Senin, 16 Desember 2019


Senin, 18 November 2019 10:00 WIB

Gunarti

Reporter :
Kategori : Sosok

Penulis

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Imajinasi saya begitu terbatas untuk bisa membayangkan, apalagi merasakan dan mengerti bagaimana menjadi seorang perempuan seperti Gunarti. Dibesarkan dalam keluarga sedulur sikep di kawasan pertanian antara Kudus dan Pati, bagian dari pegunungan kapur Kendeng yang dilihat dari jauh seperti raksasa sedang lelap tidur.



Meski praktis tidak bersentuhan dengan bangku sekolah seperti umumnya anak-anak di pedesaan Jawa, tetapi Gunarti tumbuh sebagai seorang yang tidak saja sadar bahwa pertanian perlu dipertahankan, namun juga keyakinan yang mendalam bahwa ibu bumi harus disantuni kalau manusia mau selamat.

Pada suatu siang yang cukup terik, saya menyempatkan diri mencari rumah Pak Wargono, ayah kandung Gunarti, yang akhirnya ketemu setelah beberapa kali bertanya pada orang di pinggir jalan atau di tepi sawah. Saya datang tanpa memberitahu sebelumnya. Sesampai di rumah Pak Wargono lepas tengah hari, dibukakan pintu oleh Bu Wargono, dengan baju kebaya dan kain batik sederhana, tanpa ada kesan ragu menyilahkan masuk setelah saya ingatkan kalau saya pernah bertemu di Sukolilo beberapa waktu sebelumnya. Pak Wargono rupanya baru pulang dari sawah, hanya mengenakan celana pendek warna hitam tanpa baju memperlihatkan badannya yang masih tegap berotot tanda kebiasaannya mencangkul dan mengarit di tanah pekarangan dan sawahnya. Mungkinkah manusia hidup tanpa tanah? Betapa benarnya sedulur sikep.

Ket: Gunarti. Sumber foto: Penulis.

Karena rupanya Bu Wargono dan Pak Wargono sudah waktunya makan siang, saya pun diajak makan siang bersama mereka, nasi dan sayur lodeh mungkin hasil dari kebun dan sawah mereka sendiri. Kami ngobrol ngalor ngidul di ruangan tengahnya yang teduh, tidak terasa diam-diam saya menemukan sebuah kedalaman hati dalam kesederhanaan yang penuh harga diri. Mungkin dari kacamata orang kota mereka terlihat miskin, tetapi jelas ada integritas sebagai manusia, ada kesetaraan antara laki-laki dan perempuan yang "genuine" di sana, rasa solidaritas terhadap sesama dan sikap sukur terhadap alam yang telah mengkaruniai ketentraman dan kehidupan.

Dari sebuah keluarga sedulur sikep yang sederhana seperti keluarga Pak dan Bu Wargono inilah lahir orang seperti Gunarti dan kakaknya Gunretno; yang keduanya bahu membahu bersama sedulur sikep lainnya serta tetangga-tetangganya yang menjadi petani di kawasan gunung Kendeng tidak mengenal lelah dan putus asa terus menyuarakan kepentingan mereka sebagai petani, yang saat ini terancam masa depannya karena pemerintah membiarkan sebuah pabrik semen terus beroperasi meskipun bukti-bukti menunjukkan kerusakan yang telah dan akan terjadi di kawasan gunung kapur Kendeng, yang merupakan tempat menyimpan air tanah yang sangat diperlukan tidak saja untuk mengairi sawah, tetapi juga untuk berbagai keperluan manusia untuk kelangsungan hidupnya.

Keprihatinan untuk melestarikan lingkungan pegunungan kapur Kendeng sudah disuarakan oleh kakak beradik Gunarti dan Gunretno lebih dari sepuluh tahun yang lalu, bahkan tidak hanya sekali mereka menyampaikan keprihatinan itu langsung kepada Presiden Jokowi di istana maupun di tempat lain.

Berkali-kali dengan para petani dari kabupaten-kabupaten lain yang mengalami ancaman dari pabrik-pabrik semen, dengan ongkos yang mungkin dikumpulkan dengan susah payah untuk menyewa truk atau naik bis, mereka melakukan demo di depan istana di Jakarta, di depan kantor gubernur di Semarang; menyuarakan protesnya menolak kehadiran pabrik semen yang secara hukum seharusnya dicabut ijin operasinya.

Dalam aksi protes yang dilangsungkan secara damai itu, Gunarti dengan kain dan kebayanya yang serba hitam dan caping bambu dengan tulisan “Tolak Semen”,  selalu melantunkan sebuah tembang, dengan suaranya yang lirih menggetarkan,

 

Ibu bumi wis maringi

Ibu bumi dilarani

Ibu bumi kang ngadili.

 

(Ibu bumi sudah memberi

Ibu bumi disakiti

Ibu bumi yang mengadili)

 

Kesederhanaan, kedalaman hati, harga diri dan integritas serta solidaritas dengan sesama yang secara turun temurun dimiliki sedulur sikep terbukti mampu mengartikulasikan  sebuah kesadaran akan ancaman masa depan yang bakal dialami oleh planet bumi yang oleh para cerdik-pandai di negeri-negeri maju telah ramai dikemukakan. Planet bumi jika tidak mulai sekarang diselamatkan akan terjadi “catasthrope” akibat dari apa yang sering disebut-sebut sebagai "global warming" dan "climate change". Gunarti dan sedulur sikep serta tetangga-tetangganya di pegunungan kapur Kendeng bukannya memiliki kesimpulan yang sama tentang “ibu bumi kang ngadili”, dengan para cerdik-pandai di negeri-negeri maju itu?

