Kamis, 04 Maret 2021


Senin, 15 Februari 2021 14:23 WIB

Slamet Iman Santoso

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Slamet Iman Santoso, atau biasanya dipanggil Pak Slemet, lahir 7 September 1907 dan wafat 9 November 2004; adalah seorang psikiater atau dokter jiwa. Ketika pada tahun 1952 diminta oleh Bung Hatta, wakil presiden, untuk memberikan orasi di ITB yang saat itu menjadi bagian dari Universitas Indonesia, Pak Slamet memilih menyampaikan hasil pemikirannya tentang dunia pendidikan, khususnya bagaimana pendidikan bisa mencapai tujuan untuk menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat (the right man in the right place).



Gagasannya itu menjadi awal dari mulai dirintisnya pendidikan psikologi di Indonesia karena menurut Pak Slamet melalui ilmu psikologi lah bisa dikenali watak seseorang dan pekerjaan apa yang cocok untuk seseorang.

Sebagai pengajar di FKUI, Pak Slamet kemudian mendirikan program pendidikan asisten ahli psikologi di bawah fakultas kedokteran. Pada tahun 1960 pendidikan sarjana psikologi ini secara resmi berdiri sendiri sebagai Fakultas Psikologi UI yang kita kenal sekarang. Sebagai pendiri dan dekan pertama Fakultas Psikologi UI Pak Slamet adalah pionir dalam pengembangan ilmu psikologi di Indonesia.

Latar belakangnya sebagai seorang psikiater yang merupakan cabang dari ilmu kedokteran, melihat psikologi meskipun berdekatan dengan psikiatri, sebagai sebuah disiplin ilmu tersendiri. Di sinilah kita melihat bagaimana Pak Slamet adalah seorang ilmuwan sejati dan sangat menyadari terdapatnya batas-batas antar disiplin ilmu pengetahuan yang tidak begitu saja bisa diterabas. Psikologi sebagai sebuah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia harus mampu mengembangkan metode ilmiahnya sendiri yang bagi Pak Slamet merupakan sebuah tantangan tersendiri.

Sebagai seorang ilmuwan Pak Slamet memahami bahwa untuk memahami tingkah laku manusia psikologi membutuhkan bantuan disiplin ilmu-ilmu lain yang sama-sama melihat manusia dalam keutuhannya. Salah satu disiplin ilmu yang bagi Pak Slamet sangat penting bagi psikologi adalah filsafat, khususnya filsafat manusia. Untuk itulah Pak Slamet meminta Prof Beerling seorang ahli filsafat untuk mengajar di Fakultas Psikologi. Ketika Prof Beerling harus kembali ke Belanda, Pak Slamet meminta Prof Driyarkara untuk menggantikannya.Ketika Prof Driyarkara wafat kedudukannya sebagai pengajar filsafat digantikan oleh Fuad Hassan lulusan pertama F. psikologi UI yang minat utamanya memang filsafat. Fuad Hassan juga yang menggantikan Pak Slamet sebagai dekan ketika Pak Slamet pensiun.

Meskipun tidak menjadi dekan lagi namun Pak Slamet tetap aktif di Fakultas Psikologi di samping berbagai kegiatan lain yang diembannya di UI, antara lain sebagai Pembantu Rektor Bidang Akademis di bawah Rektor Syarief Thajeb dan Sumantri Brojonegoro. Ketika Sumantri wafat tahun 1973 Pak Slamet diangkat sebagai Rektor sampai digantikan oleh Mahar Mardjono menjelang Peristiwa Malari 1974.

Salah satu yang tidak pernah dilepaskannya adalah kedudukannya sebagai ketua tim seleksi penerimaan mahasiswa baru yang saat itu mulai dilakukan secara serentak dengan menggunakan stadion olahraga Senayan. Kekukuhanya dalam memegang prinsip bahwa mahasiswa harus diseleksi dengan benar mendorong pak Slamet untuk mengawasi dan mengendalikan langsung proses penerimaan mahasiswa baru ini. Pak Slamet menganggap bahwa proses seleksi yang benar akan menyaring para calon mahasiswa menjadi calon-calon sarjana yang diharapkan pada saatnya nanti menjadi orang tepat di tempat yang tepat (the right man on the right place).

Keteguhannya dalam melihat sentralnya pendidikan bagi kemajuan bangsa dan negara dibuktikan dengan diterimanya kedudukan sebagai wakil ketua sebuah tim yang dibentuk pemerintah saat itu untuk menyusun konsep pendidikan nasional yang diketuai oleh Menteri Pendidikan saat itu,  Daoed Joesoef.

Tugas itu bukan merupakan tugas yang ringan di usia beliau yang sudah sepuh namun telah diselesaikannya dengan baik. Dalam sebuah kesempatan beliau mengatakan silahkan pemerintah memutuskan mau dipakai atau tidak konsep yang telah disusunnya dengan susah payah itu.

Meskipun bukan orang yang terlibat dalam dunia politik Pak Slamet sangat menyadari bagaimana politik bekerja, dan dalam beberapa kesempatan terlihat sikap sinis yang beliau tidak bisa sembunyikan terhadap tingkah laku para politisi. Di kampus, terutama di Fakultas Psikologi UI, meskipun resminya sudah pensiun, Pak Slamet berusaha selalu mengajar, antara lain dalam kuliah yang dia sebut sebagai “studium generale”.

Dalam kuliah umum ini materi yang diberikan adalah sejarah ilmu pengetahuan. Kumpulan kuliah umum ini ternyata kemudian ditulis kembali dan diterbitkan menjadi sebuah buku sejarah ilmu pengetahuan. Tidak lama setelah buku ini terbit, sebuah tulisan muncul yang mengkritik beberapa bagian dari isi buku yang dianggap keliru.

