Kamis, 04 Maret 2021


Selasa, 02 Februari 2021 11:38 WIB

Persekongkolan Membunuh Akal Sehat: Renungan untuk Nadiem Makarim

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Pembiaran oleh penguasa dunia pendidikan di negeri ini terhadap beberapa rektor yang terbukti melakukan plagiasi, terutama Rektor Universitas Negeri Semarang, adalah sebuah  persekongkolan tingkat tinggi untuk membunuh akal sehat. Nadiem Makarim, menteri pendidikan yang masih berusia 38 tahun dan digadang-gadang oleh Jokowi untuk membenahi dunia pendidikan yang memang sangat semrawut itu tampaknya telah terperosok dalam persekongkolan (conspiracy) membunuh akal sehat ini.



Suratnya, tanggal 27 Januari 2021, untuk membatalkan keputusan Rektor USU tentang tindakan plagiasi Muryanto Amin yang terpilih sebagai rektor yang baru, mencerminkan sikapnya yang bisa dinilai sebagai tidak memandang penting sebuah prinsip yang sangat mendasar dalam dunia ilmu pengetahuan tentang keabsahan sebuah karya akademik. Begitu juga, pembiarannya terhadap seorang rektor untuk tetap menduduki jabatan meskipun berbagai pihak yang kredibel telah membuktikan bahwa disertasi doktornya adalah hasil plagiasi, menunjukkan ketidak peduliannya terhadap sebuah cacat yang sangat mencoreng integritas perguruan tinggi.

Sulit untuk tidak mengatakan bahwa sebuah konspirasi sedang bekerja di antara penguasa pendidikan di negeri ini untuk membunuh sebuah prinsip penting dalam pendidikan dan ilmu pengetahuan yaitu akal sehat (common sense) yang intinya adalah nalar kritis (critical thinking). Jika sinyalemen ini benar, bahwa penguasa melakukan persekongkolan membunuh akal sehat, bukankah ini sebuah tindakan bunuh diri sebagai bangsa? Bangsa Indonesia tidak mungkin lahir jika para pemimpin bangsa waktu itu tidak terdidik untuk melatih akal sehatnya. Hanya dengan akal sehat yang kemudian menjadi prinsip yang dipegangnya para pemimpin bangsa itu mampu merumuskan apa yang harus dilakukan untuk memerdekakan rakyat bangsanya dari penjajahan oleh bangsa lain. Jika sekarang menteri pendidikan dan kebudayaan terperangkap dalam sebuah konspirasi untuk membunuh akal sehat, bukankah dia telah melakukan sebuah laku tidak terpuji mengeliminasi prinsip mendasar yang secara historis telah mendorong lahirnya bangsa ini?

Apa yang mau dibanggakan oleh sebuah bangsa jika bukan integritasnya dalam menjunjung tinggi akal sehat sebagai prinsip untuk menegakkan kebenaran, keadilan dan kedaulatan sebagai bangsa yang merdeka dan bermartabat? Jika akal sehat sebagai pilar penting tegaknya bangsa ditebas oleh para penguasa yang seharusnya justru menegakkannya, bukankah ini pertanda dimatikannya Indonesia sebagai sebuah bangsa?

Nadiem Makarim yang dijagokan sebagai model pemimpin masa depan bangsa oleh Jokowi adalah sebuah produk dari lingkungan dimana dia dibesarkan. Sebuah lingkungan yang sangat mengunggulkan cara berpikir untuk mengejar kemajuan (progress). Universitas Brown dan kemudian Harvard yang telah mencetaknya adalah Ivy League dimana creme de la creme kaum terpelajar kelas dunia diproduksi. Dia adalah representasi dari pandangan klasik Weberian yang mengatakan bahwa untuk mencapai progres tidak ada cara lain selain melalui jalan ilmu pengetahuan yang dasarnya adalah rasionalitas. Bagi Weber, hanya di barat-lah ilmu pengetahuan memiliki universal significance and validity. Sukar untuk tidak membayangkan bahwa Nadiem Makarim adalah orang yang diproduksi oleh  lingkungan yang percaya bahwa progres hanya mungkin dicapai dengan mengadopsi cara berpikir barat, seperti ditegaskan oleh Weber. Tidak ada sistem berpikir lain di luar barat yang punya validitas dan signifikansi secara universal.

Begitu diangkat sebagai menteri, tidak mengherankan jika perintahnya yang pertama adalah agar siswa dilatih untuk pandai berbahasa Inggris dan diwajibkan untuk mempelajari algoritma. Bahasa Inggris dan algoritma di mata Nadiem adalah satu-satunya jalan pintas untuk menggapai progres yang dijanjikan oleh barat. Dia sangat tahu, hanya segelintir orang yang beruntung bisa kuliah di universitas Brown dan Harvard. Dia tahu, secerdas apapun anak Indonesia tanpa dukungan finansial yang kuat tidak bakal bisa kuliah di Brown atau Harvard seperti dirinya. Nadiem Makarim yang memilih berkarir sebagai pengusaha telah melihat peluang besar dari pemanfaatan teknologi informasi digital, terutama dalam bisnis retail, terbukti dengan cepat mampu mengakumulasi kapital dalam jumlah yang sangat besar.

