Selasa, 12 Desember 2017
Pencarian


Sabtu, 04 November 2017 16:00 WIB

Keris Sekin Medanggiri

Reporter :
Kategori : Sastra Cerpen

Ilustrasi karya Jhoni Imron (kajanglako.com)

Oleh Asro al Murthawy*

Desa Lubuk Mentulun geger. Desa terpencil itu baru akan menyelenggarakan pemilihan kepala Desa. Segala keperluan, mulai dari kotak suara, bilik tempat mencoblos, sampai papan perhitungan suara telah disiapkan . Hampir seluruh warga Desa telah berkumpul di rumah gedang, ketika tersiar kabar Tuk Thais, calon tunggal kepala Desa Lubuk Mentulun meninggal.



“Tuk Thais mati?”

“Ya, baru saja Timan Sanot memberi kabar?”

“Sakit?”

“Tidak tahu….”

“Jangan-jangan terkena guna-guna.”         

“Hush”

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun”

Orang-orang pun berlari ke rumah Tuk Thais. Besar kecil, tua muda. Balai Desa kembali sepi. Kursi-kursi berserakan ditinggal begitu saja. Pemilihan kepala Desa batal.

Di rumah Tuk Thais, terlihat tubuh orang tua yang tinggi besar itu sudah terbaring kaku di ruang tengah, berselimutkan kain panjang berwarna coklat tua.  Hanya bagian  mukanya saja yang tak tertutup. Kelihatan pucat tanpa darah. Bibirnya yang membiru, menyisakan seulas senyum. Di sampingnya Nek Munot, istrinya, nampak terisak-isak  bersama anak perempuannya.

Tak berapa lama rumah kayu yang besar itu telah dipenuhi orang. Semua penduduk Desa Lubuk Mentulun ingin menyaksikan jenazah orang yang amat mereka hormati itu.

“Tuk Thais bunuh diri…” terdengar bisikan, entah suara siapa.

“Hush, siapa bilang?”

“Nek Munot!”

“Bagaimana bisa?’ bisik-bisik itu kian jelas terdengar.

“Dengan keris itu.” Orang yang pertama kali berbisik, kembali terdengar suaranya.

“Hah? Keris Sekin Medanggiri?”

Kini perhatian orang yang hadir terpecah dua oleh suara-suara itu. Sebagian masih pada jenazah Tuk Thais, sebagian lagi beralih ke sudut ruangan. Di situ, di atas sebuah baki kecil, tergeletak sebilah keris luk Sembilan.Di ujungnya masih tersisa percikan darah. Darah Tuk Thais.

“Mengapa Tuk Thais bunuh diri?”

“Entahlah!”

“Barangkali bertengkar dengan istrinya.”

“Mungkin ada yang menginginkan kematian Tuk Thais.”

“Atau kena sumpah Sigindo Balak, pemilik keris ini dahulu”

“Hush!, Hati-hati kalau ngomong, bisa kena tulah.”

Suara-suara itu masih saja terus terdengar hingga sore hari setlah jenazah Tuk Thais dikuburkan. Bahkan sampai esok paginya, hingga hari barikutnya lagi. Barangkali sampai kapan pun pertanyaan-pertanyaan itu akan terus terdengar. Penduduk Desa kecil itu tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kalau saja mereka tahu, ya kalau saja mereka tahu…

Malam itu, Tuk Thais masih termenung di bilik dalam. Hari sudah larut. Udara pegunungan Desa Lubuk Mentelun yang dingin telah melelapkan sebagian penduduk. Bulan tinggal sepertiganya, bersinar pucat di langit sebelah barat. Sinarnya membias masuk lewat jendela kamar yang masih dibiarkan terbuka.

“Saya yakin Datuk masih dipercaya memimpin Desa ini.” Kata-kata Guru Latif masih terngiang di telinga Tuk Thais malam itu. Ucapan itu memang benarlah adanya. Sudah tiga periode Tuk Thais  menjabat Kepala Desa Lubuk Mentelun. Jika kali ini terpilih lagi, tentu inilah yang keempat kali dirinya memimpin Desa terpencil di kaki gunung Masurai itu. Dan itu berarti baru ada dua kepala Desa yang memimpin Desa ini, sejak Lubuk Mentulun dinyatakan ada.

“Di tangan Datuk Desa ini semakin tampak kemajuannya. Dan ini harus diteruskan. Saya kira belum ada seorang pun di Desa ini yang pantas menduduki jabatan itu, selain Datuk.” Kali ini suara Sekdes Mirun yang melintas di telinga Tuk Thais.

“Ya. Desa ini memang tambah maju”. Ucapan Sekdes Mirun tidak salah. Dua puluh empat tahun bukanlah waktu yang singkat. Selama itulah ia memimpin Desa Lubuk Mentelun. Hasilnya dapat disaksikan dan dinikmati seluruh penduduk. Jalan Desa yang dulunya hanya pantas dilalui kerbau, kini telah dilintasi kendaraan roda empat. Jembatan gantung diganti dengan jembatan beton. Balai Desa dan madrasah dibangun. Anak-anak tak lagi mewarisi buta huruf orang tuanya. Penghasilan penduduk pun meningkat, lebih-lebih setelah diusahakannya colt angkutan umum dari Desanya menuju kota Kabupaten.

