Minggu, 26 Januari 2020


Jumat, 27 Desember 2019 08:15 WIB

Warga Dusun dan Para Penjelajah

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Hari-hari pertama di XII Kota ditandai dengan mendung. Sinar matahari jarang tampak untuk membuat suasana lebih ceria. Awan-awan kelabu, yang sepertinya sarat hujan selalu saja tergantung di atas puncak Korintji. Dusun itu tak ramai dan orang yang datang untuk melihat dan menonton gerak-gerik para penjelajah itu semakin lama semakin berkurang. Setiap sore, mereka berjalan-jalan. Pemandangan yang sangat cantik adalah yang tersaji di belakang rumah. Soengei Sangir mengalir tenang melewati berbagai bubu dan pulau-pulau penangkap ikan.



Van Gussem meninggalkan rumah setiap pagi dan tak pernah kembali dengan tangan kosong. Ia sebetulnya banyak menghabiskan waktu untuk mengunjungi keluarga Penghoeloe Kapala di Patikan, sebuah dusun yang terdapat di jalan menuju Abei. Akan tetapi, rupanya kegiatan itu masih menyisakan waktu baginya untuk berburu burung. Setiap kali pula, ia pulang membawa cerita mengenai teman-teman barunya di ladang dan mengenai hangatnya sambutan keluarga Penghoeloe Kapala Patikan.

Kehangatan itu terbukti bukan hanya isapan jempol belaka ketika suatu saat isteri Penghoeloe Kapala itu datang ke rumah penginapan mereka membawa berbagai kekuehan yang teramat manis. Kedekatannya dengan keluarga itu betul-betul merupakan hal yang istimewa karena van Gussem pada dasarnya bukanlah orang yang membuka diri untuk berteman dengan orang Melayu. Tak jarang, ia menyampaikan komentar yang tak sama sekali tak berdasar. Suatu saat, Snelleman dan van Gussem sedang di Loeboe Melaka untuk berburu serangga, mereka bertemu dengan orang-orang yang menggiring kerbau dan ‘djawi’ ke Padang (untuk dijual), van Gussem berkomentar: “Itu musuh-musuh kita!” Komentar itu tak berdasar dan tak pantas, menurut Snelleman. Tetapi, kini ia sudah berteman dan dapat menghargai pertemanannya dengan keluarga Penghoeloe Kapala di Patikan.

Delapan orang kuli dari dua belas orang yang menyertai perjalanannya, diperintahkan Snelleman untuk kembali ke Loeboe Gedang karena mereka dapat membantu van Hasselt dalam pendakian ke puncak Korintji. Secara teratur, van Hasselt mengirimkan berita mengenai perkembangan rencana pendakian itu.

Hujan turun terus-menerus. Saking banyaknya curah hujan itu, mereka terpaksa menggali semacam parit untuk menampung air hujan itu di sekeliling rumah. Beberapa kali, mereka dapat melihat puncak Korintji dari serambi rumah. Sayangnya, tak tampak pendakian yang dilakukan van Hasselt.

Suatu malam, seekor gajah datang ke sawah yang berjarak kira-kira 300 meter dari rumah. Walaupun di luar gelap, mereka memutuskan untuk pergi melihat ke tempat itu. Gajah itu masuk ke sawah setelah menerabas pagar hijau yang memisahkan lahan-lahan persawahan dengan hutan. Setelah kenyang memamah tanaman-tanaman di sawah dan sekitarnya, gajah itu kembali ke hutan. Sawah yang tergenang air itu tidak memungkinkan mereka mengira-ira berapa besarnya binatang itu, akan tetapi sawah yang ditinggalkannya dalam keadaan porak-poranda menunjukkan bahwa gajah itu cukup lama berada di sana untuk menikmati makanannya.

Dua orang lelaki, kemungkinan pemilik sawah-sawah itu, sibuk membuat api untuk menakut-nakuti gajah itu—seandainya ia berniat kembali lagi. Di bawah rintik hujan deras, tak mudah bagi mereka untuk mempertahankan nyala api penolak gajah itu.

