Senin, 25 Januari 2021


Minggu, 23 Agustus 2020 11:10 WIB

Laksmi Pamuntjak dan Kekasih Musim Gugur-nya.

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

 



Buku itu lumayan tebal, hampir 450 halaman. Ini novel kedua yang bisa dibilang terusan dari novel pendahulunya, Amba. Meskipun Kekasih Musim Gugur, novelnya yang kedua ini dari sudut tema bercerita tentang sesuatu yang lain, tapi tokoh utamanya, Siri, nickname dari Srikandi, adalah anak dari Amba dan Bhisma, dua tokoh utama dalam novel pertamanya. Siri, yang bapak biologisnya tapol dan dibuang ke pulau Buru bersama ribuan tapol lainnya, dikisahkan akhirnya meninggal di pulau Buru. Siri baru tahu tentang bapaknya yang tapol setelah dewasa, selama itu dia merasa bahwa bapaknya adalah Adalhard Eilers yang orang Jerman.

 

Jika pada novel pertamanya Amba, Laksmi berhasil mengikat saya sebagai pembaca pada kisah getir korban peristiwa 65 dan diajak masuk dalam bagian dari sejarah Indonesia yang kelam, pada Kekasih Musim Gugur kisah 65 tidak lagi menjadi seting utamanya, tetapi Jakarta pasca reformasi ketika kebebasan tidak lagi hanya dikendalikan oleh negara tetapi juga oleh kelompok-kelompok yang melakukan sensor atas nama moral dan agama. Selain kota Jakarta kisah ini juga mengambil latar kota-kota dunia, terutama Berlin di tahun 2016-an.

 

Mungkin saya bisa menikmati novel ini antara lain karena meskipun tidak seperti Laksmi yang mengenal dengan baik sudut-sudut kota Berlin, saya beberapa kali mengunjunginya, dan merasa familiar dengan beberapa tempat yang disebutkan dalam novel ini. Ada semacam pesona tersendiri memang yang dimiliki oleh Berlin, mungkin juga karena ada bagian dari sejarahnya yang pernah kelam di bawah Nazi, juga Tembok yang sebelum diruntuhkan tahun 1989 menyiratkan ironi Perang Dingin yang imbasnya meletus di tahun 65 yang telah menjadi seting novel Amba.  Ada semacam ketersambungan yang seperti tidak direncanakan antara Jakarta dan Berlin.Pasca runtuhnya tembok itu, Berlin seperti remaja yang dilahirkan kembali, ada semacam gairah kehidupan kota yang tidak dimiliki oleh Tokyo, atau New York dan London juga Jakarta.

 

Tetapi jika ada yang terasa memikat dan membuat saya terus membaca novel Kekasih Musim Gugur ini barangkali adalah  menyergapnya semacam rasa tegang karena sengketa-sengketa psikologis inter-personal dari tokoh-tokoh utamanya yang mungkin tidak lebih dari lima orang: Siri tokoh utama dan si aku yang paling banyak berkisah, Amba, Amalia anak tirinya, Dara teman aktifis, pacar lesbiannya,  Nina dan Sally agen dan promotor senirupanya, Matthias dan Javier kekasih-kekasih musim gugurnya. Tentu ada tokoh-tokoh lain yang juga penting, seperti Riaz suaminya yang mati muda, Rumita kakak Dara, Arif adik Dara yang menghamili Amalia, Gardin si politisi hipokrit dan Mr Kourakis pemilik resto Yunani teman ngobrol dan langganannya di bawah apartemennya di Berlin.

 

Ketegangan dan sengketa dalam hubungan inter-personal dari tokoh-tokoh dalam novelnya ini dituliskan dengan gaya naratif yang bagi saya terasa baru dalam sastra Indonesia. Seringkali percakapan diungkapkan dengan kalimat-kalimat pendek sementara apa yang ada di benak pembicaranya justru diungkapkan dengan panjang lebar. Dunia batin seperti mendapatkan porsi yang lebih besar dalam percakapan antara tokoh-tokoh rekaan Laksmi. Meskipun tokoh utama di novel kedua ini Siri, tapi bayang-bayang Amba, ibunya, terus menghantuinya, dan antara keduanya seperti menyimpan sebuak jarak inter-personal yang seperti dilumuri luka dan trauma antara ibu dan anak ini.

