Senin, 09 Desember 2019


Senin, 11 November 2019 13:32 WIB

Marsillam Simanjuntak

Reporter :
Kategori : Sosok

Penulis

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Soebadio Sastrosatomo (alm), tokoh PSI (Partai Sosialis Indonesia), di dalam buku Rosihan Anwar, "Soebadio Sastrosatomo Pengemban Misi Politik" (1995: 202), ketika ditanya: "Sampai sekarang tidak jelas siapa di belakang demonstrasi mahasiswa yang dipimpin Hariman Siregar. Anda bisa bercerita?"; menjawab seperti ini: "Sebenarnya yang ada di belakang ini Marsillam Simanjuntak dan Rahman Tolleng, sebab mereka itu kecewa. Mereka itu tadinya penganjur kerjasama ABRI-Sipil atas dasar saling menghormati dan sama sederajat. Ingat, Rahman Tolleng dulu Sekjen HKTI (Himpunan Kelompok Tani Indonesia), pemimpin redaksi Suara Karya. Dia dekat sama Golkar. Tapi dia tak mau dipergunakan. Tidak mau jadi kuli politik".



Demontrasi mahasiswa yang dipimpin Hariman Siregar, waktu itu sebagai Ketua Dewan Mahasiswa UI, pada tanggal 15 Januari 1974, dilakukan bersamaan dengan kedatangan Perdana Menteri Jepang, Kakuei Tanaka, berlangsung rusuh. Pasar Senen dibakar, mahasisiswa bentrok dengan polisi dan massa  yang digerakkan untuk  menandingi gerakan mahasiswa. Ali Moertopo, asisten pribadi presiden Suharto menuduh PSI mendalangi demo mahasiswa itu, sehingga beberapa pentolan PSI ditangkap, termasuk Soebadio yang kemudian dipenjara meskipun akhirnya dibebaskan tanpa proses pengadilan.

Marsillam Simanjuntak dan RahmanTolleng, yang juga ditahan setelah peristiwa Malari, memang kawan lama, dan sejak mahasiswa sama-sama aktif mendongkel Bung Karno. Dalam acara mengenang meninggalnya Rahman Tolleng yang ditaja oleh Majalah Tempo, 7 Februari 2019, Marsillam menceritakan pengalamannya berkawan dengan Rahman Tolleng. Pada suatu malam, sekitar pertengahan tahun 60an, dia ke Bandung, mungkin untuk rapat konsolidasi poros Bandung-Jakarta, dan dia kaget karena melihat ada golok di meja Tolleng. Sambil tertawa Marsilam  mengenang kawan dekatnya yaitu ternyata seorang yang juga siap berkelahi secara fisik jika memang keadaan memaksa.

Marsilam dan Rahman Tolleng (sebelum wafatnya) memang intektual tulen. Keduanya, di samping Amarzan Loebis, yang belum lama ini (2 September 2019)  meningga ljuga, seminggu sekali khusus datang ke kantor Majalah Tempo buat mendiskusikan  isi editorial Tempo yang akan terbit. Ide editorial itu,  kata Marsillam dalam acara mengenang Tolleng itu, adalah idenya dan Goenawan Mohamad, katanya mendapat inspirasi dari majalah The Economist.Tidak tahu siapa yang kemudian menggantikan mereka, ketika dari tiga tokoh itu tinggal Marsilam, yang mengaku malas datang ke kantor Tempo, di Palmerah Selatan, karena macet.

Ket: Marsillam Simanjuntak. Sumber foto: jentera.ac.id

Sejak mahasiswa Marsilam Simanjuntak memang aktifis. Memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Universitas Indonesia (UI) pada 1971 dan kemudian kuliah lagi di Fakultas Hukum UI sampai selesai pada tahun 1989 dengan menulis skripsi tentang pengaruh pemikiran Hegel dalam penyusunan UUD 1945 melalui peran Supomo. Skripsi itu kemudian menjadi sangat terkenal  setelah diterbitkan oleh Grafiti Press dengan judul "Pandangan Negara Integralistik" (1994). "Skripsi tetapi kualitasnya tesis doktor", ujar Daniel Dhakidae, suatu saat, seperti biasa dengan  gaya bicaranya yang penuh retorik.

Sebagai intektual publik, Marsilam tidak banyak menulis, dibanding koleganya seperti Nono Anwar Makarim atau Arief Budiman, namun seperti sobat kentalnya Rahman Tolleng, Marsillam seperti dimitoskan di kalangan para intelektual-aktifis, mungkin karena integritas dan konsistensinya dalam memegang prinsip. Meskipun tulisannya tidak banyak, tapi sangat berpengaruh, seperti skripsinya yang kemudian dijadikan buku itu. Gagasan Marsillam yang disampaikan pada konferensi untuk menghormati Herb Feith, karena pensiun dari Monash University,  di Melbourne, 17-19 Desember 1992, juga sempat menjadi bahan perbincangan hangat. Andai waktu itu sudah ada sosial media seperti sekarang pastilah menjadi viral dan trendingtopik.

Kata orang yang datang dalam konferensi yang dihadiri tokoh-tokoh besar pengkaji Indonesia, seperti George Kahin, Ben Anderson dan Harold Crouch itu, Marsilam Simanjuntak benar-benar menjadi bintang, dengan  makalahnya: "Democratizations in the 90s: Coming to terms with gradualism?". Di catatan kaki makalah itu ada ucapan terimakasihnya pada satu orang, yakni A. Rahman Tolleng. Dalam konferensi yang bertujuan membandingkan demokrasi tahun 1950an dan 1990an ini, Marsillam, melontarkan pertanyaan, apakah"gradualism", yang bisa diartikan sebagai perubahan pelan-pelan secara bertahap, adalah pilihan terbaik bagi demokrasi Indonesia?

