Sabtu, 16 Januari 2021


Selasa, 01 Desember 2020 13:51 WIB

Pemikir dan Pejuang Agraria Itu Telah Pergi

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Hidup meskipun kadang sudah kita rencanakan terbukti sering penuh dengan hal-hal yang tak terduga. SMS saya yang terakhir dengan Pak Wiradi tentang resensi bukunya oleh Pak Edi Swasono yang dimuat di kompas.id. "Sayangnya hanya dimuat di kompas.id jadi tidak tersebar luas", katanya. Ada nada kecewa di sana. Buku biografinya yang ditulis oleh Surya Saluang (2019) yang terbit ketika usianya menginjak angka 87 saya kira memang bagian penting dari hidupnya. Wajar beliau ingin buku itu diketahui banyak orang. Buku itu, selain buku-buku atau artikel-artikel yang ditulisnya sendiri, merupakan warisan terindah dari seorang yang hampir sebagian besar masa hidupnya diabdikan untuk memikirkan dan memperjuangkan reforma agraria, sebuah rekayasa sosial, yang menurut keyakinannya bisa mensejahterakan mayoritas penduduk Indonesia. Kekecewaan yang praktis terus dirasakannya sejak 1965 akan semakin menjauhnya rekayasa sosial yang berlangsung dari cita-cita reforma agraria membuatnya tidak bisa menutupi rasa getir melihat situasi bangsanya. Beliau pergi dengan membawa rasa getir yang mendalam itu.



Meskipun jarang bertemu, kecuali di masa-masa akhir hidup beliau, Pak Wiradi selalu ingat kapan kami pertama kali bertemu. Ingatannya memang kuat dan masih sangat jernih di usianya sudah sepuh itu. Mungkin peristiwa itu sekitar tahun 1982 atau 1983 ketika saya menempuh pendidikan master di Australian National University, Canberra Australia; dan beliau menjadi peneliti tamu di Departemen Human Geografi yang saat itu dipimpin oleh Profesor Harold Brookfield. Profesor Harold Brookfield juga yang mengundang beliau untuk menyampaikan hasil penelitiannya tentang perubahan agraria di Jawa. Perawakannya yang kecil membedakannya dengan peserta workshop yang lain yang mayoritas bule, juga dengan peserta pelatihan dari Indonesia lainnya, Profesor AT Birowo, yang bertubuh tinggi besar.  Pak Wiradi terlihat seperti kancil yang cerdik di tengah koleganya yang rata-rata bertubuh besar.

Ketika kemudian agak sering bertemu dalam acara-acara diskusi dan seminar, dan membaca buku biografinya, diam-diam ada rasa heran sekaligus kagum, karena di tengah  kekecewaan dan rasa getir yang menumpuk tidak hilang komitmen dan antusiasmenya yang besar untuk terus bergaul dengan anak-anak muda yang menghargai, menghormati dan tidak sedikit yang mengidolakannya. Mungkin anak-muda yang selalu berada di sekitarnya itu yang membuat dia tetap memiliki optimisme di samping rasa getir yang tidak bisa disembunyikannya setiap kali harus berbicara di seminar atau diskusi-diskusi kecil. Melihat perkembagan rekayasa sosial yang telah berjalan selama setengah abad terakhir (1970-2020) saya bisa memahami kekecewaan dan rasa getirnya melihat reformasi agraria semakin jauh dari harapannya. Sebagai seorang akademisi, ketika berbicara tentang reforma agraria (agrarian reform) dia akan selalu bertolak dari definisi dan konsep yang dipahaminya secara mendalam tentang topik yang terus digelutinya itu. Jika sudah mulai ngomong dari soal definisi dan konsep reforma agraria sebagaimana yang dia pahami itu, ibarat memegang sebuah kunci, terbukalah kotak pandora di hadapannya dengan segala isinya yang amburadul itu.

Kepergian Pak Wiradi jelas sebuah kehilangan besar bagi dunia pemikiran dan perjuangan reformasi agraria. Rasa kehilangan akan sangat dirasakan oleh anak-anak muda yang telah tertulari idealisme-nya akan terciptanya sebuah masyarakat, terutama kaum taninya, yang bisa hidup layak dan sejahtera. Tapi saya kira kita yang ditinggalkannya, apalagi yang tergolong sebagai generasi milenial, sesungguhnya telah hidup dalam sebuah dunia yang lain, sebuah dunia yang bagi orang seperti Pak Gunawan Wiradi memang bukan menjadi tempatnya yang cocok lagi. Sebuah dunia yang merupakan hasil dari perkembangan setengah abad rekayasa sosial yang harus jujur diakui berkembang dan berubah tanpa bisa dia kendalikan, betapapun kuat sekalipun daya resistensi yang dimilikinya. Sebagai ilmuwan sosial yang dibesarkan dalam tradisi berpikir struktural Pak Wiradi mungkin juga tidak membayangkan dan di luar fokus perhatiannya ketika isu kelas tergeser oleh isu identitas kultural, seperti agama dan etnisitas. 

Social change, social transformation selama lima puluh terakhir yang ujung-ujungnya sedang kita alami hari-hari ini; adalah sebuah dunia yang lain, meskipun dengan keprihatinan yang sama. Sebuah dunia yang secara struktural semakin timpang namun dengan harapan yang semakin tipis kita bisa mengubahnya. Apa yang terjadi di negeri ini hari ini, ketika globalisasi ekonomi dan teknologi informasi, telah menjadi the order of the day, sebenarnya tidaklah unik. Mungkin di sana kita mendengar sebuah gaung yang lama pernah terdengar ketika solidaritas yang bersifat global dicetuskan di kota Bandung tahun 1955, ketika sebuah konferensi diselenggarakan atas nama keprihatinan bersama, Konferensi Asia-Afrika. Tahun 1955 Pak Gunawan Wiradi telah menjadi aktifis mahasiswa yang ikut terbakar semangatnya oleh pidato presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Globalisasi karena itu juga bukan barang baru. Pak Gunawan Wiradi sejak mahasiswa telah menjadi bagian dari sebuah kosmopolit dan sudah terbiasa dengan gerakan solidaritas global.

Sosok yang kita hormati karena integritas pribadinya sebagai seorang pemikir dan pejuang reforma agraria itu pergi setelah menyelesaikan warisan terindahnya, buku biografi sekaligus memoarnya. Terutama bagi mereka yang tidak mengenalnya dari dekat buku biografinya menjadi sebuah teks yang dapat menjadi sumber referensi tentang seseorang yang tidak pernah berhenti bergerak dalam memikirkan dan memperjuangkan sebuah cita-cita yang jika dilaksanakan secara konsekuen akan membebaskan jutaan penduduk yang menggantungkan nasib dan hidupnya pada tanah, pada agraria. Betapapun muskil tampaknya harapan untuk benar-benar dapat mencapai cita-cita itu, buku biografi dan buku-buku serta tulisan-tulisan lain yang telah dibuatnya menjadi sumur pengetahuan yang tak akan habis airnya untuk kita timba. Teks -teks itu seperti telah sengaja dia siapkan untuk generasi muda yang baginya adalah pemilik masa depan. Di balik rasa getir yang tak bisa disembunyikannya itu, jika ada yang berhasil disembunyikannya barangkali adalah rasa puasnya melihat tidak sedikit anak muda telah secara diam-diam berhasil dia tulari sebuah sikap untuk terus memihak pada mereka yang terpinggirkan.

 

*Omah Saras, Malang, 1 Desember 2020. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik Akademia portal kajanglako.com


Tag : #Akademia #Gunawan Wiradi #Reforma Agraria



Berita Terbaru

 

Pandemi Corona
Sabtu, 16 Januari 2021 10:48 WIB

Pemkab Sarolangun Anggarkan Rp 5 Miliar ABPD untuk Penanggulangan Covid-19 Tahun 2021


Kajanglako.com, Sarolangun – Tahun 2021, Pemerintah Kabupaten Sarolangun tampaknya masih serius menaggulangi penularan wabah virus corona atau Covid-19.

 

Banjir
Sabtu, 16 Januari 2021 10:42 WIB

Air Sungai Meluap, 74 Desa di Sarolangun Terendam Banjir


Kajanglako.com, Sarolangun – Dikelilingi aliran air sungai Limun, Sungai Batang Asai serta Sungai Muara Tembesi, Kabupaten Sarolangun menjadi salah

 

Jumat, 15 Januari 2021 09:57 WIB

Masnah Busro Resmikan Pasar Rakyat Sengeti


Kajanglako.com, Muaro Jambi - Bupati Muaro Jambi Masnah Busro Secara resmi membuka pasar rakyat Sengeti yang baru selesai di bangun oleh pemerintah kabupaten

 

Sosok dan Pemikiran
Jumat, 15 Januari 2021 08:42 WIB

Menengok Masa lalu, Menatap Masa Depan: Hariman Siregar dan Malari


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Adakah, atau masih mungkinkah, sebuah perubahan besar untuk membentuk sesuatu yang baru bisa terjadi di masa depan? Goenawan

 

PETI
Kamis, 14 Januari 2021 20:04 WIB

Diduga Melakukan PETI, Polres Merangin Amankan Alat Berat dan Tiga Warga Bungo


Kajanglako.com, Merangin - Polres Merangin amankan Eskavator dan tiga warga Bungo karena diduga melakukan kegiatan Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) diwilayah