Jumat, 15 November 2019


Sabtu, 02 November 2019 14:03 WIB

Mengadu Ayam di Gasing

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Hari Minggu tanggal 11 November, setelah ketiga perahu mereka tiba, Veth berangkat bersama Gage dan Pakan ke Sibelaboe. Ia berencana akan kembali malam itu juga, namun untuk sekedar berjaga-jaga, seorang kuli tetap ditugaskan untuk membawa tempat tidur lipatnya (velbed) dan bekal makanan secukupnya ke Lampi.



Jalan yang ditelusuri melewati daerah berbukit yang penuh dengan hutan. Hanya di dua tempat saja, yaitu di Soengei Lampi dan Soengei Limau, ada sekitar 4 atau 5 pondok (di ladang). Setelah berjalan selama tiga jam, ternyata Veth dan rombongannya sudah tiba di tujuan, bahkan jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan. Beberapa bulan sebelumnya, bulan Juni, Veth sebetulnya naik perahu ke hilir dari Sibelaboe, namun kini, ia sama sekali tidak mengenali lagi daerah itu karena airnya begitu dangkal.

Tak lama setelah Veth berangkat, van Hasselt naik perahu—mendayung ke hilir, untuk mengunjungi Soengei Pauoeh. Hari itu merupakan hari pasar. Para penambang emas dan petani-petani yang biasanya tinggal di ladang ramai datang ke sana membawa ayam aduan masing-masing. Warga Doesoen Tengah datang membawa tembakau dan kudapan enak; dan, pedagang kain yang tinggal di dekat daerah itu juga datang membawa dagangannya ke Soengei Penoeh.

Angkoe Moeda dan Malim Soetan, salah seorang kuli yang biasanya dipanggil ‘Mantri’ berangkat duluan. Mereka sudah sering datang ke daerah ini dan karena itu, merekalah yang akan mewanti-wanti orang dan warga di Soengei Penoeh agar tidak mengambil langkah seribu bila tiba-tiba melihat kedatangan seorang lelaki berbangsa Eropa di pasar. Mereka akan menjelaskan bahwa tuan Belanda itu hanya datang untuk menonton adu ayam.

Penjelasan Angkoe Moeda dan Malim Soetan agak membantu, sedikit.  Dari atas perahunya, van Hasselt melihat beberapa orang sedang menambang emas. Di pasar, hanya ada beberapa orang Melayu yang sedang mengadu ayam. Orang-orang yang biasanya bersemangat mengadu ayam, tiba-tiba menghilang ketika mendengar ada lelaki asing hendak menonton. Para pendayung perahu van Hasselt dan Mantri terpaksa membujuk para penambang dan petani ladang untuk berhenti bekerja dulu dan melakukan kegemaran mereka mengadu ayam.

Menjelang pk 12.00, sekitar 20 orang Melayu dan 20 ekor ayam jago berkerumun (lagi) di sekitar gelanggang. Selain pedagang-pedagang yang biasa ada di pasar (seperti yang disebutkan di atas), beberapa warga Doesoen Tengah membawa semacam kudapan yang disebut kue gadok, untuk dijual. Kue itu berupa bola-bola ungu yang dibuat dari sipoeloet. Enam bola kue itu ditusukkan di sebuah lidi dari rotan. Setiap tusuk dijual seharga lima belas sen.

Batu-batu besar yang disusun sebagai bangku di sekeliling gelanggang mulai penuh. Penonton adu ayam berpenampilan lain dari warga dusun yang biasa tampak. Banyak penonton tampak seperti ‘penjahat’. Kesan itu semakin menjadi-jadi oleh banyaknya bekas luka cacar di wajah beberapa di antara mereka. Sebagian besar penonton itu bertubuh kekar dengan rambut panjang melewati bahu. Beberapa orang menggulung rambutnya di dalam belitan secarik kain sehingga penampilan mereka tampak lain sekali dengan orang-orang dari Dataran Tinggi.

Tak banyak orang yang berpenampilan lebih baik: di antaranya Toewan Toewo yang menjabat sebagai Penghoeloe Kepalo Gasing ketika De Bruyn menjadi Kontrolir. Yang juga tampak adalah Bagindo Kayo, seorang pengadu ayam professional dan saudara lelakinya. Bagindo Kayo baru saja kembali dari Korintji. Ia dan adiknya itu hampir tak pernah absen bila ada acara adu ayam di daerah ini.

Pemimpin gelanggang, yang menyelenggarakan adu ayam hari itu, memilih dua ekor ayam untuk dijual. Van Hasselt membeli seekor. Harganya 45 sen. Seorang lelaki Melayu membeli yang seekor lagi dengan harga yang sama. Para pemilik ayam memasang taji di kaki ayam masing-masing. Pada saat itu, mulailah orang bertaruh. Hari itu, mungkin karena hadirnya orang-orang asing di gelanggang, tak banyak orang yang bertaruh. Angkoe Moeda, yang juga diajak bertaruh, menggelengkan kepala. “Sajo oerang soembajang,” katanya dengan nada suara yang mempertanyakan bagaimana mungkin orang gemar berjudi bila hal itu dilarang menurut agama Islam. Mungkinkah pernyataannya ‘sajo oerang soembajang’ diungkapkannya untuk menunjukkan bahwa kelebihan dirinya dibandingkan orang lain yang berjudi di situ? Entahlah.

