Sabtu, 08 Agustus 2020


Senin, 23 Desember 2019 07:46 WIB

Mundardjito

Reporter :
Kategori : Sosok

Penulis

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Arkeolog senior ini tidak bisa diam, terus bergerak dan berpikir,  meski suatu saat tubuhnya harus terbaring karena tulang ekornya sempat bermasalah. Terlibat dalam berbagai kegiatan, namun fokusnya tetap arkeologi, mungkin itu yang membuatnya tampil dengan berwibawa dan penuh integritas. "Down to earth" untuknya bukan lagi metafor, tapi realitas yang dijalaninya layaknya arkeolog tulen. Profesor emeritus ini suatu hari bilang "banyak orang tidak menyadari kalau sepatu pengunjung yang setiap hari memadati Borobudur pelan-pelan akan mengikis permukaan batu, saya pernah sarankan supaya disediakan karet pelapis sepatu agar Borobudur bisa tahan lebih lama".



Mundardjito, arkeolog kelahiran Bogor, 8 Oktober 1936 ini di mata saya adalah "a no nonsense character". Ucapannya tadi mencerminkan pandangannya yang sangat rasional, melihat Borobudur betul-betul sebagai "an archeological artefak, no more no less". Di saat lain dia bercerita, "kalau saya sebenarnya orang Jawa, ada rumah keluarga sampai sekarang di Solo, tapi saya dibesarkan di Bogor dan Jakarta". Mungkin itu juga, dalam hati saya membatin,  yang membuatnya "untypically Javanese".

Buat umumnya orang Jawa ketika melihat Candi pastilah yang terbayang sisi kerohanian candi itu, tapi bagi Pak Mundardjito sisi fisik dan sosialnya, dia akan membayangkan mengapa dan bagaimana candi itu didirikan di tempat tersebut, dengan kata lain, dimensi sosio-ekologinya. Mempelajari metodologi arkeologi di Yunani (1969-1971), dan sempat belajar teori arkeologi di Amerika (1978-1979); Mundardjito, meskipun agak terlambat, berhasil mempertahankan disertasi doktornya tahun 1993 di UI dengan predikat cumlaude tentang “Pertimbangan Ekologi dalam Penempatan Situs Masa Hindu-Buda di Daerah Yogyakarta: Kajian Arkeologi-Ruang Skala Makro”.

Saya mengenal Pak Oti, panggilan akrab suami dari Martuti S. Danusaputro ini, agak dekat, belum lama, ketika kami mengamati masyarakat di sekitar tiga cagar budaya besar di Jawa: Borobudur, Trowulan dan Banten Lama. Tidak sedikit para arkeolog yang kemudian menjadi teman, salah satunya Pak Oti, guru besar yang sudah tak terhitung muridnya sekaligus segudang pengalaman yang dimilikinya. Dari banyak hal yang menarik dari Pak Oti, ada dua yang bagi saya paling berkesan dan sangat penting. Yang pertama, telah saya singgung sedikit, adalah rasionalitasnya yang sangat kuat. Baginya, kebesaran Majapahit tidak lebih sebagai dongeng, bila kita tidak berhasil menemukan bukti-bukti yang menunjukkan kebesaran itu. Bagi saya pernyataannya yang tampak sepele itu mengandung makna yang luar biasa. Kita tahu, sebagian besar dari kita yakin Majapahit yang besar itu benar-benar ada. Tetapi sejauhmana keyakinan kita disertai fakta bukan fiksi, atau dalam bahasa Pak Oti "cuma dongeng".

Ket: Arkeolog Prof. Mundardjito.

