Jumat, 15 November 2019


Selasa, 15 Oktober 2019 12:56 WIB

Raden Pandji Soejono

Reporter :
Kategori : Sosok

Prof. Dr. Raden Pandji Soejono.

Oleh: Bambang Budi Utomo*

Perkembangan dunia arkeologi Indonesia tidak dapat lepas kaitannya dengan tokoh-tokoh arkeologi bangsa Belanda yang pernah malang melintang di situs-situs yang mengandung tinggalan budaya masa lampau di Nusantara, terutama di Jawa dan Sumatra. Bisa dimaklumi karena pada waktu itu Nusantara masih dijajah Belanda. Keberadaan tinggalan budaya masa lampau banyak dicatat oleh para arkeolog tersebut. Bahkan, cikal bakal berdirinya Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, dirintis oleh para arkeolog Belanda tersebut Ada arkeolog yang profesional, ada yang amatir, dan ada pula yang berangkat dari kecintaannya terhadap keantikan suatu karya seni.



Dari sekian banyak yang menyatakan dirinya sebagai seorang ahli arkeologi yang tergabung dalam organisasi Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), mungkin hanya sedikit yang mengetahui siapa orang itu sebenarnya, dan apa karyanya yang “monumental”. Sebagai seorang yang memproklamirkan dirinya arkeolog, sudah seharusnya mengenal orang-orang yang berjasa tersebut, mulai dari J.L.A Brandes dari abad ke-19, sampai dengan Uka Tjandrasasmita yang pernah bertualang di Sumatra Selatan dan Jambi pada tahun 1953 bersama-sama dengan R. Soekmono, R.P. Soejono, Satyawati Suleiman, dan Boechari.

Setelah edisi sebelumnya tentang sosok J.L.A Brandes, Nicolaas Johannes Krom, Frederik David Kan Bosch, W.F. Stutterheim, Satyawati Suleman, dan  R. Soekmono, berikut sosok peletak dasar arkeologi di Indonesia:

- R.P. Soejono -

Raden Pandji Soejono biasa dipanggil Pak Yono atau Oom Jon di kalangan dekatnya, lahir di Mojokerto pada 27 November 1926. Lulus sebagai sarjana arkeologi dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada tahun 1959, dan mendapat gelar Doktor dari fakultas tersebut pada tahun 1977. Pengalamannya dalam penelitian prasejarah telah dimulai sejak tahun 1953 ketika masih menjadi mahasiswa dengan selalu menyertai van Heekeren melakukan penelitian di berbagai tempat di Indonesia.

Pada tahun 1954, bersama-sama dengan Satyawati Suleiman, Soekmono, Uka Tjandrasasmita, Boechari, Basoeki, dan arkeolog Belanda ikut dalam ekspedisi ke Sumatra. Dalam tim tersebut beliau bersama van Heekeren dan Basoeki melakukan penelitian di situs-situs prasejarah di daerah Lahat (Sumatra Selatan). Sejak awal hingga sekarang, minat dan keahlian beliau ada di bidang prasejarah, khususnya Paleolitik.

Pada tahun 1956 beliau secara resmi mulai bekerja pada Dinas Purbakala, dan ketika pada akhir tahun tersebut van Heekeren meninggalkan Indonesia, maka pekerjaannya dilanjutkan oleh Soejono. Penelitian yang pertama dilakukannya ialah mengadakan survei di daerah Buni (Bekasi) pada tahun 1960.

Sebagai seorang arkeolog yang bekerja di lingkungan arkeologi, pada tahun 1960-1964 beliau menjabat sebagai Kepala Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Cabang Bali. Di wilayah kerjanya beliau dapat dengan leluasa melakukan penelitian yang lebih mendalam dan terencana pada situs-situs arkeologi yang terdapat di Bali. Dalam waktu yang relatif singkat, beliau berhasil mendata seluruh situs prasejarah mulai dari masa paleolitik hingga masa perundagian.

Karirnya sebagai seorang arkeolog yang bekerja di lembaga penelitian mencapai puncaknya pada tahun 1977, yaitu ketika diangkat menjadi Kepala Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional. Sebelumnya, ketika lembaga tersebut dikepalai oleh Satyawati Suleiman, beliau menjabat sebagai Kepala Bidang Prasejarah hingga tahun 1977. Di bawah kepemimpinan beliau Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional mendirikan dua buah Unit Pelaksana Teknik (UPT), yaitu Balai Arkeologi Yogyakarta dan Balai Arkeologi Denpasar. Selain itu dibangun juga dua buah laboratorium, yaitu Laboratorium Paleoekologi dan Radiometri di Bandung dan Laboratorium Bio dan Paleoantropologi di Yogyakarta.

*Penulis adalah arkeolog senior. Pelbagai karya tulisnya seputar kajian arkeologi di Nusantara, termasuk Jambi dan Palembang, terbit dalam bentuk buku, prosiding konferensi dan artikel di media cetak baik lokal maupun nasional. Seri tokoh peletak dasar arkeologi Indonesia lainnya dapat dibaca di rubrik Sosok Kajanglako.com


Tag : #Sosok #Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia



Berita Terbaru

 

Jumat, 15 November 2019 19:24 WIB

Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jambi Terima Bantuan Mobil Operasional TTIC dan Cold Storage dari Mentan RI


Kajanglako.com, Jambi - DinasKetahanan Pangan Provinsi Jambi menerima bantuan dari Menteri Pertanian (Mentan) Republik Indonesia. Bantuan tersebut berupa

 

Jumat, 15 November 2019 18:14 WIB

Gubernur Fachrori Terima DIPA 2020 dari Presiden RI


Kajanglako.com, Jakarta - Gubernur Jambi Fachrori Umar menerima Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) tahun 2020 dari Presiden Republik Indonesia Joko

 

Jumat, 15 November 2019 17:30 WIB

Diikuti Romi Haryanto, Wabup Mashuri Lepas Gelamor Offroad


Kajanglako.com, Merangin - Wabup Merangin,  Mashuri bersama Bupati Tanjungjabung Timur Romi Hariyanto melepas Geopark Lestari Adventure (Gelamor)

 

Jumat, 15 November 2019 17:05 WIB

Hadiri Rakor BKP Kementan RI, Amir Hasbi Sambut Baik Rancangan Inpres Perkuat CBPD


Kajanglako.com, Jambi -Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan) RI menggelar Rakor Pembahasan Rancangan Inpres tentang Percepatan

 

Kamis, 14 November 2019 15:58 WIB

Tahun Depan UMP Batanghari Ditetapkan Rp 2,6 Juta


Kajanglako.com, Batanghari - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batanghari melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Batanghari menetapkan