Minggu, 26 Januari 2020


Minggu, 22 Desember 2019 08:20 WIB

Perjalanan Snelleman ke XII Kota

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Pada tanggal 29 November, 1877, dengan berkendara kuda, mereka meninggalkan Bedar Alam, yang kini sudah terasa seperti rumah sendiri.  van Gussem, seperti biasa, memilih berjalan kaki. Jalan yang mereka telusuri sudah agak kering, walau permukaan air sungai masih sangat tinggi. Untunglah, di Pelaké mereka bertemu dengan Mully, pegawai Hindia-Belanda yang sedang menyiapkan jalan (raya) bersama beberapa orang kuli. Mully memberikan beberapa orang kuli untuk membantu mereka menyeberangi sungai. Para kuli itu ikut serta sampai ke Lambei; mereka kembali ke Pelaké, mengantongi upah yang diberikan van Hasselt atas bantuan mereka.



Di Lambei, mereka harus menyeberangi Soengei Liki. Tak ada masalah untuk melakukan ini karena sebatang pohon sudah ditebang dan terentang dari tepian yang satu ke tepian yang lain. Batang pohon itu cukup besar dan kokoh untuk dilalui oleh kuda. Di seberang, kuli-kuli yang membuat jalan sudah membangun pondok kecil yang berfungsi sebagai lapau. Van Hasselt dan rombongannya beristirahat di atas sebuah bangku di tepian sungai. Sekawanan siamang ramai melompat-lompat dan berkejaran di atas pepohonan.

Setelah lelah agak menghilang, perjalanan dilanjutkan. Baru beberapa langkah saja mereka meninggalkan tempat itu, hujan mulai turun. Hujan tropis yang deras dengan bulir-bulir air yang besar. Hujan itu tak henti turun sampai mereka tiba di Loeboe Gedang pada pk. 17.00. Rumah yang didatangi di dusun itu adalah rumah yang dulu juga digunakan sebagai tempat penginapan. Van Gussem dan seorang kuli yang membawa barang tiba malam itu juga. Kuli-kuli lainnya baru tiba siang hari keesokan harinya. Lima orang di antara kuli-kuli itu sakit: ada yang kakinya terluka; ada yang demam dan ada pula yang bahunya membengkak karena berlama-lama memanggul barang berat.

Tak banyak yang dapat dilakukan hari itu karena keterlambatan kedatangan kuli-kuli itu. Mereka menyiapkan barang-barang yang harus dibawa oleh Snelleman dan van Gussem ke Bedar Alam. Hanya satu catatan tambahan untuk hari itu: ketika sedang mencari tempat mandi yang lebih dekat ke rumah, mereka menemukan sebuah air terjun di dekat muara Soengei Lompatan. Dari dinding bukit yang curam,  riak-riak sungai tadi terjun ke aliran Soengei Liki.

Pada tanggal 1 Desember, mereka terbangun karena mendengar suara ramai di sekitar rumah negari tempat mereka menginap. Veth, yang terbangun duluan, melihat bahwa puncak Korintji tampak jelas. Biasanya puncak gunung itu tertutup awan atau kabut, tetapi pagi ini, puncak itu tampak jelas berlatar belakang langit yang biru cerah. Dengan bersemangat, ia segera membawa peralatan fotografinya ke luar rumah. Rekan-rekannya pun terbangun dan cepat-cepat keluar untuk menikmati pemandangan yang jarang ditemukan itu.

Namun demikian, tak ada waktu untuk menikmati pemandangan indah itu karena Snelleman, ahli zoologi, dan pemburu yang memandunya harus segera berangkat.  Pk 08.00, mereka berangkat. Dua belas orang kuli, yang dikepalai oleh Mandoer Kete, membawa barang-barang, berangkat pula. Lima orang kuli yang sakit beristirahat selama beberapa minggu di Bedar Alam.

Snelleman dan rombongannya menjelajah menuju XII Kota. Cerita selanjutnya disampaikan oleh Snelleman.

Setelah meninggalkan Bedar Alam, Snelleman dan timnya berjalan terus, tanpa henti, sampai ke Djapan. Warga dusun itu memberikan kelapa muda untuk menghilangkan dahaga. Lalu, sesudah berterima kasih dan pamit, mereka melanjutkan perjalanan ... dan langsung tersesat ke sebidang sawah. Beberapa orang perempuan sedang menanam padi. Entah berapa lama mereka menghabiskan waktu mencari jalan. Untunglah mereka bertemu dengan seorang lelaki yang dapat membantu. Rupanya mereka sudah mulai tersesat sejak beberapa saat setelah meninggalkan Djapan!

Etape terakhir penjelajahan mereka adalah rute di antara Loeboe Melaka ke Bedar Alam. Bagian perjalanan merupakan bagian yang terpanas. Mentari bersinar terik. Akan tetapi, di ujung jalan tampak XII Kota dengan rumah negari yang dituju.

Rumah negari itu berdinding kulit kayu dan beratapkan daun salö. Lantainya terbuat dari bilah-bilah bambu yang bergerak-gerak bila ada yang berjalan di atasnya. Segala sesuatu yang terletak di atas lantai pun berayun-ayun oleh gerak lantai itu. Tak mengherankan bahwa tak banyak perabotan di dalam rumah negari itu.

Di salah satu sisi ruang dalam rumah itu  dibatasi dengan dinding bambu untuk membuat dua buah kamar. Setiap kamar memiliki sebuah jendela kecil yang besarnya cukup bagi seseorang di dalam kamar untuk melongokkan kepala keluar. Di halaman, masih ada dua bangunan lagi, yaitu kandang ternak dan dapur.

