Rabu, 20 Januari 2021


Sabtu, 02 Januari 2021 08:58 WIB

Setelah Puja-puji Itu..

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Seperti buku persembahan untuk merayakan usianya yang ke-70, buku persembahan untuk merayakan usianya yang ke-85 juga sangat tebal, dengan banyak penulis. Dilihat dari ketebalan buku dan jumlah penulis yang banyak itu, saya kira memang sulit mencari tokoh ilmuwan sosial lain yang sebanding dengan Taufik Abdullah. Pertanyaannya, apakah ketebalan dan banyaknya penulis yang menyumbangkan tulisan dalam buku yang memang dimaksudkan sebagai buku persembahan itu telah menggambarkan keunggulan intelektual yang sesungguhnya dari Taufik Abdullah?



Tulisan ini memang dimaksudkan sebagai kritik terhadap hadirnya buku-buku persembahan pada seorang yang dianggap sebagai ilmuwan atau intelektual oleh kolega dan murid-muridnya yang bisa mengaburkan bagaimana seorang ilmuwan atau intelektual semestinya dinilai, ditimbang dan diukur tingkat keilmuan dan keintelektualannya. Tulisan ini samasekali tidak bermaksud mengatakan bahwa buku persembahan (fetshcrift, tribute) tidak berharga secara ilmiah dan intelektual, namun memang sebuah buku persembahan tetaplah berharga sebagai buku persembahan yang bisa dipahami akan cenderung berisi puja-puji bagi ilmuwan atau intelektual yang sedang diberikan persembahan itu.

Ternyata, apa yang menjadi keraguan bahwa sebuah buku persembahan untuk mengenang jasa seseorang, rupanya disadari oleh panitia dan tim editor buku yang diberi judul "85 Tahun Taufik Abdullah: Perspektif Intelektual dan Pandangan Publik" ; yang baru terbit beberapa hari yang lalu.  Dalam "Pengantar" panitia dan tim editor mengatakan bahwa semula memang ingin menerbitkan dua buku sebagai persembahan untuk memperingati 85 tahun usia Taufik Abdullah (lihat hal x). Di situ tertulis: "Bahkan sesungguhnya ada dua rencana buku yang akan kami terbitkan.  Pertama, adalah buku yang sekarang berada di tangan pembaca, mengenai kenangan; dan kedua, adalah buku yang akan mengulas atau mengeksplorasi pemikiran teoretik atau konsep Pak Taufik berkaitan dengan historiografi sejarah dan pengembangan ilmu-ilmu sosial serta humaniora". Sayang, panitia dan tim editor tidak memberi penjelasan apapun mengapa rencana menerbitkan buku yang "akan mengulas atau mengeksplorasi pemikiran teoretik atau konsep Pak Taufik berkaitan dengan historiografi sejarah dan pengembangan ilmu-ilmu sosial serta humaniora" gagal dilakukan.

Penjelasan mengapa buku kedua yang semula telah digagas itu gagal direalisasikan sesungguhnya sangat penting karena kegagalan itu jangan-jangan mencerminkan kesulitan panitia dan tim editor untuk mengumpulkan tulisan-tulisan yang secara sungguh-sungguh mengkaji "pemikiran teoretik atau konsep Pak Taufik berkaitan dengan historiografi sejarah dan pengembangan ilmu-ilmu sosial serta humaniora". Kegagalan untuk menerbitkan buku yang kedua itu dalam menilai kontribusi akademik seorang ilmuwan dan intelektual sekaliber Taufik Abdullah haruslah menjadi keprihatinan bersama siapapun yang merasa terpanggil untuk mengembangkan ilmu-ilmu sosial di Indonesia. Mengapa? Karena hanya melalui penilaian tentang kontribusi akademik seorang yang secara populer disebut sebagai ilmuwan dan intelektual itulah derajat, martabat dan kualitas akademik dari si tokoh besar itu bisa dinilai. Apakah sudah tertutup kemungkinan untuk menerbitkan buku kedua karena Pak Taufik sudah akan melewati usia 85 tahun? Tentu saja tidak, karena karya-karya Pak Taufik Abdullah yang berupa teks-teks tidak terlalu sulit untuk dikumpulkan, dianalisis dinilai ada atau tidaknya kontribusinya dalam "pemikiran teoretik" dan "konsep historiografi sejarah". Buku kedua itupun memang tidak harus ditulis untuk merayakan hari ulang tahun sang tokoh, karena bisa ditulis kapan saja nanti jika memang ada pihak yang mau dan mampu, demi kepentingan memajukan ilmu-ilmu sosial di negeri ini.

Dengan niat untuk mulai melacak apa saja teks-teks yang telah diproduksi oleh Taufik Abdullah sepanjang karirnya sebagai sejarawan dan ahli ilmu-ilmu sosial, dan sejauhmana teks-teks itu telah diketahui oleh para kolega dan murid-muridnya, tulisan ini melakukan survei terhadap 86 tulisan yang terkumpul dalam buku kenangan 85 tahun Taufik Abdullah ini, dengan asumsi bahwa "pemikiran teoretik" dan "konsep historiografi sejarah" terutama bisa ditemukan, jika memang ada, melalui teks-teks yang telah diproduksi oleh Taufik Abdullah sepanjang karirnya.

