Sabtu, 16 Januari 2021


Senin, 26 Oktober 2020 06:18 WIB

Ruslan: Membaca Caping Goenawan Mohamad

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Setiap kali menerima majalah Tempo baru, secara otomatis saya membuka halaman terakhir sebelum halaman sampul belakang. Di halaman terakhir itu Goenawan Mohamad (GM) menulis catatan pinggirnya. Gerak reflek tangan saya itu diperoleh dari pengalaman bertahun-tahun membaca Tempo. Ada sihir yang membuat reaksi bawah sadar menjadikan kebiasaan menikmati esai pendek GM itu sebelum membaca yang lain. Dalam sebuah obrolan dengan Arief Budiman beberapa tahun yang lalu di Kampoeng Percik Salatiga, sebelum Arief Budiman wafat, dia memuji GM sahabatnya itu "tidak mudah secara teratur menulis dan tulisannya selalu bagus".



Ketika hari-hari terasa menegangkan karena silang sengketa yang membuat suasana menjadi riuh rendah, sikap ingin tahu dalam menunggu caping itu seperti mengalami peningkatan. Begitulah, ketika ruang publik dipenuhi reaksi pro dan kontra keputusan DPR yang dianggap kontroversial itu, diam-diam saya menunggu apa yang dikatakan GM tentang suasana yang kemudian menjadi sangat riuh itu.

Caping GM yang berjudul "Ruslan" itu, (Tempo, 25 Oktober 2020) mungkin tidak lebih dari 1000 kata, tapi, membacanya, saya merasa esai itu mengungkapkan begitu banyak hal, antara lain, meskipun kata ini sama sekali tidak muncul di situ dan ini tentu merupakan tafsir saya tentang yang tidak tersurat, yaitu tentang "rakyat". "Rakyat" sebuah kata dalam bahasa Indonesia yang saya sendiri tidak tahu berasal dari mana, dari bahasa apa, mungkin Melayu atau Arab? Bagi saya sendiri kata "rakyat" penuh dengan mitos, terutama mitos tentang otoritas yang mulia. Mengapa saya menyebutnya sebagai mitos? Karena otoritas yang dimuliakan itu sesungguhnya tidak memiliki kekuasaan apa-apa. Coba simak kata "Majelis Permusyawaratan Rakyat", "Dewan Perwakilan Rakyat", atau "amanat penderitaan rakyat". Siapa yang dimaksud dengan rakyat yang terdengar seperti penuh otoritas itu? Bukankah "rakyat" sebuah kata yang sebenarnya mandul di sana. Sebuah otoritas simbolik tanpa kekuasaan nyata. Memang, seperti ada nada atau pesan akan sebuah perjuangan di sana, ada yang terasa heroik, ada mereka yang perlu diangkat derajatnya ketika mendengar, membaca atau mengucapkan kata "rakyat". Ada sesuatu yang terkesan murni bahkan suci dalam kata "rakyat" itu. Tapi tidakkah itu cuma retorik? Sesuatu yang hanya ada dalam imajinasi, sebuah fiksi, tak ada yang sungguh-sungguh nyata di sana, semacam fatamorgana. Fatamorgana yang seringkali sengaja diciptakan untuk mengelabui, untuk menutupi agenda yang tersembunyi; dengan kata lain ada ketidakjujuran.

"Rakyat" bukanlah sekedar kata yang mewakili sebuah makna tertentu karena ia juga a realm untuk meminjam kosakata dalam bahasa Inggris. Kata "rakyat" juga seperti alat  pemberi makna yang dapat melegitimasi kekuasaan agar diterima tanpa reserve. Tapi sebaliknya, kata itu juga dapat dipakai oleh mereka yang ingin mendelegitimasi kekuasaan yang dianggap korup dan otoriter. Apa yang terjadi pada hari-hari yang baru lalu dan mungkin beberapa hari ke depan itu, ketika ada dua pihak yang saling berhadapan, berselisih pendapat dan sama-sama mengklaim berbuat atas nama "rakyat", betapa muskil sebetulnya makna kata rakyat disana, dan betapa mudah tergelincir atau terpelesetnya si pengguna kata itu dalam sebuah realm yang sesungguhnya absurd. Tanpa menyinggung sedikitpun tentang "rakyat", GM dalam capingnya itu sedang berbicara tentang seseorang yang kongkrit, seseorang yang bernama Ruslan, yang mungkin juga mengeluh, tetapi tidak menyerah dalam upayanya untuk tetap hidup dan menghidupi istri dan dua anaknya di tengah berbagai kesulitan akibat menyebarnya wabah penyakit yang memaksanya meninggalkan Jakarta dan kembali ke kampungnya namun harus tetap bergerak mencari kehidupan.

