Sabtu, 28 Maret 2020


Sabtu, 18 Januari 2020 11:13 WIB

Su'aidi Asy'ari

Reporter :
Kategori : Sosok

Su'aidi Asy'ari saat dilantik sebagai Rektor UIN STS Jambi (16/10/19)

Oleh: Jumardi Putra*

Tersebab sakit mendera, niat saya merampungkan lembar singkat ini setelah mendapat kabar Prof. Su’aidi Asy’ari terpilih sebagai Rektor UIN STS Jambi periode 2019-2023, pada 16 Oktober 2019, gagal. Tidak mengapa dan tak harus tergesa-gesa pula. Pikirku sekenanya ketika itu. Karena bukan semata memberikan ucapan selamat, tetapi memaknai persinggungan saya secara pribadi dengan profesor kelahiran Sungai Manau, Merangin, 1963, ini. Barangkali ada gunanya.



Saya tidak tahu pasti apakah Guru Besar Politik Islam UIN STS Jambi ini ingat saya. Itu tidak penting, apatahlagi sehari-hari saya tidak bekerja di Kampus yang kini ia pimpin, melainkan bergiat di Seloko Institute, pusat studi yang meminati sejarah dan budaya Jambi, serta mengumpulkan literatur tentang Jambi dan Sumatera.

Sekira enam tahun lepas, saya, Ratna Dewi dan M. Husnul Abid-di kalangan terbatas kerap kali disebut sebagai tiga serangkai-terlibat menginisiasi konferensi internasional studi Jambi (International Conference on Jambi Studies), yang ditaja Dewan Kesenian Jambi periode kepemimpinan Aswan Zahari (2012-2015) dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi.

Di forum akademia itu, Su’aidi kami minta menjadi salah seorang chairperson (penanggung jawab panel) bersama dengan sarjana lainnya, seperti Prof. Bambang Purwanto (UGM, Yogyakarta), Regina Yanti, Ph.D. (Unika Atmajaya Jakarta), Dr. Annabel Teh Gallop (British Library, London), Prof. Barbara Watson Andaya (Universitas Hawaii, USA), dan Jonathan Zilberg, Ph.D. (University of Illinois at Urbana-Champaign, USA).

Sejak itu, Seloko Institute beberapa kali bekerjasama dengan UIN STS Jambi, dalam hal ini LPPM UIN STS Jambi, Melayu Institute, Fakultas Adab dan Humaniora dan Fak. Tarbiyah UIN STS Jambi,  dalam bentuk pelatihan jurnal terakreditasi maupun diskusi tematik dengan menghadirkan beberapa cendekia dari dalam maupun luar negeri. Khusus Melayu Institute, yang bermarkas di Fak. Adab dan Humaniora, selain saya dan Aswan Zahari, Ketua Dewan Kesenian Jambi periode 2012-2015 (sebagai pihak di luar institusi UIN STS Jambi), bersama akademisi Dr. Armida, Dr. Iskandar, Syamsul, dan Bahren Nurdin, menggagas dan membentuk Pusat Studi Melayu Institute hingga di-SK-kan oleh rektor Dr. Hadri Hasan, periode 2011-2015. Saya tak banyak mendapatkan informasi kondisi mutakhir pusat studi ini. Semoga terus eksis dan menjadi bagian dari upaya membangun iklim akademis yang dinamis sekaligus teruji oleh waktu.

Puncaknya, 2016, Seloko Institute, diundang oleh Su’aidi Asy’ari, yang ketika itu menjabat sebagai Wakil Rektor I UIN STS Jambi (2016), di ruang kerjanya di Kampus Utama UIN STS Jambi, Mandalo. Di hadapan perwakilan fakultas di lingkup UIN STS Jambi (terutama LPPM STS Jambi dan pengelola jurnal di fakultas), masing-masing kami bertukar pikiran perihal penyelenggaraan konferensi. Sepenuhnya, Su’aidi Asy’ari mempercayakan kepada Seloko Institute mendesain konsep konferensi tersebut, setidaknya mengacu penyelenggaraan ICJS tiga tahun sebelumnya.

