, Sarolangun - Kasus dugaan korupsi dana desa (DD) Desa Lidung Kecamatan Sarolangun Kabupaten Sarolangun pada tahun 2019 lalu, mulai

 

Sosok dan Pemikiran
Kamis, 24 Juni 2021 09:15 WIB

Membaca Hatta dan Pasal 33 Itu


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*Saya mulai mengenal tulisan Hatta ketika akhir tahun 80an meneliti sejarah transmigrasi. Saat itu saya sedikit terkejut karena

 

Rabu, 23 Juni 2021 16:23 WIB

Sarolangun Tempat Nyaman Anak Punk Berkeliaran, PKL Harap Pol PP Segera Tertibkan


Kajanglako.com, Sarolangun – Kabupaten Sarolangun dikenal dengan kabupaten dangan nuansa religi yang kental, memegang nilai dan seloko adat, serta

 

Rabu, 23 Juni 2021 15:57 WIB

IWS: DPRD Sarolangun 'Illfeel' terhadap Aspirasi Pers


Kajanglako.com, Sarolangun – Sejumlah wartawan yang tergabung dalam Ikatan Wartawan Sarolangun (IWS) melanjutkan aksinya ke gedung dewan, usai dari