Rabu, 20 Januari 2021


Minggu, 03 Mei 2020 15:50 WIB

Membaca Fenomena Pandemik Virus Corona

Reporter :
Kategori : Pustaka

Karya tulis filusuf Salvoj Zizek (April 2020)

Oleh: Budhy Munawar Rachman*

Slavoj Zizek seorang filsuf terkemuka Eropa kontemporer April ini meluncurkan buku tipis yang berjudul “Pandemic! Covid-19 Shakes the World”. Ini adalah buku refleksi filosofis pertama terkait pandemik Corona.



Seperti biasanya filsuf yang “unik” ini memberi pandangan yang mengejutkan bagaimana ia menafsirkan pandemic Covid-19 ini secara filosofis. Dalam cover bukunya ini menarik, ia menaruh kata “pandemic” menyatu dengan kata “panic”.

Secara singkat, buku Zizek ini memberi kita wawasan terhadap apa yang sedang berubah dalam dunia global ini. Zizek adalah seorang filsuf Marxis dari Slovenia. Ia termasuk salah satu filsuf kontemporer yang paling menonjol dan produktif di era kontemporer akhir-akhir ini. Bahkan ia sering disebut sebagai “filsuf politik paling berbahaya di Barat”. Buku yang ditulisnya di tengah-tengah kepanikan global akibat pandemik Corona, berasal dari pengolahan kembali kolom-kolomnya di mingguan RT (rt.com) yang dulu dikenal sebagai “Russian Today”.

Dalam bukunya ini, ada banyak hal yang menarik, misalnya bahwa sekarang ini, kita menafsirkan, bahwa kita harus mengambil jarak (“social distancing”), bahkan dari mereka yang dekat dengan kita atau kita cintai. Mengambil jarak perlu dilakukan, supaya kita bisa sungguh-sungguh mengalami kehadiran mereka, yaitu bahwa orang-orang yang dekat dengan kita itu penting dalam hidup kita. Tapi kini kita tidak bisa “mendekat” seperti normalnya. Kita tidak bisa lagi berjabatan tangan, memeluk apalagi menciumnya. Kalau dulu kita punya kiasan, bahwa gawai itu “mendekatkan yang jauh” maka kira-kira, istilah kita di Indonesia, virus Corona ini benar-benar telah “menjauhkan yang dekat!” Dalam era kepanikan ini, kata Zizek, juga banyak potongan-potongan pikiran yang terus bermunculan dalam pikiran kita, sebagai reaksi atas keadaan, kepanikan, dan kebijakan publik terkait virus Corona ini. “Potongan-potongan pikiran” inilah yang menstimulasi kepanikan.

Zizek menulis bukunya ini dengan memadukan perspektif-perspektif teori politik kiri dan budaya pop, yang dibungkus dengan pandangan-pandangannya yang sering mengejutkan, bahkan tidak lazim. Dalam wawancara dengan Amy Goodman di acara radio “New York City Democracy Now! (2008) Ia menjabarkan dirinya sebagai seorang “komunis yang Kompeten”. Di tempat lain ia menyebut dirinya sebagai “kiri radikal”. Bukunya ini pun ia tulis dengan perspektif “kiri radikal” ini.

Sedikit contoh pikiran-pikirannya yang kiri radikal, yang muncul juga dalam buku tentang virus Corona ini, misalnya ia menyebut bahwa virus corona adalah serangan telak bagi kapitalisme, dan merupakan dalam istilahnya “penemuan kembali komunisme”.

Dalam soal penyebaran virus Corona yang sekarang mendunia ini, menurutnya ada yang luput dari perhatian masyarakat maupun para ahli, yaitu bahwa wabah ini juga telah memicu virus ideologis, seperti berita palsu, teori konspirasi sampai ungkapan-ungkapan yang bisa kita kategorikan sebagai rasisme.

Virus lain yang juga sedang menyebar dibalik virus Corona ini, menurut Zizek, adalah virus tentang konsep masyarakat alternatif yang melampaui konsep negara-bangsa. Virus masyarakat alternatif ini, ciri masyarakatnya mengaktualisasikan dirinya dalam bentuk solidaritas dan kerjasama global. Menurut Zizek, virus Corona telah memaksa banyak pihak, dalam istilahnya “menemukan kembali komunisme”. Pikiran ini telah menimbulkan kontroversi, karena istilah "komunisme" itu. Tapi maksudnya sederhana, bahwa ancaman global sekarang ini telah mampu melahirkan solidaritas global di mana perbedaan-perbedaan kelas, agama, etnik, ras, dan sebagainya menjadi tidak berarti, karena kita semua menurut Zizek sedang berusaha mencari solusi, yang melampaui perbedaan identitas tersebut. Solusinya yang sedang dibayangkan Zizek adalah masyarakat dengan solidaritas baru, yang berbeda dengan bentuk solidaritas sebelumnya. Zizek menyebut, kita memang memerlukan bencana besar ini, untuk bisa memikirkan hal-hal yang begitu mendasar dari kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah soal solidaritas global itu.