Awal tahun 1990an, jagad politik Indonesia mencatat beberapa peristiwa politik yang cukup penting, meskipun harapan akan membaiknya demokrasi sesungguhnya masih gelap. Tanggal 7 November 1989 Tembok Berlin diruntuhkan, mencerminkan kemenangan blok barat dan kekalahan blok timur, dan selesainya Perang Dingin. Desember 1991 Uni-Soviet pecah. Para pejuang demokrasi di bekas negara-negara satelit Uni-Soviet, Polandia, Cekoslovakia dan Hongaria; seperti Lech Walensa dan Vaclav Havel, muncul sebagai pahlawan, dan  kemudian dipilih menjadi presiden. Di Indonesia runtuhnya Tembok Berlin dan pecahnya Uni-Soviet ditanggapi oleh Orbais dan Suhartois sebagai konfirmasi keabsahan tindakan mereka menghabisi komunis di tahun 1965.Tapi, bagi para pejuang demokrasi seperti Tolleng dan Marsilam, merupakan momen untuk melakukan aksi

Maret 1991, bersama Gus Dur, Bondan Gunawan, Arief Budiman, Mulya Lubis, Romo Mangun Wijaya, dan total sekitar 45 tokoh lainnya, Marsilam dan Tolleng mendirikan Forum Demokrasi (Forum Demokrasi). Pada saat yang bersamaan, Princen dan beberapa tokoh lain, juga mendirikan Liga Pemulihan Demokrasi. Sebelumnya, Desember1990, ICMI dibentuk, dengan ketuanya BJ. Habibie, yang segera diikuti oleh epigon-epigonnya, berbagai organisasi intelektual sektarian lain. Tanggal  12 November 1991 peristiwa penembakan di Santa Cruz Dili meletus, yang membuka mata dunia atas kejejaman rezim Suharto di Timor Leste. Tahun 1992 dilakukan pemilihan umum, dan1993 kembali Suharto ditetapkan sebagai presiden yang ke-5 kalinya.

Membaca kembali makalah Marsillam yang dibuat akhir 1992, menjelang Suharto dilantik sebagai presiden kesekian kalinya, saya merasa  betapa tajam analisis yang dibuat, setelah dia lontarkan pertanyaan retorik, apakah Gradualismpilihan terbaik bagi demokrasi? Saya kutipkan sedikit kata-katanya: "All three types of gradualism, in their various degrees of concern in democratization, must have rest their conviction on one common assumption. That they look at the incumbent president as problem-free, or not part of the problem, in attaining democracy in this period of Indonesia's history. And this is precisely the crux of the matter, to define whether the president is to be relied on as the leader to solve the problem of democratization, or a problem, a complex one at that, to be solved first. Succession politics might not be identical with democratization, but at this point the question should be, is democratization possible without dealing first with succession as a problem?".

Betapa tepatnya implikasi analisis Marsillam, Mei 1998,  suksesi politik terjadi, abruptly, betapairelevannya gradualism yang digadang-gadang para pendukungnya. Saat itu sebuah moment of truthterjadi, sayang kembali kita lewatkan. Ketika Gus Dur menggantikan Habibie, dan Marsillam juga Bondan Gunawan diangkat sebagai menteri, kesempatan itu sudah jauh di belakang. Konon, salah satu pada moment penting itu yang seharusnya segera dilakukan, menurut Marsillam Simanjuntak, adalah membubarkan Golkar.

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk buku, jurnal ilmiah dan tulisan populer. Seri intelektual publik ini terbit saban Senin di rubrik SosoK Kajanglako.com.


Tag : #Sosok #Marsillam Simanjuntak #Soebadio Sastrosatomo #Nono Anwar Makarim #Arief Budiman



Berita Terbaru

 

Sabtu, 07 Desember 2019 13:35 WIB

For Ikan" Pemprov Kejar Angka Konsumsi Ikan Nasional


Kajanglako.com, Jambi - Pemerintah Provinsi Jambi melalui Dinas Kelautan dan Perikanan melaksanakan rangkaian peringatan Hari Ikan Nasional (HIN) yang

 

Sabtu, 07 Desember 2019 11:39 WIB

"Ayo Makan ikan", Jambore Forikan ke-6 Provinsi Jambi 2019 Dimeriahkan Ratusan Pelajar


Kajanglako.com, Jambi - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi, melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jambi memperingati Jambore Forikan ke-6

 

Sabtu, 07 Desember 2019 10:10 WIB

Komisi IV Sidak RS Plat Merah Raden Mattaher Jambi, ini Hasilnya


Kajanglako.com, Jambi - Rombongan Komisi IV DPRD Provinsi Jambi melakukan inspeksi mendadak (sidak) di rumah sakit plat merah RSUD Raden mattaher Jambi,

 

Sosok dan Pemikiran
Sabtu, 07 Desember 2019 08:42 WIB

Dawam Rahardjo


Oleh: Manuel Kaisiepo* Dia dikenal sebagai pemikir ekonomi kritis, kaya penguasaan teori, kuat dalam analisis sosial, juga mendalami kajian agama dan filsafat.

 

Ekspedisi Sumatra Tengah 1877
Sabtu, 07 Desember 2019 08:30 WIB

Tambang Emas Telaki


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Mereka berencana untuk mengunjungi tambang emas di Telaki, melalui jalan lama, sementara para kuli membawa