Minggu, 26 Januari 2020


Sabtu, 07 Desember 2019 08:30 WIB

Tambang Emas Telaki

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Mereka berencana untuk mengunjungi tambang emas di Telaki, melalui jalan lama, sementara para kuli membawa barang-barang ke Bedar Alam melalui jalan baru. Akan tetapi, pagi itu hujan turun deras sekali. Soengei Sangir membengkak. Mau tak mau, mereka terpaksa membatalkan rencana ke Telaki. 



Hujan membuat perjalanan itu seperti perjuangan. Mereka baru tiba di Ekoer menjelang pk 11.30. Setiap kali kecil sudah menjadi sungai besar yang mengalir deras. Dan, Soengei Ekoer pun membanjir. Airnya mengalir deras. Batang-batang pohon seolah-olah terbang, terlempar oleh arusnya. Tak terbayangkan bahwa dalam keadaan surut, orang dapat menyeberangi sungai itu begitu saja.  Itu tak mungkin dapat dilakukan! Apa akal?

Di tepi sungai, ada pohon durian hutan. Mereka memutuskan untuk menebangnya dan menggunakan batangnya sebagai jembatan. Ide brilyan ini tak mudah dilakukan karena mereka hanya memiliki sebuah kapak kecil dan beberapa parang. Akhirnya, dedaunan di pucuknya mulai bergerak dan batangnya berderak. Pucuk pohon itu jatuh ke arah seberang sungai, akan tetapi ternyata pucuk pohon itu terjatuh di air. Dedaunan yang masih menyangkut di cabang dan rantingnya sesaat menahan air sungai. Lalu, derasnya arus memutar keseluruhannya sehingga batang pohon itu kini berada di tengah-tengah sungai! Pohon durian itu gagal menjadi jembatan penyeberangan!

Sementara mereka sibuk berusaha membuat jembatan, Pakan berjalan sedikit ke arah hulu, ke tempat yang memungkinkannya berenang menyeberangi sungai. Di Moeara Ekoer, ia meminta Penghoeloe Kepala untuk mengirimkan perahu untuk menyeberangkan semua barang penjelajahan. Dua jam kemudian, hampir bersamaan dengan tumbangnya pohon durian tadi, perahu Penghoeloe Kepala tiba.

Perahu itu bolak-balik menyeberangkan barang-barang. Para kuli mencebur ke air dan berbasah-basah menyeberang. Lalu, tiba giliran kuda-kuda. Binatang-binatang itu pun harus diseberangkan. Pakan membimbing kuda van Hasselt masuk ke dalam air. Di seberang, kuda itu setengah mati naik ke tepian yang curam dan tinggi. Kini, tinggal kuda yang biasa ditunggangi oleh Veth.

Tak ada kuli yang bersedia membimbing binatang itu menyeberangi sungai. Karena itu, Veth memutuskan untuk melakukannya sendiri. Ia menunggangi kuda itu dan hati-hati, masuk ke dalam air. Supaya tidak terjatuh dari punggung kuda selama menyeberang, Veth berpegang kencang-kencang pada ekornya. Tetapi kuda itu membangkang. Ia tak mau ekornya menjadi pegangan. Kuda mencoba melepaskan diri dan kepala Veth beberapa kali terbenam di air sehingga ia terpaksa melepaskan ekor kuda itu. Ia pun jatuh ke dalam air. Kuda malang itu setengah berenang, setengah terbawa arus melewati tempat pendaratan. Binatang itu berhasil menepi. Sayangnya, tepian tempatnya berada terlalu curam. Ia tak berhasil naik ke darat. Binatang itu mulai panik dan berenang ke sana-kemari sampai akhirnya ia tersangkut di sebatang pohon durian. Sementara itu, Veth sudah berhasil menyeberang, tetapi ia tak dapat membantu kudanya. Setelah tersangkut, kuda itu diam beberapa saat, lalu ia berusaha melepaskan diri dan berhasil masuk lagi ke air. Kakinya bergerak-gerak seperti hendak berlari di dalam sungai dan sampai lagi ke seberang. Namun, hal itu rupanya tak disadari binatang itu dan ia terus berenang menentang arus, menjauhi Veth. 