Sebagai arkeolog, Pak Oti urusannya memang masa lampau, dan peninggalan-peninggalan apa yang bisa memberikan bukti mengenai yang terjadi pada masa lampau. Mungkin karena itulah beliau begitu total dalam melakukan ekskavasi di Trowulan, dan berusaha menunjukkan dengan bukti-bukti arkeologis bawa Trowulan memang sebuah bekas ibu kota Majapahit.  Artefak-artefak yang sudah ditemukan cukup banyak, tetapi Pak Oti yakin masih banyak yang perlu digali. Ekskavasi satu-satunya cara untuk menemukan bukti, tentu agak bercanda ketika dia bilang modalnya cuma cetok

Itu pula yang membuat Pak Oti marah besar saat mengetahui Jero Wacik, menteri pariwisata kabinet Indonesia Bersatu Jilid I dan II pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mendirikan sebuah bangunan raksasa di Trowulan dengan cara mengecor tiang pancang yang jelas merusak artefak-artefak yang masih terkubur di dalam tanah. Saya rasa, kemarahan Pak Oti bukan karena romantismenya terhadap Majapahit, tetapi karena tindakan Jero Wacik-dengan proyek Majapahit Park-itu akan menghancurkan artefak-artefak yang diperlukan jika kita ingin menunjukkan bahwa Majapahit bukan cuma dongeng.

Untuk menghentikan proyek perusakan artefak di Trowulan yang dilakukan oleh Jero Wacik, Pak Oti betul-betul bergerak sebagai selayaknya aktifis, dan inilah hal kedua yang menurut saya penting untuk diketahui dari Pak Oti. Salah satu strategi yang terbukti ampuh yang dialakukan adalah mendorong rekan-rekan mudanya, sebagian mungkin bekas mahasiswanya yang bekerja sebagai wartawan. Seperti kita tahu ada dua wartawan Kompas yang eks Mapala UI, yaitu Rudi Badil dan Norman Edwin. Badil lulusan antropologi dan Norman lulusan arkeologi.

Strategi perlawanan Pak Oti mencegah kerusakan yang telah dibuat oleh Jero Wacik adalah dengan meminta Kompas menurunkan tulisan berseri tentang apa yang sedang terjadi di Trowulan sejak batu pertama proyek itu diletakkan pada 3 November 2008. Melalui proses yang panjang akhirnya Jero Wacik menyerah dan menghentikan proyek perusakannya. Namun, kita tahu "the damage has been done". Dalam sebuah kesempatan Pak Oti menunjukkan bekas-bekas tiang pancang itu dan kerusakan yang tidak mungkin diperbaiki dari bata-bata terakota Majapahit, termasuk sebuah sumur tua yang bagi Pak Oti sangat penting artinya guna membuktikan sistem drainase yang dibuat dengan teknik yang canggih untuk jaman itu.  Kolam Segaran yang indah di Trowulan tidak mungkin terlihat seperti sekarang tanpa jerih payah Pak Oti saat mengekskavasinya.

Ketika terjadi keramaian dan berkembang pendapat bahwa di Gunung Padang ditemukan sebuah situs purbakala yang lebih tua dari piramid di Mesir, Pak Oti tidak bisa diam (2014). Bagi Pak Oti, klaim itu merupakan pembohongan publik dan dia melihat ada kepentingan politik di balik klaim tersebut, karena tidak didukung bukti-bukti yang kuat. Seperti saat berhadapan dengan Jero Wacik, dalam kasus Gunung Padang, Pak Oti juga tahu kalau dia berhadapan dengan pihak yang dekat dengan kekuasaan.

Dalam kasus Gunung Padang, saya melihat sendiri bagaimana Pak Oti memobilisasi rekan-rekannya, wartawan muda, membangun opini publik untuk menolak apa yang menurut keahliannya sebagai arkeolog sebuah "nonsense". Dari Dr. Daud Aris Tanudirjo, arkeolog UGM dari generasi yang lebih muda dari Pak Mundardjito, saya belajar tentang apa yang disebut sebagai arkeologi publik dan arkeolog publik (public arheologist). Pak Oti adalah contoh yang baik dari seorang arkeolog publik.

