Senin, 16 Desember 2019


Minggu, 01 Desember 2019 10:08 WIB

Sanggar Obat di Abei

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Pk. 11.30, tahun 1877, perjalanan dilanjutkan. Mereka segera melewati Poelau Kakaran, dusun tempat menginap malam sebelumnya. Tak jauh, mereka berhenti sejenak untuk beristirahat dan makan jagung yang dibeli dalam perjalanan. Matahari bersinar cerah. Tak ada awan sedikit pun di langit yang biru. Di atas perahu, tak ada tempat untuk berteduh. Sinar mentari yang cerah itu lama-kelamaan terasa mulai membakar kulit. Mereka tak pula dapat bersantai-santai perahu-perahu itu karena percepatan arus sungai membuat perahu-perahu itu penuh dengan air yang harus diciduk dan dikembalikan ke sungai.



Mereka baru tiba di muara Soengei Sangir menjelang matahari terbenam. Gage dan Mantri sudah membangun pondok bambu yang besar. Kedua orang itu duduk-duduk mengobrol dengan beberapa lelaki dari Doesoen Tengah yang sedang dalam perjalanan melayari Batang Hari. Perahu mereka ditambatkan di dekat pondok.

Sementara mereka mengobrol asyik, van Hasselt pergi mandi ke sungai.Ia berenang sampai ke tengah sungai. Bukan main segarnya air  itu. Tiba-tiba, kedua kakinya kejang. Ia berteriak dan berusaha kembali ke tepian, akan tetapi kakinya tak dapat digerakkan. Perlahan-lahan, ia mulai tenggelam. Untunglah teriakannya terdengar oleh orang-orang di pondok. Pakan dan Angkoe Moeda berlari tunggang-langgang, naik perahu dan mendayung secepat mungkin ke tengah sungai. Mereka menyelamatkan van Hasselt. Ia bersyukur. Malam itu pun membuatnya bersyukur. Sinar bulan gemilau di atas air memesona semua orang. Kedamaian itu hanya terganggu oleh nyamuk saja. Bukan hanya seekor, tetapi ratusan, bahkan mungkin ribuan! Hanya kelambu dan sarung saja yang dapat menyelamatkan mereka dari serangan nyamuk-nyamuk itu.

Pagi-pagi, beberapa pendayung menangkap ikan-ikan kecil yang kemudian digoreng oleh Koki untuk sarapan pagi. Beberapa jam kemudian, dengan perut kenyang, mereka berangkat. Ke Soengei Sangir. Arus deras di sungai yang mendangkal memaksa mereka berkali-kali keluar perahu untuk menarik atau mendorongnya melewati rintangan berupa bebatuan atau batang-batang pohon yang tumbang. Di tepian, hanya tampak ladang-ladang yang terlantar. Tak ada permukiman sama sekali. Bahkan dusun Moeara Sangir, yang oleh orang di Moeara Laboeh, memiliki tujuh buah rumah, kini sudah menghilang tanpa bekas.

Semakin lama, bebatuan di tepian sungai semakin banyak dan semakin besar sampai akhirnya menjadi bukit kapur yang menjulang dari kedalaman sungai. Alam di sekitarnya terkesan seperti alam perawan yang belum tersentuh tangan manusia. Keindahannya tak tertara. Mereka melewati bebatuan megah yang mencengangkan: Batoe Panggang Koelari (yang disebut demikian karena banyak ikan koelari di dekatnya); lalu Batoe Koetjing dan Sangkar Poejoeh.

Pulau-pulau di tengah sungai maupun daratan di kiri-kanan sungai ditumbuhi oleh pepohonan aru. Buahnya yang kecil dan berwarna hijau banyak dimakan oleh orang Melayu di daerah ini, walau rasanya agak hambar. Di muara Asahan, di dekat Batoe Boemboeng, sebuah perahu tertambat. Dua orang lelaki duduk di perahu itu. Mereka adalah kuli-kuli penjelajahan yang diutus dari Abei oleh Snelleman untuk mengantarkan setumpuk surat dan koran. Berita-berita di dalam koran-koran itu sudah basi tentunya, tetapi di daerah yang terpencil seperti ini, membaca koran tua seperti itu merupakan satu-satunya jalan untuk mengetahui apa yang terjadi di dunia.

Tempat terakhir yang dilewati adalah Poelau Seiran, sebuah dusun kecil yang terdiri dari dua pondok saja. Mantan Penghoeloe Kepala tinggal di dusun ini. Kemudian, dusun Djoedjoean, yang terdiri dari sembilan buah rumah. Dusun ini terletak di tempat aliran Soengei Djoedjoean menyatu dengan aliran Soengei Sangir. Di seberang Djoedjoean, terdapat Sinoe, dusun yang terdiri dari empat buah rumah.