Ket: 85 Tahun Taufik Abdullah: Perspektif Intelektual dan Pandangan Publik (YOI).

Mungkin teks penting pertama adalah naskah disertasi doktornya yang kemudian diterbitkan sebagai buku dengan judul "School and Politics: The Kaum Muda Movement in West Sumatra 1927-1933" (1971). Karya ini disinggung oleh  Ahmad Najib Burhani dalam "Sambutan" - nya sebagai Plt. Kepala Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya, LIPI (hal. vi).  Teks disertasi itu dikupas sedikit dalam oleh Agus Suwignyo (Sekolah, Politik dan Taufik Abdullah), hal. 17-21. Karya itu juga dikutip oleh Ahmad Syafii Maarif, dalam tulisannya yang berjudul "Taufik Abdullah: Ilmuwan Par Excellence", hal. 32-33. Bondan Kanumoyoso (Taufik Abdullah dan Pemuda dalam Narasi Sejarah Indonesia) hal. 83-89, juga menjadikan disertasi Taufik referensinya, di samping sebuah buku lain tentang pemuda yang dieditnya (Pemuda dan Perubahan Sosial, 1991). 

Sebuah teks penting yang diproduksi Taufik Abdullah, terbit 2009, "Indonesia: Toward Democracy", baru disinggung secara sepintas oleh  Azyumardi Azra dalam tulisannya (The Greedy State: Tribute untuk Pak Taufik),  hal. 78. Sayang sekali teks yang oleh Asyumardi Azra dikatakan sebagai “magnum opus” Taufik Abdullah, tidak satupun tulisan dalam buku setebal 600 halaman ini yang membicarakannya dengan sedikit serius. Sebuah tulisan yang mungkin paling lengkap menyebut hampir seluruh karya tulis Taufik Abdullah adalah yang berjudul "Pak Taufik di Seputar Pengagum dan Pengikut" dari Dwi Purwoko (hal. 133). Secara teoretis Dwi Purwoko jika mau dapat melakukan analisis sejauhmana kontribusi Taufik Abdullah dalam "pemikiran teoretik" dan "konsep historiografi sejarah", karena tampaknya dokumentasi teks karya Taufik Abdullah telah lengkap di tangannya.

Selain kedua buku yang bisa dikatakan sebagai karya terpenting dari Taufik Abdullah, "School and Politics: The Kaum Muda Movement in West Sumatra 1927-1933" (1971), dan "Indonesia: Toward Democracy" (2009) tidak sedikit teks-teks lain baik berupa buku maupun kumpulan tulisan, selain mungkin ratusan artikel-artikel lepas yang sudah dihasilkan oleh Taufik Abdullah. Berbeda dengan para ilmuwan sosial dan para peneliti yang berlomba menulis artikel untuk mendapatkan angka kredit dan nilai scopus; Pak Taufik Abdullah menulis karena memang harus menulis. Dalam sebuah tulisan untuk mengantarkan buku rekan sejawatnya di LIPI Abdurachman Suryomiharjo, Pak Taufik Abdullah mengatakan bahwa seorang peneliti memang sudah seharusnya menulis. Beberapa teks, yang kadang berupa kumpulan tulisannya, atau pengantar panjang dari buku yang dieditnya, antara lain seperti dalam buku Agama, Etos Kerja, dan Perkembangan Ekonomi (1982), Manusia Dalam Kemelut Sejarah (1983), Sejarah Lokal di Indonesia (1985),  Islam and Society in Southeast Asia (1986), Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia (1987), Pemuda dan Perubahan Sosial, 1991, Pengalaman, Kesadaran, dan Sejarah (1995), The Heartbeat of Indonesian Revolution, (1997). Beberapa tulisan yang disumbangkan dalam buku 85 Tahun Taufik Abdullah menyinggung teks-teks itu tetapi memang tidak mendalam, dan ini bisa dimengerti karena tulisan mereka memang tidak dimaksudkan untuk mengupas teks-teks itu.

