Kamis, 12 Desember 2019


Selasa, 08 Oktober 2019 11:13 WIB

Bedar Alam

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Setelah berjalan selama setengah jam, mereka tiba di persawahan Bedar Alam. Padinya mulai menguning dan kaum perempuan sibuk membersihkan gulma di antara tanaman padi. Lama juga mereka berjalan, melewati sawah-sawah itu, sebelum akhirnya tiba di pagar yang melingkungi Bedar Alam.



Pk. 14.30. Beberapa orang kepala adat berpakaian rapi menyambut kedatangan mereka. Di kejauhan terdengar bunyi ‘taboeh’. Para kepala adat itu mempersilakan tetamunya masuk dan berjalan bersama menuju rumah negari. Mereka memintas sepanjang dusun karena bangunan itu terletak di ujungnya, di atas tanah yang agak ditinggikan di pinggir jalan. 

Mantri dan Toeankoe tiba satu jam kemudian; kuli-kuli yang pertama tiba menjelang pk. 17.00 dan yang terakhir, pk 18.00. Mereka berhasil membawa dengan selamat seluruh barang dan perbekalan tim penjelajahan. Hanya sebotol minyak dan sebotol minuman Cognac pecah di jalan karena Bentjah (kuli yang membawa botol-botol itu) melihat ambatjang tergantung di tangkai pohon. Serta-merta, ia melempar bebuahan itu dengan batu. Malang nasibnya, batu yang dilemparnya tak mengena di ambatjang yang diinginkannya! Setelah dilempar, batu itu malahan jatuh masuk ke dalam keranjang botol-botol yang dibawanya!

Para petinggi yang baru datang pun ikut duduk-duduk di rumah negari. Malam itu, Penghoeloe Kepala Moeara Laboeh dan pengiringnya datang. Tentu saja, mereka pun langsung ikut duduk di tempat itu. Rumah negari itu penuh sesak dan ramai bukan main! Warga Bedar Alam menyajikan kopi, jagung dan kelapa parut yang dicampur dengan manisan enau (mereka sudah pernah mencicipi kudapan enau seperti ini di Doerian Taroeng).

Mereka mengobrol sampai larut. Orang-orang XII Kota ternyata berbicara dengan aksen khas yang sulit dipahami oleh para penjelajah Belanda itu. Mereka terpaksa berkali-kali bertanya lagi bila seseorang menyampaikan sesuatu yang tidak mereka pahami. Mereka menyampaikan rencana perjalanan berikutnya untuk mendaki Korintji. Mantri mendekat dan berjanji akan menyiapkan istal di Abei untuk kuda-kuda yang dibawa. Satu per satu, para petinggi itu memohon diri. Hujan mulai turun dengan derasnya. Untunglah, atap rumah negari itu tidak bocor. Tak lama kemudian, tak terdengar suara apa pun lagi kecuali suara dengkur orang-orang yang letih.

Pagi-pagi tanggal 5 November 1877, Kepala Laras Abei dan pengiringnya pulang ke negarinya. Enam orang kuli dan Mandoer Kètè—wakil Mandor—berangkat ke arah sebaliknya, ke Loeboe Gedang untuk mengambil beras yang masih disimpan di sana. Kuli-kuli yang tidak pergi, ditugaskan untuk membersihkan rumah negari dan memotong rumput untuk pangan kuda.

Penghoeloe Kepala datang berkunjung lagi. Perjalanan yang akan dilakukan oleh Schouw-Santvoort (yang ketika itu, belum meninggal dunia) menjadi bahan pembicaraan pagi itu. Penghoeloe Kepala menceritakan bahwa ia telah mengirim surat kepada Pa Dogan, seorang kerabatnya, agar membantu Schouw-Santvoort dan mengantarkannya ke Djambi. Berkat bantuannya, Schouw-Santvoort tiba dengan selamat di Djambi.

Penghoeloe Kepala melanjutkan ceritanya. Kini, Sultan Taha telah membunuh para pendayung perahu yang mengantarkan Schouw-Santvoort dan Pa Dogan telah ditangkapnya dan diperbudak. Ia bertanya: “Apakah Kumpeni tidak dapat (membantu) memerangi Sultan Taha sehingga  Pa Dogan dapat bebas?”

