Jumat, 25 Juni 2021


Sabtu, 26 Desember 2020 15:01 WIB

Pembunuh Muslim Terancam Neraka? Tinjauan Sejarah

Reporter :
Kategori : Perspektif

ilustrasi. sumber: republika.co.id.

Oleh: Wiwin Eko Santoso*

Isu boleh cepat berganti, tetapi ilmu tetap berbagi.



Selasa 8 Desember 2020, misalnya, Okenews “dotkom” mengeluarkan berita berjudul: “6 Laskar FPI Ditembak Mati, UAS: Membunuh Orang Beriman Balasannya Neraka Jahannam!”

Begitu esoknya, saya juga menonton cuplikan video ucapan Ustad Abdul Somad dan Amien Rais, yang sama-sama, salah satunya, mengutip Quran Surah An-Nisa [4] ayat 93 berbunyi: “Wamayyaqtul mu‘minam muta’ammindam fajazaaaaa uhuu jahannam...”, berarti: “Dan barangsiapa membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya neraka Jahannam ....”

Terus, apakah polisi akan terancam masuk Jahannam, seperti maunya pengutip Quran, macam UAS dan Amin Rais itu? Apakah polisi baru saja menembak dengan sengaja anggota FPI?

Mau tidak mau, untuk sedikit mengerti masalah tersebut, kita perlu meninjau kembali sejarah turunnya ayat Quran. Paling tidak, kita perlu melihat sejarah atau riwayat turunnya ayat Quran, dari ayat 90 hingga 94 Surah An-Nisa.

Riwayatnya begini.

Selepas 14 Mei 628 Masehi, bulan Muharram, pada awal tahun 7 Hijriah, setelah perjanjian gencatan senjata [Hudaibiyah, Maret 628 M], salah satu versinya menyebutkan, bahwa Amr bin al-Ash, Khalid bin Walid, dan Ustman bin Thalhah, masuk Islam. (Lihat Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury,2019: 492; juga M. Quraish Shihab,2018: 837)

Tak lama setelah Khalid bin Walid masuk Islam, Suraqah bin Malik al-Mudliji [seorang tokoh Arab Badui], mendengarinfo bahwa Muhammad akan mengirim Khalid bin Walid mendatangi Bani Mudliji. Untuk itu, Suraqah mendatangi Rasul dan menggugat: “Engkau [Muhammad] ingin mengirim Khalid bin Walid [berperang] kepada kaumku, sedangkan aku ingin engkau berdamai dengan mereka. Jika kaummu berdamai, mereka pun akan berdamai dan akan masuk Islam. Dan jika mereka tidak mau masuk Islam, memangnya menang kaummu [dalam perang] terhadap mereka bukanlah hal yang baik [dan apa untungnya]?”

Lantas, Rasul meminta Khalid bin Walid bersabar dan jangan kasar, serta bersepakat dengan apa Suraqah bin Malik al-Mudliji ajakan.

Terkait peristiwa ini, maka turunlah firman Allah [Surah An-Nisa ayat 90 yang berbunyi boleh berperang dengan], “Kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada suatu kaum, yang antara kamu dan kaum [non-muslim?] itu telah ada perjanjian (damai)....” Begitulah riwayat dari Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih dari Hasan al-Bashri. (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi,2008: 184)

Tidak boleh berperang kepada kaum non-Muslim yang tak mau perang.

Sementara itu, Ibnu Abbas berkata bahwa Surah An-Nisa ayat 90 turun kepada perihal si Hilal bin Uwaimir al-Aslami, Bani Judzaimah bin Amir bin Abdi Manaf, bukan hanya Suraqah bin Malik al-Mudliji saja. (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi)

Jadi, ayat 90 Surah an-Nisa menjadi dalil haramnya membunuh atau memerangi non-Muslim yang sama-sama terikat perjanjian damai. Kalau non muslim tidak mau berperang dan diperangi, maka penuhi perjanjian itu. Jangan lupa, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Barangsiapa membunuh mu’ahad [Non Muslim yang terikat perjanjian damai], maka dia tidak akan mencium bau surga, padahal bau surga saja baru didapat dari (jarak) perjalanan selama 40 tahun.” (Lihat Achmad Sunarto dkk.,1993: 326)

Lantas, pada November 2020, satu keluarga di Desa Lemba Tongoa Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah yang non-Muslim, dibunuh oleh diduga anggota Mujahadin Indonesia Timur (MIT). Mengapa UAS atau Amien Rais tidak mengutip Ayat 90 An-Nisa bahwa pembantaian itu haram mencium bau surga karena non Muslim bayar pajak dan terikat perjanjian damai dari UUD hingga aneka UU?