Tampaknya yang juga tidak disinggung samasekali oleh para penyumbang tulisan adalah bagaimana sumbangan Taufik Abdullah sebagai sejarawan kondang berkaitan dengan Peristiwa 1965, padahal Taufik Abdullah juga menulis teks yang berkaitan dengan peristiwa yang mungkin paling tragis dalam sejarah Indonesia itu, antara lain dalam 3 buku yang dieditnya bersama Sukri Abdulrachman dan Restu Gunawan (2012, 2013), yang berjudul Malam Bencana 1965 dalam Belitan Krisis Nasional; Bagian I, Rekontruksi dalam Perdebatan;  Bagian 2 – Konflik Lokal dan Bagian 3 – Berakhir dan Bermula. Akan menarik jika ada yang menulis sejauhmana buku-buku itu memberi sumbangan terhadap historiografi peristiwa 1965. Para pembaca buku kiranya tahu,  bahwa dalam lima tahun terakhir ini buku-buku tentang peristiwa 1965 tidak sedikit diterbitkan berdasarkan hasil penelitian yang baru terutama oleh para peneliti asing. Sumbangan ahli sejarah Indonesia dalam mengungkapkan peristiwa ini tentulah sangat dinantikan jika sejarah kita sendiri tidak ingin ditulis oleh orang asing.

Tentulah sangat tidak adil untuk menilai peran Pak Taufik Abdullah dalam mengembangkan ilmu-ilmu sosial di Indonesia hanya dari ada tidaknya kontribusinya dalam "pemikiran teoretik" dan sumbangannya dalam melahirkan "konsep historiografi sejarah", karena seperti terlihat dalam kesaksian 86 penulis buku "85 Tahun Taufik Abdullah: Perspektif Intelektual dan Pandangan Publik" begitu tak terhitung banyaknya sumbangan beliau dalam pengembangan ilmu sosial di Indonesia. Kita bisa menyebutnya antara lain melalui peranannya dalam keberhasilan program-program pelatihan peneliti ilmu-ilmu sosial yang ide awalnya disusun oleh Clifford Geertz dengan dana dari Ford Foundation; pengembangan studi Asia Tenggara yang kemudian berhasil dilembagakan sebagai Pusat Studi Sumber Daya Regional di LIPI yang tidak mungkin terjadi tanpa peran Taufik Abdullah. Kontribusi penting lain, misalnya keterlibatannya dalam proyek penulisan sejarah Islam di Nusantara yang melibatkan Departemen Agama dan peneliti IAIN yang memperlihatkan pengaruhnya yang tidak kecil dalam penulisan buku-buku sejarah peradaban Islam. Dalam kaitan dengan Islam menarik sekali pengamatan Achmad Syafii Maarif yang membandingkan Taufik Abdullah dengan almarhum Kuntowijoyo (hal..32). Di situ Buya menulis: “Tampaknya Kuntowijoyo lebih ‘berani’ dari Bung Taufik, tidak saja telah mencoba melihat Islam dalam konteks sosiologis, tetapi sekaligus mengurai substansi ajaran Islam itu sendiri”

Namun jika komunitas ilmuwan sosial ingin menilai kontribusi Taufik Abdullah dalam "pemikiran teoretik" dan "konsep historiografi sejarah" tampaknya memang harus menganalisis teks-teks karya Taufik Abdullah yang sangat banyak itu. Jadi, setelah puja-puji dilantunkan dalam sebuah buku kenangan mungkin sudah saatnya para pengagum Taufik Abdullah menyingsingkan lengan baju membaca sungguh-sungguh teks yang telah diproduksi Taufik Abdullah, untuk menemukan apa sumbangannya terhadap "pemikiran teoretik" dan "konsep historiografi sejarah".

*Peneliti independen. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik Akademia portal kajanglako.com


Tag : #Akademia #Taufik Abdullah #Sejarah #Ilmu Sosial #LIPI



Berita Terbaru

 

Ekspedisi Sumatra Tengah 1877
Selasa, 19 Januari 2021 10:08 WIB

Hilangnya Si Anak Sulung


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Di antara Soepajang dan Siroekam ada dataran tinggi yang luas. Beberapa pohon koebang yang bagus tumbuh

 

Perspektif
Selasa, 19 Januari 2021 09:53 WIB

Demokrasi Ternyata Bisa Mati, Juga di Amerika Serikat


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Sebagai seorang politisi sekaligus gubernur yang memiliki gelar doktor ilmu politik Anies Baswedan tidak aneh kalau memiliki

 

Tipikor
Senin, 18 Januari 2021 20:06 WIB

Cerita Kasus Korupsi Baju Linmas, Tiga Tersangka Kembalikan Kerugian Negara


Kajanglako.com, Merangin - Kasus korupsi baju Linmas Satpol PP Merangin sudah masuk tahap persidangan, Rabu (13/01) lalu sidang perdana di pengadilan Tipikor

 

Pandemi Covid-19
Senin, 18 Januari 2021 20:03 WIB

Hasil Evaluasi, Dinas Pendidikan Sarolangun Tetap Lakukan Sekolah Tatap Muka


Kajanglako.com, Sarolangun – Dinilai tidak menemui kendala, proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) atau sekolah Tatap Muka di masa Pendemi Covid-19

 

Senin, 18 Januari 2021 19:50 WIB

Tahun 2020, 406 Perempuan Merangin Menjanda


Kajanglako.com, Merangin - Angka perceraian di Kabupaten Merangin tinggi. 2020 lalu tercatat ada 479 perkara perceraian yang masuk ke Pengadilan Agama