Van Hasselt menjawab bahwa hal itu tidak dapat diputuskan oleh tim penjelajahan. Pertanyaan itu seharusnya diajukan kepada Kontrolir di Moeara Laboeh.

Rupanya pertanyaan itu telah diajukannya juga kepada Kepala Laras, tetapi lelaki itu tidak memberikan tanggapan yang positif. Ia hanya mengatakan: “Kumpeni sudah menangani peristiwa itu dan kau harus menunggu saja bagaimana kelanjutannya!”

Penghoeloe Kepala meminta tim penjelajahan menurut surat kepada Residen untuk menyampaikan permintaannya. Van Hasselt berhasil meyakinkannya bahwa permohonan seperti itu akan lebih meyakinkan bila Penghoeloe Kepala menulis sendiri surat itu.

Beberapa ratus meter di belakang rumah negari mengalir Soengei Sangir. Sungai itu letaknya 20 meter lebih rendah daripada rumah negari. Di tempat ini, sungai itu lebar tetapi dangkal. Sebentar saja, mereka sudah menemukan tempat mandi yang cocok. Di beberapa tempat, tampak alahan, yaitu tempat memancing di sungai. Alahan itu merupakan pulau-pulau kecil yang terbentuk oleh alam atau sengaja dibuat untuk keperluan itu. Di atasnya, ada pondok-pondok kecil untuk para pemancing. Di sini orang memang banyak memancing dan banyak pula ikan yang dapat dipancing. Ikan-ikan segar itu segera diolah dengan berbagai cara untuk teman makan nasi. Para pemancing itu tidak lupa pada tetamu mereka. Tim penjelajah pun memperoleh ikan segar.

Bahan makanan lain pun tersedia. Ayam dan kelapa dapat dibeli; namun, beras dan jagung tidak diperjual-belikan karena semua orang memakan beras dan jagung hasil tanaman sendiri. Ikan pun tidak diperjual-belikan karena penduduk setempat menangkap sendiri ikan yang akan dimakan. Yang agak menyulitkan keinginan berbelanja adalah karena segala pembayaran kecil dilakukan dalam bentuk bubuk emas karena jarang ada uang kecil.

Sesekali badai melanda rumah negari tempat mereka menginap. Hujan deras yang diiringi angin kencang membuat dedaunan berjatuhan di atas atap. Ranting yang patah menggeserkan atap sehingga rumah negari itu memperoleh jendela-jendela tak diinginkan di atap. Bulir-bulir hujan sebesar jagung masuk ke dalam rumah dan orang-orang di dalam rumah itu kalang-kabut berusaha menyimpan pakaian, peralatan dan barang-barang lainnya agar tidak menjadi basah atau rusak. Kuda-kuda pun menderita karena kandang mereka—yang dibuat sendiri dari papan dan kain layar untuk atapnya—tidak kuat menahan angin dan hujan deras.

Sebetulnya rumah negari itu terletak di luar Bedar Alam, walau masih termasuk ke dalam wilayah negari itu. Bedar Alam tidak tampil sebagai dusun yang cantik. Rumah-rumah warganya tampak terlantar dengan halaman yang kotor. Tanaman-tanamannya pun tidak terawat. Rumah-rumah di sini dibangun di atas tiang yang lebih tinggi daripada di tempat lain. Beberapa rumah berdinding kulit kayu; yang lainnya berdinding anyaman bambu. Di bagian depan, dinding rumah beberapa rumah menyerupai pagar tralis.

Negari itu hanya memiliki beberapa taboeh. Itu pun tidak disimpan di dalam rumah taboeh tersendiri, tetapi digantungkan saja di bawah rumah. Tempat yang tampak paling menyenangkan adalah lapangan atau alun-alun di dekat rumah. Mesjid dan balei negari dibangun di sini. Dua-duanya beratap ijuk. Dulu, di tempat ini juga terdapat gelanggang, tempat mengadu ayam. Kini, tempat itu—yang terdapat di bawah pepohonan koebang yang rindang, digunakan kaum perempuan untuk mengeringkan dan menumbuk padi.

