Senin, 16 Desember 2019


Selasa, 26 November 2019 10:00 WIB

Gunawan Wiradi

Reporter :
Kategori : Sosok

Penulis

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Tidak banyak yang mengetahui kalau ketua tim penyusun draf Undang-undang Penanaman Modal Asing (PMA) pada tahun 1966 adalah Selo Sumardjan,  seorang ahli sosiologi. Fakta ini saya temukan dalam buku Jeffrey Winters, Power in Motion: Capital Mobility and The Indonesian State (Ithaca: Cornell University Press, 1996), sepuluh tahun setelah Indonesia: The Rise of Capital karya Richard Robison (Allen & Unwin: 1986).



Dalam buku yang semula merupakan disertasi doktornya (1991) di Yale university, Jeffrey Winters mengungkapkan dengan sangat rinci bagaimana proses transformasi ekonomi Indonesia dari yang semula menentang imperialisme dan neo-kolonialisme, secara perlahan-lahan kemudian sepenuhnya berada dalam pelukan kapitalisme. Sejak awal Orde Baru pergerakan investasi modal asing dan hutang terbukti dikontrol oleh para kapitalis (financial controlers) yang berada di luar kendali negara.

Dibuatnya UU penanaman modal asing adalah bentuk kesediaan Negara menuruti kemauan para kapitalis untuk mau menggerakkan modalnya ke Indonesia. Negara perlu menciptakan “investment climate” yang ramah terhadap para investor.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa Selo Sumardjan? Jawabnya, seperti dapat kita baca dalam buku Jeffrey Winters itu, karena Selo Sumardjan adalah sekretaris pribadi Sultan Hamengku Buwono ke IX yang merupakan salah satu di antara tiga tokoh utama, selain Jendral Suharto dan Adam Malik; yang menjadi tryumphvirat pasca peristiwa 1965 dan digulingkannya Presiden Sukarno.

Alkisah, ambruknya ekonomi Indonesia yang ditandai oleh tingkat inflasi yang mencapai 600 persen itu, memaksa Indonesia untuk mencari pinjaman hutang dari negara-negara barat yang oleh Sukarno dimusuhinya.

Satu-satunya tokoh yang masih dipercaya oleh negara-negara barat dalam situasi yang dianggap sebagai krisis ekonomi itu hanyalah Sultan Hamengku Buwono IX. Sebuah delegasi yang diketuai oleh Sultan Hamengkubuwono IX dan Selo Sumardjan selaku sekretaris, sebagai anggota antara lain Adam Malik, Mohamad Sadli dan Emil Salim, mengadakan pertemuan penting dengan para CEO Multi National Corporation di Jenewa awal 1967, dengan satu tujuan mengundang para investor itu ke Indonesia.

Undang Undang Penanaman Modal 1966 yang draft-nya banyak dibantu oleh konsultan dari Amerika itu, adalah sebuah kunci pembuka almari yang berisi harta karun kekayaan alam Indonesia yang sejak lama menjadi incaran negara-negara barat.

Adalah sebuah ironi sejarah ketika konsorsium negara-negara kapitalis barat yang bersedia meminjamkan hutang kepada Indonesia, IGGI (inter-Governmental Group on Indonesia) diketuai oleh Belanda, bekas penjajah Indonesia. Neo-kolonialisme yang sebelumnya ditentang habis-habisan oleh Sukarno, oleh Orde Baru justru diundang dengan penuh rasa hormat masuk ke Indonesia.

Kisah ini menurut hemat saya background yang tepat untuk menempatkan sosok Gunawan Wiradi yang tanggal 29 Agustus yang lalu genap berusia 87 tahun. Sosok Gunawan Wiradi yang dikenal  lekat dengan isu reforma agraria dan “land reform”, yang sejak berakhirnya Orde-Baru seperti ingin dibangkitkan kembali dari kuburnya itu, menjadi bagian penting dari komitmennya yang kuat terhadap isu yang lebih besar yaitu keadilan sosial.

Sebuah buku biografi yang sangat bagus tentang Gunawan Wiradi, akrab dipanggil GWR itu, terbit sebagai kado ulang tahunnya yang ke 87 belum lama ini. Membaca buku “GWR Jali Merah: Dari berbagai tuturan biografis Gunawan Wiradi”, yang ditulis oleh Surya Saluang, kita menyaksikan perjalanan hidup sebuah pribadi yang melintasi zaman Orde-Lama ke Orde-Baru dengan penuh passion, terombang-ambing dalam pendulum politik yang bergerak cepat, namun tetap memegang komitmennya terhadap keadilan sosial dan orang kecil, khususnya para petani.

Ketika hari-hari ini reforma agraria seperti hidup kembali, dalam kebijakan pemerintah dan seminar-seminar para ahli; pastilah bukan seperti yang diharapkan oleh Gunawan Wiradi. Konteks sosial politik telah berubah hampir 360 derajat, reforma agraria sebagaimana dibayangkan oleh Gunawan Wiradi, telah berkembang sedemikian rupa, semakin menjauh dari konsep aslinya.

Yang menarik, Gunawan Wiradi bukanlah seorang yang mudah menyerah, atau tenggelam dalam sinisime. Melewati masa-masa sulit ketika terjadi pergantian rezim politik, bersama Profesor Sayogyo, kakak kelas yang kemudian menjadi sahabat dekatnya; GWR terus menekuni karirnya sebagai pengajar dan peneliti agraria di IPB.

