Sabtu, 16 Januari 2021


Senin, 23 November 2020 17:11 WIB

'Djambi' di Harian Haarlemsch Dagblad

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antroplog. Mukim di Belanda)

Kadang-kadang, untuk menghilangkan kebosanan membaca buku-buku tua berbahasa Belanda, untuk mengganti suasana dan melapangkan pikiran, saya menjelajah sendiri. Bukan ke luar rumah atau ke tempat-tempat eksotis. Di zaman maraknya Corona, hal itu tak saya lakukan. Saya menjelajah di internet, mencari tulisan atau foto mengenai Jambi, Palembang, Lampung atau Bengkulu. Tulisan mengenai Riau dan Sumatra Timur juga cenderung langsung menarik perhatian saya.



Biasanya dalam penjelajahan online itu, saya mengetikkan beberapa kata kunci standar, misalnya Djambi, 1800, Korintji dan sebagainya. Minggu lalu, hal itu saya lakukan. Ternyata, yang muncul di layar komputer adalah 10 tautan ke harian Haarlemsche Dagblad. Ternyata, di antara tahun 1887-1900, harian itu memuat berita mengenai ‘Djambi’.

Ada tiga hal yang membuat saya heran, senang dan penasaran oleh penemuan itu. Yang pertama adalah bahwa ada berita mengenai Jambi di akhir abad ke-19 di sebuah koran lokal! Haarlem adalah kota yang terletak di selatan Amsterdam. Dulunya memang kota Haarlem adalah kota dagang. Akan tetapi kota ini jarang disebut-sebut dalam kaitan dengan Hindia-Belanda (walau kemungkinan besar, banyak pedagang kaya kota itu yang memberikan modal untuk orang Belanda yang hendak berlayar mencari rempah-rempah ke nusantara). Inilah yang mengherankan saya: ada berita mengenai Hindia-Belanda di harian kota itu, dan tentang Jambi pula!

Hal kedua yang membuat saya senang adalah bahwa tautan itu muncul dalam penjelajahan online. Selama kira-kira sepuluh tahunan berkutat dan mengolah dokumentasi berbahasa Belanda mengenai Sumatra bagian selatan dan tengah, bila saya berselancar di internet, tautan yang muncul mengacu ke tulisan atau laporan perjalanan yang sudah diterbitkan sebagai buku. Tentunya, pastilah banyak artikel yang ditulis di koran mengenai Hindia. Namun, selama ini, tulisan-tulisan di koran jarang sekali dapat dibaca karena semua itu tersimpan di dalam arsip masing-masing koran. Untuk membacanya, saya harus datang sendiri, mencari penerbitan dan menelusuri semuanya untuk menemukan kata-kata: Djambi. Ternyata, sekarang—setidak-tidaknya harian Haarlemsch Dagblad—sudah mendigitalisasi arsipnya. Ini berarti bahwa sumber dokumentasi untuk peneliti mengenai nusantara bertambah lagi.

Ini adalah poin ketiga yang membuat hati saya berbunga-bunga dan penasaran. Bila Haarlemsch Dagblad  sudah mendigitalisasi arsipnya, apakah harian-harian lokal lainnya di negeri Belanda juga sudah mendigitalisasi arsipnya? Apakah hal ini juga sudah dilakukan oleh harian-harian di Den Haag (yang sejak dulu merupakan pusat pemerintahan Belanda),  Amsterdam (yang sejak dulu merupakan pusat perdagangan dan pemberangkatan kapal-kapal ke nusantara), atau Leiden (yang sejak dulu merupakan pusat studi mengenai nusantara)? Bila jawabannya ya, alangkah banyaknya sumber data baru yang dapat digali untuk keperluan penelitian kesejarahan nusantara!

Kembali ke Haarlemsch Dagblad dan cerita mengenai Jambi. Barangkali tulisan ini dapat sedikit menggambarkan kegiatan seseorang (misalnya, saya) yang melakukan suatu penelitian kepustakaan. Berita yang umumnya pendek itu akan dituliskan untuk rubrik ‘Telusur Jambi’.

7 April 1877. Rubrik: Dalam Negeri. Berita mengenai Bagan Api-api. Hasil tangkapan ikan dimuat di atas kapal ‘Djambi.’ (sama sekali tak ada kaitan relevan dengan daerah atau masyarakat Jambi).

