Sabtu, 15 Mei 2021


Minggu, 06 Desember 2020 14:55 WIB

Mengenang Seorang Mentor, Jo Rumeser

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Seorang teman, senior dan mentor politik saya semasa mahasiswa, Jo Rumeser, semalam meninggal dunia. Sejak pagi, berita WA dari teman-teman yang masih hidup terus masuk ke gawai saya, hampir semuanya dari para veteran aktifis mahasiswa tahun 1970an dan 1980an, sebuah generasi aktifis pasca Soe Hok Gie dan pra Budiman Sudjatmiko. Generasi aktifis masa itu pastilah mengenal Jo, begitu dia biasa dipanggil. Jo sekitar 2 tahun lebih dulu masuk Fakultas Psikologi UI dari saya. Ketika saya masuk, tahun 1971, Jo telah menjadi senior saya, di samping Djodi Wurjantoro, senior saya yang lain. Keduanya akktifis dengan gaya yang berbeda, Jo lebih intelektual dan Djodi lebih nyeniman. Di samping kedua senior yang dari keduanya saya merasa cukup banyak belajar ini, ada Husein Prijanto – panggilannya Totok, mungkin setahun lebih tua, yang saya juga merasa dekat. Dari ketiga orang yang saya anggap sebagai mentor itu mungkin sekarang tinggal Totok yang masih ada, karena Djodi juga telah jauh lebih dulu meninggal.



Awal tahun 1970an adalah masa ketika bulan madu mahasiswa dengan tentara mulai retak. Sepeninggal Soe Hok Gie Desember 1969 panggung kritik beberapa waktu diisi oleh eks tokoh 66 seperti Arief Budiman dan Asmara Nababan, dan keresahan mahasiswa di kampus UI mulai menampilkan Hariman Siregar, juga Jo, Djodi dan Husein Prijanto; di samping banyak tokoh mahasiswa yang lain. Kulminasi aktifisme mahasiswa awal tahun 1970an adalah demonstrasi besar menentang masuknya modal asing yang berujung pada peristiwa 15 Januari 1974 (Malari). Sebagai mahasiswa saya mengikuti arahan para mentor saya berpawai dari Salemba ke Monas. Beberapa hari setelah demo besar yang digagalkan oleh anak buah Jendral Ali Moertopo yang membakar Pasar Senen dan Show Room Astra di Jalan Jendral Sudirman Jakarta itu Hariman Siregar dan Aini Chalid, aktifis mahasiswa UGM ditangkap, berbarengan dengan tokoh-tokoh yang berafiliasi dengan PSI  (Partai Sosialis Indonesia) seperti Sarbini Soemawinata, ayah Yanti senior saya di Fakultas Psikologi  UIdan istri Hariman Siregar, Aini Chalid, Sjahrir (Ciil), Juwono Sudarsono, Dorojatun Kuntjorojakti, Soebadio Sastrosatomo dan Soedjatmoko. Tuduhan yang dipakai kelompok Ali Moertopo yang menjadi patron dan pendiri CSIS (Center for Strategic and International Studies) sebuah think tank orde-Baru , PSI lah yang mendalangi Malari.

Akibat Malari Husein Prijanto (Totok) yang saat itu menjadi salah satu wakil sekjen DMUI yang diketuai Hariman Siregar harus melarikan diri dari kejaran intel tentara. Totok yang ayahnya konon tersangkut G30S disembunyikan oleh teman-temannya agar demo mahasiswa 1974 tidak dikaitkan dengan PKI. Totok cukup lama menghilang dan harus berganti nama dan baru berani muncul secara terbuka setelah Soeharto jatuh Mei 1998. Jo dan Djodi tidak termasuk yang ditangkap akibat peristiwa Malari 1974, mereka terus aktif menggalang mahasiswa untuk melawan Soeharto. Momen perlawanan pasca Malari kembali terakumulasi pada tahun 1977-78 yang lagi-lagi berakhir dengan penangkapan mahasiswa. Saat aksi mahasiswa tahun 1977-78 saya menjadi Ketua Senat Mahasiswa namun tidak termasuk yang ditangkap dan dipenjara di Kampus Kuning. Jo yang saat itu menjabat sebagai Sekjen DMUI yang diketuai oleh Lukman Hakim, termasuk yang ditangkap bersama puluhan pimpinan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Setelah meninggalkan UI awal tahun 1980 dan mulai bekerja di LIPI praktis saya tidak pernah lagi bertemu dengan senior dan mentor politik saya, Jo Rumeser.

Ketika mendengar berita Jo meninggal ingatan saya melayang ke era tahun 1970an dan 1980an dan mengenang bagaimana sosok Jo yang meskipun tidak melalui kaderisasi yang sistimatis telah berperan dalam membentuk kesadaran dan aktifitas politik saya. Jika ada yang mau disebut sebagai tradisi politik barangkali tradisi beraktifitas atas nama kelompok independen yang tidak memiliki afiliasi dengan organisasi mahasiswa ekstra kampus, seperti HMI, GMNI, GMKI, PMII dan PMKRI.

