Minggu, 07 Maret 2021


Selasa, 28 April 2020 12:43 WIB

Pangeran Rengas Pendek

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Dalam perjalanan pulang ke Jambi, Orang Kaya Pedataran meninggal dunia. Setelah dikuburkan di laut di antara Ujung Jabong dan Pulau Berhala, isteri dan kelima orang putranya meneruskan perjalanan.



Sesampai di Kota Tua, kelima kakak-beradik itu memutuskan untuk mendirikan kota baru: Rengas Pendek. Lalu, mereka memilih salah seorang di antara mereka untuk naik tahta sebagai pewaris kekuasaan ayahnya. Anak sulunglah, yaitu Naya Ukir,  yang dipilih oleh keempat adiknya. Tetapi Naya Ukir berkeberatan: “Jangan pilih aku,” katanya. “Badanku lemah dan penyakitku banyak. Lebih baik adikku saja, Kimbong Sri, yang menggantikan ayahanda.”

“Tak pantas kalau aku yang memegang tampuk pimpinan,” kata Kimbong Sri. “Mataku hanya satu dan aku takut akan dikenal sebagai Raja Bermata Satu. Lebih baik adikku saja, Mayang Mungkur.”

Pun Mayang Mungkur menolak. Katanya: “Kakiku pendek sebelah. Pastilah nanti orang memberikan julukan Raja Pincang kepadaku. Lebih baik kita memilih Bungsu Kuning saja.”

Namun, Bungsu Kuning juga menolak dan mengatakan: “Kulitku hitam dan aku buruk rupa. Aku tak mau disebut sebagai Raja Hitam atau Raja Jelek. Lebih baik adik kita saja yang menjadi raja. Baruju.”

Anak bungsu Orang Kaya Pedataran setuju dan bersedia diangkat sebagai raja. Akan tetapi ia mengajukan syarat bahwa pilihan itu didukung oleh semua kakak-kakaknya.

“Aku adalah kakak yang tertua,” kata Naya Ukir. “Sebagai anak sulung dan kakak tertua, aku berhak dinobatkan menjadi raja dan aku berhak pula melepas tahta dan menyerahkannya kepada kau. Dengan upacara, secara resmi, aku akan mengeluarkan maklumat untuk menyampaikannya kepada rakyat dan menobatkan kau sebagai raja. Aku berjanji, setelah kau dinobatkan, aku akan menjaga muara sungai. Jikalau musuh datang, aku akan menghalangi dan memerangi mereka. Jikalau rumahmu tak beratap, aku akan membuatkan atap itu dan menyiapkan perahu-perahu kajang untukmu.”

Kimbong Sri, adiknya menyambung omongannya: “Jikalau musuh datang menyerang, pun aku akan berjuang mengusir mereka. Jikalau musuh merusak dan menghancurkan benteng di kota ini, pun badanku akan kujadikan benteng. Musuh-musuh itu akan kuikat dan kubunuh bila itu yang menjadi titah Rajaku.”

Mayang Mungkur ikut berbicara. “Jikalau Raja tak memiliki perahu, aku akan membuatnya. Jikalau Rajaku tak memiliki rumah, aku akan mendirikan rumah untuknya dan bahkan akan membangun benteng di sekelilingnya, bila perlu.”

Yang terakhir mengangkat suara adalah Bungsu Kuning. “Karena aku buruk rupa, aku tak mau pergi jauh meninggalkan rumah. Namun demikian, aku berjanji akan senantiasa menyediakan kayu bahan bakar dan air supaya dapur Raja selalu berasap.”

Inilah awal dari adat (bermusyawarah) yang diungkapkan di awal kisah-kisah ini.  Setelah Naya Ukir, Kimbong Sri, Mayang Mungkur dan Bungsu Kuning, keempat anak tertua Orang Kaya Pedataran setuju mengangkat adik mereka, Baruju, sebagai raja, mereka mengundang semua pembesar kerajaan dan rakyat untuk datang menghadiri upacara penobatan.

Setelah ramai orang berkumpul, Naya Ukir muncul. Ia mengenakan pakaian yang paling bagus dengan perhiasan-perhiasan kebesaran kerajaan. Di pinggangnya terselip sebuah keris. Keris itu dilepaskannya dari pinggangnya dan diselipkannya di pinggang Baruju.