Keberhasilan itu membuat penghormatan penduduk kepadanya bertambah. Bisa dipastikan jika berpapasan dengan warganya, teguran dan sapaan hormat akan dia terima. Belum lagi banyaknya hadiah yang dia dapatkan. Tiap panen, tumpukan padi akan menggunung di bilik belakang rumah, dihantarkan warga dengan sukarela. Mengingat semua itu, Tuk Thais mengulum senyum.

Tapi, senyum itu langsung memudar manakala ada bayangan lain yang melintasi benaknya. Tuk Thais menghela nafas dalam-dalam mencoba menepis bayangan itu. Namun meski berkali-kali ditepis, bayangan itu kian membandel dan bertambah nyata. Lalu muncul bayangan-bayangan lain yang semakin membuat dada Tuk Thais sakit.

“Ini amanah, Is!” sebuah suara terdengar, yang kemudian dikenalinya sebagai suara Sigindo Balak, puluhan tahun lalu.

“Penduduk Desa ini masih lugu.. Mudah kau atur. Kau bilang merah, merah pula kata mereka. Kau bilang hitam pun mereka mengamininya. Terimalah Keris Sekin Medanggiri ini sebagai tanda peringatan bagimu. Berikan kepada penggantimu, kelak.”

Pengganti. Ya, pengganti inilah yang menggelisahkannya selama ini. Hingga tahun kedua puluh empat dirinya menjabat sebagai kepala Desa, belum ada seorang penduduk pun yang dianggap mampu menggantikannya. Tuk Thais tak habis pikir. Pada setiap pemilihan kepala Desa, selalu saja dia muncul sebagai calon tunggal. Calon-calon lain, hanyalah calon pendamping semata. Bahkan pemilihan kali ini, tak ada seorang pun yang mau jadi calon pendamping, cuma kotak kosonglah yang menjadi lawannya. Ya, siapakah yang tak menang dengan sebuah kotak kosong?

“Mestinya kita sudah menyiapkan kader pengganti,” ungkap Guru Busri, salah seorang sesepuh Desa Lubuk Mentelun suatu waktu. Tuk Thais tak menjawab waktu itu, meski hatinya mengiyakan. Penduduk Desa ini telah menganggapnya mumpuni di segala hal, sehingga yang lain dipandang tak mampu menggantikan.

Demi mengingat semua itu, dada Tuk Thais kian sesak. Dia mendesah berkali-kali. Hatinya berontak. Kesalahpahaman itu harus segera diakhiri. Tidak bisa tidak. Tapi bagaimana caranya? Dengan mengemukakan keburukan sepak terjangnya yang selama ini ditutupinya adalah kurang bijak. Tak dapat dibayangkan, seandainya penduduk Desa tahu bahwa apa yang dinikmatinya kini didapatkan dengan cara-cara yang kurang terpuji. Orang tuanya tak pernah meninggalkan warisan apa-apa. Rumah kayu besar, sawah dan kebun yang sedemikian luas, perhiasan-perhiasan istrinya, biaya sekolah anaknya, serta enam buah mobil yang dijadikan sebagai angkutan umum, semata-mata didapatkannya dari jabatannya sebagai kepala Desa.

Untuk mengingat satu demi satu bagaimana semua itu didapatkan, Tuk Thais tak kan mampu apalagi jika mesti memperhitungkannya dengan seluruh penduduk Desa ini. Tidak! Meski untuk kebaikan Desa ini, cara itu takkan mungkin dilakukannya. Harga dirinya terlampau mahal untuk itu.

Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan menunjuk seorang pengganti. Tapi siapa? Sekdes Mirun, Guru Busri dan Lakun cucu mendiang Sigindo Balak muncul diingatannya. Tapi, apakah penduduk Desa mau menerima mereka?

Sekdes Mirun, meskipun sudah paham betul soal pemerintahan, warga Desa kurang suka padanya. Jabatannya sebagai Sekdes sekarang pun, sering disalahgunakan untuk kepentingan pribadi dan keluarganya. Sedangkan Guru Busri, banyak warga yang suka petuah-petuahnya. Pengetahuannya cukup luas, baik kemasyarakatan maupun soal agama.

Sayangnya, orangnya lamban dalam bersikap. Banyak pertimbangan dalam melangkah. Lagipula usianya hampir sama dengan  umur Tuk Thais, cuma selisih beberapa tahun. Akan halnya Lakun, semua penduduk mengenalnya sebagai orang yang luwes dalam bergaul. Orangnya ramah. Dibanding dengan Sekdes Mirun dan Guru Busri, Lakun lebih gesit dan tegas. Tetapi satu hal yang penduduk Desa ini tak dapat menerima, yaitu lakun gemar mengadu ayam. Hampir tiap pekan Lakun terlihat menenteng ayam aduan mencari lawan.