Dalam konteks ini Nadiem Makarim, meskipun tidak setara, dapat disejajarkan dengan Bill Gates, Mark Zukerberg, Jeff Besos dan Jack Ma. Tidak heran kalau Nadiem-pun mungkin kenal secara pribadi dengan Bill Gates dan Mark Zukerberg yang juga belajar di seputar Ivy League di Pantai Timur Amerika. Mereka adalah pengusaha-pengusaha yang mampu mengendarai arus globalisasi dan mengakumulasi kapital secara cepat melalui daya ungkit teknologi informasi.

Di sini kembali tesis Weber berbicara tentang etika protestan dan spirit kapitalisme. Tentulah, jika tesis Weber dikemukakan di sini, harus dibaca dalam metamorfosisnya, persis seabad setelah wafatnya pada tahun 1920. Seabad bukanlah waktu yang pendek untuk mengubah sesuatu, tetapi sulit untuk membantah masih berlakunya tesis dasar Weber yang mengatakan hanya melalui rasionalitas dan etika protestan yang ada di barat spirit kapitalisme akan membawa umat manusia pada tingkat kesejahteraan dan peradaban baru.

Tapi bagaimana bisa diterangkan seorang Nadiem Makarim yang jelas-jelas dicetak dengan tungku perapian barat yang mengagungkan rasionalitas dan ilmu pengetahuan terperosok dalam persekongkolan membunuh akal sehat?

Berdasarkan berbagai informasi yang bisa diakses, ada dugaan kuat bahwa seorang Nadiem, dan dalam kaitan ini juga bisa disebut Hilmar Faried yang memimpin sisi kebudayaan, kementrian pendidikan; yang keduanya boleh dikatakan sebagai orang swasta dan memiliki semangat pencerahan; seperti terpilin dalam anyaman kepentingan-kepentingan politik-ekonomi jangka pendek birokrasinya sendiri.

Weber juga yang mengatakan bahwa sebuah birokrasi adalah sebuah lembaga yang (semestinya) rasional (rational bureaucracy). Di sinilah barangkali kajian-kajian para ahli ilmu sosial terbukti benar, ketika birokrasi yang semestinya rasional sebagaimana ditunjukkan oleh Weber di barat, telah berubah menjadi birokrasi yang bersifat patrimonial (patrimonial bureaucracy) ketika diadopsi di timur. Pertanyaaannya, apakah Nadiem Makarim, dan juga Hilmar Faried, yang lahir dan dibesarkan dan kemudian dicetak dalam tungku perapian barat, dengan rasionalitas dan ilmu pengetahuan sebagai pilarnya, bisa rontok dalam berhadapan dengan birokrasi patrimonial dengan kepentingan-kepentingan politik-ekonomi jangka pendeknya?

Persekongkolan membunuh akal sehat oleh para penguasa dunia pendidikan kita adalah sebuah hasil aliansi tak terpuji (unholly alliances) dari berbagai pihak yang telah meruyak dalam birokrasi pemerintahan saat ini yang bekerja secara diam-diam tapi pasti untuk mengamankan kepentingan-kepentingan politik-ekonomi jangka pendek mereka. Tidak ada cara lain yang harus dilakukan oleh Menteri Pendidikan Nadiem Makarim dan Dirjen Kebudayaannya, Hilmar Faried, selain menunjukkan courage mereka sebagai orang-orang yang sejatinya menjunjung tinggi prinsip-prinsip rasionalitas, akal sehat dan ilmu pengetahuan. Keterperosokan mereka dalam persekongkolan membunuh akal sehat harus segera mereka hentikan sendiri, betapapun tingginya ongkos yang harus mereka bayar, jika mereka tidak ingin menyaksikan bunuh diri sebagai bangsa terjadi ketika kekuasaan untuk mencegah ada di tangannya.

*Peneliti independen. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik Akademia portal kajanglako.com


Tag : #Akademia #Plagiasi #Perguruan Tinggi #Matinya Akal Sehat



Berita Terbaru

 

Rabu, 03 Maret 2021 08:25 WIB

Diduga Disunat, Dewan Pertanyakan Setoran Retribusi Terminal Muarabulian


Kajanglako.com, Batanghari - Uang setoran retribusi Terminal Muarabulian diduga disunat. Hal ini diungkapkan Anggota DPRD Kabupaten Batanghari. Menurut

 

Selasa, 02 Maret 2021 21:31 WIB

Bahas Honorer Nonkategori, DPRD Merangin Panggil Diknas dan BKD


Kajanglako.com, Merangin - Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Merangin hearing dengan Dinas Pendidikan Kebudayaan dan BKPSDM Merangin,

 

Perspektif
Rabu, 24 Februari 2021 20:17 WIB

Jokowi dan Anies Baswedan


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Mungkin ada banyak perbedaan antara keduanya. Gaya bicaranya, blusukannya, taktik melobinya, politik identitasnya dan

 

Perspektif
Senin, 22 Februari 2021 17:18 WIB

Ada Yang Membusuk dalam Darah di Tubuh Kita


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Mungkin di tubuh saya dan sebagian dari kita sudah ada virus covid-19, tetapi tidak ada gejala yang tampak dari luar. Kita

 

Sejarah Jambi
Senin, 22 Februari 2021 16:29 WIB

Walter M Gibson


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Dalam rangka menyiapkan tulisan untuk rubrik ‘Telusur Jambi,’ saya teringat pada satu tas