“Dengan ini kunobatkan kau sebagai raja dengan gelar Pangeran Rengas Pendek,” katanya, berwibawa sambil menundukkan kepala tanda penghormatan.

Ketiga adiknya, para pembesar, dan rakyat pun mengikuti contohnya dan menundukkan kepala tanda hormat kepada raja yang baru.

Pangeran Rengas Pendek memerintahkan Naya Ukir untuk pergi ke Saba, di dekat Nior di Sungai Jambi; Kimbong Sri diperintahkannya untuk tinggal di daerah XII Kota dan membentuk permukiman sesuai dengan ‘adat mara siba’. Mayang Mungkur diperintahkannya ke dusun Soengie Krok dan Bungsu Kuning ke Ayer Itam.

Di kemudian hari, dalam pasa pemerintah Sultan Agong Srie Ingelago, Pangeran Rengas Pendek memindahkan keturunan Naya Ukir (warga dari Saba, penduduk asli di sana) ke Jebus. Sejak saat itulah, salah seorang di antara warga dusun itu dipilih untuk menjalankan haknya menobatkan raja Jambi (setiap kali dilakukan penobatan), seperti yang dulu kala dilakukan oleh Naya Ukir. Warga yang terpilih itu memperoleh gelar Panghoeloe dan menjabat sebagai kepala dusun. Jabatan itu dipegangnya selama Raja berkuasa. Akan tetapi, ketika Raja berganti, walau ia tidak kehilangan gelarnya, ia tidak lagi menjadi kepala dusun Jeboes. Orang lain akan dipilih untuk menduduki jabatan itu dan diberi gelar pula. Raja tidak dapat menarik kembali titel dan jabatan itu selama ia berkuasa. Hak istimewa yang dimiliki oleh keturunan puyangnya, Naya Ukir, tetap diakui dan dihormati melalui jabatan dan gelar orang yang terpilih tadi. Sesuai adat, jabatan dan gelarnya berjalan seiring dengan keberlangsungan kekuasaan raja. Hal ini pun berlaku bagi Sultan Mohamed Pachroedin yang hampir dinobatkan ketika JW Boers menulis artikel ini (catatan FA: Tulisan ini dibuat oleh JW Boers, di Rembang, 1 Maret 1840).

*Acuan Kepustakaan:  JW Boers. ‘Oud Volksgebruik in het Rijk van Djambi’  dalam Tijdschrift voor Neerlands’s Indie. IIIe jaargang. Batavia: ‘Lands-Drukkerij, 1840 (hal. 372-384)


Tag : #Telusur #Sejarah Jambi #Naskah Klasik Belanda



Berita Terbaru

 

Rabu, 03 Maret 2021 08:25 WIB

Diduga Disunat, Dewan Pertanyakan Setoran Retribusi Terminal Muarabulian


Kajanglako.com, Batanghari - Uang setoran retribusi Terminal Muarabulian diduga disunat. Hal ini diungkapkan Anggota DPRD Kabupaten Batanghari. Menurut

 

Selasa, 02 Maret 2021 21:31 WIB

Bahas Honorer Nonkategori, DPRD Merangin Panggil Diknas dan BKD


Kajanglako.com, Merangin - Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Merangin hearing dengan Dinas Pendidikan Kebudayaan dan BKPSDM Merangin,

 

Perspektif
Rabu, 24 Februari 2021 20:17 WIB

Jokowi dan Anies Baswedan


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Mungkin ada banyak perbedaan antara keduanya. Gaya bicaranya, blusukannya, taktik melobinya, politik identitasnya dan

 

Perspektif
Senin, 22 Februari 2021 17:18 WIB

Ada Yang Membusuk dalam Darah di Tubuh Kita


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Mungkin di tubuh saya dan sebagian dari kita sudah ada virus covid-19, tetapi tidak ada gejala yang tampak dari luar. Kita

 

Sejarah Jambi
Senin, 22 Februari 2021 16:29 WIB

Walter M Gibson


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Dalam rangka menyiapkan tulisan untuk rubrik ‘Telusur Jambi,’ saya teringat pada satu tas