Konferensi ICJS bertemakan Sejarah, Seni dan Budaya, serta Agama dan Perubahan Sosial (History, Art and Culture, Religion and Social Change) itu menghadirkan 38 pemakalah, antara lain, Edmund Edwards McKinnon (National University of Singapore), Stefanie Steinebach (Gottingen University, Germany), C.W. Watson (University of Kent, UK), Fiona Kerlogue (Horniman Museum, UK), Heinzpeter Znoj (University of Bern, Switzerlend), Margaret Kartomi (Monash University, Australia), dan Staven Sager (Australian National University). Sedangkan dari Indonesia, antara lain Julianti L. Parani (Institut Kesenian Jakarta), Devi Roza Krisnandhi Kausar (Universitas Pancasila, Jakarta), Suaidi Asyari (IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi), dan Bambang Hariyadi (Universitas Jambi). Selengkapnya dapat dibaca di link berikut ini: http://www.cseashawaii.org/2013/12/report-on-the-first-international-conference-on-jambi-studies-hosted-by-seloko/ dan http://kajanglako.com/id-4758-post-urgensi-konferensi-studi-jambi.html)

Tentu saja kami di Seloko Institute menyambut baik ajakan kemitraan blio, karena sejatinya konferensi tersebut adalah tugas utama kampus, yang selama ini kami nilai belum dilakukan secara sungguh-sungguh (untuk menyebut seremonial).

Sayangnya, entah kenapa, konferensi yang disepakati itu berujung tanpa ada kejelasan. Kami sedari awal sudah mengkonsep tema dan sub-sub tema yang mengisi konferensi tersebut hingga persiapan administrasi yang berkaitan dengan undangan menulis (call for paper) bagi calon pembentang makalah untuk konferensi tersebut.

Sejak itu komunikasi antara kami, terutama saya dengan Su'aidi Asy’ari praktis terputus, kecuali sahabat saya M. Husnul Abid, akademisi yang sehari-hari bekerja di UIN STS Jambi, dan tergolong patner diskusi aktif bersamanya hingga sekarang.

Berselang dua bulan pasca dilantik sebagai rektor UIN STS Jambi, secara tak sengaja, saat sarapan pagi di sebuah hotel di Jakarta, saya berjumpa dengan Prof. Su'aidi Asy’ari. Saya pun menyapa dan begitu sebaliknya. “Alhamdulillah blio masih ingat saya”, imbuh saya dalam hati. Tentu saya memberi ucapan selamat padanya sebagai rektor UIN STS Jambi yang baru. Kami pun terlibat percakapan cukup panjang. Saya lebih banyak mendengarkan visi-misi doktor jebolan University of Melbourne tahun 2007 ini untuk UIN STS Jambi ke depan. Dirinya bertekad menjadikan UIN STS Jambi sebagai perguruan tinggi yang unggul dalam skala nasional, menuju internasional, dengan semangat moderasi Islam. Penulis Nalar Politik NU-Muhammadiyah ; Overcrossing Java Sentris, LKiS, 2010, ini mengusung paradigma transintegrasi, konsepsi ideal yang menempatkan ilmu pengetahuan terintegrasi pada modernitas maupun tradisi, sehingga sejauh apapun ilmu pengetahuan mengelami pemajuan, nilai transedental maupun tradisi tak sirna. Tentu saja paradigma transintegrasi itu penting didisikusikan untuk mengetahui lebih jauh gagasan maupun prakteknya di UIN STS Jambi semasa kepemimpinannya. Tetapi tidak dalam kesempatan ini dikupas.

Secara umum, pembicaraan antara kami bertiti-mangsa tentang penelitian, sumberdaya manusia yang mumpuni dengan basis multidisiplin keilmuan, serta terwujudnya sarana prasana pembelajaran di kampus sebagai penunjang utama menuju kampus unggul. Kebetulan ketika itu, Su'aidi Asy’ari bersama tim tengah berupaya meyakinan pemerintah pusat (Dalam hal ini, Direktorat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, Kemenag RI, dan DPR-RI) untuk pemenuhan penganggaran pemajuan institusi UIN STS Jambi bersama perguruan tinggi Islam lainnya, terutama pembangunan fisik, sarana prasarana pembelajaran dan peningkatan kualitas SDM. “Kita perlu gerak cepat jika UIN STS mau maju. Dan ini momen penting yang menentukan langkah UIN STS Jambi ke depan,” kilahnya.