Di Djoedjoean, mereka menambatkan perahu-perahu yang selama ini mengantarkan mereka menjelajah. Perjalanan dilanjutkan di darat, menuju Abei. Rumah-rumah di Djoedjoean berjajar sepanjang sungai. Kesemuanya dilingkungi oleh sebuah pagar. Sawah-sawah milik warganya—yang tidak diolah—terdapat di luar pagar itu. Tak banyak lelaki yang tampak di dusun itu. Beberapa orang perempuan dan anak-anak saja yang terlihat. Kaum perempuan mengenakan kain biru yang dililitkan di tubuh seperti sarung. Gelang dan kalung manik-manik berwarna melilit leher dan lengan mereka. Rambut mereka digelung rapi di atas kepala.

Orang dusun ini biasa memeras minyak simauoeng. Yang diperas untuk membuat minyak adalah bijinya. Di mana-mana memang tampak tumpukan buah simauoeng yang membusuk karena rupanya daging buahnya tidak dimakan.

Dengan langkah-langkah besar, lelaki-lelaki Belanda berkaki panjang itu cepat sampai di Abei. Pk 16.00. Perahu-perahu yang membawa barang-barang mereka baru tiba dua jam kemudian.

Dua hari—tanggal 18 dan 19 November—mereka tetap tinggal di Abei. Veth berkeliling untuk membuat foto alam sekitar. Van Hasselt menyelesaikan urusan administrasi penjelajahan. Para pemilik perahu menerima sewa perahu sebesar f 12.80 dan lima lembar kain.

Van Hasselt menulis: Abei adalah dusun yang tidak menyenangkan tanpa hal-hal yang menarik dilihat. Walaupun demikian, ia mencatat adanya semacam apotek (tradisional) Melayu yang dilihatnya di sana. Apotek itu mengingatkan pada sebuah ‘sanggar’ berbentuk rumah yang terbuat dari tangkai salak. Di dalamnya terdapat sembilan buah wadah yang terbuat dari daun pisang. Wadah-wadah itu disusun berjajar tiga. Di daerah ini, wadah-wadah itu disebut ‘lantoek’; di tempat lain, dikenal dengan nama ‘liméh’. Masing-masing wadah berisi air, beras, sirih, bagian-bagian tanaman tertentu dan sejumput makanan. Kesemua itu dianggap dapat digunakan untuk mengobati manusia, binatang dan tanaman. Menurut warga setempat, obat-obat itu ampuh untuk menghadapi gangguan jin—mahluk halus penyebab segala penyakit. Obat-obat itu dapat mengobati cacar air, dapat memanggil hujan dan membasmi hama yang menyerang padi di sawah.

Tentu saja, van Hasselt dan timnya sangat tertarik untuk mendapatkan apotek tradisional seperti itu untuk melengkapi koleksi etnografi penjelajahan. Mereka memesan sebuah sanggar obat-obatan. Seseorang menyampaikan bahwa dukun yang memperkenalkan sanggar obat-obatan itu berasal dari Rantau Batang Hari. Ketika meninggalkan sanggar itu di Abei, ia menyampaikan berbagai hal mengenai cara penggunaan obat-obat itu dan berbagai mantra supaya obat-obatan itu betul-betul ampuh dan manjur.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #telusur #ekspedisi sumatra tengah #naskah klasik belanda #sejarah jambi



Berita Terbaru

 

Minggu, 15 Desember 2019 02:14 WIB

Songsong Pilgub 2020, Lembaga Survei ADRC Sasar Pengguna Smartphone


Kajanglako.com, Jambi - Di tengah perkembangan dan kemajuan teknologi di Era digitalisasi 4.0, semua sistem baik dari segi perencanaan, input dan output

 

Sosok dan Pemikiran
Sabtu, 14 Desember 2019 08:33 WIB

Soedjatmoko


Oleh: Manuel Kaisiepo* Membaca ulang pemikiran dalam buku The Fourth Industrial Revolution (2016) karya Klaus Schwab, pendiri dan Ketua World Economic

 

Jumat, 13 Desember 2019 23:46 WIB

Sidak Limbah PT SGN, Komisi III dan LH Langsung Uji pH


Kajanglako.com, Merangin - Komisi III DPRD Merangin sidak ke PT Sumber Guna Nabati (SGN), Jumat (13/12). Ini merupakan tindak lanjut dari adanya keluhan

 

Jumat, 13 Desember 2019 23:42 WIB

Ketua Organisasi Jurnalis Bungo Kecam Sikap Arogan Oknum Security RSUD H Hanafie


Kajanglako.com, Bungo - Penghalangan peliputan oleh jurnalis di Kabupaten Bungo kembali terjadi. Kali ini dilakukan oleh sucurity RSUD H Hanfie Muara Bungo,

 

Jumat, 13 Desember 2019 16:46 WIB

Dua Tersangka Korupsi Proyek PLTMH Sebesar 2,6 Milyar Diamankan Polres Sarolangun


Kajanglako.com, Sarolangun - Polres Sarolangun merilis tersangka dugaan korupsi proyek Pembangkit Listrik Mikro Hidro (PLMTH) di Desa Batin Pengambang