Rabu, 20 Januari 2021


Rabu, 09 Desember 2020 17:01 WIB

Koelambai Danau Rajo

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Orang Melayu membayangkan bumi sebagai lempengan datar yang dibopong oleh seekor sapi, yang berdiri di atas sebutir telur, yang dibawa seekor ikan berenang-renang di dalam mangkok batu. Lalu, di bawah mangkok batu itu ada apa? Tanya van Hasselt. “Kalam,” jawab orang yang sedang menjelaskan perihal bumi kepadanya. ‘Kalam’ adalah kegelapan abadi.



Bila sapi tadi bergerak-gerak, terjadilah gempa bumi. Petir, yang dianggap sebagai tembakan-tembakan yang dilepas oleh mahluk halus, muncul dari bumi ataupun dari langit dan itu biasanya terdengar dan tampak pada saat ‘badai malaikat’. Pelangi yang tampak di langit menandakan ada jin yang marah. Bila pelangi itu hanya tampak sebagian saja dan ujung-ujungnya tidak sampai ke bumi, maka itu adalah ‘tanda oerang mati bedarah’: orang mati dengan kekerasan.

Langit yang semburat merah ketika matahari terbenam adalah ‘tando boerahan’, yaitu tanda bahwa air akan pasang. Angin muncul di jurang-jurang dan di antara lubang-lubang. Ini disebut ‘poepoeitan kaling’. Angin itu ditiupkan oleh jin-jin yang tinggal di tempat-tempat itu.

Hati (jantung) manusia terbagi tiga: sebagian berwarna putih, sebagian lagi berwarna merah dan sisanya aneka warna. Orang yang mengikuti bagian hati yang berwarna putih, akan bertindak baik; orang yang membiarkan dirinya dikuasai oleh bagian hati yang aneka warna cenderung berubah-ubah sifat—terkadang baik, terkadang buruk. Dan orang yang berprilaku jelek, dikuasai oleh bagian hatinya yang berwarna merah.

Mahluk halus yang disebut jin tidak hanya satu macam. Salah satu jin yang banyak sekali diceritakan adalah ‘koelambai’. Mahluk halus ini mampu mengubah wujudnya menjadi sosok manusia. Terkadang ia muncul di sebuah dusun dengan sosok lelaki miskin berpakaian compang-camping; lain saat, ia muncul sebagai perjaka muda yang tampan. Bila ia muncul, ia mengusik hati penduduk. Orang yang melecehkannya atau memperlakukannya dengan buruk akan celaka. Pun dusun itu celaka: terjadi kebakaran, rumah-rumah runtuh atau bahkan, seluruh dusun terkena malapetaka dan punah sama sekali.

Setiap daerah mengenal ‘koelambai’ masing-masing. Koelambai di daerah XII Koto tinggal de Boekit Tjamin, di dekat mata air Sangi. Suatu saat, dalam wujud seorang lelaki miskin, ia datang ke dusun. Ia membawa seekor katak di dalam sebuah tabung bambu. Lelaki itu menawarkan katak tadi kepada seorang wanita untuk mendapatkan beras sedikit. Wanita itu menggelengkan kepala. “Kami tidak makan katak,” katanya. Namun, seorang anak lelaki yang sedang makan, memberikan nasinya kepada lelaki miskin itu. Tabung berisi katak tadi diterimanya dengan hati-hati. Setelah lelaki itu menghilang, anak laki-laki tadi membuka tabung bambu di tangannya. Sang katak sudah menghilang dan tempatnya digantikan oleh sebongkah emas. Tak lama kemudian, terbakarlah rumah perempuan yang menolak memberikan segenggam beras kepada laki-laki miskin tadi.

Di daerah Rawas, tidak jauh dari Karam Panggung, di antara Moeara Roepit dan Soeroelangun, di tengah-tengah belantara, terdapat danau kecil. Danau Rajo. Airnya jernih dan seperti kaca yang memantulkan kehijauan pepohonan di sekitarnya. Penduduk daerah itu mengatakan bahwa ada legenda yang menceritakan asal-usul terbentuknya danau itu, tetapi tak seorang pun dapat menceritakannya kepada van Hasselt. Untunglah dalam perjalanannya ke Rawas hulu dan Lebong, di dusun Pangkalan, ia dan timnya menginap di rumah Panghulu dusun iu. Di balai kecil tempat mereka menginap, Panghulu Pangkalan datang berkunjung dan ia mulai bercerita.

Dahulu kala,  tempat yang kini menjadi Danau Rajo, tidaklah sepi sunyi seperti sekarang. Dulu di sana ada dusun yang tenteram dengan penduduk yang hidup makmur. Suatu saat, dusun itu semakin ramai karena anak perempuan kepala dusun akan menikah. Di balai, penduduk dengan pakaian yang bagus dan mewah sudah berkumpul. Suara gamelan dan gendang terdengar meriah. Jejeran tetamu duduk berdampingan menghadapi nampan-nampan yang penuh dengan nasi dan kekuehan. Tiba-tiba seorang lelaki tak dikenal memasuki balai. Ia sudah tua dan pakaiannya compang-camping. Tubuhnya penuh dengan bisul dan luka. Dari wajahnya, tampak bahwa ia kelaparan.

“Izinkanlah saya duduk sebentar untuk beristirahat,” katanya. “Berilah saya sesuap nasi karena saya lapar.”

Di balai, dari segala arah terdengar orang menggerutu. “Usir saja! Suruh ia pergi!” Lalu, orang mengusir lelaki tua itu dan mencaci-makinya.