“He-eh!” Tuk Thais lagi-lagi mendesah. Ganjalan di dadanya benar-benar melarutkan pikirannya dalam kekalutan yang teramat sangat. Benarkah tak seorang penduduk pun mampu menggantikanku? Ah, rasanya tak mungkin.

Datangnya pikiran itu membuat Tuk Thais tersentak. Suatu gagasan muncul dalam benaknya. Serta merta dia bangkit dari duduk. Dengan langkah pasti dihampirinyalah lemari di sudut kamar. Ditariknya laci paling bawah. Tangannya mencari-cari. Ketika barang yang dicarinya telah ditemukannya, wajah orang tua itu menegang. Sebilah keris Luk Sembilan, kini berada di tangannya.

“Dengan keris ini segalanya bisa kuatasi.” Gumamnya. Kepuasan terbayang di mukanya yang telah mengeriput. Tak lama kemudian, dikeluarkanlah benda itu dari sarungnya. Ditatapnya lekat-lekat. Sebuah senyum terulas di bibir. Tuk Thais semakin yakin apa yang akan dilakukannya nanti akan dapat menghilangkan sesuatu yang selama ini mengganjal dadanya.

Sejenak dia beranjak dari duduknya menuju pintu. Lalu tanpa suara dikatupkannya kedua daun pintu perlahan. Sengaja dibiarkan tanpa terkunci. Jendela satu-satunya di ruangan itu ditutupnya rapat-rapat. Tampaknya Tuk Thais mantap dengan apa yang menjadi rencananya. Sesaat kemudian lampu padam.

Malam kelewat larut. Di luar sunyi. Penduduk Lubuk Mentulun benar-benar terlelap dalam tidurnya. Udara dingin. Langit sedikit mendung. Hanya satu dua bintang yang tampak menemani secuil rembulan yang hampir tenggelam di ufuk barat. Sinarnya yang pucat jatuh menimpa dedaun pisang membentuk bebayang hitam di tanah. Sesekali terdengar kokok ayam dari kejauhan. Perlahan, waktu terus berjalan.

Paginya, Desa Lubuk Mentulun geger.

 

*Asro al Murthawy lahir di Temanggung 6 November. Aktif sebagai salah satu pegiat sastra provinsi Jambi, duduk sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Merangin Jambi. Buku puisinya antara lain: Sketsa (Sanggar Tapa, Jambi, 1990);  Pasang-pasang (Sanggar Tapa, Jambi, 1991); Lagu Bocah Kubu (Imaji, tanpa tahun); Obsesi Gobang (Imaji, 2001); Equalibrium Retak ( Imaji, 2007) dan Syahadat Senggama (RKM 2016)). Satu dari belasan cerpennya termuat dalam Dari Kedondong Sampai Tauh (DKJ,1998), Suara Karya, Merdeka Minggu, Swadesi, Simponi dan Majalah Sastra Horison. Kini beralamat di Kantor BPS Merangin Jalan P. Temenggung Bangko Kabupaten Merangin-Jambi 37311 sekaligus mengasuh sanggar Sastra IMAJI. No Hp: 081274837162. Email: asro.pamenang@yahoo.com


Tag : #Masurai #Mistisisme #Kepemimpinan Lokal



Berita Terbaru

 

Senin, 11 Desember 2017 23:27 WIB

Pemayung Masih 'Takut' Gunakan Excavator Bantuan Provinsi, ini Penyebabnya


Kajanglako.com, Batanghari - Beberapa waktu lalu, Pemerintah Provinsi Jambi sudah memberikan bantuan dua Excavator mini untuk dua kecamatan di Kabupaten

 

Senin, 11 Desember 2017 23:15 WIB

Bank Indonesia Terbitkan Ketentuan Penyelenggaraan Teknologi Finansial


Kajanglako.com - Bank Indonesia (BI) menerbitkan ketentuan penyelenggaraan teknologi finansial untuk mendorong lahirnya berbagai inovasi dan mendukung

 

Pertemuan Bakohumas se-Provinsi
Senin, 11 Desember 2017 23:03 WIB

Melalui Bakohumas, Zola: Cerdas Menyikapi Berita Hoax


Kajanglako.com, Jambi  - Gubernur Jambi Zumi Zola Zulkifli mengemukakan bahwa Badan Koordinasi Hubungan Masyarakat (Bakohumas) merupakan saluran penyebaran

 

Senin, 11 Desember 2017 22:37 WIB

Zola Terima Apresiasi dari LPPM IPB


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi, Zumi Zola menerima apresiasi dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Institut Pertanian Bogor

 

Senin, 11 Desember 2017 22:19 WIB

Pengadaan Sapi Bermasalah, Kontrak CV Minang Vodia Utama Diputus


Kajanglako.com, Batanghari - CV Minang Vodka, selaku rekanan proyek pengadaan sapi gaduhan untuk kelompok tani di Batanghari, kontraknya resmi diputus. Sebelumnya,