Dan ketika di negeri-negeri maju di Eropa, Skandinavia, Australia, New Zealand, Jepang, Amerika dan Kanada; masyarakatnya merindukan kembali ke alam, dan untuk itu mereka menciptakan kota-kota dan hunian yang ramah lingkungan; Gunarti dan komunitasnya di Kendeng tanpa harus menjadi negeri maju, sudah hidup menyatu dengan alam, sesuatu yang sangat dirindukan oleh orang-orang yang hidup di negeri maju.

Jika demikian, “maju” atau “kemajuan” seperti apa sebenarnya yang sedang kita imajinasikan? Dalam kesederhanaannya, Gunarti mengajari sendiri anak-anaknya dan anak-anak sedulur sikep lainnya tidak saja membaca dan menulis, tetapi juga bertani dan berkesenian. Buat apa menjadi pintar kalau hanya untuk menipu dan tidak bisa mengajarkan bagaimana hidup bersama.

Pemerintahan di Indonesia pasca 1965 hingga hari ini terus membabat hutan di Sumatra, Kalimantan dan sekarang di Papua tanpa kendali dan tanpa rasa bersalah. Pak Gunawan Wiradi dari Sayogyo Institute, yang telah melewati berbagai pergantian pemerintahan, pernah bilang, kalau zaman Bung Karno tidak ada satu batang pohon pun yang ditebang.

Selain membabat hutan dengan ganas, kota-kota dibangun tanpa perencanaan yang jelas menjadi tempat hunian yang tidak ramah dengan lingkungan dan membiarkan warga negaranya yang mayoritas miskin menghirup udara kotor, karena asap yang keluar dari pabrik-pabrik dan jalanan yang penuh sesak dengan mobil dan motor.

Mencoba mengejar dan meniru menjadi negeri maju seperti yang sampai hari ini dilakukan oleh pemerintahan di negeri ini tidak hanya mencerminkan sebuah kesia-siaan, tapi juga sebuah proses menuju kematian secara perlahan-lahan, karena manusia telah menyakiti alam yang telah memberi kehidupan, dan tinggal menunggu saatnya saja alam akan mengadili manusia.

Berangkat dari kesahajaan, Gunarti dan sedulur sikep bersama tetanga-tetangganya yang menghuni kawasan pegunungan kapur Kendeng terus menagih janji yang pernah diucapkan dari mulut Presiden Jokowi di istana Negara untuk memperhatikan nasib mereka yang terancam oleh kehadiran pabrik semen yang amdalnya amburadul itu, tapi jangan-jangan Presiden Jokowi memang sudah tidak ingat lagi akan janjinya, beliau disibukkan oleh mimpinya sendiri akan "Indonesia Maju" mengejar ketinggalan dari negeri-negeri maju. Haruskah kita belajar dari sedulur sikep bahwa kemajuan bukan orang lain yang menentukan tetapi hati kita sendiri?

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk jurnal ilmiah, buku dan tulisan populer. Rubrik SosoK terbit saban Senin di Kajanglako.com


Tag : #Sosok #Sedulur Sikep #Gunretno #Gunarti #Kendeng #Pabrik Semen #Presiden Jokowi



Berita Terbaru

 

Minggu, 15 Desember 2019 02:14 WIB

Songsong Pilgub 2020, Lembaga Survei ADRC Sasar Pengguna Smartphone


Kajanglako.com, Jambi - Di tengah perkembangan dan kemajuan teknologi di Era digitalisasi 4.0, semua sistem baik dari segi perencanaan, input dan output

 

Sosok dan Pemikiran
Sabtu, 14 Desember 2019 08:33 WIB

Soedjatmoko


Oleh: Manuel Kaisiepo* Membaca ulang pemikiran dalam buku The Fourth Industrial Revolution (2016) karya Klaus Schwab, pendiri dan Ketua World Economic

 

Jumat, 13 Desember 2019 23:46 WIB

Sidak Limbah PT SGN, Komisi III dan LH Langsung Uji pH


Kajanglako.com, Merangin - Komisi III DPRD Merangin sidak ke PT Sumber Guna Nabati (SGN), Jumat (13/12). Ini merupakan tindak lanjut dari adanya keluhan

 

Jumat, 13 Desember 2019 23:42 WIB

Ketua Organisasi Jurnalis Bungo Kecam Sikap Arogan Oknum Security RSUD H Hanafie


Kajanglako.com, Bungo - Penghalangan peliputan oleh jurnalis di Kabupaten Bungo kembali terjadi. Kali ini dilakukan oleh sucurity RSUD H Hanfie Muara Bungo,

 

Jumat, 13 Desember 2019 16:46 WIB

Dua Tersangka Korupsi Proyek PLTMH Sebesar 2,6 Milyar Diamankan Polres Sarolangun


Kajanglako.com, Sarolangun - Polres Sarolangun merilis tersangka dugaan korupsi proyek Pembangkit Listrik Mikro Hidro (PLMTH) di Desa Batin Pengambang