Lelaki itu pergi dan kemudian duduk di tanah lapang di depan balai. Ia mengambil lidi dari sebuah daun kelapa, menusukkannya ke tanah sambil berseru: “Hai orang-orang penting dan kaya! Tak seorang pun dapat mencabut lidi ini dari tanah tempatnya kutusukkan!”

Setelah lelaki tua itu meninggalkan dusun, beberapa pemuda turun dari balai dan menendang lidi tadi. Tetapi lidi itu tidak tumbang. Mereka menarik-nariknya. Tetapi lidi itu tetap kokoh tertancap di tanah. Apa pun yang dilakukan, siapa pun yang melakukannya, lidi itu tak tercabut jua.

Di sebuah rumah yang ditinggali oleh beberapa orang tua yang tidak pergi ke pesta perkawinan tadi, lelaki tua itu beristirahat dan makan. Ia tidak tinggal lama di situ. Setelah makan nasi, ia beranjak. Sebelum pergi, ia menaruh beberapa batang bambu di bawah rumah itu. Lalu, ia kembali lagi ke balai tempat orang di pesta masih berusaha mencabut lidi yang ditusukkannya di tanah.

“Kalian sudah mengusir saya seperti anjing,” katanya. “Kalian tak berhasil mencabut lidi yang kutusukkan di tanah ini. Kematianlah hukuman bagi kalian yang tak mengenal rasa kasihan!”

Lalu, dengan jempol dan telunjuk, ia begitu saja, dengan mudahnya, mencabut lidi tadi. Dari lubang bekas tancapan lidi itu, air menyemprot ke atas. Semua orang terperangah melihatnya dan tak menyadari kepergian lelaki tua tadi. Air dari lubang itu terus muncrat dan menyemprot ke segala arah. Semakin lama semakin banyak air yang muncrat. Lubang itu semakin melebar dan dalam waktu singkat, jalan-jalan di dusun dan tanah lapang di depan balai basah dibanjiri air. Lama-kelamaan, seluruh dusun itu tenggelam: rumah-rumah menghilang dan penduduk dusun, lelaki dan perempuan serta ternak milik mereka, menghilang. Mati tenggelam. Yang selamat hanyalah sepasang suami-isteri yang tadi memberi makan dan tempat istirahat bagi lelaki tua tadi. Batang-batang bambu yang diletakkannya di bawah rumah mereka ikut terangkat oleh air yang semakin tinggi. Rumah mereka seolah-olah berada di atas rakit bambu yang menyelamatkan mereka ke tepian.

 “Bila awan hitam dan mendung memberat di langit pertanda akan ada badai dan angin kencang membuat air di danau bergelombang dan bergerak-gerak, di tempat balai dusun dulu berdiri, akan tampak bulu-bulu ayam terapung-apung. Samar-samar, entah dari mana, akan terdengar suara gamelan dan gandang. Itulah tandanya, di bawah air, di dalam danau, penduduk dusun sedang berpesta.”

Panghulu dusun Pangkalan diam sejenak. Matanya yang rabun melihat ke sekeliling seolah-olah menunggu kedatangan seorang lelaki tak dikenal. Mau tak mau, van Hasselt dan tim penjelajahannya ikut melihat ke sekeliling.  Akan tetapi, tak tampak apa pun karena matahari telah lama tenggelam dan bulan pun tak ada. Malam kelam dan gulita.

 

*Pustaka Acuan: Van Hasselt. ‘Volksbeschrijving en Taal,’ dalam Midden-Sumatra: Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, 1877-1879 (Prof PJ Veth, ed). Leiden: EJ Brill. 1882 (hal 70-


Tag : #Telusur #Naskah Klasik Belanda #Melayu



Berita Terbaru

 

Ekspedisi Sumatra Tengah 1877
Selasa, 19 Januari 2021 10:08 WIB

Hilangnya Si Anak Sulung


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Di antara Soepajang dan Siroekam ada dataran tinggi yang luas. Beberapa pohon koebang yang bagus tumbuh

 

Perspektif
Selasa, 19 Januari 2021 09:53 WIB

Demokrasi Ternyata Bisa Mati, Juga di Amerika Serikat


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Sebagai seorang politisi sekaligus gubernur yang memiliki gelar doktor ilmu politik Anies Baswedan tidak aneh kalau memiliki

 

Tipikor
Senin, 18 Januari 2021 20:06 WIB

Cerita Kasus Korupsi Baju Linmas, Tiga Tersangka Kembalikan Kerugian Negara


Kajanglako.com, Merangin - Kasus korupsi baju Linmas Satpol PP Merangin sudah masuk tahap persidangan, Rabu (13/01) lalu sidang perdana di pengadilan Tipikor

 

Pandemi Covid-19
Senin, 18 Januari 2021 20:03 WIB

Hasil Evaluasi, Dinas Pendidikan Sarolangun Tetap Lakukan Sekolah Tatap Muka


Kajanglako.com, Sarolangun – Dinilai tidak menemui kendala, proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) atau sekolah Tatap Muka di masa Pendemi Covid-19

 

Senin, 18 Januari 2021 19:50 WIB

Tahun 2020, 406 Perempuan Merangin Menjanda


Kajanglako.com, Merangin - Angka perceraian di Kabupaten Merangin tinggi. 2020 lalu tercatat ada 479 perkara perceraian yang masuk ke Pengadilan Agama