Sabtu, 16 Januari 2021


Senin, 26 Oktober 2020 06:35 WIB

Kain dari Kulit Kayu

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Di daerah Rawas, gadis-gadis dan perempuan muda mengenai sarung atau kain panjang seperti yang biasa dikenakan perempuan di Jawa. Biasanya warna putih, hitam atau berwarna dan kain itu dililitkan di tubuh serta diikat di atas dada. Di atasnya, dikenakan kain yang lebih pendek, serupa dengan ‘kamben’ yang juga dipasang menutupi dada. Pinggang mereka dililit pula dengan seikat kain lain.



Untuk pakaian sehari-hari di waktu bekerja, perempuan Lebong mengenakan kain yang terbuat dari kulit kayu. Kulit kayu itu diolah sedemikian rupa sehingga menjadi lentur. Semakin lama digunakan, kain kulit kayu itu menjadi semakin lentur dan lembut.  Perempuan Koeboe juga mengenakan kain dari kulit kayu yang dililitkan di pinggang, lalu di belakang tubuh, diselipkan di antara kaki dan ujungnya diselipkan di pinggang. Di Lebong, bahan dari kulit kayu itu digunakan untuk membuat badjoe, kain panjang atau penutup kepala.

Juga di XII Koto dikenal kain dari kulit kayu untuk pakaian. Banyak pepohonan di Sumatra yang kulit luarnya dapat diolah menjadi pakaian. Namun, yang paling banyak digunakan untuk keperluan itu adalah kulit kayu dari pohon ‘boenoet, ‘taroq’ dan ‘ipoew’. Setelah lama dipukul-pukul, kulit kayu itu menjadi lentur, kemudian dijemur di matahari. Untuk koleksi etnografinya, Tim Ekspedisi Sumatra Tengah berhasil mendapatkan bahan kain dari kulit kayu pohon taroq yang dulunya digunakan sebagai tempat tidur gantung untuk membawa orang sakit dan selembar kain dari kulit kayu pohon ipoew dari seorang Melayu di XII Koto yang menggunakan sebagai selimut dan sebagai pembungkus untuk mengangkut beras.

Kain berbahan kulit kayu itulah yang biasa digunakan perempuan Melayu pada waktu bekerja sehari-hari. Walau sangat sederhana, perempuan-perempuan itu melilitkan kainnya dengan elok sehingga tubuh mereka tampil anggun—walau mereka tak pernah mengenakan alas kaki.

Perhiasan yang dikenakan perempuan Sumatra Tengah beraneka macam. Di Rawas dan Lebong, sebuah sisir hias yang dibuat dari tanduk kerbau biasanya diselipkan di rambut. Sisir itu digunakan juga untuk menyelipkan bebungaan atau dedaunan berbau wangi di rambut mereka. Bunga yang sering digunakan di rambut adalah ‘boengo djeradji’, dedaunan wangi ‘si niloe nali’ dan ‘serai lauoet (sereh laut). Kedua dedaunan terakhir itu juga digunakan oleh perempuan-perempuan di daerah Dataran Tinggi Padang sebagai penghias yang biasanya diselipkan di lipit-lipit penutup kepala.

Penutup kepala di Lebong dan Rawas tidak hanya digunakan sebagai penutup kepala, tetapi juga untuk perhiasan kepala. Benda itu disebut ‘seloepat’, semacam topi berbulu. Bulu-bulu itu merupakan lembaran-lembaran ramping terbuat dari kulit dalam aur duri (semacam bambu) yang berwarna putih dan mirip kertas. Bulu-bulu itu—yang berukuran lebar 1 sentimeter dan panjang 2 desimeter--diikatkan pada sepotong bambu. Cincin bambu berhias bulu inilah yang diletakkan di atas kepala gadis-gadis muda untuk menghiasi kepalanya.

Biasanya adat dengan ketat mengatur penggunaan perhiasan. Di Lebong dan Rawas, dengan melihat perhiasan yang dikenakannya, dari jauh seseorang sudah dapat melihat apakah seorang perempuan belum menikah dan belum bertunangan, sudah bertunangan atau sudah menikah. Adat menentukan bahwa perempuan yang belum menikah dan belum bertunangan hanya boleh mengenakan gelang di satu lengan saja; perempuan yang sudah bertunangan boleh bergelang di kedua lengannya, sementara perempuan yang sudah menikah tidak diperbolehkan mengenakan gelang atau pun perhiasan lengkap. Orang yang tidak mengindahkan aturan-aturan ini dikenakan sanksi denda.