25 Juli 1888. Rubrik: Dalam Negeri. Dua kapal perang Hindia-Belanda, Onrust dan Oenarang, yang tadinya berjaga-jaga di dekat Jambi, berangkat menuju Batavia. Djambi sudah kembali tenang setelah Sultan menandatangani kontrak kerjasama dengan Belanda. Sultan pun sudah kembali ke ibukota Djambi.

3 Oktober 1893. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan--catatan seorang ahli pengobatan. Untuk menghentikan pendarahan pada luka, dapat digunakan ‘henquin.djambi’. (Catatan: Istilah Djambi di sini mengacu pada ‘peng(h)awar jambi’, yaitu bulu-bulu yang ada pada di batang tanaman paku kidang atau paku simpai. Pakis ini banyak tumbuh di Sumatra, terutama di pegunungan. Dalam pengobatan tradisional, bulu-bulu pakis itu digunakan sebagai alternatif pengganti kapas untuk menutup luka untuk menghentikan pendarahan. Tulisan ini tak ada kaitan dengan daerah atau masyarakat Jambi).

19 Januari 1899. Rubrik: Koloni. Berita dari Bataviaasche Nieuwsblad. Sultan Djambi akan mengundurkan diri dan digantikan oleh seorang kerabat dekatnya yang akan membantu pemerintah Hindia-Belanda.

18 Juli 1899. Rubrik: Koloni. Lima ratus orang Djambi berkeliling mencuri/merampok. Kapal patroli artileri Edi berangkat dari Palembang menuju Djambi.

26 Juli 1899. Rubrik: Telegram. Seorang koresponden melaporkan bahwa Residen (Palembang) telah kembali dari Djambi. Ia menyimpulkan bahwa desas-desus mengenai adanya pemberontakan, tidak berdasar.

17 Agustus 1899. Rubrik: Koloni. Koresponden mengutip Java Bode: Dugaan bahwa pemberangkatan kapal patrol artileri Edi ke Palembang dan Djambi bukanlah untuk mengukur kedalaman Sungai Jambi, ternyata benar. Hubungan di antara Residen Palembang dan Sultan Jambi sedemikian rupa sehingga Residen merasa memerlukan kapal itu untuk unjuk kekuatan. Tahun lalu, Juni 1898, Sultan Djambi melanggar kesepakatan ketika ia tidak datang ke Djambi ketika residen dengan komandan daerah militer pada waktu itu, Kolonel Van der Wijck, datang berkunjung. Sultan tinggal di Moeara Ketaloe yang pada waktu musim kemarau hanya dapat dicapai dengan perahu kecil.  Konon, ketika itu, Sultan sudah berangkat ke Djambi akan tetapi karena ‘sakit peroet,’  ia tidak dapat meneruskan perjalanan. Dipanggilnya Residen Palembang ke Buitenzorg diduga berkaitan dengan peristiwa ini.

Bulan Juni yang lalu, Residen pergi lagi ke Djambi dengan kapal uap pemerintah. Sekembalinya ke Palembang, ia segera meminta agar kapal perang Edi diberangkatkan ke Palembang untuk meneliti kedalaman Sungai Palembang. Kapal itu juga akan mengantarkan Residen dalam kunjungan berikutnya ke Djambi. Tidak diragukan lagi bahwa kedatangan Residen dengan kapal itu akan membuat Sultan terkesan oleh wewenang dan kekuasaannya.

Dari Palembang diterima kabar bahwa 500 orang Djambi berkeliling membawa senjata. Java Bode menambahkan bahwa hal ini membuktikan bahwa lagi-lagi situasi di Djambi  mengkhawatirkan. Kesultanan ini sudah berkali-kali  merepotkan pemerintah. Pada tahun 1858, pemerintah mengirimkan ekspedisi militer yang mendapat pertentangan kuat. Ekspedisi ini sukses dan seorang agen polisi, yang bertanggung jawab kepada Residen Palembang, ditempatkan di sana. Pada tahun 1875, jabatan ini dipegang oleh Kontrolir. Ini menunjukkan situasi yang aman. Namun demikian, beberapa tahun kemudian, ketika pemerintah disibukkan dengan Atjeh, terjadi beberapa kali keresahan di Djambi.

