Senin, 16 Desember 2019


Sabtu, 09 November 2019 09:36 WIB

Kebanjiran di Batanghari

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Mereka tiba di muara Soengei Goemanti pk 11.15. Di muara, sungai itu sama lebar dengan Batanghari. Bedanya, air Batanghari lebih banyak. orang Melayu di daerah sekitarnya mengatakan: “Batang Goemanti bagoenó ka Batanghari". Pernyataan ini menunjukkan pandangan mereka bahwa Batanghari merupakan sungai induk, sedang Goemanti merupakan anaknya. Tak jauh dari tempat menyatunya aliran kedua sungai itu, tepian kanan berupa pulau yang lebar dan datar dengan bebatuan besar yang hanya terendam bila air sungai sedang pasang.



Di sinilah mereka menepi. Mereka membongkar barang-barang dan perbekalan, lalu didampingi oleh dua orang pendayung, van Hasselt dan Veth naik lagi ke perahu yang paling kecil untuk melayari Goemanti. Angkoe Moeda dan yang lainnya mulai membangun sebuah pondok sederhana. Gai pergi ke pinggiran hutan, mencari kayu bakar untuk memasak.

Di dalam perahu, kedua penjelajah Belanda itu berusaha mencari posisi duduk yang agak enak. Hal ini tidak mudah dilakukan di dalam perahu kecil bila orang berkaki panjang. Tetapi, baru sebentar saja perahu itu melaju, mereka sudah harus turun lagi ke dalam air karena ada percepatan arus. Untunglah, rintangan perjalanan hanya itu saja. Tanpa kesulitan lain, mereka tiba di muara Soengei Sikiah. Di tepian tampak beberapa pondok penambang emas. Tak ada tanda-tanda bahwa di tempat itu pernah ada ladang.

Tepian sungai di sini berbukit. Di sana-sini, bebatuan muncul di tepian itu. Pun, di muara Sikiah, beberapa batu besar malang-melintang menghalangi pelayaran. Walaupun Soengei Goemanti masih dapat dilayari lebih jauh, mereka hanya mendayung sampai ke sini saja. Veth menilik dan memperkirakan ketinggian beberapa puncak gunung dan mencatat datanya dengan seksama. Setelah itu, para pendayung membalik arah perahu dan mereka membelah air untuk kembali ke Moeara Goemanti.

Ketika kembali, pondok untuk beristirahat sudah selesai dibangun. Aroma masakan membuat perut mereka keroncongan. Setelah remah makanan terakhir sudah bersih di piring, Veth dan van Hasselt menyelesaikan catatan-catatan perjalanan hari itu dan menata barang-barang yang dikumpulkan untuk koleksi. Pepohonan di hutan tak tampak lagi. Malam sudah sempurna menyelimuti dunia. Pk 20.00 malam; bila ada orang yang datang mengunjungi mereka, takkan tampak sesiapa pun. Seluruh rombongan sudah tertidur lelap.

Tidur cepat tak ada salahnya, bahkan mungkin lebih baik bila tak diketahui berapa lama tidur itu tak terganggu. Dan, memang para penjelajah itu tak pernah tahu dengan pasti berapa lama mereka dapat tertidur dengan lama. Malam itu, tidur yang lelap mendadak terputus. Hujan turun deras disertai petir yang menggelegar. Atap pondok mereka bocor. Di dalam maupun di luar pondok, hujan turun sama derasnya! Untunglah badai itu hanya berlangsung selama sejam dan mereka tertidur lagi. Sampai pk 04.00.

Van Hasselt dan Veth terbangun lagi. Para pemandu dan pendayung ribut. Mereka berbicara dengan suara keras dan terdengar langkah-langkah mereka hilir-mudik. Ada apa? Apa yang terjadi? Dalam keadaan setengah bangun, setengah tidur, kedua lelaki Belanda itu tidak dapat memahami mengapa anak buah mereka begitu ribut sampai terdengar kata-kata ‘ayer dalam!’

Kantuk mereka mendadak hilang ketika menyadari bahwa permukaan sungai sudah naik! Sambil meraba-raba di dalam gelap, Veth dan van Hasselt mengayunkan kaki ke luar pondok. Mereka tidak lagi menjejak darat! Pondok mereka sudah dikelilingi air! Rupanya air sungai membanjir naik satu meter dan masih terus naik. Lampu minyak tak lagi menyala. Dengan bantuan sebuah lilin, mereka mengumpulkan barang-barang. Dua orang pendayung menebas belukar di bagian tepian yang lebih tinggi. Mereka bergotong-royong memindahkan barang-barang dari dalam pondok ke tempat itu. Veth menggulung badannya di dalam sebuah selimut dan kemudian duduk di samping van Hasselt di bawah selembar kain layar untuk menunggu fajar merekah.

Air sungai semakin meninggi. Dalam waktu singkat, pondok yang baru saja ditinggalkan sudah terendam setengah meter. Untunglah tempat pengungsian mereka cukup tinggi. Walaupun hujan terus turun, mereka tidak terendam banjir. Ketika mentari mulai menerangi bumi, Angkoe Moeda berangkat naik perahu untuk menangkap ikan—untuk sarapan pagi. Ia beruntung. Ia kembali ke perkemahan dengan tujuh ekor ikan besar. Ikan yang paling besar, beratnya kira-kira tiga kilogram, diberikannya untuk jatah sarapan pagi van Hasselt dan Veth.