Baiklah. Kembali kepada sejarah turunnya ayat Quran Surah An-Nisa berikutnya.

Pada Minggu 25 Mei 628 M, masih bulan Muharram 7 H, sekitar tiga hari sebelum peristiwa perang Khaibar, terjadilah peristiwa Perang Dzi Qarad, sebuah perang penghalauan atas perampokan unta-unta milik Rasulullah yang dilakukan segerombolan kaum Arab dari sebelah utara Madinah.

Peristiwa Dzi Qarad ini hanya terjadi sehari saja, yakni dari pagi hingga malam.

Pagi Minggu 25 Mei 628 M itu, secara tiba-tiba Abdurahman bin Uyainah bin Hishn al-Firazi memimpin gerombolan dari kaum suku Ghathafan untuk merampok beberapa unta milik Rasulullah SAW yang sedang hamil dan yang siap mempersembahkan susunya. Salah satu sahabat Rasul, Salamah bin al-Akwa, menjadi saksi dan pelaku upaya penggagalan aksi perampokan tersebut. Singkatnya, para sahabat kiriman Rasul berhasil mengejar dan menumpas rampok, termasuk Abdurahman bin Uyainah bin Hisn al-Firazi tadi. (Lihat M. Quraish Shihab,2018:798; juga Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury,2019:515-516)

Agaknya, ketika penyerbuan Dzu Qarad, seorang Ansar tidak sengaja membunuh Hisyam bin Subabah, saudara dari Miqyas bin Subabah. Lantas, Miqyas bin Subabah pindah ke Madinah dan menjadi orang Islam. Terus, Nabi SAW memberi diyat [uang ganti nyawa] kepada Miqyas dan diapun menerimanya. Namun beberapa hari kemudian, Miqyas bin Subabah malah membunuh bekas pembunuh kakaknya itu, lantas lari ke negara kota Mekah alias menjadi murtad/pemberontak di sana. Akhirnya, nabi bersabda: “Aku tidak menjadi penjamin keamanannya baik di wilayah umum ataupun di tanah Haram.” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi,2008:186-187; juga Mahdi Rizqullah Ahmad,2014:748)

Ibnu Juraik berkata, “Kepadanya [Miqyas bin Subabah inilah] turun firman Allah [berupa ayat 93 Surah An-Nisa yang berbunyi]: ‘Dan barangsiapa membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya neraka jahanam, dia kekal di dalamnya. ....” Narasi Ibnu Jarir dari jalur Ibnu Juraij dari Ikrimah. (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi)

Kelak, saat penaklukan Mekah, Miqyas bin Subabah baru bisa dieksekusi.

Begitulah riwayat turunnya ayat 93 Surah An-Nisa.

Terus?

Selain itu, pada 5 Januari 629 M, batalyon Ghalib bin Abdullah al-Laitsi berangkat ke Bani Uwal dan Bani Ad bin Tsa’labah di Maifa’ah. Jumlah pasukan sebanyak 130 orang, dan mereka melakukan serangan mendadak kepada pemberontak, dan membunuh siapa saja yang terkaitnya. Dalam peperangan ini, ketika kaum Nahik bin Mirdas yang berasal dari Fadak itu kalah perang, dan hanya dia yang tersisa, serta bersembunyi dengan kambing-kambingnya di sebuah gunung. Ketika orang-orang muslim berhasil menemukannya, Usamah bin Zaid tetap membunuh Nahik bin Mirdas walau sempat mengucapkan “La ilaha illallah”.

