Sabtu, 15 Mei 2021


Rabu, 10 Februari 2021 13:23 WIB

Cincin Babi dan Air Mani Gajah

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Yang dapat digolongkan ke dalam jimat adalah ‘rantai kundik’ atau cincin babi. Cincin logam itu berbentuk lingkaran yang tidak sepenuhnya menutup. Ukurannya kira-kira sebesar cincin yang biasa dipakai sebagai perhiasan jari. Menurut kepercayaan Melayu, orang yang membawa cincin itu akan kebal.



Keampuhannya memang luar biasa, akan tetapi tidak mudah untuk mendapatkannya. Kadang-kadang ada babi hutan dengan taring yang digantungi cincin seperti itu. Tak seorang pun bagaimana dan mengapa cincin itu tersangkut di taring babi. Yang jelas, babi hutan dengan ‘rantai kundik’ di taringnya akan kebal dari tembakan pemburu. Kadang-kadang, bila babi hutan itu kemudian menyeruduk dan mengoyak-oyak semak-belukar ketika mencari makan, cincin itu kemudian terlepas dan tersangkut di ranting atau jatuh ke tanah. Bila seseorang menemukannya, cincin itu dapat diuji keampuhannya dengan cara demikian: orang yang menemukan cincin tadi memukul-mukul bagian tubuhnya yang telanjang dengan tanaman djilatang (yang menimbulkan rasa pedas dan gatal bila terkena kulit). Bila cincin itu diusapkan, rasa sakit di bagian-bagian tubuh yang terkena djilatang tadi akan langsung hilang.

Binatang lain yang istimewa adalah gajah. Air mani seekor gajah jantan dianggap memiliki kekuatan magis sebagai pemikat. Seorang pedagang yang memiliki air mani gajah boleh yakin bahwa dagangannya akan laku. Dan, beberapa tetes air mani gajah yang dioleskan pada tubuh atau pakaian seorang perempuan akan membuatnya terpikat dan jatuh cinta.

Bila sebuah dusun dicekam ketakutan oleh harimau yang berkeliaran di dekat dusun,  yang memangsa ternak atau orang, maka warga dusun akan memanggil seorang dukun. Sebuah selamatan diadakan, dihadiri oleh semua kepala adat dan tetua dusun. Warga dusun menyembelih beberapa ekor ayam yang kemudian dimasak dan dimakan bersama-sama. Kaum perempuan dusun mengumpulkan rempah-rempah yang diperlukan dukun: si-koempai, si-koro, si-tawa, si-dingin, kunyit dan djari anga—angau. Setelah makan, semua rempah-rempah ini diserahkan kepada dukun. Sambil membakar kemenyan, dukun itu membacakan sebuah mantra berulang-ulang. Lalu, rempah-rempah tadi dipotong-potong dan diiris halus, lalu direndam di wadah berisi air. Setelah beberapa saat, dukun memeras dedaunan dan rempah-rempah tadi. Setiap warga dusun: laki-laki, perempuan dan anak-anak mengusap dada, lengan dan wajah dengan air tadi.  Sebagai penutup, dukum membuat bendera-bendera kecil dari sepotong kain katun putih. Bendera-bendera itu diikatkan pada tiang-tiang yang dipancangkan di batas-batas dusun. Menurut kepercayaan, setelah upacara ini, harimau tidak akan datang lagi. Setiap orang yang hadir menyumbangkan uang sebanyak 4 ‘duit’ untuk jerih-payah dukun itu. (Catatan: ‘duit’ adalah koin tembaga Belanda yang digunakan di abad ke-17 dan 18. Delapan ‘duit’ bernilai 5 sen dan 160 ‘duit’ bernilai sebanyak satu gulden).

Pengetahuan atau kearifan yang diperlukan untuk menjauhkan manusia dari malapetaka dan penyakit, untuk mendapatkan panen hasil pertanian yang baik disebut ilmu. Orang yang memiliki ilmu disebut ‘batoewah’. Akan tetapi, istilah ‘batoewah’ tidak hanya digunakan untuk orang yang menguasai ilmu atau magi saja, melainkan juga dapat diterapkan pada binatang, misalnya kuda yang kakinya tak pernah tersandung, ayam jago yang selalu menang dalam aduan atau sapi yang banyak beranak.