Komentarnya tentang kebesaran Majapahit yang hanya akan merupakan dongeng belaka jika kita tidak menemukan bukti-buktinya, menurut saya sebuah peringatan yang sangat penting untuk kita. Ada anggapan kuat bahwa kita adalah sebuah bangsa yang besar dengan sejarah kejayaan masa lampau yang gemilang. Bahwa secara geografis dan demografis Indonesia adalah negara yang besar tentu tidak ada yang membantah. Tapi anggapan bahwa kita adalah bangsa yang besar karena kita bangsa maritim, punya Majapahit dan Sriwijaya, bahkan punya  peninggalan yang lebih tua dari piramid di Mesir, sepertinya laiak direnungkan kembali.

Ketika akademia sebagai tempat insan akademis mengembangkan berpikir kritis menjadi semakin terancam oleh kooptasi negara, kepungan korporasi dan tekanan agama; orang seperti Pak Oti yang sangat rasional dengan karakter yang “no-nonsense” itu, ibarat mercusuar yang dibutuhkan saat kapal kita oleng dihempas badai di lautan lepas. Prof Mundardjito adalah seorang “scientist par exelence”. Arkeologi baginya adalah disiplin ilmu dengan teori dan metodologi untuk menemukan kebenaran fakta. Peninggalan masa lalu, betapapun keyakinan kita mengagungkannya, seperti halnya Kawasan Percandian Muarojambi, Sriwijaya dan Majapahit; hanya dongeng kalau kita tidak bisa membuktikan bahwa imperium dan peradaban besar itu memang pernah ada. Mungkin dongeng diperlukan, sebagai pelipur lara. Tapi sebagai sebuah bangsa yang diperlukan bukan dongeng. Atau, kita akan menjadi bangsa yang pangling dengan diri sendiri, tidak mau melihat kekurangan dengan berlindung pada dongeng-dongeng masa lampau yang penuh kegemilangan.

*Peneliti. Karya tulisanya terbit dalam bentuk jurnal ilmiah, buku dan tulisan populer. Seri Intelektual Publik terbit saban Senin di rubrik SosoK Kajanglako.com


Tag : #Sosok #Mundardjito #Arkeologi #Polemik Gunung Padang



Berita Terbaru

 

Jumat, 07 Agustus 2020 11:37 WIB

Al Haris Resmikan Wisata Edukasi Benuang


Kajanglako.com, Merangin - Bupati Merangin Al Haris, meresmikan wisata Edukasi Benuang, Jumat (7/8/20). Peresmian ini dilakukan usai Gerakan Pendidikan

 

Jumat, 07 Agustus 2020 00:39 WIB

PJ Sekda Lantik 35 Pejabat Fungsional Lingkup Pemprov Jambi


Kajanglako.com, Jambi - Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Provinsi Jambi H Sudirman SH MH, melantik 35 orang pejabat fungsional dalam lingkup Pemerintah

 

Jumat, 07 Agustus 2020 00:33 WIB

Rapat Evaluasi Penandatanganan Covid-19, PJ Sekda: Tekan Penambahan Kasus


Kajanglako.com, Jambi – Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Jambi menggelar Rapat Evaluasi Tim Gugus Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi

 

Kamis, 06 Agustus 2020 19:20 WIB

Kelurahan Pasar Sarolangun Gelar Pelatihan Relawan Siaga Bencana Tahun 2020


Kajanglako.com, Sarolangun - Pemerintah Kelurahan Pasar Sarolangun Kabupaten Sarolangun menggelar Pelatihan Pembinaan Kelembagaan Kemasyarakatan Relawan

 

Kamis, 06 Agustus 2020 19:15 WIB

30 Paskibraka Batanghari Dipastikan Gagal Tampil


Kajanglako.com, Batanghari - Sebanyak 30 siswa-siswi SMA terpilih yang telah mengikuti rangkaian seleksi untuk menjadi Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka