Minggu, 07 Maret 2021


Selasa, 01 Desember 2020 13:15 WIB

Siamang Putih di Rimba Rawas

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Islam adalah agama resmi orang Melayu. Akan tetapi, orang yang ingin memahami jalan pikiran dan perasaannya tidak hanya dapat berhenti di situ saja karena agama itu tidak muncul dari pemikirannya sendiri dan tidak mencerminkan lingkungan alam tempatnya tinggal. Agama Islam datang dari luar dan dapat dibayangkan seperti ambal yang dibentangkan di atas kepercayaan pada kekuatan alam, roh nenek-moyang, ketakutan pada mahluk halus yang ada di rimba dan air.



Kearifannya mengenai alam, itulah kepercayaannya. Kepercayaan pada alam dan kekuatannya secara universal dimiliki oleh semua masyarakat. Bagi masyarakat Melayu, kepercayaan itu hidup berdampingan dengan  agama Islam.

Sejumlah mahluk halus hidup di bumi, di bawah tanah, di dalam gunung berapi, hutan dan di bawah permukaan air. Sebagian besar mahluk halus itu tidak selalu ramah terhadap manusia. Karena itu, mereka harus disuguhi sesajian berupa (asap) kemenyan, misalnya, untuk menyenangkan hati mereka. Orang juga menggunakan jimat berisi akar atau rempah-rempah yang tidak disukai mahluk halus supaya mereka menjauh dari manusia yang mengenakan jimat itu.

Kearifan atau pengetahuan mengenai mahluk halus, apa yang disukai atau tidak disukainya serta cara-cara untuk menghindari atau mengatasi penyakit, kesialan atau malapetaka yang ditimbulkan oleh mahluk halus tadi biasanya hanya dimiliki oleh segelintir orang saja di dalam suatu masyarakat.  Pada masyarakat Melayu, orang yang dianggap memiliki kearifan mengenai mahluk halus dan cara-cara untuk menghadapinya adalah para dukun dan ‘oerang batoewah’.

Bila orang Kristen percaya bahwa sepotong kecil kayu dari kayu salib Yesus (atau kayu dari pohon sejenis) atau barang yang berbentuk salib atau isyarat tangan yang digerakkan di udara membentuk salib dapat melindunginya dari serangan mahluk halus atau mara bahaya, maka orang Melayu percaya bahwa ayat-ayat al-Quran yang dituliskan di secarik kertas dan di simpan di dalam jimat dapat meindungi dirinya.

Dari agama Islam, orang Melayu percaya adanya malaikat, yang juga dikenal oleh orang Barat melalui agama Kristen. Dua orang malaikat selalu mengikuti manusia untuk mencatat prilakunya, baik dan buruk; seorang malaikat menjaga pintu surga  dan seorang lagi menjaga pintu neraka. Semua malaikat itu suci, kecuali dua orang yang dikucilkan Tuhan untuk digantungkan dari ujung jari kakinya di sumber air Sungai Nil sampai hari Kiamat. Dari dua malaikat inilah munculnya ilmu sihir, ilmu rahasia untuk memikat perempuan.

Pandangan mengenai apa yang terjadi setelah kematian merupakan tanda tanya besar. Yang jelas adalah bahwa arwah orang yang sudah meninggal dunia mempunyai kekuatan besar dalam mempengaruhi manusia yang masih hidup. Kuburan, tempat mereka beristirahat selamanya, dirawat dengan baik dan bahkan biasa didatangi untuk meminta bantuan dalam keadaan darurat.

Kepercayaan bahwa  berbagai gejala alam memiliki roh merupakan bagian dari kehidupan dan kepercayaan orang Melayu. Sebagai contoh, ada kepercayaan bahwa di bulan tumbuh sebatang pohon beringin raksasa.  Arwah yang sudah meninggal dunia berlindungan di bawah bebayang daunannya sampai waktunya Allah memperhatikan  mereka.  Yang juga umum dipercayai adalah adanya perpindahan arwah dari tubuh orang yang meninggal ke tubuh binatang. Biasanya arwah orang yang di masa hidupnya berstatus tinggi,  pindah menempati tubuh binatang yang dianggap kuat (seperti harimau) setelah ia meninggal dunia. Kepercayaan seperti ini banyak ditemui di antara orang Minangkabu, Redjang, Lebong dan Rawas.

Di antara tiga atau tujuh hari setelah penguburan, bila tumpukan tanah di kuburan itu berlubang, maka itulah pertanda bahwa arwah almarhum(ah) telah berpindah tubuh seekor binatang. Lubang di bagian kepala kuburan menunjukkan bahwa arwah itu telah pindah ke tubuh seekor harimau; lubang di bagian tubuh (di tengah-tengah gundukan tanah) menunjukkan arwah pindah ke tubuh babi hutan atau siamang putih; dan ular  atau simpai bila lubang itu muncul di bagian kaki kuburan. Perpindahan arwah dari tubuh binatang yang satu ke tubuh binatang yang lain dapat terjadi sampai tujuh kali. Demikianlah dicatat oleh van Hasselt dari cerita-cerita yang didapatnya dari masyarakat tempat penjelajahannya.

Di tepian kiri Sungai Rawas, ada dusun Djangkat. Sesekali, penduduk dusun itu melihat sekelebatan muncul siamang putih di antara pepohonan di rimba di seberang dusun mereka. Menurut mereka, siamang itu berkekuatan gaib. Siamang putih merupakan penjelmaan mahluk halus yang bersifat jahat dan acapkali mengganggu anak-anak. Bila siamang itu memperlihatkan diri, ia berteriak-teriak marah. Tak lama kemudian, seorang anak dusun itu akan jatuh sakit lalu meninggal dunia.

Entah apa yang dilakukan oleh penduduk Djangkat untuk menghalau siamang putih itu agar anak-anak mereka terhindar dari penyakit. Sayang sekali, hal itu tak diceritakan oleh van Hasselt.

 

*Pustaka Acuan: Van Hasselt. ‘Volksbeschrijving en Taal,’ dalam Midden-Sumatra: Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, 1877-1879 (Prof PJ Veth, ed). Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #telusur #djangkat #sejarah jambi #naskah klasik belanda



Berita Terbaru

 

Rabu, 03 Maret 2021 08:25 WIB

Diduga Disunat, Dewan Pertanyakan Setoran Retribusi Terminal Muarabulian


Kajanglako.com, Batanghari - Uang setoran retribusi Terminal Muarabulian diduga disunat. Hal ini diungkapkan Anggota DPRD Kabupaten Batanghari. Menurut

 

Selasa, 02 Maret 2021 21:31 WIB

Bahas Honorer Nonkategori, DPRD Merangin Panggil Diknas dan BKD


Kajanglako.com, Merangin - Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Merangin hearing dengan Dinas Pendidikan Kebudayaan dan BKPSDM Merangin,

 

Perspektif
Rabu, 24 Februari 2021 20:17 WIB

Jokowi dan Anies Baswedan


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Mungkin ada banyak perbedaan antara keduanya. Gaya bicaranya, blusukannya, taktik melobinya, politik identitasnya dan

 

Perspektif
Senin, 22 Februari 2021 17:18 WIB

Ada Yang Membusuk dalam Darah di Tubuh Kita


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Mungkin di tubuh saya dan sebagian dari kita sudah ada virus covid-19, tetapi tidak ada gejala yang tampak dari luar. Kita

 

Sejarah Jambi
Senin, 22 Februari 2021 16:29 WIB

Walter M Gibson


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Dalam rangka menyiapkan tulisan untuk rubrik ‘Telusur Jambi,’ saya teringat pada satu tas