Air yang paling banyak datang dari aliran Soengei Goemanti karena itu, tak ada rintangan bagi mereka untuk melayari Batanghari lebih jauh. Setelah sarapan, van Hasselt, Veth, pemandu dan beberapa orang pendayung naik ke atas perahu yang paling besar. Perahu itu melaju kencang. Semakin ke hulu, semakin banyak tempat-tempat dengan percepatan arus. Yang pertama harus dihadapi adalah percepatan arus yang dikenal dengan nama Kedjahatan Pebadilan. Tempat itu disebut demikian karena pernah ada orang yang kehilangan bedilnya ketika perahu yang ditumpanginya terbalik di sana. Di beberapa tempat, percepatan arus sungai itu tidak terlalu menghambat; akan tetapi, di tempat lain seperti di Ajer Roesak, banyak bebatuan yang saking besarnya tampak di atas permukaan air. Di tempat seperti itu, mereka harus mengemudikan perahu dengan bantuan satang rotan untuk menghindari bebatuan itu.

Di kejauhan tampak seorang perempuan sedang berjemur di atas batu besar sambil menjahit bajunya. Rupanya bukan hanya mereka saja yang terpaksa menginap di atas batu di Batanghari. Perempuan itu merupakan warga Alei, dusun terakhir di Batanghari sebelum Lolo. Ia tidak sendirian. Ia datang ke tempat itu bersama suami dan adik perempuannya untuk menambang emas.

Setelah beristirahat sebentar, mereka melanjutkan perjalanan di antara tepian yang tinggi yang curam. Lama-kelamaan, tepian kiri menjadi lebih datar. Beberapa rumah bobrok yang sudah lama ditinggalkan menunjukkan bahwa dahulu itu, ada permukiman di sana. Tak jauh, di sebuah tanah datar yang luas, tampak sebuah pondok yang dikelilingi oleh beberapa pohon pisang. Tempat itu adalah Kampong Pengarang. Banyaknya pisang di tempat itu membuat van Hasselt dan Veth mengira bahwa mereka dapat membeli buah itu. Perahu menepi agar Angkoe Moeda dapat turun ke darat untuk membeli pisang dari pemiliknya. Lelaki itu kembali dengan tangan kosong. Buah-buah pisang itu tidak dijual; pemiliknya tak ingin menjual pisangnya kepada mereka dan meminta mereka segera pergi meninggalkan lahannya!

Sepuluh menit kemudian, mereka tiba di kampong Sibaroek. Permukiman ini juga hanya terdiri dari sebuah rumah saja di bawah sebuah pohon beringin yang rindang. Bila di rumah sebelumnya, mereka diusir, di kampong Sibaroek, mereka disambut dengan ramah. Orang di rumah itu—yang menyambut mereka dengan ramah—sebetulnya bukan pemilik rumah itu. Ia pun sedang menumpang di sana. Pemilik rumah sedang pergi.

Rumah itu sederhana. Tak banyak perabotannya. Perabot yang ada pun sangat sederhana dan tak berbeda dengan perabotan di rumah-rumah lainnya. Beberapa piring beling dan panci tampak di dapurnya. Yang menarik perhatian para penjelajah Belanda itu adalah sebuah buaian bayi dari kayu yang digantungkan di balka atap. Sebuah pedang bersarung besi dan sebilah keris bagus di dalam selubung yang terbungkus daun pisang pun tampak di dalam rumah itu. Di luar rumah, di halamannya, ada sebuah gelanggang adu ayam. Ayam-ayam jago—ayam aduan—bertengger di sebatang kayu di bawah atap.

Lelaki yang mempersilakan mereka beristirahat di rumah itu bercerita mengenao sejarah daerah itu: dahulu kala, Alei adalah dusun besar yang penduduknya memiliki banyak sawah dan ternak. Dusun itu menjadi sepi karena sebagian penduduknya meninggal dunia dan sebagian lagi pindah ke Soengei Pagoe.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Telusur #Sejarah Jambi #Ekspedisi Sumatra Tengah 1877 #Naskah Klasik Belanda



Berita Terbaru

 

Minggu, 15 Desember 2019 02:14 WIB

Songsong Pilgub 2020, Lembaga Survei ADRC Sasar Pengguna Smartphone


Kajanglako.com, Jambi - Di tengah perkembangan dan kemajuan teknologi di Era digitalisasi 4.0, semua sistem baik dari segi perencanaan, input dan output

 

Sosok dan Pemikiran
Sabtu, 14 Desember 2019 08:33 WIB

Soedjatmoko


Oleh: Manuel Kaisiepo* Membaca ulang pemikiran dalam buku The Fourth Industrial Revolution (2016) karya Klaus Schwab, pendiri dan Ketua World Economic

 

Jumat, 13 Desember 2019 23:46 WIB

Sidak Limbah PT SGN, Komisi III dan LH Langsung Uji pH


Kajanglako.com, Merangin - Komisi III DPRD Merangin sidak ke PT Sumber Guna Nabati (SGN), Jumat (13/12). Ini merupakan tindak lanjut dari adanya keluhan

 

Jumat, 13 Desember 2019 23:42 WIB

Ketua Organisasi Jurnalis Bungo Kecam Sikap Arogan Oknum Security RSUD H Hanafie


Kajanglako.com, Bungo - Penghalangan peliputan oleh jurnalis di Kabupaten Bungo kembali terjadi. Kali ini dilakukan oleh sucurity RSUD H Hanfie Muara Bungo,

 

Jumat, 13 Desember 2019 16:46 WIB

Dua Tersangka Korupsi Proyek PLTMH Sebesar 2,6 Milyar Diamankan Polres Sarolangun


Kajanglako.com, Sarolangun - Polres Sarolangun merilis tersangka dugaan korupsi proyek Pembangkit Listrik Mikro Hidro (PLMTH) di Desa Batin Pengambang