 

Sebetulnya kisah ini berpusat pada kegalauan batin Siri si tokoh utama, cewek Kebayoran  Baru Jakarta yang dilahirkan awal tahun 70an, sekolah di Tarakanita sampai SMA, kemudian karena bapak tirinya, warganegara Jerman yang cukup berada, menyekolahkan dia ke New York untuk belajar senirupa. Sejak kecil dia memang hobinya menggambar, dan jadilah dia kemudian menjadi seorang perupa yang berhasil eksis di luar negeri, tinggal di Madrid dan kemudian Berlin. Pergulatannya sebagai perupa yang berasal dari dunia ketiga dalam kancah persaingan yang tidak lagi bisa menjadikan asal usul sebagai sesuatu yang selalu bisa diandalkan diolah dengan menarik oleh Laksmi. Pengalamannya yang berhasil menerbitkan versi bahasa Inggris Amba, The Question of Red, saya kira berperan dalam mengembangkan kisah Siri dalam kancah senirupa internasional ini.

 

Berbagai bumbu tentu saja telah dipakai untuk melezatkan novel ini, dan bumbu yang paling penting adalah percintaan dan adegan persetubuhannya yang panas tetapi digambarkan tanpa terasa kasar bahkan cenderung halus. Ciuman antara dua kekasih digambarkan dengan mengesankan seperti menyesap anggur sedikit demi sedikit sampai kemudian diam-diam mabuk. Bumbu lain yang juga penting adalah  kepiawaian Laksmi dalam soal kuliner, dan pengetahuannya yang tampaknya luas tentang sastra, senirupa dan musik. Bumbu-bumbu itu diramu dengan cermat dan teliti menjadi sebuah sajian yang nikmat untuk disantap.

 

Sebagai terusan dari Amba Laksmi kalau mau sebetulnya bisa bercerita tentang bagaimana Siri mengingat kisah bapak dan ibunya dengan latar peristiwa 65 yang berbagai sisinya bisa digali dan masih mampu menggetarkan. Rupanya itu tidak dilakukannya, mungkin dia juga merasa peristiwa 65 sudah banyak dieksplorasi penulis lain. Namun, bagaimana dia terinspirasi dan membuat 9 imaji rupa wajah Bhisma bapaknya, sedikit menutkannya kembali dengan masa lalu itu.

 

Memang ada perkembangan yang menarik dalam dunia tulis menulis seputar peristiwa 65 dalam lima tahun terakhir ini. Peristiwa 65 menjadi bahan dari tidak sedikit tulisan yang dibuat berdasarkan riset yang serius baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Menariknya, tulisan yang dibuat dalam bahasa Indonesia, dan bagus, berupa novel. Sementara yang dalam bahasa Inggris, lebih banyak ditulis oleh para akademisi asing. Di antara novel yang kisah tokoh utamanya terlibat dalam peristiwa 65 adalah Pulang yang mengambil latar kota Paris oleh Leila Chudori dan Amba. Buku tulisan akademisi asing antara lain Burried Historis (2020) oleh John Rossa, Killing Seasons (2019) oleh Geoffrey Robinson dan The Army and the Indonesian Genoside: Mechanics of Masa Murder (2018) karya Jess Melvin yang menganalisis kasus 65 di Aceh.

 

Pemilihan nama, Siri (Srikandi), Amba dan Bhisma; yang diambil dari nama tokoh-tokoh pewayangan adalah sebuah pilihan yang cerdas. Pembaca yang mengetahui pewayangan Jawa, yang dulu dipopulerkan dalam bentuk komik oleh RA Kosasih pasti sedikit atau banyak mengetahui karakter dari tokoh-pewayangan itu. Mendengar nama Amba, atau Bhisma, atau Srikandi, pembaca akan dibawa ingatannya tidak saja tentang karakter dan kepribadian namun juga sosoknya secara ragawi dari tokoh-tokoh itu. Di tangan Laksmi Pamuntjak karakter dan sosok ragawi itu diolahnya menjadi tokoh-tokoh rekaannya sendiri, dan kisah pewayangan itu hanya samar-samar melintas di latar belakang ketika kita dibawa mengikuti perjalanan hidup tokoh-tokoh fiktif dalam novel Laksmi.

 

Kota-kota metropolitan yang menjadi latar cerita seperti Madrid, London, New York dan Berlin beserta kehidupan kosmopolitan dunia seni dan senimannya memastikan kita dibawa dalam lingkungan warganegara dunia dimana Siri berada di dalamnya sebagai sebagai perupa di tengah pergumulan karirnya untuk bisa tampil di kancah internasional. Gaya bertutur yang seperti ulang alik, tidak linier namun kadang membuat pembaca mengerutkan kening, paling tidak bagi saya, karena sering siapa aku yang sedang berbicara, sedikit membingungkan, apakah yang sedang bicara ini Siri atau Dara, misalnya.

