Sabtu, 04 Desember 2021


Senin, 22 Februari 2021 17:18 WIB

Ada Yang Membusuk dalam Darah di Tubuh Kita

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Mungkin di tubuh saya dan sebagian dari kita sudah ada virus covid-19, tetapi tidak ada gejala yang tampak dari luar. Kita tergolong sebagai OTG, atau Orang Tanpa Gejala, salah satu kata dalam "vocabulary" seputar covid-19 yang berkembang pesat dalam setahun terakhir ini.



Vaksinasi meskipun telah dimulai, namun kalangan ahli kesehatan mengatakan bahwa covid-19 masih belum akan segera hilang dalam beberapa tahun ke depan. Tapi, sepert kata banyak orang "we have seen the light at the end of the tunnel", sesuatu yang melegakan.

Bagi saya, covid-19, meskipun tidak dalam waktu cepat bisa selesai ditangani; pada dasarnya sudah diketahui bagaimana skenario dan strategi untuk mengatasinya. Memang sudah pasti kita masih akan banyak menemukan gejala salah urus, salah tatakelola dan juga kontroversi-kontroversi seputar penanggulangan isu covid-19 ini, di samping tentu saja korban berjatuhan yang semakin dekat di seputar diri kita. Dibandingkan covid-19, ada sebuah virus lain yang menurut hemat saya memiliki dampak merusak lebih dalam dan lebih luas dalam kehidupan bersama kita sebagai sebuah bangsa. Ada yang secara diam-diam, pelan-pelan tapi pasti sedang membusuk dalam darah yang mengalir pada tubuh kita.

Virus ini mungkin bisa disamakan seperti virus kanker yang sampai hari ini belum mampu ditemukan vaksin untuk menangkalnya. Jika kanker menyerang sistem kekebalan tubuh seseorang yang mengidapnya, virus ini bekerja dengan cara membusukkan daya-daya vital dari  hidup kita sebagai sebuah bangsa. Virus yang mampu membusukkan ini meresap dan mengalir dalam darah kita sebagai sebuah bangsa.

Sebagai bangsa kita lahir dari semangat untuk memerdekakan diri dari penindasan, dari kolonialisme yang menjajah kita. Ketika kita mencapai kemerdekaan itu, dan hari ini setelah kita telah melewatinya selama lebih dari 70 tahun, elan vital kemerdekaan itu seperti mengalami kelumpuhan. Sebagai bangsa kita sedang mengalami paralisis yang bersifat sistemik, "inertia", ada kekuatan yang hilang untuk menghidupkan dan menegakkan diri kita sebagai bangsa. Mungkin hanya sebagian kecil dari bangsa kita hari ini yang benar-benar menyadari hilangnya elan vital yang pernah dimiliki oleh para pendiri bangsa kita. Bagi saya, gejala paling jelas dari hilangnya elan vital itu adalah pada rusaknya institusi yang seharusnya merupakan tempat terpenting bagi pemupukan elan vital itu yaitu dunia pendidikan, khususnya dunia pendidikan tingginya.

Dalam beberapa tulisan sebelumnya saya telah mencoba mengemukakan hal ini (lihat Kajanglako.com "Kebebasan Akademis: Antara Kepentingan Nasional dan Akal Sehat", "Persekongkolan Membunuh Akal Sehat: Renungan untuk Nadiem Makarim", "Slamet Iman Santoso") dan karena itu saya tidak akan mengulangnya di sini. Sekarang saya akan sedikit berefleksi guna memberikan konteks dari apa yang saya katakan sebagai "ada yang membusuk dalam darah yang mengalir di tubuh kita". 

Seorang sejarawan Australia, Bob Elson, dalam bukunya yang berjudul "The idea of Indonesia: A history"  (2008)mengatakan bahwa "Indonesia is unlikely nation" karena tidak terbayangkan bisa lahir di tengah berbagai paradok yang menyertainya dan ternyata tetap eksis hingga hari ini. Dalam penilaiannya, tentu kita bisa setuju atau menolak argumentasi danpendapatnya, Elson mengatakan bahwa dalam perjalanan sejarahnya Indonesia memiliki beberapa kali kesempatan untuk menjadi bangsa yang besar, tetapi sayang kesempatan itu, salah satunya adalah reformasi politik 1998, ternyata terbukti terlewatkan begitu saja.