Bukan hanya rumah dan halaman yang dibiarkan tidak terawat. Warga Bedar Alam tidak memberikan banyak perhatian pada pakaian mereka. Sebagian besar perempuan hanya mengenakan kain yang dililitkan di pinggang saja. Bagian atas tubuhnya tidak ditutupi. Rambut mereka digelung menjadi sanggul sederhana di belakang kepalanya. Berbeda dengan kaum perempuan di tempat lain, perempuan di Bedar Alam tidak mengenakan hiasan telinga.

Rambut kaum lelaki biasanya dipotong pendek. Ada juga yang membiarkan rambutnya tergerai panjang sebahu.

Tidak banyak hiasan yang dikenakan oleh anak-anak. Biasanya, hal ini dianggap sebagai tanda kemakmuran. Di Bedar Alam, hanya beberapa anak saja yang tampak mengenakan kalung berupa untaian manik-manik atau seutas tali dengan uang logam yang dilubangi sebagai liontin.

Kunjungan ke rumah Radja tidak mengubah kesan para penjelajah mengenai Bedar Alam dan warganya. Rumah Radja pun terkesan tidak terawat. Perabot dan jenisnya tidak sebanyak dan tidak sebagus rumah-rumah petinggi adat lainnya di Dataran Tinggi Padang. Beberapa keranjang yang dianyam tergantung di dinding rumah Radja. Wadah-wadah itu digunakan untuk menyimpan botol, cangkir/gelas dan kulit kerang untuk membuat kapur sirih.

Ada tujuh orang perempuan dan 12 orang anak di rumah itu. Perempuan-perempuan itu tidak menunjukkan sikap yang ramah dan anak-anak itu tampaknya agak takut mendekat. Walaupun para penjelajah itu diperkenalkan oleh Bagindo—seorang kemenakan Toeankoe di Sambah (yang mengantarkan Schouw-Santvoort ke Rantau Ikir)—tak ada tikar yang dibentang untuk menyambut mereka.

Setelah duduk-duduk sesaat, tak pula ada orang datang menyajikan minuman atau kudapan. Tak lama kemudian, van Hasselt mendengar salah seorang perempuan tua di rumah itu menggerutu kepada Bagindo: “Bawa orang-orang itu kembali ke rumah negari!”

Jelas, kedatangan mereka  tidak diharapkan dan tidak dihargai. Tim penjelajah itu segera saja memohon diri.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Van Hasselt #Schouw-Santvoort #naskah klasik belanda #bedar alam



Berita Terbaru

 

Rabu, 11 Desember 2019 20:01 WIB

Pemda Siapkan 61 Ton Cadangan Pangan Pasca Bencana di Musim Penghujan


Kajanglako.com, Jambi - Memasuki musim penghujan, sejumlah wilayah di Provinsi Jambi rentan terjadi bencana alam seperti banjir, tanah longsor, kekeringan/banjir,

 

Rabu, 11 Desember 2019 19:52 WIB

Pelajar SMA di Tanjabtim Gantung Diri Samping Rumah


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Timur - Pelajar salah satu SMA negeri di Tanjung Jabung Timur ditemukan tewas mengenaskan. Pemuda berusia 17 tahun yang

 

Rabu, 11 Desember 2019 19:31 WIB

Amir Hasbi: Jambi Punya Cold Storage, Konter Pendingin Komoditi Pangan Segar


Kajanglako.com, Jambi - Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jambi Amir Hasbi mengatakan, kini Jambi patut berbangga, karena telah memiliki Cold Storage,

 

Rabu, 11 Desember 2019 16:12 WIB

Tes CPNS Tidak di Merangin, Pemkab Siapkan Anggaran Rp 500


Kajanglako.com, Merangin - Pelaksanaan tes CPNS dengan sistem CAT pada tahun 2019 tidak dilaksanakan di Kabupaten Merangin, informasinya tes akan dilakukan

 

Rabu, 11 Desember 2019 16:04 WIB

Prestasi MTQ Kurang Membanggakan, Wabup Gelar Rakor


Kajanglako.com, Merangjn - Prestasi Merangin di ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Provinsi Jambi ke-49 di Bungo lalu, kurang memuaskan. Kabupaten