Minggu, 28 Februari 2021


Minggu, 27 September 2020 07:47 WIB

Gagah, Cantik dan Senyum yang Menawan

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Seperti apa tampilan masyarakat di Sumatra Tengah pada perempat akhir tahun 1800an? Untuk menjawab pertanyaan itu, van Hasselt dan timnya melakukan pengamatan pada suatu hari pasar di Dataran Tinggi Padang. Pada saat itu, ribuan orang datang ke pasar yang diadakan di bawah kerindangan pepohonan beringin dan kubang.



Sebagian besar orang di pasar itu berperawakan sedang. Kaum lelaki berdada bidang dengan betis-betis yang kokoh. Tak seorang pun memiliki cacat fisik dalam bentuk apa pun. Tak banyak lelaki yang tingginya melebihi 1.50 m. Kaum perempuan bertubuh lebih kecil dengan perawakan yang lebih halus. Pada umumnya, jarang tampak orang bertubuh gemuk.

Melihat kecepatan dan ketangkasan lelaki Melayu memanjat pohon kelapa untuk mengambilkan buah kelapa muda untuk minuman segar bagi Kontrolir Belanda yang kehausan (walau biasanya hal ini dilakukan oleh seekor monyet yang memang dilatih untuk melakukan itu) atau bila melihat langkah-langkah gesit dan lincah seorang kuli yang menggotong barang-barang berat di punggungnya ketika mendaki dan menuruni jalan-jalan setapak di gunung, anggota-anggota tim penjelajahan itu sepenuhnya yakin bahwa otot-otot dan paru-paru orang Melayu sangat baik. Pola hidup yang sederhana rupanya tidak menghambat perkembangan otot-otot itu.

Lelaki Melayu berjalan tegap dan berlenggang bebas. Kaum perempuan, terutama di bagian selatan Dataran Tinggi Padang, bergerak lamban. Namun, kaum perempuan Melayu seringkali tampak menarik. Di Rawas dan Lebong, banyak gadis dan perempuan muda yang terlihat manis menawan, bahkan perempuan-perempuan Koeboe di Rawas berparas sangat menawan. Jarang sekali mereka melangkah tegap. Mereka lebih sering menyeret kaki ketika berjalan. Kaum lelaki pun sering berjalan seperti ini. Sepintas lalu, di mata van Hasselt, perawakan orang Koeboe lebih kecil—kurang tegap—dibandingkan kebanyakan orang Melayu. Secara fisik, orang Koeboe lebih banyak menunjukkan kemiripan dengan orang asli Pulau Nias.

Seperti juga di daerah Rawas, perempuan-perempuan di Lima Koto berkulit lebih putih dan berperawakan tinggi langsing dengan bentuk kaki yang kecil dan payudara kecil. Tubuh mereka berbanding terbalik dengan kaum perempuan di XIII dan IX Koto yang umumnya bertubuh tegap dengan payudara besar.

Orang yang tinggal di daerah dataran tinggi berkulit lebih terang. Terkadang tampak anak-anak muda dengan pipi yang memerah. Namun demikian, banyak pula yang berkulit sawo matang gelap atau seperti cokelat. Biasanya kulit terang, kuning langsat, dianggap warna yang bagus. Juga bila kulit itu penuh dengan bercak-bercak putih yang disebut panau. Bekas luka yang ditinggalkan oleh cacar air (yang banyak menyerang penduduk, juga di daerah pedalaman) dianggap buruk. Van Hasselt tidak menemukan orang albino, walau ada yang kulitnya bebercak besar berwarna putih dengan bulu-bulu alis yang berwarna putih pula.