Seorang pengamat Indonesia lain, Jeffrey Winters, seorang ilmuwan politik dari Amerika Serikat yang telah mengamati perkembangan politik-ekonomi Indonesia pasca 1965 dengan baik, sampai pada kesimpulan bahwa telah lahir para oligark yang dengan kekayaannya mampu melumpuhkan "rule of law" pilar utama bagi tegaknya demokrasi. Winters yang telah melakukan riset secara rinci melalui disertasi doktor yang kemudian dibukukan dengan judul "Power in Motion: Capital Movement and the Indonesian State"  (1996) adalah orang yang dapat menjelaskan mengapa hari ini Indonesia menjadi negara dengan ketimpangan pendapatan penduduknya yang sangat tajam dimana segelintir oligark menguasai mayoritas sumberdaya ekonomi bangsa Indonesia.

Belum lama ini, 7 Februari 2021, dalam sebuah seri Webinar "Mencari Indonesia dari Aceh sampai Papua" dengan tema "Masihkah kita percaya Partai politik?", enam pembicara (Fatma Susanti, Guru SMA, Banda Aceh; Rudi Rohi, Dosen, Undana, Kupang; Firman Noor, Kepala Pusat Penelitian Politik, LIPI; Stephani, Wakil Ketua DPW PSI, Kalsel; Muhammad Kafrawi, Peneliti LSKP, Makasar; Aiesh Rumbekwan, WALHI Papua) yang sebagian besar merupakan generasi pasca Orde-Baru, sepakat bahwa partai politik sebagai pilar demoktrasi telah berkembang menjadi firma yang membentuk kartel-kartel yang hanya melayani kepentingannya sendiri. 

Kesimpulan diskusi informal ini sejalan dengan analisis Jeffrey Winters dalam orasi ilmiahnya di FH-UGM tanggal 17 Februari 2021 yang mengatakan  bahwa partai-partai politik saat ini telah dikuasai oleh para oligark yang membuat hukum yang seharusnya mengatur warganegara secara setara telah menyerah dan tunduk di hadapan para oligark.

Winters, seperti juga Elson, adalah orang asing, Indonesianis, yang menjadikan Indonesia sebagai obyek kajiannya. Namun, harus saya akui bahwa saya merasakan simpati mereka yang mendalam tentang apa yang dialami oleh orang-orang kebanyakan di Indonesia. Winters dalam kuliahnya itu mengatakan bahwa apa yang diperjuangkan oleh para pendiri bangsa dengan dengan susah payah untuk memerdekakan Indonesia dan kemudian berusaha menegakkan negara hukum itu tidak boleh dilupakan dan disia-siakan. Meskipun kedengarannya aneh, dia mengatakan dalam kuliahnya yang disampaikan dalam bahasa Indonesia yang baik, bahwa sudah seharusnya perjuangan untuk menjadikan Indonesia negara hukum itu dilanjutkan.

Sebagai seorang ilmuwan politik dia telah memberikan analisa yang jernih terhadap proses bagaimana sumber daya politik dan sumberdaya ekonomi di Indonesia berada ditangan para oligark.  Analisa kritisnya telah mampu mendiagnosa dimana letak kegagalan reformasi politik 1998 dan sekaligus menunjukkan pelajaran apa yang bisa dipetik dari kegagalan itu. Kegagalan dari menggunakan sebuah kesempatan yang dalam bahasa Elson telah terlewatkan begitu saja. Bencana ekologis yang hari-hari ini melanda segenap pelosok negeri ini hanyalah akibat dari kegagalan reformasi 1998 menghentikan tatanan politik lama yang terus melanggengkan industri ekstraktif yang merusak lingkungan itu.

Pada Jumat malam yang lalu, 22 Februari 2021,  pengurus KIKA (Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik), dimana saya ikut didalamnya; mengadakan sebuah perbincangan informal dengan Peter Carey, seorang sejarawan berkebangsaan Inggris yang memutuskan pensiun dini dan meninggalkan kehidupan nyamannya sebagai peneliti dan pengajar di Universitas Oxford dan memilih tinggal dan berkiprah di Indonesia. Peter Carey menganggap bahwa panen yang harus dipetik dari kerja kerasnya selama ini sebagai akademisi harus juga dinikmati oleh bangsa Indonesia.