Tak sedikit orang di dusun yang sakit. Kotak obat yang dibawa Snelleman acapkali dibuka-tutup untuk memberikan obat kepada yang sakit. Banyak orang mengidap penyakit kulit; banyak pula yang datang berobat karena luka-luka di kaki. Tua-muda, ibu-ibu dan anak-anak mereka datang berobat ke rumah para penjelajah itu. Di antaranya, datang seorang perempuan dengan bayi lelakinya yang berumur 12 bulan. Kulit wajah anak itu merah meradang. Tanpa berharap banyak, Snelleman memberikan salep untuk membantunya. Untunglah, usahanya berhasil dan radang di wajah anak itu menghilang.

Satu hal membuatnya heran. Setelah anaknya sembuh, ibu itu tidak datang lagi! Jangankan pisang setandan, basa-basi berterima kasih pun tak ada! Satu hal lagi juga mengherankannya. Siang hari, bila Snelleman sedang melukis, banyak anak Bedar Alam yang datang menontonnya bekerja. Untuk menyenangkan mereka, ia membuat gambar masing-masing anak di atas selembar kertas. Yang membuatnya heran bercampur geli adalah bahwa anak-anak itu sama sekali tidak memperhatikan gambar yang dibuat di kertas itu. Yang menarik perhatian mereka justeru kertas putih itu sendiri! Kertas putih yang tak bergambar apa pun!

Bahwa banyak orang Melayu tidak memperhatikan gambar-gambar sudah seringkali diperhatikan oleh tim penjelajahan itu. Suatu saat, mereka menunjukkan beberapa lukisan kepada Toeankoe Doerian Taroeng dan Kepala Gudang Loeboe Gedang. Keduanya dianggap termasuk dalam kategori sosial tinggi di antara warga Melayu di daerah itu. Lukisan-lukisan itu ditunjukkan kepada kedua lelaki itu untuk melihat apa tanggapan kedua lelaki itu melihat gambar tadi. Kepala Laras melihat gunung ketika menghadapi gambar sebuah pondok di sawah; ia melihat gajah ketika menghadapi gambar kepala manusia dan di matanya, sebuah keranda tampak sebagai perangkap harimau! Bahkan gambar-gambar peralatan sederhana dari kehidupan mereka sehari-hari tidak lagi dikenali bentuknya ketika sudah di atas kertas: bangku, tempat lilin dan sebagainya.

Bedar Alam tidak kekurangan pangan. Walaupun demikian, untung saja Snelleman dan van Gussem membawa beras dari Moeara Laboeh karena ternyata beras yang tersedia dan dibeli oleh para kuli di tempat itu sangat mahal harganya dan berkualitas buruk. Pemuda-pemuda Bedar Alam cepat menyadari bahwa mereka dapat memperoleh uang dengan menjual bebuahan kepada tim penjelajahan itu. Anak-anak kecil pun berani meminta harga yang lumayan tinggi untuk sesisir pisang. Bila ditanya, mengapa harganya begitu mahal? Mereka menjawab bahwa pisang mahal itu merupakan pisang dari orang lain yang meminta harga tinggi! Warga dusun juga bersedia menerima botol-botol bekas minuman anggur sebagai pembayaran untuk buah-buahan yang mereka perdagangkan. Akan tetapi, buah-buahan yang diperdagangkan jauh lebih banyak daripada yang dapat dimakan dan botol bekas minuman anggur yang diperlukan sebagai alat tukar jauh lebih banyak pula daripada yang dapat dihabiskan oleh Snelleman dan van Gussem.

Bedar Alam merupakan dusun penangkap ikan yang cukup penting. Di dekat dusun, sungai itu dibagi-bagi ke dalam beberapa kanal dengan membuat bendungan bebatuan sehingga alirannya semakin deras. Bubu penangkap ikan dipasang di ujung setiap kanal. 

Bubu penangkap ikan itu atau ‘sindir’ merupakan alat besar yang terbuat dari bambu dan rotan. Bubu itu dipasang di dalam sungai dengan tonggak-tonggak kayu. Salah satu ujungnya dibiarkan terbuka dan sebuah keranjang menutup ujung lainnya.  Bila ikan sudah masuk ke dalam bubu, ia takkan dapat keluar dan terpaksa berenang ke keranjang di ujung bubu. Ikan itu tetap hidup dan segar sampai diambil oleh penangkapnya.