Ciri fisik yang paling menarik pada orang Melayu adalah mata yang bulat  dan hitam. Pada beberapa orang, letak mata agak miring di wajahnya. Tak banyak orang yang beralis tebal. Untuk membuat mata tampak lebih bersinar, banyak anak muda di Rawas dan Lebong yang menggunakan ‘tjelak’ berwarna biru. Cat mata itu merupakan semacam bedak halus yang biasanya dibawa oleh para haji dari Mekkah. Dengan batang bambu yang diruncingkan, cat itu digariskan di bawah mata. Cat mata seperti ini jarang digunakan di daerah Dataran Tinggi Padang.  Wajah orang Melayu berbentuk lonjong. Berbeda dengan ras Kaukasoid yang berdahi lebar, dahi orang Melayu tidak terlalu lebar. Di beberapa tempat, kaum perempuan mencukur rambut di dahinya sehingga tampak lebih lebar dan berbentuk persegi. Barangkali dahi seperti ini yang dianggap cantik. Tulang pipinya tampak jelas dan gerahamnya seringkali berbentuk agak persegi.

Lelaki biasanya menutupi kepalanya dengan kopiah yang terbuat dari rotan. Kopiah itu kira-kira berdiameter 14 sentimeter. Untuk dapat mengenakannya dengan baik, rambut harus dipotong agak pendek supaya kopiah itu tidak terlepas dan jatuh ketika pemakainya menggerakkan kepala sekonyong-konyong.

Betapa pun banyak-sedikitnya perbedaan di antar sesama orang Melayu dan perbedaannya dengan orang Eropa, satu hal tampaknya sama yaitu keinginan untuk tampak cantik dan menarik. Banyak hal yang dilakukan untuk menambah daya tarik dan kecantikan penampilan. Seperti diuraikan di atas, di beberapa tempat, orang menggunakan tjelak atau cat mata untuk menambah kecemerlangan mata. Pun di Sumatra tengah, gigi yang rata dianggap bagus. Akan tetapi, apa yang sebetulnya dianggap ‘bagus’ belum tentu sama. Orang yang tersenyum lebar dengan muut terbuka sehingga semua giginya terlihat tidak dianggap menarik. Seringai lebar seperti itu dikatakan ‘saroman anjing’ atau seperti anjing. Gigi-gigi putih yang besar tidak dianggap bagus. Karena itu, dengan  menahan sakit dan derita, mereka mengasah gigi sampai bentuknya menjadi kecil dan rata. Gigi itu kemudian dihiasi lagi dengan warna hitam atau emas.

*Pustaka Acuan: Van Hasselt. ‘Volksbeschrijving en Taal,’ dalam Midden-Sumatra: Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, 1877-1879 (Prof PJ Veth, ed). Leiden: EJ Brill. 1882


Tag : #Telusur #Sejarah Jambi #Ekspedisi Sumatra Tengah



Berita Terbaru

 

Perspektif
Rabu, 24 Februari 2021 20:17 WIB

Jokowi dan Anies Baswedan


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Mungkin ada banyak perbedaan antara keduanya. Gaya bicaranya, blusukannya, taktik melobinya, politik identitasnya dan

 

Perspektif
Senin, 22 Februari 2021 17:18 WIB

Ada Yang Membusuk dalam Darah di Tubuh Kita


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Mungkin di tubuh saya dan sebagian dari kita sudah ada virus covid-19, tetapi tidak ada gejala yang tampak dari luar. Kita

 

Sejarah Jambi
Senin, 22 Februari 2021 16:29 WIB

Walter M Gibson


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Dalam rangka menyiapkan tulisan untuk rubrik ‘Telusur Jambi,’ saya teringat pada satu tas

 

Hari Sampah
Minggu, 21 Februari 2021 10:20 WIB

Peringati Hari Sampah Lewat Program Sepuluh Jari Menganyam


JAMBI--Memperingati hari sampah yang jatuh setiap 21 Februari, masyarakat Jambi diajak untuk lebih peduli lingkungan. Mulai dari diri sendiri. Mulai dari

 

Sengketa Rumah Ibadah
Kamis, 18 Februari 2021 10:42 WIB

Sengketa Rumah Ibadah dan Kearifan Budaya Lokal Jambi


Oleh: Juparno Hatta* Di mata dunia internasional, Indonesia dikenal dengan nilai toleransi yang tinggi di tengah-tengah kemajemukan sebagai sebuah kesemestian.