Pertarungan pertama dimenangkan oleh ayam yang justeru tidak dijagokan oleh van Hasselt, padahal ia sudah memasang uang ƒ2,- untuk kemenangan ayam yang dipikirnya akan menang! Pertarungan pertama itu segera diikuti oleh pertarungan-pertarungan berikutnya yang lebih seru dan lebih berdarah (oleh ayam-ayam yang terluka terkena taji tajam lawannya). Gelanggang itu semakin ramai dan semakin banyak orang yang mulai memasang taruhan.

Setelah puas mengamati dan mencatat segala hal yang diperlukannya untuk membuat catatan etnografi adu ayam, van Hasselt meninggalkan gelanggang itu. Ia harus kembali ke Gasing. Perjalanan kembali terasa jauh lebih panjang dan lama dibandingkan perjalanan ketika berangkat. Perahu mereka melawan arus. Tambahan lagi, langit tiba-tiba menggelap dan hujan deras turun. Para pendayung segera mencari tempat untuk menepi dan penumpangnya berteduh di salah sebuah gua kecil di dinding bukit kapur di tepian sungai. Setelah hujan reda, mereka meneruskan perjalanan ke Gasing. Setengah jam setelah mereka tiba, Veth pun kembali dari penjelajahannya ke Sibelaboe. 

Pagi-pagi tanggal 12 November, mereka sibuk memuat barang ke tiga buah perahu: bekal untuk perjalanan beberapa hari. Meja dan kursi-kursi tim penjelajahan dititipkan kepada Malim Soetan yang akan menunggu mereka kembali ke Gasing. Veth dan van Hasselt naik ke atas perahu yang paling besar bersama Angkoe Moeda. Tempat-tempat tidur velbed disusun rapi di atas perahu itu dan dapat digunakan sebagai tempat duduk. Gai (koki) dan Gage (asisten-geograf), masing-masing mengambil tempat di perahu-perahu yang lain. Perbekalan yang dibawa dimuat di kedua perahu itu. Menjelang pk 08.00 (1877), ketiga perahu itu bertolak melayari Batang Hari. 

Setelah melewati suatu tempat dengan percepatan arus, mereka melewati muara Soengei Lampi. Di sebelah kiri tampak pondok penambang emas. Di daerah ini, penambang emas disebut oerang mangorei. Dua orang lelaki yang hanya mengenakan celana pendek saja mengayak pasir dari dalam sungai. Keduanya berambut panjang sebahu dan mereka tidak mengenakan tutup kepala. Tak jauh dari pondok itu, ketiga perahu itu melewati Batoe Boejang Djoearo, tempat percepatan arus. Arus sungai tiba-tiba menderas dan alirannya menjadi cepat, bahkan lebih cepat daripada yang tadi pagi dilewati. Para penumpang ketiga perahu itu terpaksa turun dan menarik perahu masing-masing ke tempat yang aliran airnya agak lebih tenang. Setelah membuat terusan kecil dengan menggeserkan bebatuan di sungai, mereka dapat meneruskan perjalanan.

Lagi-lagi, mereka melewati penambang emas. Kali ini empat orang perempuan dan seorang lelaki. Mereka sedang membuat poendoen—penahan arus—dari kayu dan batu. Poendoen seperti itu untuk menahan dan menampung pasir berkandungan emas yang terbawa air sungai. Sejauh ini tepian kanan sungai datar, sementara tepian kiri agak berbukit. Kedua tepian itu dipenuhi  pepohonan tinggi yang tumbuh rapat. Di beberapa tempat, pohon-pohon itu digantikan oleh pisang hutan, pohon poear, pinang dan durian. Tanaman-tanaman itu menunjukkan bahwa tempat-tempat itu dulunya merupakan ladang.

Menjelang pk 09.00, tepian kanan menjadi berbukit-bukit juga. Ketika melewati suatu tempat, seseorang bercerita bahwa dulu, di tempat itu tinggal seorang lelaki Melayu yang berasal dari Loeboe Tarab. Lelaki itu adalah ayahanda orang yang kini menjabat sebagai kepala laras. Sebuah pohon doerian aboe tumbuh di tempat itu. Karena itulah ia kini bergelar Toean Toewo Doerian Aboe.

Setengah jam kemudian, mereka tiba di sebuah lubuk yang lebar dan dalam. Tempat itu dikitari oleh pepohonan kasei dan koebang yang sangat bagus. Ke arah hulu, bebatuan besar menghalangi jalan. Daerah itu dinamakan daerah Batoe Betoepang, kata orang-orang setempat yang ikut dalam perjalanan itu. Air sungai berbusa-busa menghantam bebatuan itu dan berusaha mencari jalan ke hilir di sela-selanya.

