Jumat, 15 November 2019


Selasa, 15 Oktober 2019 16:54 WIB

Syafii Maarif

Reporter :
Kategori : Sosok

Penulis

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Seorang rekan, dalam ceramahnya kemarin, banyak ditanya tentang apa yang mesti dilakukan dalam situasi politik yang semakin bebas paska tumbangnya rezim represif Suharto? Rekan ini, seorang yang selama Orde-Baru terus bergerilya melawan, meyakini satu-satunya jalan adalah mengisi ruang kebebasan yang semakin terbuka itu. Sampai di situ saya jadi teringat seorang tokoh yang riwayat hidupnya telah melawati banyak titik-titik kisar, begitulah beliau mengistilahkannya "titik-titik kisar di perjalananku".



Tokoh yang saya maksud tidak lain adalah Buya Syafii Maarif. Meski telah berusia 84 tahun, tidak terlihat tanda-tanda menurunnya komitmen Syafii Maarif untuk mengisi ruang kebebasan yang semakin terbuka, yang juga diisi oleh berbagai ekspresi kepentingan, yang tidak selalu mencerminkan kedalaman pemahaman keagamaan.

Sebagai seorang tokoh Islam, Ahmad Syafii Maarif, sangat memahami paham keagamaan dalam Islam yang justru mengkerdilkan wawasan, seperti terlihat dalam berbagai gerakan atau pun kegiatan yang mengatasnamakan Islam. Sepeninggal dua tokoh pembaharu Islam yang paling menonjol pasca 1970-an, yaitu Nurcholis Majid dan Abdurachman Wahid, pria kelahiran 31 Mei 1935 ini seperti tampil terdepan mewakili wawasan keislaman yang bersifat inklusif.

Lahir dan dibesarkan dalam alam Sumatera Barat yang egaliter, kemudian berkarir sebagai dosen di IKIP (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta) dan aktif di Muhammadiyah, mengantarkannya ke puncak karir sebagai Guru Besar di UNY dan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah. Tak hanya itu, keberhasilannya mengenyam pendidikan barat sampai tingkat doktor di Universitas Chicago, Amerika Serikat, menjadikan dirinya sebagai intelektual Muslim yang paripurna. Pemahamannya tentang hubungan antara keislaman dan kebangsaan, tak perlu diragukan karena kedua hal ini menjadi bahan kajiannya ketika menulis disertasi doktornya di Universitas Chicago; seangkatan dengan Amin Rais dan Nurcholis Madjid.

Buya Syafii mengenal betul berbagai sisi dari Islam, antara lain, potensinya yang besar sebagai "contending power" dari negara, baik semasa penjajahan maupun setelah kemerdekaan, dan ini telah terbukti dalam perjalanan sejarah bangsanya, namun yang menjadi menarik dari Syafii Maarif adalah pilihan sikap politiknya untuk menolak menjadikan negerinya sebagai negara Islam.

Ket: Prof. Ahmad Syafii Maarif. Sumber foto: tempo.co

Ketika rezim militer Suharto-Orde Baru jatuh, dan ruang kemerdekaan berekspresi terbuka lebar, tidak aneh jika aspirasi negara Islam bahkan kekhalifahan, muncul dan berkembang. Sisi gelap Islam politik yang terekspresikan dalam bentuk intoleransi terhadap keberagaman dan berkembangnya paham radikalisme di kalangan muda dan mahasiswa di kampus-kampus; mendorong Syafii Maarif setiap saat menyuarakan pendirian dan keyakinannya tentang Islam yang merupakan agama pembawa rahmat bagi alam semesta beserta seluruh isinya.

Di tengah keluasan pemeluk agama yang tokoh-tokohnya mengklaim sebagai mayoritas itu, sosok Syafii Maarif yang semakin terlihat sepuh itu seperti sebuah MercuSuardi bukit karang di pinggir pantai yang sinarnya sering terlihat sayup-sayup di tengah hujan badai dan kilatan petir. Syafii Maarif sangat menyadari pilihannya untuk melawan arus masyarakatnya yang mudah terbuai oleh dogma-dogma agama, yang mereka telan mentah-mentah dari apa yang suara geram disebutnya sebagai "Preman-preman berjubah".