Kelak, ketika sampai di Madinah, mereka menceritakan kepada Nabi. Lantas, beliau bertanya kepada Usamah bin Zaid: “Apakah kau bunuh ia [Nahik bin Mirdas] setelah mengucapkan kalimat La illa haillalah?” Usamah menjawab: “Ia [si Nahik bin Mirdas] mengucapkan itu hanya untuk berlindung [dari pedangku] saja.” Lantas Rasulullah bersabda: “Apakah kau sudah membedah hatinya hingga kau tahu apakah ia sungguh-sungguh atau berbohong [ketika mengucapkan Laa illaha illallah] itu?” (Lihat Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury,2019:543)

Sebagai respon terhadap kasus Usamah bin Zaid ini, maka turunlah firman [ayat 94 An-Nisa yang berbunyi: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu pergi (berperang dalam menjalankan tugas) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan salam kepadamu, ‘Kamu bukan orang yang beriman.’ (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta dunia, .....” Demikian pula Ibnu Jarir meriwayatkan hadist yang serupa dari Ibnu Umar. (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi,2008:188-189)

Sementara versi jalur lain, Ibnu Mandah meriwayatkan bahwa Juz’uh bin Hadrajan berkata: “Saudara Miqdad datang dari Yaman menuju Madinah untuk menemui Nabi SAW. Ketika di perjalanan dia bertemu dengan pasukan yang dikirim Nabi SAW. Saudara Miqdad berkata kepada mereka, ‘Saya seorang mukmin.’ Namun mereka tidak mempercayai pengakuannya dan membunuhnya. Kemudian berita tentang hal ini sampai kepadaku [Juz’u bin Hadrajan]. Aku pun menghadap nabi SAW. Lantas turunlah firman Allah, “Wahai ....{Anisa ayat 94 juga win} hingga akhir ayat. Terus Nabi memberikan kepadaku diyat untuk saudaraku yang terbunuh.” (Juga Jalaluddin As-Suyuthi)

Fokus di sini, ternyata Nabi juga membayar diyat [denda nyawa]-nya, mirip kasus ayat an Nisa sebelum-sebelum inilah.

Singkatnya, Januari 630 Masehi, penaklukan Mekah dilakukan oleh Rasulullah, setelah perjanjian damai Hudaibiyah dirusak oleh pihak Quraisy sendiri dengan pembantaian November 629 Masehi terhadap Bani Kuza’ah oleh Bani Bakar di sekitar Mekah.

Setelah Mekah ditaklukan, maka pada Rabu Legi 13 Januari 630 M, Rasul berkotbah, awalnya tentang tidak boleh menyekutukan Allah. Kemudian beliau berkata: “Ketahuilah bahwa PEMBUNUHAN secara keliru, semi sengaja (seperti menggunakan cambuk dan tongkat) maka diberlakukanlah DIYAT (tebusan) yang berat, yaitu 100 ekor unta, di mana 40 di antaranya dalam keadaan bunting. Wahai sekalian kaum Quraisy, sesungguhnya Allah telah mengenyahkan kesombongan jahiliyah dari diri kalian dan watak pengagungan terhadap nenek moyang. [Sebab sama saja] Manusia [itu] berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah,” sambil kemudian Rasul mengutip Surah Al Hujuurat ayat 13 tentang manusia, diciptakan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal. (Lihat Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury,2019:573-574).

Pada Sabtu 16 Januari 630 M atau sekitar itu, selain memberi amnesti, Rasul tetap memberi vonis mati bagi kejahatan yang melampaui batas. Salah satunya, Miqyas bin Shababah. Rasul tidak bisa memberi amnesti kepada Miqyas, kecuali kepada tokoh seperti Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh, Habbar bin al-Aswad, Hind [Hindun] binti ‘Utbah, Wahsyi bin Harb, Ikrimah bin Abu Jahal, dan Ka’ab bin Zuhair. (Lihat M. Quraish Shihab,2018:882-887).

Ingatlah, Miqyas bin Shubabah akan dieksekusi hukuman mati oleh Numailah bin Abdullah di pasar Mekah Januari 630 Ini, karena sebelumnya di Madinah pernah masuk Islam pada tahun 628 Masehi, yakni: mengikrar setia sebagai warga negara kota Madinah, memakan uang perdamaian (diyat) atas nyawa saudaranya, dan bersedia tidak menuntut qishas/ balas membunuh. Namun setelah menerima uang damai, Miqyas malah membunuh seorang dari kaum Anshar yang Rasul SAW dengan susah payah telah mengumpulkan uang damai nyawa sebelumnya itu. (Lihat Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury,2019:577; Quraish Shihab,2018:883; Mahdi Rizqullah Ahmad, 2014:748)