 

Dalam narasi percakapan antar tokohnya yang tidak jarang seperti mengungkap apa yang tersembunyi di benak bawah sadar si aku, mengajak pembacanya untuk menyadari tentang berbagai ketegangan yang bisa dialaminya sendiri misalnya dalam kehidupan perkawinan dan berkeluarganya. Keberanian Laksmi untuk mengungkapkan  berbagai sisi dari kehidupan yang dari luar kelihatan baik-baik saja tetapi didalamnya sebenarnya bergejolak terasa kuat dalam novel ini.  Juga tentang orientasi seksual tokoh-tokohnya, tanpa bermaksud untuk show-off saya kira penting karena mengungkapkan realitas kehidupan extra marital atau homosexual misalnya, yang jangan-jangan selama in tidak sedikit dilakukan namun ditutup-tutupi dengan berbagai selubung nilai-nilai moral dan agama.

 

Ketika kekonservatifan saat ini sedang melanda kehidupan publik kita, terbit dan lakunya novel-novel yang ditulis oleh Ayu Utami, Leila Chudori, Intan Paramaditha, dan Laksmi Pamuncak menimbulkan tanda tanya bagi saya, golongan pembaca mana di masyarakat yang mengkonsumsinya. Dalam ranah publik yang lain, cepat diterjemahkannya buku-buku Stephen Hawking, Yuval Noah Harari bahkan Richard Dawkins yang isinya menggedor berbagai mitos tentang agama, bahkan Tuhan; juga menimbulkan tanda tanya bagi saya, jangan- jangan realitas yang ada di masyarakat telah jauh melampaui apa yang saat ini saya sendiri merasa begitu khawatir melihatnya. Hipokrisi pastilah selalu ada dalam setiap masa dan memiliki proses sosialnya sendiri yang membentuknya, tapi di masa ini ketika kemudahan akses informasi telah mengubah wajah dan fundamen kehidupan bersama, segala hipokrisi itu barangkali memang tidak mungkin lagi bisa ditutup-tutupi seperti dulu.

 

*Penulis adalah peneliti independen. Karya tulisnya terbit dalam bentuk jurnal, buku dan tulisan populer.


Tag : #Akademia #Laksmi Pamuntjak #1965 #Sastra



Berita Terbaru

 

Jumat, 22 Januari 2021 00:10 WIB

Lurahnya Terkonfirmasi Covid-19, Kantor Kelurahan ini Ditutup Sementara


Kajanglako.com, Batanghari - Lurah di kelurahan Sridadi Kecamatan Muara Bulian Kabupaten Batanghari Jambi terkonfirmasi positif covid-19. Pasca kejadian

 

Kamis, 21 Januari 2021 19:07 WIB

Puluhan Emak-Emak Blokade Jalinsum dan Larang Truk Batu Bara Melintas


Kajanglako.com, Sarolangun – Sedikitnya puluhan emak-emak Bukit Peranginan Kecamatan Mandiangin Kabupaten Sarolangun, Kamis sore, (21/01), menggelar

 

Kamis, 21 Januari 2021 17:50 WIB

Di Paripurna DPRD, Gubernur Fachrori Umar Pamit dari Jabatan Gubernur


Kajanglako.com. Jambi  - Sesuai Ketentuan amanat pasal 79 ayat 1 UU No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah bahwa kepala daerah yang berakhir

 

Kamis, 21 Januari 2021 16:48 WIB

Jual Pupuk Oplosan, Ketua Kelompok Tani ini Ditangkap Polisi


Kajanglako.com, Merangin - Polres Merangin  mengamankan pelaku pengoplos pupuk KCL merek mahkota. Adalah HR warga Pamenang, pria 56 tahun ini diamankan

 

Kamis, 21 Januari 2021 11:58 WIB

Al Haris Sapa Masyarakat Jambi Melalui Vlog di Instagram Pribadinya, Komentar Netizen Singgung Gugatan di MK


Kajanglako.com, Jambi - Setelah dua pekan sibuk beraktivitas sebagai Bupati Merangin, Wo Haris -sapaan akrab Al Haris-, akhirnya sempat menyapa masyarakat