Syafii Maarif jelas tidak berjuang sendiri. Sebuah yayasan yang mengambil nama dirinya menjadi tempat berkiprah anak-anak muda yang sepaham dengan dirinya, dan dalam cuaca hari ini, mau tidak mau menjadi sebuah benteng bagi tegaknya akal sehat dan kewarasan publik. Seperti sahabatnya, Romo Magnis, Buya Syafii juga selalu menuliskan kepeduliannya jika muncul sebuah isu sosial tertentu yang harus diresponnya, antara lain, di Harian Kompas. Mirip dengan Romo Magnis, kolomnya pendek, dengan bahasa yang lugas meskipun selalu dalam nuansa kemanusiaan yang kuat. Seorang intelektual publik adalah mereka yang dengan konsisten selalu menyuarakan keprihatinannya tentang keadaan publik, menyuarakan kritik secara jujur dan tanpa kegenitan terhadap pemegang kekuasaan, tidak ragu mengatakan kebenaran, serta berani menunjukkan ketidakadilan untuk kemashalatan orang banyak,

Menurut Pramoedya AnantaToer, nama Indonesia, sesungguhnya tidak tepat bagi sebuah negeri yang masyarakatnya begitu kaya dengan keragaman kebudayaan. Dalam sebuah wawancara, novelis terbesar yang pernah dimiliki oleh negeri ini, mengatakan bahwa nama yang tepat adalah "Nusantara" atau "Dipantara". Kita tidak tahu, apakah kita akan bernasib lain jika nama negeri ini diganti. Satu hal yang pasti, tampaknya, dan tentang hal ini Ahmad Syafii Maarif, telah menunjukkan keyakinan dan pendiriannya, paham keislaman yang inklusif, mestilah menjadi bagian yang penting bagi sebuah bangsa yang terlahir dengan berbagai keragaman yang melekat dalam dirinya. Keislaman dalam alam yang demikian tidak lagi merupakan identitas sebuah kelompok, akan tetapi telah luluh lebur menyatu ibarat garam yang tanpa terlihat diam-diam mengasinkan air laut.

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk buku, jurnal ilmiah dan tulisan populer. Seri intelektual publik ini terbit saban Senin di rubrik SosoK Kajanglako.com


Tag : #Sosok #Ahmad Syafii Maarif #Muhammadiyah #Universitas Negeri Yogyakarta #Islam dan Kemanusiaan #Islam Inklusif #Maarif Institute



Berita Terbaru

 

Jumat, 15 November 2019 19:24 WIB

Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jambi Terima Bantuan Mobil Operasional TTIC dan Cold Storage dari Mentan RI


Kajanglako.com, Jambi - DinasKetahanan Pangan Provinsi Jambi menerima bantuan dari Menteri Pertanian (Mentan) Republik Indonesia. Bantuan tersebut berupa

 

Jumat, 15 November 2019 18:14 WIB

Gubernur Fachrori Terima DIPA 2020 dari Presiden RI


Kajanglako.com, Jakarta - Gubernur Jambi Fachrori Umar menerima Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) tahun 2020 dari Presiden Republik Indonesia Joko

 

Jumat, 15 November 2019 17:30 WIB

Diikuti Romi Haryanto, Wabup Mashuri Lepas Gelamor Offroad


Kajanglako.com, Merangin - Wabup Merangin,  Mashuri bersama Bupati Tanjungjabung Timur Romi Hariyanto melepas Geopark Lestari Adventure (Gelamor)

 

Jumat, 15 November 2019 17:05 WIB

Hadiri Rakor BKP Kementan RI, Amir Hasbi Sambut Baik Rancangan Inpres Perkuat CBPD


Kajanglako.com, Jambi -Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan) RI menggelar Rakor Pembahasan Rancangan Inpres tentang Percepatan

 

Kamis, 14 November 2019 15:58 WIB

Tahun Depan UMP Batanghari Ditetapkan Rp 2,6 Juta


Kajanglako.com, Batanghari - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batanghari melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Batanghari menetapkan