Veth mulai putus asa. Ia khawatir bahwa kuda setia yang telah membawanya dalam penjelajahan dari Dataran Tinggi Padang akan mati kelelahan dan tenggelam di depan matanya. Untunglah, pada saat itu, perahu Penghoeloe Kepala tiba. Kuda itu berusaha berenang mendekati perahu itu dan berhasil sampai ke tepian yang agak landai. Ia berhasil diselamatkan oleh para kuli. Setelah kuda itu aman menjejak daratan, barulah Veth sendiri menyeberangi sungai.

Hari sudah sore, pk. 16.00, ketika semua barang dan orang berkumpul di tepian kiri Batang Ekoer. Tak lama kemudian, mereka tiba di dusun Moeara Ekoer. Mereka terpaksa menginap. Sambil makan dan beristirahat, mereka mematangkan rencana untuk mengunjungi tambang Telaki keesokan harinya.

Tak jauh dari Moeara Ekoer, Soengei Sangir terbagi dua menjadi dua aliran yang merangkul sebuah pulau yang ditumbuhi pepohonan aroe dan semak-belukar. Pada tanggal 21 November, van Hasselt, Veth, para kuli dan Penghoeloe Kepala berangkat menuju pulau itu. Cabang sungai  yang pertama agak dangkal sehingga mereka dapat berjalan di dalamnya. Cabang yang kedua lebih dalam. Mereka memerlukan perahu untuk menyeberanginya. Setelah berjalan tak berapa lama, mereka tiba di persawahan Telaki. Persawahan itu tidak terlalu luas; ukurannya kira-kira 100 meter kali 600 meter.

Untuk sampai di Telaki, mereka menyusuri pematang. Dusun itu, seperti juga persawahan yang baru dilewati, dilingkungi oleh pagar kokoh yang tingginya kira—kira satu meter. Lelaki yang tadi meminjamkan perahunya dan ikut berjalan bersama mereka memohon diri sehingga Penghoeloe Kepala mencari orang lain untuk memandu perjalanan dan membuka jalan dengan menebas semak-semak yang sudah menutup jalan itu.

Beberapa kerbau yang merumput di sebuah padang mengangkat kepala ketika mereka lewat. Lalu, mereka turun ke sungai kecil—Soengei Manginjato—yang airnya kering. Dasar sungai itu menjadi jalan yang ditelusuri selama beberapa waktu. Tepian sungai itu landai dan airnya dengan mudah dapat dialirkan untuk mengairi sawah-sawah di dekatnya.

Di beberapa tempat, tepian sungai dibendung dengan kayu. Menurut Penghoeloe Kepala, walau tambang Telaki tidak aktif lagi diolah, banyak orang mencari emas di Manginjato. Di tempat ini, banyak lubang-lubang di tanah, bekas bebatuan besar yang digeser dan dipindahkan untuk dapat mengambil dan menyaring pasir di bawahnya yang mengandung bijih emas. Mereka berjalan lebih jauh, kira-kira selama satu jam dan tiba di sebuah rumah yang bobrok di dekat sebuah kali. Beberapa pohon kelapa tumbuh di sekitarnya.

Di kali itu, seorang lelaki sedang menggali pasir. Ia tidak sendirian. Seorang anak laki-laki kecil yang telanjang bermain di dekat api unggun, tak jauh dari lelaki tadi. Melihat kedatangan rombongan penjelajahan, anak itu terkejut dan mulai menangis. Untunglah takutnya menghilang dan ia berhenti menangis ketika diberi kalung manik-manik.

Jalan itu—kali kecil tadi—membelok ke kiri dan menyeruak di antara dinding batu di kiri dan kanan yang begitu sempitnya sampai-sampai mereka harus memiringkan badan untuk melewatinya. Dinding batu itu sendiri penuh dengan tanaman pakis besar-besar. Untunglah celah sempit itu tidaklah panjang. Dan perjalanan tak jauh lagi. Tambang-tambang emas itu sudah dekat.

Kali kecil yang mereka gunakan sebagai jalan rupanya berfungsi sebagai saluran untuk mengalirkan air dari sumur-sumur vertikal bekas tambang. Di bagian atas, sumur-sumur itu berbentuk segi empat dengan kedalaman dua meter. Balok-balok kayu yang kokoh membentuk kerangka yang menahan dinding sumur supaya tanah di dekatnya tak jatuh ke dalamnya. Di bagian bawah, sumur itu menyempit sehingga membentuk corong.