Tak lama setelah Snelleman dan rombongannya tiba di rumah negari itu, seorang warga dusun—entah siapa—mengantarkan pinggan berisi berbagai kudapan, tabung bambu berisi kopi tradisional, daun pisang dan tembakau. Tentu saja, antaran selamat datang itu harus dibalas dengan mengirimkan pinggan berisi perhiasan dan pernak-pernik kecil.

Pk. 18.30, setelah matahari terbenam, kuli-kuli yang terakhir tiba. Ketika mereka sedang membongkar dan menyimpan barang-barang yang dibawa oleh kuli-kuli itu, datanglah tiga orang penghoeloe soekoe. Sampai malam, ketiga lelaki itu duduk mengobrol. Snelleman terpaksa menghentikan apa yang sedang dikerjakannya untuk beramah-tamah dengan tetamunya. Apakah begitu banyak waktu luang penghoeloe-penghoeloe soekoe itu sehingga dapat berlama-lama mengunjungi orang? Tentu saja pertanyaan itu hanya bergaung di dalam hatinya saja.

Salah seorang di antaranya banyak bercerita. Pertanyaannya lebih banyak lagi. Ceritanya yang terkesan melompat-lompat, membuat Snelleman terheran-heran bercampur geli. Penghoeloe Soekoe itu bercerita bahwa sekitar lima orang warga XII Kota pernah naik haji ke Mekkah. Cerita itu terpotong ketika ia melihat Snelleman memegang sebuah kaleng. Ia lalu bercerita tentang wadah-wadah kaleng yang digunakan dalam rumah tangga Melayu. Cerita tentang wadah-wadah kaleng itu terpotong ketika ia mengambil nafas.

Ia melanjutkan cerita. “Dua dari Bedar Alam,” katanya. “Dua dari Abei dan satu dari Doesoen Tengah.”

Rupanya cerita Penghoeloe Soekoe itu sudah kembali ke soal lima orang yang pergi naik haji tadi!

Setelah diam sebentar, lelaki itu lalu menyampaikan ia tidak setuju dengan kebijakan Belanda memberikan imbalan uang kepada Kepala Laras dan Penghoeloe Kepala, sementara Penghoeloe Soekoe—seperti dirinya, yang sebetulnya melakukan segala pekerjaan yang harus dilakukan, tidak mendapatkan apa-apa. Setelah menyampaikan keluhan ini, ia dan rekan-rekannya memohon diri.

Keesokan harinya, sejak pagi setelah sarapan, mereka mulai menata rumah negari itu. Snelleman menunggu-nunggu tukang kayu yang sudah dipesannya. Lelaki itu—yang sedianya akan membuatkan meja tulis untuknya—tak datang juga. Snelleman memutuskan untuk membuat sendiri sebuah meja tulis sederhana. Ia juga membuat sebuah meja makan sederhana dengan menggergaji sandaran punggung sebuah bangku kayu. Berbeda dengan orang Melayu yang dapat bekerja dan makan dengan cara duduk bersila di lantai, orang Eropa (termasuk Snelleman) merasa hanya dapat bekerja dan makan di meja.

Di halaman, seorang kuli memasang sebuah tiang bendera dan baling-baling angin (untuk melihat arah angin bertiup). Dengan hati puas, Snelleman melihat sekelilingnya. Rumah dan halaman sudah rapi; peralatan kerjanya sudah ditata di tempatnya masing-masing. Ia sudah dapat mulai bekerja.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Telusur



Berita Terbaru

 

Sabtu, 25 Januari 2020 22:27 WIB

Gubernur Fachrori Sampaikan Kesan Ini, pada Pisah Sambut Kepala BPS Provinsi Jambi


Kajanglako.com, Jambi – Gubernur Jambi Fachrori Umar, memuji Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi, mulai dari Kepala BPS sampai semua jajarannya,

 

Sabtu, 25 Januari 2020 17:46 WIB

Al Haris Lantik Ratusan Tim Pemenangan untuk Bungo dan Tebo


Kajanglako.com, Merangin - Al Haris kembali melantik tim pemenangannya untuk pemilihan gubernur periode 2021-2024. Sabtu (25/1/20), Bupati Merangin dua

 

Sabtu, 25 Januari 2020 15:00 WIB

KASN Bersurat ke Gubernur Jambi, Permintaan Klarifikasi Soal Nonjob Pejabat


Kajanglako.com, Jambi - Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) RI, menyurati Gubernur Jambi Fachrori Umar, berisi permintaan klarifikasi demosi dan nonjob

 

Sabtu, 25 Januari 2020 14:43 WIB

23 Tahun Tak Bersua, Ini Potret Reuni Akbar Alumni SMK Veteran Kota Jambi


Kajanglako.com, Jambi - Sabtu (25/1) pagi, bertempat di salah satu restoran di kawasan Sipin Kota Jambi, ratusan alumni SMK Veteran Kota Jambi dari tahun

 

Sabtu, 25 Januari 2020 12:02 WIB

Wabup Apri Tinjau Jalan Dusun Aur Cino, Masyarakat Antusias


Kajanglako.com, Bungo - Wakil Bupati Bungo H Safruddin Dwi Afriyanto melaksanakan kunjungan kerja di Dusun Senamat Ulu dan Aur Cino. Kunjungan Wabup ke