Pondok-pondok para penangkap ikan dibangun di tengah sungai. Terkadang saja mereka menginap di situ. Biasanya, pada malam hari, membawa obor, para penangkap itu ke sungai untuk memeriksa hasil tangkapan. Memeriksa isi bubu atau ‘sindir’ bukanlah pekerjaan yang mudah karena dasar sungai kira-kira setinggi lutut atau paha dan bebatuan di dasarnya sangat licin.

Ancaman binatang buas tak perlu ditakuti di daerah ini. Yang lebih menakutkan dan menyebalkan adalah serangga-serangga yang menyerang dan mencabik-cabik sesama serangga yang sudah diawetkan dan dipersiapkan sebagai koleksi serangga penjelajahan. Wadah-wadah yang digunakan untuk mengeringkan serangga-serangga koleksi itu harus diletakkan terpisah dari lantai dan palang-palang kayu supaya tidak diserbu semut. Akan tetapi, tempat yang aman dari serbuan semut masih tetap rentan terhadap serangan lalat besar yang berusaha meletakkan telur-telurnya di samping jasad saudara-saudara sesama lalat yang sudah diawetkan dengan kaliumsianida!

Kegiatan mengamankan koleksi serangga dari serangan serangga-serangga lain banyak menarik perhatian warga dusun yang mempertanyakan mengapa hal itu dilakukan. Seorang penghoeloe bertanya apa guna barometer yang digantungkan Snelleman di sebuah tiang. Demi kemudahan, Snelleman menjelaskan bahwa alat itu tak ada gunanya karena sudah rusak. Mendengar jawaban itu, penghoeloe itu meminta izin untuk mengambil barometer itu. Bukankah alat sudah rusak? Untuk apa Snelleman menyimpan alat rusak?

Pada saat lain, beberapa orang perempuan datang berkunjung. Ibu-ibu tua itu memerlukan jarum jahit. Tim penjelajahan itu pasti memiliki persediaan jarum karena mereka sudah melihat van Gussen menggunakan jarum-jarum pentul (yang digunakan untuk memasang serangga di kotak penyimpanannya).

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Telusur #Ekspedisi Sumatra Tengah #Naskah Klasik Belanda



Berita Terbaru

 

Minggu, 26 Januari 2020 21:41 WIB


Kajanglako. Com, Jambi – Minggu (26/1), Pemerintah Provinsi Jambi mengeluarkan himbauan resmi terkait adanya satu orang pasien (perempuan) dengan

 

Minggu, 26 Januari 2020 20:30 WIB

Dinkes Batanghari Himbau Warga Jangan Panik Terhadap Virus Corona


Kajanglako.com, Batanghari - Virus Corona yang berasal dari negara Cina, saat ini jadi perbincangan. Bahkan virus mematikan tersebut diduga sudah ditemukan

 

Minggu, 26 Januari 2020 20:25 WIB

Ratusan Warga Batin Limo dan Himpabal Duduki Lahan Over Leave PT Agrindo Panca Tunggal Perkas


Kajanglako.com, Sarolangun - Himpunan Masyarakat Putra Bathin Limo (Himpabal) bersama ratusan warga yang tergabung dalam  Bathin Limo menduduki lahan

 

Minggu, 26 Januari 2020 18:41 WIB

4 Penjabatnya Dipanggil Soal Nonjob, Pemprov Jambi Siap Beri Penjelasan ke KASN


Kajanglako.com, Jambi – Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) RI, menyurati Gubernur Jambi Fachrori Umar, permintaan klarifikasi terkait Mutasi/Rotasi

 

Minggu, 26 Januari 2020 17:14 WIB

Takut Terpapar Virus Corona, Pengunjung RSUD Raden Mattaher Mendadak Sepi


Kajanglako.com, Jambi - Pihak rumah sakit plat merah RSUD Raden Mattaher Jambi, membenarkan pasca diisolasi pasien (perempuan) diduga terpapar virus Corona