Setelah 1888, pemerintah melaporkan hubungan baik dengan Sultan Ahmad Dzainoedin. Namun, sementara itu, di bulan April 1895, seorang lelaki Djambi memasuki halaman komandan pos di Djambi dan menyerangnya sehingga ia terluka parah. Ini menandakan bahwa situasi kembali menjadi tidak aman.

Di Djambi ditempatkan pasukan infanteri di bawah komando Kapten GK Jochems. Bila kapal perang Edi sudah tiba, maka pasukan itu akan diperkuat dengan satu divisi pasukan pendaratan Marinir.

3 Oktober 1899. Rubrik: Koloni. Ada desas-desus bahwa Djambi terancam oleh ratusan penduduk bersenjata dan akhir-akhir ini banyak garam yang dikirimkan ke pedalaman.  Kemungkinan besar, garam yang dimaksud adalah garam selundupan. Sejak ditandatangani kontrak pada tahun 1833 dan 1834 dengan Djambi, monopoli garam berada di tangan Belanda. Penyelundupan garam ke pedalaman dapat diartikan sebagai bukti sikap permusuhan, apalagi ditambah dengan desas-desus mengenai aksi-aksi yang terkesan bermusuhan.

Sejak bulan Juli sudah terdengar kabar-kabar mengkhawatirkan. Pada tanggal 16 Agustus, kami sudah memberitakan bahwa Taha, yang berpretensi (sebagai sultan) masih bertempat tinggal di pedalaman dan Sultan yang memerintah, sangat lemah dan tidak berkuasa.

2 Mei 1900. Rubrik: Dalam Negeri. Koresponden di Batavia menyampaikan adanya kemungkinan bahwa sebuah ekspedisi (militer) akan diberangkatkan ke Djambi. Kolonel Begeer sudah di sana.

8 Mei 1900. Rubrik: Dalam Negeri. Koresponden di Batavia melaporkan: Residen Palembang menyampaikan bahwa penduduk Djambi meminta agar Valette, yang kini bekerja sebagai Sekretaris Pemerintahan Setempat di Batavia, diangkat kembali sebagai agen polisi di Djambi. Bila permohonan ini dikabulkan, pemberangkatan suatu ekspedisi (militer) tidak diperlukan. Pemerintah menawarkan kepadanya jabatan sebagai Asisten-Residen. Pemerintah akan segera mengambil keputusan mengenai hal ini.


Tag : #Telusur #Sejarah Jambi #Haarlemsch Dagblad



Berita Terbaru

 

Pandemi Corona
Sabtu, 16 Januari 2021 10:48 WIB

Pemkab Sarolangun Anggarkan Rp 5 Miliar ABPD untuk Penanggulangan Covid-19 Tahun 2021


Kajanglako.com, Sarolangun – Tahun 2021, Pemerintah Kabupaten Sarolangun tampaknya masih serius menaggulangi penularan wabah virus corona atau Covid-19.

 

Banjir
Sabtu, 16 Januari 2021 10:42 WIB

Air Sungai Meluap, 74 Desa di Sarolangun Terendam Banjir


Kajanglako.com, Sarolangun – Dikelilingi aliran air sungai Limun, Sungai Batang Asai serta Sungai Muara Tembesi, Kabupaten Sarolangun menjadi salah

 

Jumat, 15 Januari 2021 09:57 WIB

Masnah Busro Resmikan Pasar Rakyat Sengeti


Kajanglako.com, Muaro Jambi - Bupati Muaro Jambi Masnah Busro Secara resmi membuka pasar rakyat Sengeti yang baru selesai di bangun oleh pemerintah kabupaten

 

Sosok dan Pemikiran
Jumat, 15 Januari 2021 08:42 WIB

Menengok Masa lalu, Menatap Masa Depan: Hariman Siregar dan Malari


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Adakah, atau masih mungkinkah, sebuah perubahan besar untuk membentuk sesuatu yang baru bisa terjadi di masa depan? Goenawan

 

PETI
Kamis, 14 Januari 2021 20:04 WIB

Diduga Melakukan PETI, Polres Merangin Amankan Alat Berat dan Tiga Warga Bungo


Kajanglako.com, Merangin - Polres Merangin amankan Eskavator dan tiga warga Bungo karena diduga melakukan kegiatan Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) diwilayah