Walaupun demikian, tentunya tidak tidak mudah bagi gadis-gadis muda untuk menjauhi perhiasan-perhiasan tubuh. Tak jarang tampak gadis-gadis dengan gelang-gelang di kedua lengannya, walau mereka sama sekali belum bertunangan. Acapkali tampak juga orang yang mengenakan sekitar 20 gelang perak di setiap lengan. Tebalnya gelang-gelang itu sekitar 3-4 milimeter. Ukuran lebarnya bermacam-macam. Gelang-gelang berdiameter paling kecil dipasang di dekat pergelangan tangan. Gelang-gelang berdiameter lebih besar dikenakan di lengan di dekat siku.  Mengenakan perhiasan lengan sebanyak itu tidak selalu nyaman, tampaknya. Terkadang, ada juga yang mengenakan cincin perak yang lebarnya berkisar di antara 1.5 – 2 sentimeter. Cincin hanya dikenakan pada saat-saat istimewa saja.

Tentu saja untuk bepergian ke pasar dan berkunjung ke rumah orang, kaum perempuan lebih memperhatikan dandanannya. Kaum perempuan dari XIII dan IX Koto hanya berdandan untuk ke pesta saja. Untuk bepergian, mereka mengenai badjoe katun berwarna biru tua. Kaum perempuan di daerah Painan, Lima Koto menyukai badjoe berwarna-warni dan di Rawas, baju warna-warni biasanya dikenakan oleh kaum perempuan muda. Perempuan Agam dan Batipoe mengenai baju yang lebih pendek dengan lengan lebar sampai ke siku. Di kiri-kanan baju itu dipasangkan kain segi tiga yang ditenun berbenang emas. Segitiga itu tenun emas itu, yang disebut ‘tanti badjoe’, biasanya sampai ke kerung lengan. Hiasan beju seperti itu banyak tampak di pakaian-pakaian pesta kaum perempuan di bagian selatan Dataran Tinggi Padang. Hiasan baju yang lain adalah potongan kain katun merah berbentuk belah ketupat yang dipasangkan di bawah lengan.  Di Soengei Pagoe juga tampak hiasan baju seperti ini.

Di bawah baju, kaum perempuan itu mengenakan kain, seperti yang biasa digunakan sehari-hari, namun untuk ke pasar, kainnya lebih bagus. Di Dataran Tinggi Padang, di bagian bawah kain, terkadang dijahitkan kain katun bermotif bunga selebar kira-kira 20 sentimeter atau kain tenun berbenang emas. Perempuan-perempuan dari L-Koto mengenakan dua atau tiga kain seperti ini, bertumpuk-tumpuk.

* Pustaka Acuan: Van Hasselt. ‘Volksbeschrijving en Taal,’ dalam Midden-Sumatra: Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, 1877-1879 (Prof PJ Veth, ed). Leiden: EJ Brill. 1882


Tag : #Telusur #naskah klasik belanda #ekspedisi sumatra tengah #sejarah jambi



Berita Terbaru

 

Pandemi Corona
Sabtu, 16 Januari 2021 10:48 WIB

Pemkab Sarolangun Anggarkan Rp 5 Miliar ABPD untuk Penanggulangan Covid-19 Tahun 2021


Kajanglako.com, Sarolangun – Tahun 2021, Pemerintah Kabupaten Sarolangun tampaknya masih serius menaggulangi penularan wabah virus corona atau Covid-19.

 

Banjir
Sabtu, 16 Januari 2021 10:42 WIB

Air Sungai Meluap, 74 Desa di Sarolangun Terendam Banjir


Kajanglako.com, Sarolangun – Dikelilingi aliran air sungai Limun, Sungai Batang Asai serta Sungai Muara Tembesi, Kabupaten Sarolangun menjadi salah

 

Jumat, 15 Januari 2021 09:57 WIB

Masnah Busro Resmikan Pasar Rakyat Sengeti


Kajanglako.com, Muaro Jambi - Bupati Muaro Jambi Masnah Busro Secara resmi membuka pasar rakyat Sengeti yang baru selesai di bangun oleh pemerintah kabupaten

 

Sosok dan Pemikiran
Jumat, 15 Januari 2021 08:42 WIB

Menengok Masa lalu, Menatap Masa Depan: Hariman Siregar dan Malari


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Adakah, atau masih mungkinkah, sebuah perubahan besar untuk membentuk sesuatu yang baru bisa terjadi di masa depan? Goenawan

 

PETI
Kamis, 14 Januari 2021 20:04 WIB

Diduga Melakukan PETI, Polres Merangin Amankan Alat Berat dan Tiga Warga Bungo


Kajanglako.com, Merangin - Polres Merangin amankan Eskavator dan tiga warga Bungo karena diduga melakukan kegiatan Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) diwilayah