Pemiliknya, Penghoeloe Kepala, menceritakan banyak hal mengenai tambangnya. Tambang yang terakhir diolah berkedalaman sepanjang tiga badan lelaki (kira-kira 4.8 – 5 meter). Di sini tampak adanya bebatuan biru (blauwe schiefer) yang mengandung emas. Juga ada batoe piraq djadjau—semacam batu pyriet—yang karena tampak seperti tembaga menimbulkan desas-desus (di antara orang Belanda) bahwa di tanah di Telaki mengandung tembaga. Nyatanya, tak seorang pun pernah mendengar tentang adanya tembaga di Telaki dan bahkan, warga setempat sama sekali tidak mengerti apa itu tembaga!

Barangkali karena tambang itu lebih banyak merepotkan daripada menghasilkan keuntungan, maka usaha penambangannya dihentikan. Yang terakhir menambang di daerah ini adalah orang-orang dari Abei. Pemandu jalan bercerita bahwa waktu itu, mereka menggali selama dua tahun untuk mencapai kedalaman yag diinginkan. Sejak tiga tahun lalu, tempat itu tak lagi ditambang sebab, menurut Penghoeloe Kepala,  ‘negöri lapaw" (orang negari kelaparan). Artinya, hasil tambang itu tak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan makan.

Biasanya sebanyak 16 orang menambang di satu sumur. Peralatan tambang, makan dan rokok bagi para penambang disediakan oleh pemilik sumur tambang. Pemilik sumur tambang berhak atas separuh hasil tambang, sementara separuh diserahkan sebagai bagian dan upah para penambang. Orang Toewo bercerita bahwa bongkah emas terbesar yang pernah diketemukan berbobot 6 tail dan bernilai ƒ 384,-.

Dalam perjalanan pulang, mereka melihat dua orang perempuan sedang mengayak pasir, mencari emas. Yang seorang berumur kira-kira 50 tahun, yang satu lagi lebih muda, berusia sekitar 30 tahun. Yang muda sedang hamil tua, tetapi hal itu tampaknya tidak menjadi penghalang baginya untuk bekerja keras.  Dalam waktu 1o menit, kedua perempuan itu sudah berhasil mengumpulkan bijih emas senilai 6 duit (duit adalah mata uang yang digunakan VOC. Delapan duit bernilai ƒ 0.50; 160 duit bernilai ƒ 1,-). 

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Telusur #Ekspedisi Sumatra Tengah #Sejarah Jambi #Naskah Klasik Belanda



Berita Terbaru

 

Sabtu, 25 Januari 2020 22:27 WIB

Gubernur Fachrori Sampaikan Kesan Ini, pada Pisah Sambut Kepala BPS Provinsi Jambi


Kajanglako.com, Jambi – Gubernur Jambi Fachrori Umar, memuji Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi, mulai dari Kepala BPS sampai semua jajarannya,

 

Sabtu, 25 Januari 2020 17:46 WIB

Al Haris Lantik Ratusan Tim Pemenangan untuk Bungo dan Tebo


Kajanglako.com, Merangin - Al Haris kembali melantik tim pemenangannya untuk pemilihan gubernur periode 2021-2024. Sabtu (25/1/20), Bupati Merangin dua

 

Sabtu, 25 Januari 2020 15:00 WIB

KASN Bersurat ke Gubernur Jambi, Permintaan Klarifikasi Soal Nonjob Pejabat


Kajanglako.com, Jambi - Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) RI, menyurati Gubernur Jambi Fachrori Umar, berisi permintaan klarifikasi demosi dan nonjob

 

Sabtu, 25 Januari 2020 14:43 WIB

23 Tahun Tak Bersua, Ini Potret Reuni Akbar Alumni SMK Veteran Kota Jambi


Kajanglako.com, Jambi - Sabtu (25/1) pagi, bertempat di salah satu restoran di kawasan Sipin Kota Jambi, ratusan alumni SMK Veteran Kota Jambi dari tahun

 

Sabtu, 25 Januari 2020 12:02 WIB

Wabup Apri Tinjau Jalan Dusun Aur Cino, Masyarakat Antusias


Kajanglako.com, Bungo - Wakil Bupati Bungo H Safruddin Dwi Afriyanto melaksanakan kunjungan kerja di Dusun Senamat Ulu dan Aur Cino. Kunjungan Wabup ke