Rabu, 20 Januari 2021


Selasa, 05 Januari 2021 19:32 WIB

Jin di Bawah Laut dan di Dalam Hutan

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Penyakit datangnya dari mahluk halus. Salah satu penyakit yang paling ditakuti oleh orang Melayu adalah ‘koeto’; di Lebong, penyakit ini disebut ‘koeing’. Penyakit itu semacam penyakit kusta. Penyakit ini dipercaya disebabkan oleh mahluk halus jahat, yaitu Jin di Bawah Laut. Seorang dukun menceritakan perihal jin itu kepada van Hasselt.



Pada awal segala-galanya, belum ada langit dan belum ada bumi. Lalu Tuhan, Toeankoe Koeaso menciptakan bumi atau ‘tanah setapak’. Setelah beberapa waktu, ia mengirimkan malaikat Radjo Brail ke bumi untuk melihat-lihat keadaan di sana. Di bumi, Rado Brail bertemu dengan seorang manusia yang merusak tanah. Toeankoe Koeaso lalu memanggil manusia itu dan menanyakan perbuatannya itu. Mengapa kau lakukan itu? Manusia itu menjawab: “Aku lebih berkuasa dari kau dan bumi milikku!”

Toeankoe Koeaso lalu meminta bukti besarnya kekuasaan manusia tadi yang melebihi kekuasaan Toeankoe Koeaso. Ternyata, hal itu tak dapat dilakukannya. Toeankoe lalu marah dan membuang manusia pongah tadi ke laut. Sejak itulah, ia hidup di bawah laut sebagai Jin Di Bawah Laut. Akan tetapi, apa hubungannya Jin ini dengan penyakit kusta dan bagaimana mengobatinya tak dijelaskan oleh dukun yang bercerita kepada van Hasselt.

Kaum perempuan terkadang terkena penyakit kejiwaan yang hanya berlangsung beberapa waktu saja. Pada waktu terkena penyakit itu, Si Sakit duduk diam berlama-lama memandang entah ke mana; atau ia lari-lari berteriak-teriak. Konon ketika sedang sakit, mereka melihat adanya seseorang yang ingin diserangnya, tetapi orang itu tak kunjung dapat ditangkap atau diraihnya. Di dusun Langki, di selatan daerah Si Djoendjoeng, tim penjelajahan itu menemukan tujuh orang perempuan dari satu keluarga yang terkena penyakit aneh itu. Penyakit itu dan mahluk halus yang menyebabkannya disebut ‘Si Mabou Boengo.’ Konon, mahluk halus ini meracuni air. Apakah perempuan-perempuan itu sakit karena minum air itu? Mengapa hanya perempuan yang terkena penyakit itu? Apakah perempuan-perempuan yang terkena masih muda, gadis atau sudah menikah atau sudah tua? Bagaimana mengobati penyakit itu? Walahuallam.

Mambang adalah jin yang memusuhi perempuan hamil. Di Lebong, mahluk halus ini disebut ‘tindoeng.’ Mahluk ini memasuki raga perempuan yang sedang hamil dan memakan jabang bayinya. Jin lain yang mengganggu manusia adalah ‘isjtanah’ yang membuat korbannya lumpuh bila kerasukan. Jin lain adalah ‘djoembalang’ yang memakan padi setelah dipanen dan daging dari binatang yang disembelih.

Ada mahluk-mahluk halus yang mengganggu manusia tetapi memiliki ciri-ciri istimewa tertentu, yaitu ‘pari,’ ‘dejwa,’ ‘djanoen,’ dan ‘si Gando kajo.’

Mahluk halus yang tinggal di hutan seperti ‘tadoeng’ dan ‘lengah’ konon mengambil wujud sebagai burung. Keduanya sangat berbahaya karena pertemuan dengannya akan menyebabkan kematian. Mahluk halus lain tinggal di batu dan pepohonan, terutama yang memiliki cabang dan ranting atau akar yang berbentuk aneh, misalnya  saja di kajoe bapasoeng, toenggoe boetoq, dan toendjang bakau. Tanaman merambat yang terjuntai dari puncak-puncak pohon tertinggi dianggap sebagai ‘antoeng-antoeng setan’ atau mainan setan/mahluk halus. Cabang-cabang pepohonan yang mengeliling suatu daerah terbuka di tengah rimba yang lebat, seperti ‘saloeng angin,’ biasanya membengkok seperti menundukkan pucuknya ke tempat terbuka itu. Di sanalah, mahluk halus hutan berkumpul.