Penulis kritik ini adalah Profesor Saleh Iskandar Poeradisastra, seorang mantan Tapol Pulau Buru, yang keahliannya memang sejarah dan kesustraan. Yang sangat menarik, ternyata Pak Slamet menerima kritik terhadap bukunya dan tanpa ragu-ragu meminta agar bukunya dicabut dari peredaran, sampai nanti dia perbaiki bagian yang dinilai keliru tersebut.

Saya kira Pak Slamet sampai wafatnya belum sempat memperbaiki naskah buku sejarah ilmu pengetahuan yang telah ditulisnya itu. Namun dari kasus ini terlihat betapa tinggi nilai kejujuran dan integritas akademik bagi beliau. Bagi beliau kejujuran dan integritas pribadi adalah nilai tertinggi dalam hidupnya.

Di kalangan murid-muridnya di lingkungan psikologi selalu terngiang ucapan beliau ini: "Jika seorang dokter salah mendiagnosa pasien akibatnya pasien bisa mati, tapi jika seorang psikolog salah mendiagnosa kliennya, kesalahan itu akan dipertontonkan seumur hidupnya". Mengingat Pak Slamet ketika dunia pendidikan tinggi sedang didera oleh tatakelola yang amburadul dan munculnya berbagai simptom yang mengindikasikan sedang sekaratnya akal sehat barangkali sangat penting untuk mengetahui bahwa pernah ada seseorang yang telah mengabdikan hidupnya untuk menegakkan integritas dan martabat akademik yang merupakan pilar utama bagi dunia pendidikan, khususnya perguruan tinggi itu.

Belum lama ini, secara berturut-turut Majalah Tempo melaporkan hasil investigasinya tentang plagiarisme dan obral doktor honoris causa sebagai contoh simptom dari amburadulnya tatakelola perguruan tinggi kita. Meskipun berbagai simptom yang muncul akhir-akhir ini punya akar sejarah yang panjang dari tak pernah tuntasnya konsep pendidikan nasional kita, namun kekisruhan dalam lima atau enam tahun terakhir ini bisa jadi berawal dari kehendak Presiden Jokowi sendiri yang menginginkan riset dan ilmu pengetahuan harus berguna secara langsung dan kongkrit dalam meningkatkan produktifitas ekonomi yang diyakininya akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Masih jelas dalam ingatan saya ketika kami berhasil mengundang Jokowi yang saat itu baru memenangkan pemilihan presiden untuk memberikan kuliah umum di LIPI dia menantang apakah riset LIPI bisa menghasilkan jenis tanaman yang mempunyai produktifitas tinggi dan bermanfaat bagi masyarakat.

Dalam periode pemerintahannya yang pertama Kementrian Riset dan Pendidikan Tinggi disatukan, dan motivasinya jelas untuk mensinergikan sumberdaya yang terkumpul di unuversitas untuk menghasilkan riset yang lebih produktif. Mungkin karena tidak jalan, dalam periode pemerintahannya yang kedua, kedua lembaga itu kembali dipisahkan. Pergeseran-pergeseran birokrasi yang menangani riset dan perguruan tinggi ini pastilah berdampak pada kekisruhan dan amburadulnya tatakelola pendidikan tinggi yang saat ini terjadi.

Ada persoalan mendasar yang tampaknya perlu dibenahi secara sungguh-sungguh jika kita sebagai bangsa tidak ingin digolongkan sebagai bangsa medioker bahkan tertinggal dari bangsa-bangsa yang lain.

Jika mau, tidak ada yang tidak bisa diperbaiki di dunia ini, termasuk membenahi dunia riset dan pendidikan kita betapapun amburadulnya. Mungkin pada momen-momen ketika dunia pendidikan, terutama pendidikan tingginya didera oleh berbagai skandal yang berasal dari tidak adanya integritas dan kejujuran akademik, ada baiknya kita mengingat kembali Prof Slamet Iman Santoso dan membuka kembali jejak-jejak pikirannya yang pernah beliau tuliskan dalam berbagai bentuk, antara lain konsepnya tentang sistem pendidikan nasional.

*Peneliti independen. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik Akademia portal kajanglako.com


Tag : #Akademia #Sosok #Universitas Indonesia #Fuad Hasan



Berita Terbaru

 

Rabu, 03 Maret 2021 08:25 WIB

Diduga Disunat, Dewan Pertanyakan Setoran Retribusi Terminal Muarabulian


Kajanglako.com, Batanghari - Uang setoran retribusi Terminal Muarabulian diduga disunat. Hal ini diungkapkan Anggota DPRD Kabupaten Batanghari. Menurut

 

Selasa, 02 Maret 2021 21:31 WIB

Bahas Honorer Nonkategori, DPRD Merangin Panggil Diknas dan BKD


Kajanglako.com, Merangin - Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Merangin hearing dengan Dinas Pendidikan Kebudayaan dan BKPSDM Merangin,

 

Perspektif
Rabu, 24 Februari 2021 20:17 WIB

Jokowi dan Anies Baswedan


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Mungkin ada banyak perbedaan antara keduanya. Gaya bicaranya, blusukannya, taktik melobinya, politik identitasnya dan

 

Perspektif
Senin, 22 Februari 2021 17:18 WIB

Ada Yang Membusuk dalam Darah di Tubuh Kita


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Mungkin di tubuh saya dan sebagian dari kita sudah ada virus covid-19, tetapi tidak ada gejala yang tampak dari luar. Kita

 

Sejarah Jambi
Senin, 22 Februari 2021 16:29 WIB

Walter M Gibson


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Dalam rangka menyiapkan tulisan untuk rubrik ‘Telusur Jambi,’ saya teringat pada satu tas