Setahu saya kelompok mahasiswa independen di UI bisa dikatakan menjadi penerus generasi Soe Hok Gie yang secara organisasi memiliki corak tersendiri dan terekspresi melalui dua organisasi mahasiswa, Mapala  (Mahasiswa Pecinta Alam) UI dan GDUI (Grup Diskusi UI). Setahu saya Jo dan Totok aktif di GDUI dengan Djodi dengan gaya urakannya lebih dekat ke Mapala UI dan bersama Rudi Badil dan Warkop juga aktif di Radio Prambors. Saya sendiri meskipun didorong-dorong oleh para mentor saya itu tidak pernah menjadi anggota resmi GDUI maupun Mapala UI.

Setelah bekerja di LIPI awal 1980an dan melanjutkan studi keluar negeri, dan kembali ke tanah air awal 1990an praktis saya tidak pernah berkomunikasi lagi dengan Jo. Saya hanya tahu kalau dia mendirikan Iradat, sebuah biro konsultan psikologi, aktif di dunia olahraga dan konon sempat membantu KONI selebihnya blank. Belakangan saya mendengar Jo menjadi pengajar di BINUS, bahkan sempat  menjadi dekan fakultas humaniora. Beberapa kali saya mencoba untuk berkomunikasi tetapi gagal. Ketika para alumni UI berkumpul dan mendukung Jokowi saya dengar Jo juga aktif di sana. Sebelum meninggal tadi malam saya masih berharap bisa berkomunikasi lagi dengan mantan mentor politik saya itu.

Tapi takdir rupanya memang menentukan lain. Membayangkan Jo berarti membayangkan seorang yang kalau berbicara teratur sistematis, murah senyum dan punya sikap ngemong. Mungkin pertemuan terakhir agak lama ketika kami pulang dari nonton pemutaran perdana film Eros Djarot "Rembulan dan Matahari”, di TIM, kami berjalan kaki santai sambil ngobrol ke pondokannya di sekitar proklamasi. Saya ingat, Jo setengah bertanya mengapa saya belajar demografi. Seingat saya, jawaban saya waktu itu, mungkin setengah ngawur, asal jawab saja, saya bilang jika saya dulu belajar psikologi tentang manusia dalam posisinya sebagai individu, saya kemudian belajar demografi, tentang manusia dalam posisinya sebagai massa. Itulah sekelumit kenangan saya tentang Jo Rumeser, senior dan saya anggap mentor politik saya. Ketika dia tiada baru terasa saya berhutang padanya. Banyak teman yang masih hidup pasti merasa kehilangan dengan kepergiannya. Selamat jalan Jo!

 

*Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik Akademia portal kajanglako.com


Tag : #Akademia #Peristiwa Malari #Orde Baru



Berita Terbaru

 

Senin, 10 Mei 2021 20:52 WIB

Sambut Kunker Komisi III, Al Haris: Masih Banyak Hal yang Perlu Dibenahi di Provinsi Jambi


Kajanglako.com, Merangin - Bupati Merangin, Al Haris bersama jajarannya, menyambut kunjungan kerja (Kunker) Komisi III DPRD Provinsi Jambi, yang dipimping

 

Jumat, 07 Mei 2021 20:31 WIB

35,6 Persen Masyarakat Menolak Divaksin, Ini Alasannya


Kajanglako.com, Jakarta - Pusat Polling (Puspoll) Indonesia merilis hasil survei tentang “Pandemi, Mudik, dan Distribusi Ekonomi”, Jumat, (7/5/2021).

 

Jumat, 07 Mei 2021 18:34 WIB

Survei Puspoll: 49 % Masyarakat Tak Setuju Kebijakan Larangan Mudik Lebaran


Kajanglako.com, Jakarta - Pusat Polling (Puspoll) Indonesia merilis hasil survei tentang “Pandemi, Mudik, dan Distribusi Ekonomi”, Jumat, (7/5/2021).

 

Jumat, 07 Mei 2021 16:52 WIB

Pemkab Muaro Jambi Kembali Raih WTP, Ini Kata Ketua DPRD Yuli Setia Bhakti


Kajanglako.com, Muaro Jambi – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muaro Jambi, berhasil meraih kembali predikat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) oleh

 

Rabu, 05 Mei 2021 18:41 WIB

Dua Pejabat Dinkes Reaktif Rapid Antigen, Wabup: Siapa Saja Bisa Terpapar


Kajanglako.com, Sarolangun - Kasus Covid-19 di Kabupaten Sarolangun telah berjumlah 220 orang yang dinyatakan positif. Virus Corona hingga kini masih mengintai