Benda lain yang penting bagi orang Melayu adalah ‘koetiko’, yaitu benda-benda yang diperlukan untuk menentukan waktu baik melakukan sesuatu. Biasanya benda-benda itu terbuat dari kayu atau tanduk. Van Hasselt menyaksikan penggunaan ‘koetiko’ di Dataran Tinggi Padang. Sebetulnya van Hasselt menguraikan secara rinci penggunaan koetiko itu, akan tetapi karena uraiannya rumit, hal itu tidak akan dibahas di sini. Yang tertarik mempelajarinya, dapat mengacu pada buku bagus karya Farouk Yahya (“Magic and Divination in Malay Illustrated Manuscripts” dalam seri Arts and Archaeology of the Islamic World, Vol.6. 2015).

Pada umumnya, orang Melayu percaya bahwa mahluk-mahluk halus, jin, iblis dan sebagainya merupakan penyebab datangnya penyakit pada manusia. Pun sebagian besar sistem pengobatan diarahkan untuk mengusir mahluk-mahluk yang mengganggu itu. Seseorang menjadi sakit bukan hanya ulah mahluk halus saja, tetapi juga karena mahluk halus tertentu digerakkan oleh orang lain yang berniat jahat.

Penyakit yang umum diderita masyarakat pada saat tim van Hasselt melakukan ekspedisi adalah: sakit dado atau batuk; sakit salemu (pilek dan radang hidung); sakit pening, sakit mato atau rabun atau buto; sakit padak (tuli); sakit madu (sembelit); sakit gondok, di Lebong sebeto atau seketo; sakit perut; sakit demam; sakit sabun-saban, pane, rajo (sifilis); sakit kuto (kusta); sakit kuruk atau kada (sakit kulit); sakit ketumbuan atau boli buah-buah (cacar air); sakit lumpuh; sakit tareh (lumpuh sementara pada lengan atau kaki); sakit canggu (atrofi atau penciutan lengah atau kaki); sakit tulang; sakit gilo; sakit si-jundai (sakit jiwa sementara—biasanya diderita oleh perempuan yang menarik rambut dan mencabik-cabik bajunya sendiri. Pada waktu sedang terserang sakit itu, si penderita merasa melihat laki-laki yang membuatnya sakit dan ia berusaha mengejar orang itu sehingga ia kemudian berlari-lari telanjang seperti orang kesurupan); sakit si-mabuk bungo (serupa dengan sakit si-jundai); sakit sawan (epilepsi); sakit lalu (kolera dan penyakit epidemis lainnya, kecuali cacar); sakit muno (semacam depresi—si penderita tak mau berbicara, tak mau makan); dan sakit kabanci (hilangnya gairah seks pada suami-isteri muda).

*Pustaka Acuan: Van Hasselt. ‘Volksbeschrijving en Taal,’ dalam Midden-Sumatra: Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, 1877-1879 (Prof PJ Veth, ed). Leiden: EJ Brill. 1882 (hal 70-).


Tag : #telusur #ekspedisi sumatra tengah 1877 #naskah klasik Belanda



Berita Terbaru

 

Senin, 10 Mei 2021 20:52 WIB

Sambut Kunker Komisi III, Al Haris: Masih Banyak Hal yang Perlu Dibenahi di Provinsi Jambi


Kajanglako.com, Merangin - Bupati Merangin, Al Haris bersama jajarannya, menyambut kunjungan kerja (Kunker) Komisi III DPRD Provinsi Jambi, yang dipimping

 

Jumat, 07 Mei 2021 20:31 WIB

35,6 Persen Masyarakat Menolak Divaksin, Ini Alasannya


Kajanglako.com, Jakarta - Pusat Polling (Puspoll) Indonesia merilis hasil survei tentang “Pandemi, Mudik, dan Distribusi Ekonomi”, Jumat, (7/5/2021).

 

Jumat, 07 Mei 2021 18:34 WIB

Survei Puspoll: 49 % Masyarakat Tak Setuju Kebijakan Larangan Mudik Lebaran


Kajanglako.com, Jakarta - Pusat Polling (Puspoll) Indonesia merilis hasil survei tentang “Pandemi, Mudik, dan Distribusi Ekonomi”, Jumat, (7/5/2021).

 

Jumat, 07 Mei 2021 16:52 WIB

Pemkab Muaro Jambi Kembali Raih WTP, Ini Kata Ketua DPRD Yuli Setia Bhakti


Kajanglako.com, Muaro Jambi – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muaro Jambi, berhasil meraih kembali predikat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) oleh

 

Rabu, 05 Mei 2021 18:41 WIB

Dua Pejabat Dinkes Reaktif Rapid Antigen, Wabup: Siapa Saja Bisa Terpapar


Kajanglako.com, Sarolangun - Kasus Covid-19 di Kabupaten Sarolangun telah berjumlah 220 orang yang dinyatakan positif. Virus Corona hingga kini masih mengintai