Memang, setiap orang harus sangat berhati-hati di dalam hutan. Jangan sampai tertebang sebatang pohon yang ditinggali oleh mahluk halus. Kalau pun perlu menebang pohon, membuka hutan untuk membuat ladang atau bila memerlukan kayu untuk membangun rumah, orang mengadakan selamatan: menyembelih satu atau beberapa ayam, membakar kemenyan dan meminta izin dari mahluk-mahluk halus yang mungkin tinggal di hutan atau pohon-pohon itu.

Bila seseorang jatuh sakit sekembalinya dari hutan, ia harus segera kembali ke hutan itu untuk meletakkan sesajian di tempat yang dilewatinya agar tidak diganggu lagi dengan penyakit.

Pada malam hari, bila terdengar bunyi berdengung di hutan, ibu-ibu di dusun memeluk anak-anaknya yang masih kecil sambil berbisik: “Binti lalu, Allahu akbar!” Bunyi dengung itu terdengar karena ada mahluk halus yang berlalu.

Konon, mahluk-mahluk halus yang tinggal di hutan (biasanya disebut hantu atau ‘antoe’) muncul dari darah orang yang mati karena celaka. Hantu itu sendiri ada beberapa jenis, antara lain: ‘antoe tinggi,’ ‘antoe bangkai,’ dan ‘antoe si-hampa.’ Penduduk berbagai dusun banyak cerita mengenai hantu-hantu itu, tetapi van Hasselt tidak menguraikannya satu per satu.

Mahluk halus yang paling ditakuti oleh orang Koeboe adalah ‘loder api meleboeroe.’ Kehadirannya di dekat permukiman manusia ditandai dengan oleh suara samar-samar yang terdengar seolah-olah datang dari hutan. Bila suara itu terdengar, orang Koeboe menyembunyikan diri di bawah ranting dan daun agar tidak terlihat oleh mahluk halus menakutkan itu. Apa yang dilakukannya bila ia melihat orang Koeboe? Entahlah.

*Pustaka Acuan: Van Hasselt. ‘Volksbeschrijving en Taal,’ dalam Midden-Sumatra: Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, 1877-1879 (Prof PJ Veth, ed). Leiden: EJ Brill. 1882 (hal 70).


Tag : #Telusur #Sejarah Jambi #Naskah Klasik Belanda



Berita Terbaru

 

Ekspedisi Sumatra Tengah 1877
Selasa, 19 Januari 2021 10:08 WIB

Hilangnya Si Anak Sulung


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Di antara Soepajang dan Siroekam ada dataran tinggi yang luas. Beberapa pohon koebang yang bagus tumbuh

 

Perspektif
Selasa, 19 Januari 2021 09:53 WIB

Demokrasi Ternyata Bisa Mati, Juga di Amerika Serikat


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Sebagai seorang politisi sekaligus gubernur yang memiliki gelar doktor ilmu politik Anies Baswedan tidak aneh kalau memiliki

 

Tipikor
Senin, 18 Januari 2021 20:06 WIB

Cerita Kasus Korupsi Baju Linmas, Tiga Tersangka Kembalikan Kerugian Negara


Kajanglako.com, Merangin - Kasus korupsi baju Linmas Satpol PP Merangin sudah masuk tahap persidangan, Rabu (13/01) lalu sidang perdana di pengadilan Tipikor

 

Pandemi Covid-19
Senin, 18 Januari 2021 20:03 WIB

Hasil Evaluasi, Dinas Pendidikan Sarolangun Tetap Lakukan Sekolah Tatap Muka


Kajanglako.com, Sarolangun – Dinilai tidak menemui kendala, proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) atau sekolah Tatap Muka di masa Pendemi Covid-19

 

Senin, 18 Januari 2021 19:50 WIB

Tahun 2020, 406 Perempuan Merangin Menjanda


Kajanglako.com, Merangin - Angka perceraian di Kabupaten Merangin tinggi. 2020 lalu tercatat ada 479 perkara perceraian yang masuk ke Pengadilan Agama