Jadi, kini 16 Januari 630 M, pengkhianat dan pemberontak macam Miqyas bin Shababah tidak dapat pengampunan. Kepada Miqyas bin Shababah inilah, quran Surah An-Nisa [4] ayat 93 yang berbunyi: “Wamayyaqtul mu ‘minammuta’ammindam fajazaaaaa uhuu jahannam...”, yang berarti: “Dan barangsiapa membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya neraka Jahannam? ....”—diturunkan Allah SWT

Salah satu dari tiga hal yang membuat darah muslim yang halal dieksekusi mati, yakni orang yang meninggalkan agama dan [sekaligus] meninggalkan jemaah [berkhianat kepada negara] HR Bukhari dan Muslim. (Lihat Muhammad Nasib ar-Rifa’i,1999:767)

Pada beberapa riwayat, melawan aparat negara dengan senjata—itu berat hukumannya.

Kembali, apakah polisi yang membunuh 6 anggota FPI mirip dengan Miqyas bin Shababah, yang sudah memakan uang perdamaian atau diyat saudaranya, terus lari dari Indonesia ke Mekah dengan membunuh sang pembunuh awal?

 

*Jambi, 25 Desember 2020. Penulis adalah pemerhati sejarah.

 

Referensi:

Achmad Sunarto dkk., Tarjamah Shahih Bukhari Jilid VI. Cet. I. Semarang: CV. Asy Syifa, 1993.

Jalaluddin As-Suyuthi, Sebab Turunnya Ayat al-Quran. Terj. Tim Abdul Hayyie. Cet. I. Depok: Gema Insani, 2008.

Muhammad Nasib ar-Rifa’i, Kemudahan dari Allah: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Jilid I. Terj. Syihabuddin. Jakarta: Gema Insani, 1999.

M. Quraish Shihab, Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW. Dalam Sorotan Al-Quran dan Hadis-hadis Shahih. Edisi Baru. Cet ke-1. Jakarta: Lentera Hati, 2018.

Mahdi Rizqullah Ahmad, Biografi Rasulullah: Sebuah Studi Analitis Berdasarkan Sumber-sumber yang Otentik. Terj. Yessi HM Basyaruddin. Cet. Ke-6. Jakarta: Qisthi Press, 2014.

Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury, Sirah Nabawiyah. Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Dari Kelahiran Hingga Detik-detik Terakhir. Cet. XXV. Terj. Hanif Yahya LC. Jakarta: Darul Haq, 2019.


Tag : #Perspektif #Amien Rais #Abdul Somad



Berita Terbaru

 

Kamis, 24 Juni 2021 17:33 WIB

Letusan Senpi Iringi Uji Menembak Personil Polres Sarolangun


Kajanglako.com, Sarolangun -  Sebanyak 119 Personil Polres Sarolangun melakukan latihan uji Menembak di lapangan tembak Endra Dharmalaksana, Kamis

 

Kamis, 24 Juni 2021 15:22 WIB

Kasus Korupsi DD Desa Lidung, Kejari Segera Tetapkan Tersangka


Kajanglako.com, Sarolangun - Kasus dugaan korupsi dana desa (DD) Desa Lidung Kecamatan Sarolangun Kabupaten Sarolangun pada tahun 2019 lalu, mulai

 

Sosok dan Pemikiran
Kamis, 24 Juni 2021 09:15 WIB

Membaca Hatta dan Pasal 33 Itu


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*Saya mulai mengenal tulisan Hatta ketika akhir tahun 80an meneliti sejarah transmigrasi. Saat itu saya sedikit terkejut karena

 

Rabu, 23 Juni 2021 16:23 WIB

Sarolangun Tempat Nyaman Anak Punk Berkeliaran, PKL Harap Pol PP Segera Tertibkan


Kajanglako.com, Sarolangun – Kabupaten Sarolangun dikenal dengan kabupaten dangan nuansa religi yang kental, memegang nilai dan seloko adat, serta

 

Rabu, 23 Juni 2021 15:57 WIB

IWS: DPRD Sarolangun 'Illfeel' terhadap Aspirasi Pers


Kajanglako.com, Sarolangun – Sejumlah wartawan yang tergabung dalam Ikatan Wartawan Sarolangun (IWS) melanjutkan aksinya ke gedung dewan, usai dari