Di sini pun mereka harus turun dan menarik perahu-perahu menjauhi tempat percepatan arus yang berbahaya itu. Pemandangan yang dilewati kini lebih hidup. Di tepian kiri, tampak muara sebuah sungai kecil, Batang Telantan. Tak jauh dari muara itu, terdapat permukiman yang terdiri dari dua buah rumah. Di tempat lain, di dekat muara Soengei Nabi (yang airnya mengalir masuk ke Batang Telantan) terdapat permukiman lain dengan beberapa buah rumah pula. Para pendayung mengusulkan untuk berhenti sekekap. Mereka sudah sangat ingin beristirahat dan merokok. Tentu saja, mereka sangat lelah karena mendayung melawan arus bukanlah pekerjaan yang mudah.

Setelah rehat, perjalanan dilanjutkan. Kedua tepian sungai semakin tinggi. Tepian-tepian itu merupakan bebatuan kapur yang sepertinya muncul dari dalam air sungai. Di balik dinding kapur itu tampak di sebelah kiri puncak-puncak Goenoeng Ibei dan Goenoeng Toengkoe. Air sungai ini melubangi dan mengukirdinding bukit menjadi celah, gua dan bentuk-bentuk aneh yang artistik. Di beberapa tempat, kaki bukit batu itu habis terkikis air sehingga perahu-perahu mereka dapat berlalu di bawah bebatuan yang bergantungan di atas sungai.

Hujan tiba-tiba turun deras ketika mereka telah melewati muara Soengei Ibei. Para penumpang perahu-perahu itu kalang-kabut mengeluarkan jas-jas hujan. “Hujan ini dikirim oleh Batoe Batoepang,” kata Angkoe Moeda. “Batoe Betoepang itu marah karena kita melewatinya!”

Memang, selama perjalanan itu, sepertinya tak ada orang lain yang melewati Batoe Batoepang. Bahkan, mereka sama sekali tidak berpapasan dengan perahu lain. Lalu, di kelok sungai, tampak sebuah biduk kecil dengan orang penumpang di dalamnya. Salah seorang di antaranya adalah Penghoeloe Soekoe Melajoe di Doesoen Tengah. Rupanya ia dan lelaki di sampingnya baru saja menambang emas di hulu sungai.

Perjalanan mereka terhenti. Seorang pendayung berseru. Satang, yang digunakannya untuk mendorong perahu melewati tempat-tempat yang tak dapat dilalui dengan mendayung, patah. Mereka menepi. Para pendayung naik ke darat untuk mencari bambu yang cocok dibuat satang. van Hasselt dan Veth mengamati orang-orang itu dengan pandangan heran bercampur kagum.

Lelaki-lelaki itu masuk di antara pepohonan kecil dan semak-semak di tepian. Dengan piawai, mereka mencari (dan menemukan) bahan-bahan yang diperlukan. Dalam waktu singkat, dengan menggunakan kampak dan beberapa potong rotan saja, mereka sudah berhasil membuat alat baru pengganti satang yang patah tadi! Bukan main!

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Telusur #Naskah Klasik Belanda #Sejarah Jambi #Sumatra Tengah #Ekspedisi Belanda ke Jambi



Berita Terbaru

 

Jumat, 15 November 2019 19:24 WIB

Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jambi Terima Bantuan Mobil Operasional TTIC dan Cold Storage dari Mentan RI


Kajanglako.com, Jambi - DinasKetahanan Pangan Provinsi Jambi menerima bantuan dari Menteri Pertanian (Mentan) Republik Indonesia. Bantuan tersebut berupa

 

Jumat, 15 November 2019 18:14 WIB

Gubernur Fachrori Terima DIPA 2020 dari Presiden RI


Kajanglako.com, Jakarta - Gubernur Jambi Fachrori Umar menerima Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) tahun 2020 dari Presiden Republik Indonesia Joko

 

Jumat, 15 November 2019 17:30 WIB

Diikuti Romi Haryanto, Wabup Mashuri Lepas Gelamor Offroad


Kajanglako.com, Merangin - Wabup Merangin,  Mashuri bersama Bupati Tanjungjabung Timur Romi Hariyanto melepas Geopark Lestari Adventure (Gelamor)

 

Jumat, 15 November 2019 17:05 WIB

Hadiri Rakor BKP Kementan RI, Amir Hasbi Sambut Baik Rancangan Inpres Perkuat CBPD


Kajanglako.com, Jambi -Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan) RI menggelar Rakor Pembahasan Rancangan Inpres tentang Percepatan

 

Kamis, 14 November 2019 15:58 WIB

Tahun Depan UMP Batanghari Ditetapkan Rp 2,6 Juta


Kajanglako.com, Batanghari - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batanghari melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Batanghari menetapkan