Dalam pada itu, lulusan Magister of Arts (MA) dari McGill University, Kanada, 1999, ini menyinggung tradisi konferensi dan jurnal dengan reputasi internasional di beberapa perguruan tinggi lainnya. “Saya berharap kultur demikian mewujud di UIN STS Jambi. Tentu ini dikerjakan secara bertahap dan memerlukan dukungan sekaligus konsistensi akademisi di UIN STS Jambi,” tukasnya.

Impian Su'aidi Asy’ari jelas tak bisa dikerjakan sendirian, melainkan bergerak secara bersama dengan dimulai dari unit terkecil elemen penyelenggara pendidikan di UIN STS Jambi. Setidaknya, pengalaman panjang Suaidi Asy’ari di ranah akademik, dimulai menjadi dosen, Dekan Fakultas Ushuluddin, hingga menjabat Wakil Rektor I, menjadi bekal memadai membawa UIN STS Jambi ke depan menjadi lebih baik. Terlebih saat merampungkan studi doktoralnya di University of Melbourne (2007), dirinya dibimbing langsung oleh akademisi dengan reputasi internasional, yakni Prof. Marle Calvin Ricklefs, Prof. Abdullah Saeed, dan Prof. Arif Budiman. Begitu juga saat Su'aidi menyelesaikan jenjang pendidikan setara di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2009, di bawah bimbingan Prof. Azyumardi Azra. Tentu saja ini menjadi modal awal dirinya membangun jaringan UIN STS Jambi ke dalam pergaulan internasional. Selamat bekerja, Prof!

*Penulis. Kini tinggal dan bekerja di Tanah Pilih Pusako Betuah, Kota Jambi.


Tag : #Suaidi Asyari #Rektor UIN STS Jambi #Transintegrasi



Berita Terbaru

 

Pilkada 2020
Sabtu, 28 Maret 2020 16:00 WIB

Via Aplikasi Zoom Clound, Bawaslu Jambi Bahas Tantangan Pilkada di Tengah Covid 19


Kajanglako.com, Jambi - Ditengah wabah Virus Corona atau Covid-19, Bawaslu Provinsi Jambi menegaskan tidak ada istilah penundaan Pilkada 2020, yang ada

 

Sabtu, 28 Maret 2020 15:37 WIB

Ditangkap Gelapkan Motor, Pelaku Ngaku untuk Penuhi Kebutuhan Ekonomi


Kajanglako.com, Sarolangun - Dani, warga Desa Lubuk Kepayang, Kecamatan Air Hitam Kabupaten Sarolangun, ditangkap aparat Kepolisian Resor Sarolangun, Sabtu

 

Sabtu, 28 Maret 2020 14:18 WIB

Mayat yang Ditemukan Warga Sridadi Ternyata Korban Tabrak Lari


Kajanglako.com, Batanghari - Mayat yang ditemukan warga Kelurahan Sridadi Kecamatan Muarabulian tadi malam ternyata korban tabrak lari. Tidak jauh dari

 

Sabtu, 28 Maret 2020 13:57 WIB

Antisipasi Corona, Kemenag Sarolangun: Peringatan Hari Besar Umat Islam Ditunda Dulu


Kajanglako.com, Sarolangun - Kementerian Agama Kabupaten Sarolangun menginstruksikan kepada masyarakat Sarolangun agar tidak membuat kegiatan yang menghadirkan

 

Sabtu, 28 Maret 2020 13:23 WIB

Kunjungi RSD Kol Abundjani, Al Haris Beri Dukungan untuk Tenaga Medis


Kajanglako.com, Merangin - Petugas kesehatan atau tenaga medis saat ini berjuang di garda terdepan melawan pandemi virus corona (Covid-19). Mereka bekerja