Ket: Gunawa Wiradi. Sumber foto: law-justice.co

Persoalan agraria adalah persoalan  pokok bangsa Indonesia, namun kita semua tahu petani selalu merupakan warga bangsa yang terus berada di lapisan bawah kelas sosial ekonomi kita. Dalam berbagai kesempatan GWR selalu mengingatkan pesan Mohamad Hatta, wakil presiden dan proklamataor, “jangan sampai tanah diperjualbelikan”. Mungkin pesan ini pula yang kemudian menjadi spirit Undang-undang Pokok Agraria (UUPA) 1960 yang mengatakan bahwa tanah memiliki fungsi sosial. Ketika tanah menjadi komoditas yang bisa diperjualbelikan, ketika itu pula tanah tidak mungkin lagi diredistribusikan secara adil, sebagai bagian penting dari reforma agraria.

Setiap kali mendengarkan Gunawan Wiradi bicara, meskipun seperti belum kehilangan optimisme, ada nada kegetiran yang tidak bisa disembunyikan melihat berbagai perubahan yang terjadi, seperti dikatakannya pada suatu saat, “kita sekarang sebetulnya tidak lagi memiliki UUD 1945, karena yang ada isinya sudah lain, sudah porak poranda”. Mungkin yang membuat Gunawan Wiradi tetap memiliki optimisme adalah anak-anak muda yang terus menemaninya, mengajaknya berdiskusi, dan menjadikannya seorang panutan yang mustahil tergantikan, ketika berbicara tentang reforma agraria. Gunawan Wiradi pada dasarnya adalah seorang ilmuwan sejati, berbicara dan menulis berdasarkan fakta dan data yang dia temukan dari penelitian; tidak sedikit yang dilakukan bersama peneliti dari luar negeri.

Kolaborasinya dengan peneliti asing, bukanlah kolaborasi yang bersifat instant dan sekedar proyek; namun sebuah kolaborasi yang setara dan jangka panjang, yang menunjukkan integritasnya sebagai ilmuwan yang telah teruji. Dalam daftar publikasinya, bisa dilihat sederet kerjasamanya dengan Ben White, peneliti asing yang mungkin paling penting ketika berbicara tentang reforma agraria di Indonesia. Penelitian intensifnya bersama Jan Breman, seorang ilmuwan kritis dari Belanda, terbit sebagai buku Good Times and bad Timesin Rural Java (Brill, 2002).

Mencoba mengenal Gunawan Wiradi dari dekat, saya melihat ada satu hal yang tampaknya membedakannya dari yang lain, yaitu konsistensinya untuk melakukan resistensi terhadap perubahan yang telah berlangsung di sekelilingnya, terutama setelah peristiwa traumatis 1965. Gunawan Wiradi memang tepat disebut sebagai “jalimerah”, sesuatu yang mewakili spirit masa lampau yang sebetulnya tidak terlalu jauh tergerus tetapi tetap bertahan. Ketika pemerintahan hari ini, sepert iingin mengulang sejarah awal Orde-Baru, bagaimana menciptakan “investment climate” yang ramah dengan investor asing, mungkin tinggal GWR yang tahu bagaimana seharusnya melakukan resistensi, meskipun tergerus tetapi tetap berusaha bertahan!

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk jurnal ilmiah, buku dan tulisan populer. Rubrik SosoK ini terbit saban Senin di Kajanglako.com


Tag : #Sosok #Reforma Agraria #Penanaman Modal Asing #Orde Baru #Kapitalisme #Selo Sumardjan #Sultan Hamengku Buwono ke IX #Adam Malik #Land Reform



Berita Terbaru

 

Minggu, 15 Desember 2019 02:14 WIB

Songsong Pilgub 2020, Lembaga Survei ADRC Sasar Pengguna Smartphone


Kajanglako.com, Jambi - Di tengah perkembangan dan kemajuan teknologi di Era digitalisasi 4.0, semua sistem baik dari segi perencanaan, input dan output

 

Sosok dan Pemikiran
Sabtu, 14 Desember 2019 08:33 WIB

Soedjatmoko


Oleh: Manuel Kaisiepo* Membaca ulang pemikiran dalam buku The Fourth Industrial Revolution (2016) karya Klaus Schwab, pendiri dan Ketua World Economic

 

Jumat, 13 Desember 2019 23:46 WIB

Sidak Limbah PT SGN, Komisi III dan LH Langsung Uji pH


Kajanglako.com, Merangin - Komisi III DPRD Merangin sidak ke PT Sumber Guna Nabati (SGN), Jumat (13/12). Ini merupakan tindak lanjut dari adanya keluhan

 

Jumat, 13 Desember 2019 23:42 WIB

Ketua Organisasi Jurnalis Bungo Kecam Sikap Arogan Oknum Security RSUD H Hanafie


Kajanglako.com, Bungo - Penghalangan peliputan oleh jurnalis di Kabupaten Bungo kembali terjadi. Kali ini dilakukan oleh sucurity RSUD H Hanfie Muara Bungo,

 

Jumat, 13 Desember 2019 16:46 WIB

Dua Tersangka Korupsi Proyek PLTMH Sebesar 2,6 Milyar Diamankan Polres Sarolangun


Kajanglako.com, Sarolangun - Polres Sarolangun merilis tersangka dugaan korupsi proyek Pembangkit Listrik Mikro Hidro (PLMTH) di Desa Batin Pengambang