Ruslan dalam esai GM itu samasekali tidak digambarkan sebagai representasi dari apa yang telah dimitoskan sebagai "rakyat" yang serba abstrak itu. Ruslan adalah seorang pria, mungkin berumur 50an tahun, yang oleh GM bisa jadi ingin ditampilkan sebagai contoh dari sebuah lapisan tertentu dalam masyarakat. Sebuah lapisan yang ditandai oleh karakteristik yang menunjuk pada sebuah kelas sosial dan ekonomi tertentu, mirip kaum borjuis kecil dalam tradisi kiri. GM terkesan agak mirip dengan Sukarno yang menemukan Marhaen dan kemudian menjadikannya sebagai identitas dari kelas tertentu dalam masyarakat. Namun, tidak seperti Sukarno yang berharap dari kelas itulah perubahan bisa digerakkan, GM tidak punya pretensi untuk menggerakkan, karena baginya Ruslan yang banyak jumlahnya itu, sudah bergerak sendiri tanpa perlu digerakkan oleh siapapun. Bagi saya ini sebuah pengamatan sosial yang menarik dari GM. Saya kutipkan paragraf terakhir dari esainya: "Di sini orang seperti Ruslan, meskipun genting hidupnya, terlalu banyak untuk bisa dibasmi. Mereka bahkan tak mudah dimasukkan ke kandang besi dunia modern dan dikelola Negara. Mereka licin - dan bekerja lebih keras ketimbang buruh pabrik yang dipromosikan serikat sekerja. Mereka, jutaan Ruslan, borjuis kecil kita, hanya senyap - dan dengan senyap mereka buat Indonesia bergerak. Karena mereka, dibela atau tak dibela, tak mudah menyerah".

Esai yang berjudul "Ruslan" itu diawali dengan sebuah paragraf yang bagi saya kritik tajam meskipun tidak terasa menohok, mungkin lebih tepat disebut sindiran, atau pasemon. Saya kutipkan: "Di dusunnya di Jawa Tengah, Ruslan tak punya waktu untuk berteriak. Ketika Jakarta bising dengan tiga patah kata yang dipertengkarkan - "Buruh", "Bisnis" - "Birokrasi" - ia sibuk menanam porang. Dengan cangkul yang tak utuh lagi, ia gali tanah di pekarangan rumahnya. Dan, di lubang sedalam 50 senti itu ia letakkan damen buat pupuk". Dalam esai ini GM tidak lagi "bertanya-tanya dengan suaranya yang lirih" seperti dikatakan Th. Sumartana pada kata pengantar untuk kumpulan caping yang pertama, namun seperti menyatakan sebuah kesaksian, sebuah testimoni tentang kehadiran sebuah "kelas" dalam masyarakat yang selama ini tak terlihat karena riuh rendahnya kebisingan peristiwa yang membuat semprong dari teplok kita tidak lagi terang karena tertutup jelaga. GM jelas bukanlah seorang ilmuwan namun kita keliru kalau menilainya sebagai anti ilmu. Jutaan Ruslan yang dia lihat menunjukkan ketajaman pengamatannya tentang struktur masyarakat yang selama ini justru luput dari pengamatan para ilmuwan sosial. Mungkin inilah sebuah lapisan masyarakat, atau sebuah generasi yang diam-diam terbentuk akibat tiga dekade politik masa mengambang dan dua dekade politik uang dan sekarang ditambah delapan bulan ini didera pandemi. Jutaan Ruslan yang tidak punya kemewahan seperti kita yang masih bisa merasa optimis atau sebaliknya telah menjadi pesimis bahkan apatis. Yang terdengar sebagai paradox di tengah suasana yang riuh rendah di gedung parlemen, di istana, di jalanan, di sosmed dan di panggung-panggung talk-show; lapisan masyarakat ini justru yang sesungguhnya telah menggerakkan Indonesia - meskipun menurut GM dilakukan dalam senyap. Mereka dengan demikian bukankah the silent majority seperti ditulis dalam banyak buku teks ilmu politik. Mungkin terlalu tinggi juga untuk mengenakan ungkapan sepi ing pamrih rame ing gawe yang lebih cocok bagi lapisan priyayi - kalau toh memang etos itu masih ada.

*Peneliti independen. Tulisan-tulisannya dapat dibaca di rubric Akademia portal kajanglako.com


Tag : #Akademia #Buruh #Bisnis #Birokrasi #rakyat



Berita Terbaru

 

Pandemi Corona
Sabtu, 16 Januari 2021 10:48 WIB

Pemkab Sarolangun Anggarkan Rp 5 Miliar ABPD untuk Penanggulangan Covid-19 Tahun 2021


Kajanglako.com, Sarolangun – Tahun 2021, Pemerintah Kabupaten Sarolangun tampaknya masih serius menaggulangi penularan wabah virus corona atau Covid-19.

 

Banjir
Sabtu, 16 Januari 2021 10:42 WIB

Air Sungai Meluap, 74 Desa di Sarolangun Terendam Banjir


Kajanglako.com, Sarolangun – Dikelilingi aliran air sungai Limun, Sungai Batang Asai serta Sungai Muara Tembesi, Kabupaten Sarolangun menjadi salah

 

Jumat, 15 Januari 2021 09:57 WIB

Masnah Busro Resmikan Pasar Rakyat Sengeti


Kajanglako.com, Muaro Jambi - Bupati Muaro Jambi Masnah Busro Secara resmi membuka pasar rakyat Sengeti yang baru selesai di bangun oleh pemerintah kabupaten

 

Sosok dan Pemikiran
Jumat, 15 Januari 2021 08:42 WIB

Menengok Masa lalu, Menatap Masa Depan: Hariman Siregar dan Malari


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Adakah, atau masih mungkinkah, sebuah perubahan besar untuk membentuk sesuatu yang baru bisa terjadi di masa depan? Goenawan

 

PETI
Kamis, 14 Januari 2021 20:04 WIB

Diduga Melakukan PETI, Polres Merangin Amankan Alat Berat dan Tiga Warga Bungo


Kajanglako.com, Merangin - Polres Merangin amankan Eskavator dan tiga warga Bungo karena diduga melakukan kegiatan Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) diwilayah