Ket: Filusuf Slavoj Zizek. Sumber foto: zizektimes.com 

Buku ini menarik dan perlu kita baca pelan-pelan supaya masuk ke dalam pikiran dan hati, sambil merefleksikan berita-berita nasional kita, maupun global yang seliweran terus menerus di media, maupun media sosial yang kita baca, yang sering membuat kepanikan. Zizek bisa memberikan cara pembacaan yang tidak terduga dalam menafsirkan situasi dunia sekarang ini.

Oleh karena pikiran-pikirannya yang tidak lazim ini, Adam Kirsch dalam “The New Republic” menyebutnya sebagai filsuf yang paling berbahaya di Barat. Kutipan ini, tertera besar disampul belakang buku Zizek ini. Pikirannya memang mengancam dasar-dasar masyarakat modern Barat; karena ia, dan sangat jelas dalam buku tentang virus Corona ini, bicara tentang mulainya kebangkrutan peradaban Barat yang didasarkan pada kapitalisme atau pasar bebas.

Kondisi global sekarang ini menurut Zizek menjadi tanda yang jelas perlunya reorganisasi ekonomi global, yang tidak lagi bergantung pada mekanisme pasar, tapi misalnya ia menyebut pada semacam organisasi global yang dapat mengatur dan mengendalikan ekonomi dunia, yang bisa saja membatasi kekuasaan negara-bangsa. Di masa lalu, negara-bangsa selalu mempertahankan kekuasaannya dengan perang, dan sekarang suasana seperti itu terjadi lagi, tapi situasinya berbeda, dan bukan perang biasa tapi “perang medis”.

* Penulis adalah Pendiri Nurcholish Madjid Society (NCMS). Ia mendapat pendidikan dalam bidang filsafat pada STF Driyarkara. Menulis karangan dalam lebih dari 50 buku di antaranya, Islam Pluralis, Fiqih Lintas Agama (co-author), dan Membaca Nurcholish Madjid (2008). Tulisan ini sebelumnya dimuat di fb pribadi penulis pada tanggal 18 April 2020. Pemuatan di sini atas seizin penulis.


Tag : #Corona #Pandemi #Solidaritas Global #Kapitalisme #Komunisme



Berita Terbaru

 

Ekspedisi Sumatra Tengah 1877
Selasa, 19 Januari 2021 10:08 WIB

Hilangnya Si Anak Sulung


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Di antara Soepajang dan Siroekam ada dataran tinggi yang luas. Beberapa pohon koebang yang bagus tumbuh

 

Perspektif
Selasa, 19 Januari 2021 09:53 WIB

Demokrasi Ternyata Bisa Mati, Juga di Amerika Serikat


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Sebagai seorang politisi sekaligus gubernur yang memiliki gelar doktor ilmu politik Anies Baswedan tidak aneh kalau memiliki

 

Tipikor
Senin, 18 Januari 2021 20:06 WIB

Cerita Kasus Korupsi Baju Linmas, Tiga Tersangka Kembalikan Kerugian Negara


Kajanglako.com, Merangin - Kasus korupsi baju Linmas Satpol PP Merangin sudah masuk tahap persidangan, Rabu (13/01) lalu sidang perdana di pengadilan Tipikor

 

Pandemi Covid-19
Senin, 18 Januari 2021 20:03 WIB

Hasil Evaluasi, Dinas Pendidikan Sarolangun Tetap Lakukan Sekolah Tatap Muka


Kajanglako.com, Sarolangun – Dinilai tidak menemui kendala, proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) atau sekolah Tatap Muka di masa Pendemi Covid-19

 

Senin, 18 Januari 2021 19:50 WIB

Tahun 2020, 406 Perempuan Merangin Menjanda


Kajanglako.com, Merangin - Angka perceraian di Kabupaten Merangin tinggi. 2020 lalu tercatat ada 479 perkara perceraian yang masuk ke Pengadilan Agama