Bukunya yang sangat tebal tentang P. Diponegoro yang semula merupakan tesis doktornya, setelah diterbitkan (The Power of Prophecy: Prince Diponegoro and the End of an Old Order in Java 1785-1855. KITLV 2007) dia usahakan untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia  (Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa 1785-1855, 3 jilid. KPG 2012). Selain membentuk yayasan yang merintis pembuatan kaki palsu buat para korban perang,  dia terus meneliti dan menerbitkan buku, antara lain tentang sejarah korupsi.  Korupsi menurut pendapatnya menjadi salah satu penyebab Indonesia kehilangan kesempatan untuk menjadi negara dan bangsa yang besar.

Peter Carey juga menunjukkan, antara lain dari kasus sejarah yang dipilihnya, Pangeran Diponegoro dan Perang Jawa yang berlangsung dari 1825-1830; ada yang dia katakan sebagai "free soul" yang dimiliki oleh orang-orang Indonesia bahkan pada jaman pra-kolonial. Orang- orang yang memiliki "free soul" menurut Peter Carey sebetulnya ada dalam setiap jaman. Mereka yang memiliki "free soul" ini sering tenggelam atau dikalahkan oleh "the domination authority" yang memegang kekuasaan.

Bagi Peter Carey yang dilawan dan diperangi oleh P. Diponegoro bukanlah individu-individu tetapi adalah apa yang disebutnya sebagai "tatanan-lama" yang bersifat opresif. Dengan kata lain, lawan dari "free soul" adalah "corruptive mind" yang mencengkeram tatanan sosial-politik masyarakat dan membuat sebuah bangsa menjadi terjajah, pikirannya terkolonisasi , menderita kelumpuhan sistemik dan "inertia".

Dalam konteks hari ini, ketika "inertia", "corruptive mind" dan berkuasanya para oligark yang telah menggerogoti tegaknya negara hukum dan "rule of law" dan secara metaforik saya ungkapkan sebagai "ada yang membusuk dalam darah di tubuh kita" jika ada yang harus dibangkitkan adalah "free souls" - jiwa jiwa merdeka - yang mampu mempergunakan  akal sehat dan daya kritisnya untuk membongkar tatanan sosial yang  telah melumpuhkan elan vital kita sebagai bangsa yang berdaulat, berintegritas dan bermartabat.

*Peneliti independen. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik Akademia portal kajanglako.com


Tag : #Akademia #Covid-19 #Oligarki #korupsi



Berita Terbaru

 

Sabtu, 04 Desember 2021 20:18 WIB

Bupati Fadhil Arief Terima Penghargaan dari Organisasi Pemuda Malaysia


Kajanglako.com, Muaro Jambi – Bupati Batanghari Fadhil Arief menerima penghargaan dari Pengakab Negeri Sabah Malaysia. Penghargaan tersebut diberikan

 

Sabtu, 04 Desember 2021 16:32 WIB

Anggota Ombudsman RI Diskusi Soal Pelayanan Publik Bidang Kelistrikan bersama Mahasiswa Kerinci


Kajanglako.com, Jambi - Dalam kunjungan kerja yang dilaksanakan Anggota Ombudsman Republik Indonesia, Hery Susanto ke Provinsi Jambi, ia menyempatkan menyapa

 

Sabtu, 04 Desember 2021 10:16 WIB

Globalisasi dan Indonesia: Post-script dan Post-humous.


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Jika globalisasi didefinisikan secara sederhana sebagai keterbuhungan apa yang terjadi di sebuah pojok bumi dengan apa yang

 

Jumat, 03 Desember 2021 17:49 WIB

Kolaborasi Akademisi dan Ombudsman RI Penting untuk Cegah Maladministrasi Pelayanan Publik


Kajanglako.com, Jambi - Peran civitas akademika dalam pengawasan pelayanan publik sangat krusial di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan oleh Anggota

 

Kamis, 02 Desember 2021 10:30 WIB

47 KPM Terima Bantuan P2K di Kelurahan Pasar Sarolangun


Kajanglako.com, Sarolangun - Sebanyak 47 keluarga penerima manfaat (KPM) terima bantuan Percepatan Pembangunan Kelurahan (P2K) di Kelurahan Pasar Sarolangun. Bantuan